Aku biarkan kamu berjalan di dalam tubuhku selagi aku tertidur, sederas apapun hujan awal tahun ini, atau sedingin apapun udaranya, dan saat-saat yang sudah lama kuidamkan: seketika pagi dan secangkir kopi. Namun belum pernah sesulit itu aku menerima stasiun sebagai bagian dari situasi ini, tempat yang sepertinya hanya menyimpan pertemuan dan perpisahan, berlalu begitu rutin seperti angin tak mengenal musim. Apakah yang perlu dikatakan?
Selembar tiket yang kusimpan dalam saku celana telah cukup jauh membawaku ke sini, sementara hujan yang gelisah telah berhenti di belakangmu. Di atas kepala kita, tulang-tulang atap, membeku dan dingin. Di bawah kaki kita, lintasan yang seringkali dengan kebetulan misterius menghubungkan kita pada nasib baik. Tetapi kerap juga hanya selembar peta dan kita menelusurinya dengan bayangan sendiri-sendiri.
Seseorang boleh saja begitu ringan melangkah, bersama impiannya berpindah dari kota ke kota, dan sebuah kota lain di dalam banyak impian lain, sekaligus mengabaikan bau tanah basah tempatnya melintas. Namun betapa sulit aku bicara, untuk menenangkan, sebab sejumlah kata, sekawanan percakapan, yang kucari-cari di dalam sosok kita yang lain, akhirnya, dibawa angin yang tak mengenal nada. Apakah yang kucatat dari perjalanan-perjalanan rutin ini?
Selagi kereta bergerak, seorang pekerja semen di depanku merindukan anaknya. Kami mengobrol hingga larut malam dan kami jatuh tertidur dan kutemukan kamu berjalan di dalam tubuhku.*


