17 Desember: Aku dan Jam Dinding

18 Desember 2009

PADA hari saat aku tambah usia, jam dinding di rumah dinyatakan “mati.”

Saat seharusnya pukul 9 malam, kata ponakanku, jarum jam malah menunjukkan pukul 4 sore. Paginya, ia diturunkan. Dengan selamat. Dinyatakan telah “stres.” Kena “penuaan usia.” Bapak bilang, “sudah waktunya.”

“Mungkin umurnya sudah 20 tahun,” dia menambahkan.

Kemana ia dimakamkan? Baca entri selengkapnya »


Dunia Putu Oka

4 Desember 2009

PUTU Oka Sukanta tersenyum hangat, “Silakan… Silakan…,” seraya merentangkan tangan dan menyambut para tamu, sekitar 20-an orang yang datang ke Taman Sringanis. Ini sebuah lahan seluas 1,000 m² di Cipaku, Bogor Selatan, milik Putu Oka bersama istri Suhendah Lasmadiwati. Ratusan varietas tanaman tumbuh semarak di dalam pot-pot kecil serta tertanam kokoh di petak-petak tanah.

Gerbang taman sederhana, berupa jaring-jaring kawat, menjadi pintu masuk utama. Alas ubin sejauh lima meter menghubungkan teras rumah. Pandangan lurus ke depan terlihat satu bangunan memanjang dua lantai, terbagi ruangan apotik serta ruang ibadah, ruang penginapan dan kamar-kamar. Baca entri selengkapnya »


Intermesso II

4 Desember 2009

BAGAIMANA kau mengingat masa kecilmu?

Pertanyaan ini selalu memburuku di saat “rindu rumah” menghajar kepalaku. Itu terjadi di mana pun. Saat rebahan di kasur, duduk di angkot, berjalan sejauh 1 kilo di saat jalanan macet, atau seperti sekarang: terbangun tengah malam, lalu tak bisa lagi memejamkan mata, menonton sisa film kemarin dan, dengan sisa tenaga yang terkuras insomnia, menyalakan lampu kemudian membaca halaman-halaman buku.

Perasaan “rindu rumah” itu pun kadang susah diatur. Aku tiba-tiba saja berniat pulang  tanpa ada rencana sebelumnya. Kejadiannya bisa pula hadir sesaat aku terbangun atau ketika menyaksikan orang-orang berkumpul di tepi jalan, seperti malam itu, menunggu sebuah bus menjemput mereka ke kampung halaman. Baca entri selengkapnya »


jejak hujan rabu

18 November 2009

kutemukan jejak hujan di telapak kakiku, dan dalam suatu jalan berlubang kaca, kudengar suara dari masa lalu. ribut dan berisik seperti tingkah anak-anak sekolah, seperti suara dua ibu muda yang duduk di mulut gang itu, melagukan tentang harga-harga harian di pasar. Suara itu seperti punggung tubuhku, menetap di sana tapi tak jelas kau tangkap penuh. seperti seorang bocah di mulut pintu rumah itu, yang menggeliat mengenakan pakaian kuning daun karena tubuhnya yang tambun; terlihat lucu dan tersenyum padaku. Ada sesuatu yang selalu menggerakkan mataku memperhatikan mereka. pagi rabu ini ada jejak hujan di mana-mana dan semuanya mengingatkanku pada masa lalu. Kita kadang-kadang ingin membunuhnya tapi, kau tahu, masa lalu tak pernah mati selalu. []


Flu!

16 November 2009

fluGIMANA RASANYA FLU? Cukup kau katakan: tak punya gairah untuk bergerak! Virus ini, yang menyerang hidung manusia, punya daya massal. Tak peduli anak-anak. Tak peduli orang-orang tua. Tak peduli remaja. Tak peduli dewasa. Semuanya menyatu dengan cara yang puitis: tiba-tiba hidungmu mbeler, seperti es batu yang mencair, atau seperti tetes hujan di jendela kaca.

Ya, ada tautan simbolis antara flu dan hujan, atau dengan cuaca yang tak terduga. Bayangkan: kau tiba-tiba menjadi seseorang dengan muka yang kusut. Barangkali seperti kertas yang terlumat air atau halaman buku yang kebasahan hujan dari atap rumahmu yang bocor.

Tak ada yang meragukan bahwa kau menarik (tak peduli siapa yang mengatakan), tapi di tengah flu, kau menjadi seseorang yang memelaskan. Dengan tingkat yang parah: kau cuma meringkuk di atas kasur, tenggelam di bawah selimut, dan tanganmu selalu memegang tisu atau sehelai pelbet yang penuh lendir ingus. Sangat jorok dan kotor! Kamarmu tak lagi se-higienis sebelumnya. Bahkan jika kau bukan si cleaner akut.

Apalagi jika kau perokok. Tiba-tiba ada perasaan yang teramat benci dengan si pembunuh paru-paru itu! Dan jika kau penikmat kopi pagi hari, kau membenci harimu sejak dini, sebelum kau melakukan sesuatu. Dan hidup, di tengah salesma massal, bukan lagi sesuatu yang menyenangkan.

Aku tak bilang “menyehatkan.” Ada perbedaan, menurutku, antara senang dan sehat. Jika kau pilih senang, tentu kau mengambil langkah nekat dari hidupmu yang buruk. Tapi jika kau pilih sehat, kau memilih jalur yang hati-hati, antara realitas yang tetap dengan kesadaran hidup yang apriori.

Tapi di sini lah aku, si pengidap flu yang datang tiba-tiba di malam senin, setelah tidur panjang akibat begadang nonton bola.

Kesal karena jagoanmu tak banyak menghiburmu, kau terbangun di siang bolong, pada weekend yang sepi, dan menyesal menghancurkan rutinitas bangun-pagimu selama dua minggu. Salesma menghajarku di senja hari ketika matamu menatap layar laptop. Kepalamu berdenyut oleh tulisan yang buruk. Kau isi pikiran dengan membaca buku yang kau suka, tak lama kemudian kau tertidur. Saat terbangun, hidungmu mbeler

Aku bayangkan, ada seseorang berperan seperti Gay Talese, membuka notes dari sakunya, di suatu pojok ruangan, dan mulai mencatat pasien salesma ini, seperti yang dilakukannya terhadap Frank Sinatra. Tapi kau tak bisa berharap banyak. Pikiranmu buntu. Perasaan-perasaanmu yang penuh, dengan menghibur diri sebuah weekend layak dihadiahkan satu hiburan nonton film secara kontinu, surut sekali detik. Antara sebal, ngantuk, suhu badan tinggi, mata tak bisa merem, kau mengumpat harusnya salesma ini menyerang presiden di negaraku.

Bayangkan: negaramu mengalama mbeler massal. Hidung politikmu tersumbat. Mata hukummu perih. Suasanan hati sosialmu tak karuan. Saluran-saluran nafas etika manusiamu tak berhubungan dengan jantung birokrasi negaramu.

Salesma massal ini, seperti juga salesma individualku, mudah diobati. Seorang teman dan kekasihmu bilang: minum madu, campur air hangat, dengan jeruk nipis. Soal gampang! Namun, karena birokrasi pikiran negaramu terlalu akut, obat semudah itu pun tak cepat kau dapatkan.

Aku tak berharap presiden ikut-ikutan salesma. Aku juga tak ingin membayangkan seorang bayi di negara ini, yang sakit karena diare atau flu, meninggal karena telat ditangani. Hidup sehat itu menyenangkan. Tambah menyenangkan jika negaramu memberi kita kesehatan! []


Pak Tua dan Macan Betina

13 November 2009

pak tuaMalam Jumat, jauh dari gosip hantu-hantu (selain film “Urban Legend” di Trans), aku cuma habiskan waktu di ranjang sambil baca novel pendek Luis Sepulveda. Ini pengarang Cile, yang eksil ke Jerman, akibat pandangan politiknya melawan diktator Pinochet. Tahun 70-an, di tengah Perang Dingin, kawasan Amerika Latin semuanya di-militerisasi-kan dengan bantuan Amerika Serikat. Praktis, negara-negara yang memangku ideologi sosialisme, semuanya dibabat. Sepulveda memilih eksil ke Eropa, karena di negara-negara tetangga juga tak aman bagi penulis dengan pandangan seperti dia.

Novel itu, dengan judul Un viejo que leía novelas de amor, 1989 (The Old Man Who Read Love Stories), diterjemahkan oleh penerbit Marjin Kiri. Ia juga dibikin versi film. Pembukaannya menarik sekali, dimulai dari seorang dokter gigi yang bertugas mencabut gigi-gigi para pemukim baru di satu kawasan Amazon (dia datang secara reguler), dan satu soal belakangan (penarik kisah novel ini) saat seorang penambang emas tewas oleh macan betina yang buas di musim hujan.

Tokoh kuncinya, alias mesin ceritanya, adalah pak tua (pendatang mula-mula), dengan nama yang nyleneh Antonio José Bolivar Proaño (mengingatkan pada pendiri legendaris Amerika Latin, Simon Bolivar). Dia orang yang kesepian di masa tua, istrinya meninggal jauh sebelum mereka bisa memahami kontur kehidupan di tengah hutan, dan dia berbaur dengan penduduk lokal Amazon untuk tahu bagaimana “memperlakukan alam.” Terang, ini kisah dengan muatan politis yang sangat kental, kisah soal lingkungan, bertahun-tahun sebelum manusia diingatkan apa yang sekarang tenar disebut “perubahan iklim” atau “green movement” atau “ekologi politik.”

Kisah akhirnya, Pak Tua akhirnya bergelut dengan macan betina yang ngamuk (ditinggal anaknya serta si jantan). Pemenangnya adalah Pak Tua, tapi dengan sikap yang liris. Sebab dari pertarungan itu (dengan konteks proyek transmigarasi, pejabat2 yang korup, dan sebagainya), tak ada yang betul-betul sebagai pemenang. Si Pak Tua kembali ke gubuknya, dengan kesenangan membaca kisah cinta picisan, tapi diingatkan bahwa “kisah-kisah cinta macam itu terkadang meninabobokan kita akan realitas sosial dan politik.”

Aku suka novel ini. Itu saja. Sorry gak banyak cerita karena ini cuma corat-coretan. Hihihih :)


jumatku di matamu

6 November 2009

its fridayTelah aku temukan jumatku di matamu. Ia berwarna abu-abu: lebih gelap dari warna matahari tapi lebih putih dari warna malam. Kusisipkan ia di antara halaman tak berabjad, sebab kisah ini sebetulnya tanpa awal dan berakhir terbuka. Rahasia-rahasia telah lama aku tuturkan pada ceruk batang pohon beringin di tepi jalan itu dalam setiap keberangkatan dan kepulangan. Kau tahu, para pengkhotbah sudah lama mati sejak kaki seorang penguasa memasuki rumah mereka. Dunia lebih berarti sekarang hanya karena Oprah menjengukku jam 11 siang. Tiada yang berarti kini di tabung suara bergambar itu karena, seperti sirkus, yang lainnya lebih suka keramaian. Debat menyerupai permainan masa kecilku dulu. Atau semacam zat adiktif. Ia kisah yang membosankan, lebih buruk dari cerita “Tom and Jerry” atau dongeng binatang antara si putih dan si hitam. Ia hadir di meja makanku, seperti lalat tanpa malu-malu mengganggu nafsu laparku. Semuanya datang dan menimbulkan suara berisik seperti kicau siang jumat dari mulut para pengkhotbah. Seperti ada hal yang senantiasa dilontarkan berulang kali tanpa absen satu hari pun. Tapi jumatku di matamu adalah perasaanku tentang sebuah keyakinan. Dan setiap kali matamu terbuka, aku tahu, aku telah menemukannya. []


kamis yg menolak jadi batu

5 November 2009

mly0631lJika ada yang lebih penting di dunia ini, itu adalah pagi kamis yang menyimpan kebekuan di sudut kamar itu. Ia juga adalah keheningan yang stabil hingga, seperti es krim, pelan-pelan mencair. Keringat, entah diciptakan dari ketergesaan ataukah keadaan, muncul dari pelipis jarum jam dinding ke arah angka delapan. Ia alamat tahu sebentar lagi keinginan akan membawaku berlari, entah untuk hal yang bisa kudapatkan, namun pasti tak perlu aku harapkan hujan di bulan ini. Membekukan pagi kamis adalah menghentikan lamunan-lamunan yang luput dari angin kering di luar musim. Perumpamaan tak lebih konyol dari politik dan tak lebih baik dari harga-harga rokok, kopi, kudapan sehari-hari, atau sebungkus nasi setiap hari. Pagi kamis adalah pagi yang menghitung berapa jumlah kata dari bibirku untuk hari ini dan berapa jumlah kedipan dari mataku untuk hari ini. Aku hanya tahu sesuatu akan menemui ujungnya, tapi bukan seperti barisan rayap yang rakus, atau hal-hal tak penting di luar kisah yang kutuliskan. Yang ingin kubilang, sebenarnya: menebak arah cuaca saat ini seperti juga menebak arah hidupku, atau sejarah keluargaku, yang melengkapi sebuah riyawat keterbatasan dan harapan. Kita pernah ada, melakukan sesuatu, tapi ini juga tak penting, sebetulnya. Karena aku hanya tahu pagi kamis seperti ini adalah pagi yang menolak jiwaku menjadi batu! []


di antara rabu dan sabtu

4 November 2009

catsAku tidak akan menemukan apapun di sini, kecuali jejak matamu yang tersapu dalam bayang-bayang, di antara subuh dan tubuh. Rabu ini telah merabun jauh, dengan langkahmu yang terkadang sulit kutebak ke arah satu. Kau tidak perlu petunjuk apapun. Simpanlah kuku jariku, sesuatu yang kecil tapi pernah dulu menjadi milikku. Atau kirimkan saja ucapanmu dalam emoticon yang membuat kita merasa punya bahasa meski tak bicara atau bahkan berjumpa. Telah kututup hari ini dengan cara yang biasa: aku melangkah dari pintu itu dan menembus siang november yang tak hujan tentu, menemui mataharimu di antara rabu hingga sabtu. Di akhir pekan nanti, bahkan sebelum ini, aku terbakar menunggu dan termangu. []


Dari Konstitusi hingga Hak Asasi Manusia

20 Oktober 2009

Buyung 1JULI lalu Adnan Buyung Nasution datang untuk berdiskusi bersama peserta kursus menulis dari Eka Tjipta Foundation. “Bang Buyung” tampil rapi, rambut putih tebal, kemeja lengan panjang, pantalon hitam, sepatu boot, duduk bersila di atas karpet lantai 39. Diskusi dilakukan untuk bicara soal buku-bukunya, termasuk Aspirasi Pemerintahan Konstitusional di Indonesia: Studi Sosio-Legal atas Konstituante 1956-1959.

Bang Buyung meniti karier di bidang hukum sebagai jaksa pada 1957. Pada akhir 1960an, dia ikut dalam protes melawan kediktatoran Presiden Soekarno. Pada 1974, dia ditahan 13 bulan oleh pemerintahan Presiden Soeharto dalam demonstrasi menentang kedatangan Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka ke Jakarta. Dia lantas mendirikan Lembaga Bantuan Hukum bersama pengacara Yap Thiam Hien. Pada 1980an, dia studi doktoral di Universitas Utrecht dan menulis thesis soal Konstituante 1956-1959. Baca entri selengkapnya »