GIMANA RASANYA FLU? Cukup kau katakan: tak punya gairah untuk bergerak! Virus ini, yang menyerang hidung manusia, punya daya massal. Tak peduli anak-anak. Tak peduli orang-orang tua. Tak peduli remaja. Tak peduli dewasa. Semuanya menyatu dengan cara yang puitis: tiba-tiba hidungmu mbeler, seperti es batu yang mencair, atau seperti tetes hujan di jendela kaca.
Ya, ada tautan simbolis antara flu dan hujan, atau dengan cuaca yang tak terduga. Bayangkan: kau tiba-tiba menjadi seseorang dengan muka yang kusut. Barangkali seperti kertas yang terlumat air atau halaman buku yang kebasahan hujan dari atap rumahmu yang bocor.
Tak ada yang meragukan bahwa kau menarik (tak peduli siapa yang mengatakan), tapi di tengah flu, kau menjadi seseorang yang memelaskan. Dengan tingkat yang parah: kau cuma meringkuk di atas kasur, tenggelam di bawah selimut, dan tanganmu selalu memegang tisu atau sehelai pelbet yang penuh lendir ingus. Sangat jorok dan kotor! Kamarmu tak lagi se-higienis sebelumnya. Bahkan jika kau bukan si cleaner akut.
Apalagi jika kau perokok. Tiba-tiba ada perasaan yang teramat benci dengan si pembunuh paru-paru itu! Dan jika kau penikmat kopi pagi hari, kau membenci harimu sejak dini, sebelum kau melakukan sesuatu. Dan hidup, di tengah salesma massal, bukan lagi sesuatu yang menyenangkan.
Aku tak bilang “menyehatkan.” Ada perbedaan, menurutku, antara senang dan sehat. Jika kau pilih senang, tentu kau mengambil langkah nekat dari hidupmu yang buruk. Tapi jika kau pilih sehat, kau memilih jalur yang hati-hati, antara realitas yang tetap dengan kesadaran hidup yang apriori.
Tapi di sini lah aku, si pengidap flu yang datang tiba-tiba di malam senin, setelah tidur panjang akibat begadang nonton bola.
Kesal karena jagoanmu tak banyak menghiburmu, kau terbangun di siang bolong, pada weekend yang sepi, dan menyesal menghancurkan rutinitas bangun-pagimu selama dua minggu. Salesma menghajarku di senja hari ketika matamu menatap layar laptop. Kepalamu berdenyut oleh tulisan yang buruk. Kau isi pikiran dengan membaca buku yang kau suka, tak lama kemudian kau tertidur. Saat terbangun, hidungmu mbeler…
Aku bayangkan, ada seseorang berperan seperti Gay Talese, membuka notes dari sakunya, di suatu pojok ruangan, dan mulai mencatat pasien salesma ini, seperti yang dilakukannya terhadap Frank Sinatra. Tapi kau tak bisa berharap banyak. Pikiranmu buntu. Perasaan-perasaanmu yang penuh, dengan menghibur diri sebuah weekend layak dihadiahkan satu hiburan nonton film secara kontinu, surut sekali detik. Antara sebal, ngantuk, suhu badan tinggi, mata tak bisa merem, kau mengumpat harusnya salesma ini menyerang presiden di negaraku.
Bayangkan: negaramu mengalama mbeler massal. Hidung politikmu tersumbat. Mata hukummu perih. Suasanan hati sosialmu tak karuan. Saluran-saluran nafas etika manusiamu tak berhubungan dengan jantung birokrasi negaramu.
Salesma massal ini, seperti juga salesma individualku, mudah diobati. Seorang teman dan kekasihmu bilang: minum madu, campur air hangat, dengan jeruk nipis. Soal gampang! Namun, karena birokrasi pikiran negaramu terlalu akut, obat semudah itu pun tak cepat kau dapatkan.
Aku tak berharap presiden ikut-ikutan salesma. Aku juga tak ingin membayangkan seorang bayi di negara ini, yang sakit karena diare atau flu, meninggal karena telat ditangani. Hidup sehat itu menyenangkan. Tambah menyenangkan jika negaramu memberi kita kesehatan! []