Stasiun

Aku biarkan kamu berjalan di dalam tubuhku selagi aku tertidur, sederas apapun hujan awal tahun ini, atau sedingin apapun udaranya, dan saat-saat yang sudah lama kuidamkan: seketika pagi dan secangkir kopi. Namun belum pernah sesulit itu aku menerima stasiun sebagai bagian dari situasi ini, tempat yang sepertinya hanya menyimpan pertemuan dan perpisahan, berlalu begitu rutin seperti angin tak mengenal musim. Apakah yang perlu dikatakan?

Selembar tiket yang kusimpan dalam saku celana telah cukup jauh membawaku ke sini, sementara hujan yang gelisah telah berhenti di belakangmu. Di atas kepala kita, tulang-tulang atap, membeku dan dingin. Di bawah kaki kita, lintasan yang seringkali dengan kebetulan misterius menghubungkan kita pada nasib baik. Tetapi kerap juga hanya selembar peta dan kita menelusurinya dengan bayangan sendiri-sendiri.

Seseorang boleh saja begitu ringan melangkah, bersama impiannya berpindah dari kota ke kota, dan sebuah kota lain di dalam banyak impian lain, sekaligus mengabaikan bau tanah basah tempatnya melintas. Namun betapa sulit aku bicara, untuk menenangkan, sebab sejumlah kata, sekawanan percakapan, yang kucari-cari di dalam sosok kita yang lain, akhirnya, dibawa angin yang tak mengenal nada. Apakah yang kucatat dari perjalanan-perjalanan rutin ini?

Selagi kereta bergerak, seorang pekerja semen di depanku merindukan anaknya. Kami mengobrol hingga larut malam dan kami jatuh tertidur dan kutemukan kamu berjalan di dalam tubuhku.*

Tahun Buram Intoleransi

SELAMA perjalanan malam menuju Yogyakarta, menumpang bus bersama seorang kawan, selang-seling saya memikirkan apa yang telah terjadi pada muslim syiah di Sampang. Seorang kolega kirim pesan pendek sejak kejadian penyerangan Kamis pagi, hingga, selagi saya di bus, ia mengkhawatirkan kelak terhadap sekitar 400 pengungsi yang terusir dari Nangkernang. Itu memberi gambaran jelas dalam kepala: para pengungsi muslim Ahmadiyah di Lombok yang tak bisa kembali pulang sejak gelombang penyerangan pada 2001. Satu keluarga Ahmadiyah dari Cikeusik yang, setelah serangan mematikan 6 Februari, dilarang pulang.

Saya teringat cerita seorang ayah dari muslim Ahmadiyah yang sangat merindukan istri dan anaknya. Jarak mereka semula dipisahkan 6 jam dengan kendaraan dari Jakarta. Namun belakangan rentang itu mengabur. Betapa prakarsa kebencian atas dasar keyakinan seseorang, dengan selubung politis yang memberi tenaga saluran amarah, telah mendorong situasi berada dalam tingkat paling ekstrem. “Sedih sekali,” tulisnya. Continue reading

2011 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2011 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Syndey Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 8.900 times in 2011. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 3 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Kedatangan

Aku kuatir lupa bahwa pernah suatu hari kakak sulungku datang dan menginap semalam di kost. Ini juga semacam aku bicara dengan kamar sendiri, artinya blog sendiri, karena sejatinya suasana kamar kost di Jekardah nyaris paralel dengan isi blog ini. Ia berupa kesunyian. Aku menyukai nama ‘desolate room’. Dengan kata lain aku ingin menebak-nebak apa yang ada dalam pikiran si Kamar, taruhlah bila ia punya kesadaran, kala dikunjungi kakakku untuk kali pertama, yang terjadi kemarin sore?

Udara ruangan kamar diisi obrolan tentang buku dan sejarah, selain soal keluarga. Gara-gara nggak jadi pindah, koleksi buku punyaku ditumpuk di atas meja tulis, tentu saja itu bikin buku kusut, nggak asik sekali bila hendak mengambil salah satu buku di bawah tumpukan. Sesudah maghrib, aku tunjukin Al quran jilid I versi terjemahan dan tafsir Ahmadiyah. Kakakku membacanya sekilas. Di keluarga kami, kakak adalah satu-satunya yang paling paham agama.  Jilid I itu berisi surat 1 hingga surat 9, dari Al-Baqarah hingga At-Taubah.  Ada tiga jilid seluruhnya. Ahmadiyah minoritas muslim di Indonesia yang menghadapi persekusi selama 10 tahun terakhir ini. Aku menyimpannya sekadar untuk koleksi sejak mengikuti kasus kekerasan terhadap komunitas keagamaan ini setahun terakhir.

Buku lain juga dibaca-baca kakakku, termasuk buku kumpulan artikel sejarah Jacques Leclerc terbitan Marjin Kiri, Mencari Kiri: Kaum Revolusioner Indonesia dan Revolusi Mereka,  salah satu esai di dalamnya tentang profil Amir Sjarifuddin. Kami juga bicara sastra, politik, sepakbola, dan cerita tiga putri kakakku. Ibu dan Mbak aku di Indramayu juga menelepon, termasuk kakakku yang lain, yang kambuh lagi epilepsinya. Akhirnya, mengikuti kebiasaan sejak aku sering mengambil buku koleksinya bila berkunjung ke rumahnya di Cirebon, dia juga minta “jatah” buku koleksiku. Aku menyilakan novel Orhan Pamuk dan Salman Rushdie.

Aku mengantarnya pulang ke Gambir pagi ini. Di stasiun aku iseng mengirimkan salam kepada tiga malaikat kici kakakku, direkam lewat video dengan smartphone. Aku juga melihat ponakan-ponakan, saudaraku yang lain di Banten (ihwal keperluan kakakku mampir ke tempatku setelah besuk paman yang sakit di Binuangeun), lewat smartphone tersebut. Rasanya berwarna bagi adik macam aku yang jarang pulang dan menengok anggota keluarga dan saudara sendiri.

Seharian ini aku terus bertanya, apa kesan si Kamar, si Desolate Room? Aku harap kesannya juga berwarna.*

Hari Lahir

APA YANG KAMU ingat dari hari lahir? Orang bijak bilang, hari lahir saat yang pas buat mengingat kebalikannya, yakni kematian. Saya tak punya imajinasi mengenai hal itu. Sesungguhnya itu bukan hal penting. Yang saya tahu ini: kehidupan adalah akal sehat yang terus-menerus dipaksa bergulat dengan kegelisahan dan kegilaan.

Mungkin ada satu tahun bagi saya ke depan untuk menjalani pergulatan itu. Siapa yang tahu, kan? Yang diguratkan memang begitu. Kamu tak tahu kapan mati tapi kamu tahu hari lahirmu, bahkan pada saat kamu tertidur. Untungnya mimpi adalah impase dan impian adalah jembatan di antara lahir dan mati.

Saya sendiri belum, dan takkan sanggup, menerima orang-orang terdekat saya pergi mendahului saya. Bila saya pulang, kata yang sangat sulit saya definisikan sekarang, seringkali cerita-cerita dari keluarga disisipi seseorang di rumah itu telah meninggal, saudara yang itu sakit keras, bibi A dan Paman si anu pergi karena sudah tua. Hal itu selalu membawa saya pada perasaan: dimanapun saya berada, kampung halaman tetap menjadi bagian di dalam diri saya, tersembunyi sekecil apapun, tempat saya memiliki hubungan.

Bila saya ditanya apa yang kamu harapkan setahun ke depan? Saya jawab sesederhana saat saya lahir: saya ingin hidup lebih sabar dan punya waktu untuk berbagi, serta ibu dan ayah sehat selalu.

Hidup adalah keajaiban, kata seorang teman. Bahkan bila duniamu berputar hebat, dan kegilaan-kegilaan yang kamu tahu itu sangat buruk bagi apa yang kamu yakini. Bahkan bila dunia terus-menerus memproduksi senjata dan negaramu mewarisi Kutukan. Anggap saja itu keajaiban yang lain.

:)

Fukú Dunia Baru

JUNOT DÍAZ melawan kutukan demi mengisahkan kutukan. Karya perdananya, Drown, kumpulan cerpen tentang pengalaman warga imigran Republik Dominika di AS (terbit 1996), meraih sambutan positif. Dia segera disebut-sebut pengarang muda menjanjikan dari kalangan masyarakat hibrida dari kepulauan Karibia. Namun Díaz berjuang—secara denotatif—untuk menyelesaikan proyek prosa panjang dia sejak embrio novel itu dimuat The New Yorker pada 2000. Itu sebuah cerpen tentang sosok bocah gemuk kutubuku, bernama Oscar de León, yang dikutuk perjaka lapuk di tengah dominasi patriarki dalam keluarga Dominika yang sangat maskulin.

Selama lima tahun pertama Díaz mengalami apa yang disebutnya “badai sempurna kegelisahan dan kegilaan.” Dia mengalami tekanan, frustasi, terpaan emosional; dan sesudah dia bisa berdamai dengan jiwanya, plus melakukan terapi, akhirnya novel yang ditunggu lama itu terbit pada 2007. Judulnya The Brief Wondrous Life of Oscar Wao. Setahun kemudian dia dianugerahi Pulitzer untuk karya fiksi terbaik. Díaz berhasil keluar dari kutukan block-writer. Continue reading

Demi Waktu

Waktu telah menghancurkanku berkali-kali, pada tahun-tahun yang berlalu dalam misteri. Dan waktu pula yang mengajariku berdiri, untuk kemudian jatuh lagi, tetapi—bersama lintasan jutaan tahun cahaya—aku berpegang pada apa yang telah diberikan semesta.

Begitulah riwayat dalam kertas. Bagai Alpha dan Omega bertemu dalam wujud nirkala, yang awal dan yang akhir, mengaburkan jarak seperti hembusan nafas sebelum kita menyadarinya.

Waktu telah menyusunku, dari matahari yang telanjang dan malam-malam yang menutupi rahasia, di pagi dan petang yang rutin, dari tiap kelahiran yang mewarisi milyaran sel dari suatu pohon di angkasa.

Waktu adalah dongeng menjelang subuh; dan, untuk setiap bayi yang lapar, kita menyadari bahwa waktu sudah cukup tua mendengarkan tangisan mereka.

Kesabaran menciptakan waktu yang panjang, namun ia tak sesederhana batuan-batuan meteor, yang menerima perannya sebagai yang terkecil di genggamanmu dari perjalanannya yang terkikis.

Aku telah berkali-kali belajar bicara bersama waktu yang terus melaju; saat tahu bahwa aku terlambat, ia tak berpaling sama sekali, kecuali kita ikuti arusnya.

Kepada waktu pula batas antara kesia-siaan adalah perkara yang bukan sia-sia.*

~ jelang subuh, 141011