Pada Mulanya Perjalanan

This image taken from Cartoon Stock.

This image taken from Cartoon Stock.

SETIAP MELAKUKAN PERJALANAN darat yang jauh, saya kerap mengandaikan jadi seseorang yang lain. Hal itu akan terbentuk saat melihat lanskap sebuah perkampungan di tepi jalan, atau sosok orang selintas, melalui jendela kaca mobil atau mencuri pandang selagi sepedamotor melaju kencang.

Misalnya saat kemarin saya menghabiskan waktu enam jam dari Jogja menuju Pati, sebuah daerah di pinggiran utara Jawa Tengah. Saat saya melintasi Sragen sehabis Solo, saya melihat sosok seorang kakek, berpeci hitam dengan baju batik, berpenampilan rapi, sedang berdiri di tepi jalan. Saya mengandai-andai: Bagaimana jika saya menjadi putranya? Apa yang sedang dilakukan Pak Tua tersebut, mungkin tengah menunggu bus umum, mungkin sedang menunggu jemputan, mungkin–dengan melihat pakaiannya–dia hendak menghadiri acara penting keluarga atau, mungkin saja, dia hendak mengambil uang pensiun di sebuah kantor pos?

Misalnya saya menjadi salah satu putranya, malam sebelumnya dia menelepon. Pak Tua itu mengabarkan hendak main ke rumah tempat saya tinggal dan terpisah darinya, dia bilang hendak menengok cucunya–artinya anak saya, mengingat saya sudah cukup umur untuk jadi seorang ayah. Dia kesepian. Istrinya–yang artinya ibu saya–telah mengucapkan sayonara pada dunia lebih dulu, dan dia bilang kangen, atau sebetulnya ucapan kangen itu lebih untuk menepis rasa bosan menjalani hidup tua sendirian. Saya, karena jadi putra yang paling dekat dengannya, mengiyakan dan bilang akan menjemput dia setiba di kota tempat saya tinggal. Mengingat Pak Tua Berpeci Hitam Berpakaian Batik itu agaknya menuju jalur tempat saya menghela–artinya ke arah Purwodadi, atau daerah sebelum Purwodadi–maka bolehlah saya bilang saya tinggal di sekitar daerah tersebut, katakanlah, daerah saya setelah melewati Kedungombo.

Kedungombo, sebuah perbukitan yang dibelah ruas jalan raya dipayungi pepohonan, benar-benar tempat menyeramkan jika kita tak tahu cara menikmati perjalanan yang curam, berliku, sepi, perkampungan yang jarang, angin yang gaduh dari pucuk dahan-dahan pohon yang saling membentur. Itu semua memberi perasaan rawan, setidaknya jika kita memikirkan sesuatu yang buruk. Tapi, tentu saja, tidak bagi Pak Tua, yang sudah sering melintasi jalan tersebut dan sangat mengenalinya hanya dengan memejamkan mata. Begitulah. Dia tiba dengan sebuah bus umum, turun di tepi jalan, dan saya lantas menjemputnya. Dia menginap sampai bosan di rumah, bermain bersama cucunya, lalu dia ingat pada istrinya–ibu saya dalam cerita ini–dan pada akhir pekan ini, sebelum ibadah shalat Jumat, dia harus berziarah ke makam istrinya. Dia sudah punya tabungan cerita mengenai saya dan anak saya, yang akan dia dongengkan di pusara ibu saya.

Atau barangkali, Pak Tua itu hanya ingin berpenampilan rapi saja, sebetulnya tak kemana-mana, memiliki rasa iseng yang kelewat awet dalam hidupnya, berdiri di tepi jalan, dan dia pengin–pada suatu hari, saat dia melakukan itu–ada pejalan dari kota yang jauh akan melihatnya, lalu mengingat dia dan membayangkannya sebagai cucunya.

Saya kira hal terakhir itulah yang hendak dimaksudkan untuk sebuah cerita.

Saya ingat, saat usia SMA, tempat saya pernah menikmati institusi sekolah terakhir di Cirebon, saya biasa pulang ke Indramayu. Dengan bus umum jurusan Jakarta, pada akhir pekan, saya kerap dihantui perasaan membayangkan menjadi seseorang yang lain, tinggal di sebuah kampung di mana saya hanya melihat mulut gang kampung tersebut di tepi jalan raya selagi bus membawa saya ke kampung kelahiran. Bahkan, bertahun-tahun kemudian, saya sering merangkai cerita dari lamunan yang merambang itu.

Dulu saya menyukai cerita-cerita fiksi dari Seno Gumira Ajidarma. Dalam satu cerita yang saya baca di lembar koran minggu–mungkin saat saya SMA, mungkin saat saya sudah di Jogja–Ajidarma menulis kesannya dalam perjalanan di negeri asing tempat dia menjumpai seorang perempuan memegang payung atau benda lain (saya lupa), yang intinya dia mengandai-andai dan merangkai cerita dari situ. Ketika saya pergi ke Ambon, dan diantar ke sebuah tempat yang jadi lokasi wisata orang ramai–si pengantar bilang “dari sini kita bisa melihat seluruh pemandangan Ambon beserta lautnya”–perhatian saya terjerat pada sosok perempuan, berdiri di muka pagar, mengenakan rok, dan tangannya memegang payung yang terlipat, berkacamata (hingga sekarang saya masih ingat sebagian detail tersebut) dan, tiba-tiba saja, saya sudah melamunkan cerita-dalam-kepala mengenai si perempuan asing itu; bukannya tertarik pada bukit terkenal di Ambon.

Suatu hari seorang perajin kata menulis bahwa kisah-kisah, dalam bentuknya yang panjang hingga jadi sebuah novel, atau suatu realitas tak mungkin dibentuk dalam cerita lain selain fiksi, dapat bermula dari pertanyaan “what if”. Bagaimana seandainya presiden kita suatu hari mengalami buta total, dalam pengertian harfiah? Bagaimana jika kita terbangun di suatu pagi hari dan mendapati tubuh kita sebagai kecoa besar seperti Gregor Samsa? Bagaimana bila kita duduk saja di belakang meja dan, untuk tujuan main-main, kita membayangkan saja pemimpin kita selagi tiba di New York mengalami peristiwa ganjil saat hendak menerima penghargaan, bermil-mil dari tempatnya berdiri, Istana Presiden di Jakarta Pusat diterjang badai angin sesaat namun cukup hebat merontokkan pagar dan pos pengamanan? Tanpa diduga oleh prediksi ekonom dan perancang neraca pembangunan, badai angin itu telah memicu gerakan oposisi yang besar, berkumpul di jantung ibukota, lalu sekumpulan orang telah bersiap menyambut Tuan Presiden di bandara, yang membuat dia harus dievakuasi dengan helikopter tentara untuk dibawa ke Istana Cikeas.

Anak saya suatu kali, untuk tugas sekolahnya, membaca berita itu bertahun-tahun kemudian dari sebuah koran digital, dan bertanya-tanya mengenai penyebab badai angin tersebut.*

McDonalisasi Pendidikan dan Perlawanan Pers Mahasiswa

Indie Book Corner, 160 hal, Maret 2013.

Indie Book Corner, xxv + 160 hal, Maret 2013.

AMAT JARANG LITERATUR yang membahas pers mahasiswa secara khusus, terutama setelah lengsernya bapak pembangunan daripada Orde Bangkrut Soeharto, plus mitos yang membebani wartawan-cum-aktivis kampus—senarai dengan agitasi yang kerapkali digembar-gemborkan hingga begitu klise–bahwa mahasiswa bagian dari agent of change. Nomenklatur itu agaknya perlu dibongkar-ulang lagi nyaris setelah mereka turun ke jalan mendesak mundur Sang Presiden, dan oposisi total darinya menghasilkan reposisi yang terserap ke dalam rezim berikutnya. Mitos yang sulit ditolak, mengingat umur panjang perlawanan yang tonggaknya bisa diukur menjelang akhir pemerintahan Sukarno hingga nyaris tiga dekade pemerintahan Soeharto. Dalam frase singkat, mahasiswa, thus pers kampus di dalamnya, terlalu berat menanggung beban sejarah, yang kata-kuncinya bersanding selimut perlawanan, perjuangan, pemberontakan, untuk menyebut di antaranya. Namun, bagaimana jika tembakan tuntutan mereka telah jatuh, persis setelah 15 tahun tiada diktator sebrutal Eyang Harto (tiada kaitan dengan Eyang Subur), dan di tengah-tengah itu, justru kemudian yang menguat patronase politik elit plus pemerintahan yang meneruskan kebijakan pasar bebas, salah satunya, mendarat di bawah sepatu mereka berupa komersialisasi pendidikan tinggi negeri?

Wisnu Prasetya Utomo, yang diterpa kegalauan (agaknya ini kata-kunci mayor  untuk mengidentifikasi psike mahasiswa sekarang), mencoba mengisi minimnya literatur itu, sekaligus mengkaji pelbagai respon pers mahasiswa (bersama elemen gerakan mahasiswa lain) untuk menyoroti tema khusus tersebut. Melalui jalan melingkar, mula-mula menerangkan narasi perlawanan mahasiswa terhadap korporatisme negara, buku ini bergerak pada titik kritis saat pemerintah pasca-Soeharto mengenalkan kebijakan baru yang mendorong kampus sebagai institusi bisnis—sebagaimana proyeksi tripartit yang diangankan Dana Moneter Internasional berupa deregulasi, komersialisasi, dan liberalisasi.

Umum diketahui, kampus negeri setelah berubah jadi Badan Hukum Milik Negara pada 1999 (kamuflase dari swastanisasi) melepaskan peran negara dan meminta kampus menangkap peluang ekonomi sebagaimana perusahaan swasta mencari pembukuannya sendiri. Sesudah mendapat legitimasi yang kian besar melalui UU Sistem Pendidikan Nasional 2003, kampus-kampus negeri, dari Depok hingga Sleman, dari Bandung hingga Medan, dari Makassar hingga Surabaya, memperlicin jalan bebas hambatan menuju privatisasi. Simbolismenya bisa dilihat dari etalase pelbagai merk dagang: supermarket, mall, menara bantuan perusahaan, bisnis asuransi dan tabungan, hingga merasuk kronis dalam kerjasama-kerjasama penelitian yang hasilnya semata-mata untuk kepentingan laba dan mengurangi manfaat sebesar-besarnya untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Ditambah kemudian pemerintahan Yudhoyono, lewat menteri pedidikannya Muhammad Nuh yang sama-sama bermuka tebal, mengajukan UU Pendidikan Tinggi, yang disahkan pada medio 2012. Segera setelahnya rilis penolakan atas konversi tanggungjawab negara menjadi otonomi (lagi, kata lain dari swastanisasi) kampus itu pun dilontarkan.

Bersama laju wacana dan laku “McDonalisasi Pendidikan” itu, pers kampus meresponnya dengan suara-suara kritis, bersehimpun dengan organ gerakan mahasiswa lain untuk menyuarakan sikap ideologi mereka, lewat selebaran, aksi turun ke jalan, protes di depan gedung rektorat; pendeknya, menolak tunduk pada kuasa pasar.

Dalam titik-timbang pemberitaan itu, yang dicatat Utomo bahwa isu “komersialisasi pendidikan mewarnai pers mahasiswa selama lebih dari satu dekade pasca-reformasi,” pembahasan dibuka dari lembar-lembar halaman produk media tiga pers kampus: Balairung dari Universitas Gadjah Mungkur, Yogyakarta, Catatan Kaki (Universitas Hasanuddin, Makassar), dan Suara USU (Medan). Aksentuasi ketiga pers mahasiswa ini atas isu tersebut memiliki karakteristiknya masing-masing, sejalan garis kebijakan redaksional mereka, dan pelbagai situasi partikular di lapangan. Dalam banyak hal, ketiga media ini menaruh perhatian (beserta kecemasan) pada satu hal: biaya kuliah yang kian mahal.

Skripsi yang diformat ulang jadi buku ini dapat memberikan sumbangan narasi pers mahasiswa dalam aspek sejarah gerakannya, betapapun kritisisme mahasiswa kian ditumpulkan, dan ruang-ruang kegiatan diskusi kian sepi dan matisuri di tengah desakan lulus cepat agar segera terserap dunia kerja. Agaknya, selain mengidamkan pendidikan murah yang makin terjal (itulah mengapa pendidikan di Indonesia salah satu yang terburuk di dunia), angan-angan sebagai suatu gerakan menolak privatisasi pendidikan sebagaimana yang berhasil digalang oleh mahasiswa-mahasiswa di Chile juga terhalang, kalau bukan sulit, mengingat sistem pendidikan (mengutip lagu band punk “Marjinal”) sekarang “(bukanlah) formalitas yang penuh dengan kekosongan.”*

Sebuah Halte

Di jalan yang lurus itu ada sebuah halte. Pudar warna hijau termakan waktu, tersusun rangka yang sudah berkarat—mengingatkan pada usia Bapak—dan kesepian di antara riuh kendaraan; nasib malang dari kebutuhan para pelaju yang mengandalkan kehadirannya.

Satu demi satu, setiap hari, bus yang berhenti di halte itu menciumi penumpang, sapaan yang terasa aneh bagi yang berharap akan tiba yang tepat, ke suatu tujuan tanpa perlu bertemu dengan yang lambat. Di tengah klakson yang adu-gegas, pertemuan halte dan bus seakan kisah cinta yang kuno. Adakah yang lebih tua dari umur sebuah jalan?

Seorang ibu, yang setia menunggu di halte itu, mendengar dengung dalam kepala: suara anaknya yang menolak kisah lama; legenda yang pernah mengisi lagu-lagu masa kanaknya. Perubahan, kata si ibu dalam diam yang hiruk, tak pernah serumit ini. Kita semakin tua sementara anak-anak semakin dewasa.

Kota juga kian mengabaikan usia tua. Seseorang, yang kebetulan menjadi walikota, perlu membangun sebuah taman, dengan air mancur yang sulit dijelaskan sumbernya, penuh warna lampu di pohonan palsu.

Di sebuah halte, mendadak saja, bersitatap dan mengobrol demi menunggu bus yang akan membawa kita pulang, terasa seperti rutin yang asing. Alamat tujuan dan rumah pulang adalah kepastian. Di sesela itu ada rasa kantuk, semangat yang menyebar dalam dada saat tanggal muda, serta hubungan yang dekat antara jari dan telepon pintar..

Grand Voyage

SEMINGGU LALU, setelah kami pernah ke ujung barat pulau Jawa sewaktu saya kecil, saya melakukan perjalanan jauh kembali bersama Emak dan Bapak. Tujuannya ujung utara Jawa Tengah. Bolak-balik, kami menghabiskan waktu 24 jam, dengan sesekali istirahat di tengah perjalanan, berkat supir ajaib yang belakangan KO saat waktu tempuh menuju pulang hanya tersisa 30 menit, yang digantikan Kakak Sulung—pada akhirnya, dia pun menyetir mobilnya sesuai rencana semula.

Emak sebelumnya sakit lama gara-gara sebuah luka di jempol kaki, yang bikin dia tak bebas berjalan, dan berhenti bekerja. Bapak, sebelum Emak jatuh sakit, pada suatu hari yang buruk merasakan kedua kakinya lemas, berjalan tertatih seperti bocah dua tahun, dan dampaknya bisa terlihat dari cara berjalannya seperti harimau jantan yang sepuh setelah dia sembuh total. Itu semua membuat mereka makin sering minum obat yang semula minum obat terbatas. Sebuah minyak yang baunya seperti rempah, entah apa namanya, menjadi teman perjalanan Bapak. Emak sendiri membawa sebuah botol Aqua berisi air putih biasa tapi telah didoakan oleh orang pintar. Itu memberi kepercayaan pada mereka bahwa mereka sekuat kayu jati, betapapun kayu jati tak pernah diberi obat cairan maupun jamu-jamuan.

Perjalanannya sendiri—sebagaiman kisah keluarga—berisi doa saat bertolak pada dini hari, lantas obrolan yang bersemangat, yang kehilangan semangat setelah mobil melintasi Pekalongan, yang makin malas mengobrol menjelang siang, yang mengantuk sesudah melewati Semarang, dan kelelahan setiba tujuan. Hal itu diulangi lagi saat kami pulang, hanya saja dengan putaran kota sebaliknya.

Saya mengingat-ingat perjalanan itu bak seorang kanak yang tengah menyaksikan film kartun penuh ketertarikan. Mereka contoh sahih dari pasangan yang tua bersama. Tentu saja ada pertengkaran-pertengkaran selagi mereka menjalaninya. Hal itulah yang membuat saya tersenyum dan mendapatkan kesenangan tersendiri dari permainan nasib.

Semoga kita semua bahagia.*

Buku “Dapur Media”

©Yayasan Pantau, Maret 2013

©Yayasan Pantau, Maret 2013

SAYA HENDAK MENGENALKAN buku Dapur Media: Antologi Liputan Media di Indonesia yang baru saja diterbitkan Yayasan Pantau, satu organisasi yang belakangan lebih sering bergiat di pelatihan penulisan, tempat saya biasa menumpang ngetik di Jakarta. Kebetulan saya menyunting buku tersebut bersama Basillius Triharyanto.

Isi buku itu berisi 9 liputan media, sebagian pernah dimuat majalah Pantau, termasuk narasi Tempo dan Kompas yang ditulis Coen Husain Pontoh. Liputan lain: Jawa Pos oleh Max Wangkar, Bisnis Indonesia (Eriyanto), Suara Timor Timur (Irawan Saptono), dan Sriwijaya Pos – satu koran lokal di Palembang – oleh Taufik Wijaya. Tiga liputan terbaru datang dari Lilik HS yang menulis Kaskus, Komarudin soal Yahoo! Indonesia, plus Triharyanto yang membahas isu serikat pekerja media lewat kasus Luviana dari Metro TV. Kesemua narasi ini bercerita tentang dinamika ruang redaksi — salah satu pembahasan penting bila Anda mempelajari jurnalisme — dan dalam titik kisar tertentu menjelaskan sejarah ekonomi-politik Indonesia pasca-1965.

David Hill, yang menulis Pers di Masa Orde Baru (Obor, 2011), menuliskan pengantar guna memberi konteks perkembangan pers dan diskusi yang mengiringinya, selain masalah-masalah khusus yang dihadapi media di Indonesia pasca-Soeharto. Ariel Heryanto dan Janet Steele memberikan “endorsement” buku.

Sudah banyak penelitian tentang industri media di negara kepulauan ini, termasuk yang mutakhir dari CIPG yang menyoroti konglomerasi media. Dari ribuan media, hanya segolongan kecil pemiliknya, mengikuti sentralisme kekuasaan dari warisan Orde Baru, betapapun sejak adanya desentralisasi politik dan keuangan, peta ekonomi-politik berubah … begitupula korupsinya.

Tentu saja, ada banyak celah yang bisa mengisi ruang diskusi dan peliputan soal jurnalisme di Indonesia. Buku Dapur Media, yang bisa dipakai untuk studi kasus media-media ini, hanyalah salah satunya. Soal lain adalah peta kepentingan politik pemilik media. Ini menguat terutama sejak pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono berkuasa di mana ada begitu banyak media partisan, termasuk Yudhohono sendiri dengan harian Jurnal Nasional-nya. Isu itu juga yang diuraikan secara dramatis oleh sineas Ucu Agustin dalam film Di Balik Frekuensi, khusus menyinggung media televisi.

Terakhir, sebagaimana David Hill mengingatkan dalam pengantar buku ini, tanggungjawab media terhadap publik — yang seyogyanya sudah jadi prinsip dasar dari jurnalisme — takkan bisa sepenuhnya berjalan sendiri di tengah kontestasi kepentingan politik yang tengah dihadapi di Indonesia. Ia perlu bekerjasama dengan, dan didukung oleh, unsur-unsur penggiat demokrasi. Dan bila bentuk-bentuk advokasi publik itu terbentur tembok — dengan pembatasan-pembatasan yang dibikin pemilik media bersangkutan — maka kita tak henti-henti mengingatkannya. Semoga buku ini menjadi bagian di dalamnya.*

Si Bocah dan Pesawat Terbang

PETANG tadi seorang bocah, yang memegang mainan pesawat plastik bercat hijau dengan tali pengikat, berusaha terbang melintasi jalan ubin di depan rumah. Mesin pesawat itu berdengung dari mulutnya, tidak mengarah pada satu tujuan sebagaimana kamu merencanakan perjalanan, tapi si bocah kembali berputar menyeret pesawatnya — yang sejak tadi menyaruk tanah — dari ujung ke ujung gang. Ayahnya, tapi kupikir kakeknya, menyetop lintasan si bocah untuk mengambil jas hujan yang dijemur di pagar rumah yang kutempati; dan, saat berbalik melenggang halaman yang dirimbuni pohonan rambutan, si bocah mengikutinya sembari terus menarik pesawat itu.

Tiba-tiba hujan, yang menderas sedari pagi dengan gelegarnya yang meninabobokan, turun kembali dengan cara sesulit kamu menduga kematian.

Petang pun menyelam dengan rautnya yang basah. Si bocah telah menghilang. Jalan kembali sepi. Dan seperti himne, suara jangkrik bersahutan dari sepetak tanah liar di belakang rumah yang gelap.

Duapuluh tahun dari sekarang si bocah takkan mengingat dia pernah terbang dalam angan-angan.*

Buat seorang karib…

PAGI HARI pertama 2013, dari jendela kamar, saya memandang tumpukan dahan yang mengering, coklat, dan basah. Mereka ditumpuk di tepi tembok rumah belakang, disela petak kosong yang beberapa minggu lalu dibersihkan dari rerumput liar dan tanaman rambat. Di bawah penampung air berdiri pohon kedondong; satu-dua daun kuning memberi kontras pada dedaunan hijau yang merambati dahannya. Tanah berpasir, kini telah tumbuh lagi tanaman-tanaman mungil, hijau dan sederhana, menyimpan jejak hujan semalaman. Ada yang layu. Ada yang hilang. Angin tipis mengalir lewat celah jendela.

Pesta tahun baru masih tersimpan dalam suara saat langit dipadati gelegar petasan dan kembang api. Hingga pagi itu suaranya masih terasa seakan sedetik lalu. Saya menimbang-nimbang: saat sebagian besar orang menyambut pesta yang berulang-ulang ini, kamu justru tengah melafalkan doa mengiringi jenazah Mama kamu. Bahkan, tanpa momen sekontras itu, kematian tetap menyakitkan.

Sampai tengah malam sebelum paginya saya ke Jogja, kita masih menyimpan harapan untuk kesembuhan Mama-mu. Namun ada jeda dari nada suaramu, yang bergetar, kala menceritakan kabar kesehatan si Mama. Dan dengan selancar itu, saya sadari betapa dekatnya kamu menemani bulan-bulan pengobatan Mama kamu. Selebihnya, untuk sebagian besar, kita bicara ihwal yang menyelipkan tawa: rutinitas kerja, karib kita yang menikah, dan pembicaraan kesukaan.

Kamu masih sempat berkabar kala saya sudah di Stasiun Senen dan kita masih berharap Mama kamu lekas membaik. Hingga berjam-jam telepon seluler saya mati, dan saat diaktifkan setiba tujuan, kabar itu muncul semisterius kematian.

Ah, bilamana saya menuntut, tidakkah Tuhan mengundurkan rencananya sesudah malam Tahun Baru, sehingga kita yang dekat dengan yang sakit, yang koma, masih bisa sejenak berdoa menyambut persalinan tahun. Namun, kita tahu, kita tak pernah bisa.

Di pagi hari itu, saya memandang keluar jendela. Sekumpulan burung berkicau di kebun nangka di balik pagar tembok. Daun gugur dan tumbuh. Dan dalam situasimu, hati-yang-lapang berkeras menuntut lebih luas dari langit dan lebih dalam dari samudera.

Semoga tabah dan kamu segera baik, kawan… *