Kenangan-kenangan Sipon

Ia telah menancapkan tekad, dan bersikukuh, bahwa selama jasad suaminya belum terlihat dengan mata kepala sendiri, maka sepanjang itu pula pencariannya tetap tiada henti.

SITI DYAH SUJIRAH bingung sendirian sepanjang perjalanan di kereta menuju Jakarta itu. Ia tak tahu mesti berkata apa kepada Saiyem dan Wito, orangtua suaminya. Ia tahu selama ini telah berbohong kepada mereka. Meskipun yang ia lakukan demi kebaikan, namun saat itu ia merasa sangat bersalah.

Sipon gamang. Terasa terdampar di persimpangan di antara dua pilihan: apakah harus ia katakan dengan jujur saat itu juga ataukah memendamnya dan membiarkan mereka mengetahuinya dari mulut orang lain. Toh, pikir Sipon, tanpa ia mengutarakan langsung, mereka sendiri akan tahu ketika hari penghargaan itu tiba, di mana untuk tujuan itulah mereka pergi ke Jakarta.

Perempuan kelahiran 21 September 1966 itu teramat mengerti jika ia mengatakannya secara jujur maka itu akan menghancurkan perasaan kedua orangtua suaminya. Bagi mereka, keberangkatan ke Jakarta saat itu untuk bertemu si anak sulung tersayang. Sebab sekian tahun mereka tak pernah bertemu. Sebab itu mereka rindu. Sangat rindu.

Mereka hanya tahu melalui kabar yang disampaikan Sipon bahwa si sulung tersayang dalam keadaan baik. Mereka tak menduga terlalu jauh Sipon selama ini telah berbohong.

Jauh sebelumnya, ketika mereka bertanya mengenai kabar anaknya, Sipon selalu menjawab suaminya baik-baik saja. Tak lupa, untuk menutupi kesalahan sekaligus meyakinkan mereka agar percaya, Sipon kerap membawa oleh-oleh seraya bilang itu kiriman dari anak sulung mereka. Dan peristiwa tersebut terjadi berulang-ulang.

Sampai akhirnya tibalah suatu hari yang menentukan berupa undangan penghargaan bagi anak sulung tersayang. Sampai akhirnya terbitlah di dada Sipon sebuah situasi perasaan bimbang yang menekan. Suatu perasaan bersalah dan bingung setengah mati.

”Udah kayak kesobek dadaku,” begitu kenang Sipon.

Sipon yang duduk di bangku kereta itu sejatinya sangatlah gelisah. Ia dihadapkan pada situasi yang membingungkan. Sehari di kereta itu pikirannya cuma disibukkan buat berkata jujur bahwa sebetulnya sudah lama ia tak bertemu dengan suaminya. Namun, sebelum sempat terucap, cerita itu seakan terhenti di ujung kerongkongan. Akhirnya, Sipon mengambil sikap diam.

”Wah…, itu aku kayak orang gila,” katanya, mengenang. ”Aku merasa, aku membohongi mertuaku sekian tahun.”

Selain kedua mertuanya, turut juga Wahyu Susilo, adik lelaki suaminya. Sipon membawa pula kedua anaknya. Fitri Nganthi Wani, usia 13 tahun, dan Fajar Merah, 9 tahun.

Wani akan membacakan puisinya sendiri dalam penghargaan itu. Sebelumnya, puisi itu dikirim lewat faksimil. Sipon mendapatkan balasan: “Ini Mba Sipon, puisinya beneran apa nggak?”

Terang dari Jakarta menanyakan hal itu, karena selepas puncak penghargaan tersebut digelar dan Wani selesai membacakan pusinya, Todung Mulya Lubis, aktivis-cum-pengacara, berkata, ”Itu kemarahan anaknya Mba Pon!”

Sang penerima penghargaan itu adalah Wiji Widodo alias Wiji Thukul. Tapi sosok wadag Thukul tak ada. Thukul tak pernah naik podium itu.

Sementara Lubis mengumumkan nama Thukul, Saiyem terkesiap dari kursinya. Ia menggigit lengan Sipon sembari berujar, ”Kamu ngapusi aku.”

Lampu sorot kamera merekam kejadian tersebut. Seluruh keluarga itu terlihat tak mampu lagi menahan emosi.

”Videonya ada itu. Aku kayak orang gila. Aku merasakan diriku bukan diriku. Aku melihat mataku itu kok kosong. Jadi aku melihat di video itu kayak bukan aku. Aku bener-bener kayak orang gila. Shock betul!”

Sebelum penyerahan sertifikat kehormatan diserahkan, Sipon diberi waktu untuk naik ke podium. Namun itu cuma sebentar. Selepas berkata, ”Jangan sampai terulang lagi kejadian hal seperti ini…”, Sipon rebah, sekujur tubuhnya lemas. Jatuh pingsan. Akhirnya, Wahyu Susilo mewakili prosesi penyerahan tersebut.

Puisi dengan judul “Untuk Bapakku dan Orde Baru” yang dibacakan Wani rupanya menerbitkan rasa kaget tak dinyana oleh Sipon. Ia bilang, ”Lho kok serem, Nduk?”

Besok harinya Toding Mulya Lubis berkomentar, ”Yang kemarin itu bukan puisi. Tapi itu kemarahan anaknya Mba Pon. Biarin ajalah supaya dia nggak down. Kalau nggak, mungkin dia pingsan juga.”

Begitulah acara puncak penghargaan Yap Thiam Hien, 10 Desember 2002.

Penghargaan tersebut diberikan bagi orang-orang yang dinilai telah berjasa besar demi tegaknya keadilan dan nilai-nilai kemanusiaan.

Di tengah wajah moyak kekuasaan Orde Bangkrut Soeharto yang suka bikin tindakan tak senonoh yang biadab dan kurang ajar, Wiji Thukul adalah salah satu korbannya. Ia perwakilan absolut yang menentang segala macam mulut besar para penguasa otoritarian; penguasa yang doyan melahap doyan menguap orang-orang yang dianggap “penyempal.”

Dalam sambutannya, tulis The Jakarta Post, Lubis berkata “Thukul sangat layak mendapatkan penghargaan ini.” Thukul adalah representasi dari sosok pejuang kemanusiaan sejati, karena ia tidak hanya berjuang untuk hak-hak kemanusiaan, melainkan mengangkat daya martabat manusia.

”Di negeri yang hak-hak hidupnya dikhianati, Wiji melawannya lewat kata-kata. Beberapa dari hasil kerjanya itu menjadi senjata ampuh bagi para aktivis dan mahasiswa dalam setiap gerakan.”

Lubis memberi penilaian, ”Puisi-puisi Wiji dipenuhi bahasa sederhana dan bijaksana, penuh permenungan, terasa pahit, peka dan, dalam beberapa hal, sangat berbau politik. Suara Wiji menyiarkan ketidakadilan dan menyingkap wajah asli otoritarianisme.”

Sebelum perhelatan dimulai, yang digelar di gedung Museum Nasional Jakarta Pusat, Sipon berkata mengenai suaminya, ”Hari-hari pahit ketika rumah kami dirampok dan diawasi telah selesai, walaupun keluarga saya akhirnya harus rela membayarnya dengan hilangnya seseorang yang begitu dicintai oleh anaknya, kedua orangtua, dan adiknya.”

”Bagaimanapun,” kata Sipon, ”saya beruntung karena saya masih bisa menyaksikan anak-anak saya tumbuh besar, tetapi saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan suami saya yang tidak dapat menyaksikan anak-anak kesayangannya.”

Fitri Nganthi Wani berkata, ”Saya bangga terhadap ayah saya tapi saya tidak ingin seperti dia. Dia tidak kembali dan itu yang menyebabkan nenek dan ibu saya sangat sedih.”

Dari penghargaan ini, Sipon merasa sangat bersyukur.

”Aku terimakasih sekali bantuan teman-teman. Sangat kuat sekali buat saya. Saya melihat, aku punya banyak teman, karena ternyata saya tidak sendirian.”

 

Masa Kehilangan dan Pencarian

SIPON dan Thukul menikah pada 21 September 1988. Mereka setahun pacaran lalu setahun berikutnya memiliki momongan. Selang lima tahun kemudian Fajar Merah lahir.

Dalam ingatan Sipon, saat Fajar masih kecil, Thukul pernah bercanda, ”Aku ingin punya anak sebanyak-banyaknya dengan kamu.”

Sipon menganggap sepi ucapan tersebut, hanya menimpali, ”Wah, kaya arep mati wae. Sapenake dhewe, kene sing meteng, ha.. ha..ha…”

Sekian tahun kemudian, setelah Thukul tak kunjung kembali, Sipon mengenang dan berpikir, ”Mungkin dia keroso.”

Benar atau tidak dugaan Sipon, kenyataan yang menimpa suaminya membikin catatan sejarahnya sendiri.

Pada 1992, bersama warga Jagalan-Pucangsawit, Thukul ikut demonstrasi menentang pencemaran lingkungan oleh pabrik tekstil Sariwarna Asli. Tahun-tahun berikutnya ia terlibat dalam Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (Jakker) yang jadi bagian gerakan bawah tanah Partai Rakyat Demokratik. Pada 1994, Thukul bergabung dalam aksi perjuangan petani di Ngawi. Ia ditangkap dan dipukuli militer.

Pada Maret 1995 adalah mimpi buruk baginya. Kala memimpin aksi pemogokan buruh PT Sritex di Sukoharjo, Surakarta, sebelah mata Thukul nyaris buta akibat poporan senjata. Kelopak mata kanannya robek, retinanya terganggu. Ia beberapa kali menjalani perawatan di rumahsakit mata Dr Yap di Yogyakarta.

Lalu terjadilah peristiwa celaka itu. Sabtu, 27 Juli 1996, massa bayaran yang didukung aparat polisi dan tentara, mengenakan kaos bertulis “PDI Pro-Soerjadi”, menyerbu markas besar Partai Demokrasi Indonesia di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat. Mereka mengambil-alih secara paksa kantor tersebut sambil merusak dan membakar.

Suhu politik nasional memanas. PRD dituduh dalang penyerangan itu. Para aktivisnya diburu, ditangkap, dan dicebloskan penjara. Pemerintahan Soeharto melalui Soesilo Soedarman, menteri koordinator politik dan keamanan, kemudian mengumumkan nama-nama aktivis PRD yang harus diburu. Thukul termasuk di antaranya.

Cepat-cepat Thukul bersigegas, menyeret nyawanya, menghilang. Di sekian hari kemudian, Thukul hanya berwujud sebuah puisi yang muncul dari internet. Nada puisi masa pelarian itu terkesan murung. Tak lagi pekik membahana yang kerap menghiasi aksi-aksi di jalanan. Tak lagi menggelora. Puisi itu seakan arah petunjuk melacak jejak Thukul berada. Hayati, salah satunya.

…..

hayati
bapak mamak ingin bawa kau
ke madura
tanah bapaknya bapakmu
tanah mamaknya mamakmu

tapi kapal-kapal sudah berangkat hayati
dari pontianak
ke madura
ratusan kali
pulang pergi

tapi kapal-kapal sudah berangkat hayati
karena beaya
selalu tertunda-tunda
karena beaya hayati

lebaran sepuluh hari lagi

Ada kata madura dan pontianak. Namun tiada yang tahu di mana Thukul menulisnya. Dalam kumpulan puisi Aku Ingin Jadi Peluru, terbitan IndonesiaTera, 2004, puisi itu dibuat 6 Januari 1997. Ini sepenggal rentang masa pelarian Thukul.

Linda Christanty, kawannya di PRD, dalam artikel “Wiji Thukul dan Orang Hilang,” menulis “Thukul pergi ke Kalimantan dan hampir setengah tahun tinggal di sana.” Sekembalinya dari Kalimantan, tulis Christanty, “Thukul diminta membantu kawan-kawan di Jakarta.” Christanty lantas kembali bekerja bersama Thukul. Pada November 1997, Thukul meminta izin pulang ke Solo dengan maksud menemui keluarganya. Christanty tak menyangka saat itulah kali terakhir ia akan berkontak dengan Thukul. Christanty hanya mampu mengenang.

Pada Desember 1997, Thukul secara diam-diam menemui Sipon dan kedua anaknya.

Awal Februari 1998, Sipon hanya bisa meyakini suaminya masih hidup lewat sehimpun suara dari ujung telepon. Namun bersamaan itulah kontak terakhirnya dengan Thukul.

Sipon mengenang hanya bertemu beberapa kali. ”Tidak bisa lama,” katanya, ”mirip kucing ditembak peluru.”

Situasi perjumpaan mereka pun terasa berat. Hanya lewat bahasa tubuhlah mereka saling melepas dan menangkap kangen. ”Inginku ketemu langsung dan bisa enak, tapi nggak tahunya sulit.”

Pada Mei 1998, Soeharto jatuh. Pelan-pelan merebak “kerusuhan etnis.” Bermula di Jakarta lalu menyebar ke luar Jawa. Namun, saat situasi agak reda, Thukul tak lekas kembali. Tak juga berbentuk suara. Tidak pula jasadnya. Thukul seakan tersesat dalam riuh rimba kekacauan itu.

Sipon menanti cemas. Perasaan rawan mendadak menyergapnya.

Masa-masa kritis pun dimulai. Sipon sampai tak mengenal mana kawan mana lawan. Orang-orang di lingkaran aktivitas suaminya saling melempar tanya: kemana larinya Thukul?

Kawan-kawan Thukul mengira Sipon tahu—mungkin saja disembunyikan. Sipon mengira mereka malah lebih tahu. Ia bertanya ke semua teman yang pernah bertemu dengan Thukul. Mungkinkah Thukul pernah singgah ke tempat mereka? Tapi mereka pun tak tahu. Tak ada yang lebih tahu. Segalanya serba sumir.

Sementara tanda-tanda kemunculan Thukul tak kunjung berdengung, di rumahnya Sipon bingung harus berusaha menenteramkan Wani dan Fajar. Ia berusaha memberikan apa saja yang diminta oleh anak-anaknya. Ia berusaha keras supaya mereka merasa tenang.

”Tapi kalau minta ketemu bapaknya,” ucap Sipon, ”matilah aku!”

Satu hari Wani hanya diam membatu. Wani kerap bersikap begitu jika ada sesuatu yang menggelisahkan hatinya. Karena bingung, Sipon minta Wani menulis di kertas buku. ”Kamu tulis aja keinginan kamu apa, kalau itu akan bisa bantu, Ibu akan bantu.”

Wani tertidur di halaman buku tulis tersebut. Sipon segera membacanya. Rupanya Wani rindu bapaknya.

Dalam ingatan Sipon, tulisan itu berbunyi:

“Pak, kowe neng endhi, ora mulih-mulih. Aku pengen sinau karo kowe, aku pengen garep PR karo kowe. Pak, kowe ora mulih-mulih. Sesuk mulih yo, aku kangen, ibu kangen…”

Sipon terhenyak. Ia menangis tersedu.

Demi mencari Thukul, dan tak ingin seterusnya menunggu, Sipon pun bergerak lagi. Sekeras-kerasnya. Sesekali terhenti. Tapi itu hanya perhentian sementara. Ia berpusing lagi. Menemui teman-teman yang pernah bersentuhan dengan kehidupan suaminya. Semua-muanya.

Ia telah menancapkan tekad, dan bersikukuh, bahwa selama jasad suaminya belum terlihat dengan mata kepala sendiri, maka sepanjang itu pula pencarian tetap tiada henti. Sekeras-kerasnya.

Namun Sipon tetaplah manusia. Ia memiliki keterbatasan. Seperti halnya Thukul. Suaminya berbadan kurus, ringkih, tak berotot. Tapi justru karena itulah Thukul melawan tidak lewat belulang kecilnya, melainkan dengan kata-kata. Penguasa takut. Penguasa terancam. Penguasa marah. Penguasa lantas membungkam suara kebenaran; suara yang bernada lapar yang telah terkuras tandas buat mengganjal perut buncit kaum penindas.

Sebab tubuh Thukul kurus, maka perlawanannya dengan cara lain. dengan jalan lain. Semampu-mampunya. Tapi manusia tetap memiliki keterbatasan. Dan pada titik itulah Sipon terhenti. Bukan berarti ia menyerah. Sama sekali bukan! Hanya capek. Sangat Capek.

Sipon bilang, ”Memang sulit untuk menemukan Thukul.” Kemudian dengan suara tertekan, melanjutkan, ”Yah…, akhirnya aku kembali lagi. Apa ya…, ehmm… pasrah ya. Aku harus pasrah dan mau menerima…”

Di rumah, Wani dan Fajar mulai bisa menerima kebingungan ibunya. Mereka bilang, ”Sudahlah, itu terserah Ibu, tergantung Ibu.”

Sipon lega mendengarnya.

Pada April 2000, Sipon melaporkan hilangnya Thukul ke Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), lembaga yang didirikan aktivis Munir Thalib. Beberapa bulan kemudian Kontras mengumumkan Thukul termasuk korban politik praktik penghilangan orang yang dilakukan pemerintahan rezim Orde Baru.

Inilah “politik penghilangan orang secara paksa”. Inilah kejahatan maha celaka. Inilah Crimes Againt Humanity. Dan Thukul tertelan dalam pusarannya.

Sipon berkata, ”Bayanganku, kalau dia masih hidup, mungkin dia sekarang jadi orang yang disembunyikan, atau dihormati atau dihargai, yang tidak bisa ke mana-mana. Terus apa mungkin dia jadi gelandangan yang harus menyamar jadi orang gila? Terus apakah dia memang benar-benar mati? Kadang aku nggak bisa inilah…, karena aku nggak tahu pasti.”

”Kepastian itu sulit,” kata Sipon.

 

Masa Perkenalan

SIPON anak kelima dari enam bersaudara. Ia mengenal Thukul saat berteater. Jika Thukul sempat sekolah hingga kelas dua Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI), sementara Sipon hanya mencicipi pendidikan sampai kelas lima sekolah dasar.

Mereka bertemu pertama kali di Sanggar Teater Jagad pimpinan Cempe Lawu Warta di Kampung Jagalan. Awal pertemuan mereka di lokakarya teater di Pantai Glagah, Yogyakarta, yang dibikin budayawan Emha Ainun Nadjib dan Halim HD.

Sipon kepincut hati dengan Thukul. Selain sama-sama menyukai aktivitas membaca dan menonton teater, Sipon melihat Thukul punya cara lain dalam memandang tiap persoalan.

Bagi Sipon, Thukul memiliki cara berpikir yang jauh berbeda dengan orang yang dikenal di kampungnya. Ini terkait puisi-puisi Thukul yang isinya sekumpulan gugatan terhadap penguasa. Teman-teman mereka yang bekerja sebagi buruh pabrik, tukang parkir dan penarik becak bukanlah karena perkara takdir semata, tulis Thukul, tapi pekerjaan mereka itu lebih karena akses ekonomi tidak adil. Itu menciptakan jurang lebar golongan si miskin dan si kaya. Itu eksploitasi dan perampasan hak-hak kehidupan yang layak.

Tentu saja, Thukul tidak sedang berteori. Ia merasakan sendiri kehidupan pahit sekaligus keras ini. Beragam puisinya adalah jeritan hatinya, fragmen kehidupan dari lingkungan sekitar.

Ia berpuisi mula-mula bukan dari “pengalaman melihat” saja, melainkan ia merasakannya sendiri, menanggungnya sendiri. Puisi yang lahir dari tangannya berasal dari tubuh yang sakit. Tubuh yang diterjang penderitaan hidup dan dikebiri tangan jahat kaum penguasa.

Di sinilah Thukul sosok pribadi yang selalu gelisah. Pribadi yang getir ketika bersitentang dengan kesewenang-wenangan. Di sinilah pula Sipon masuk ke dalam kehidupan Thukul. Dan keduanya bersikap.

Sipon mengenang dengan bercanda, ”Mungkin aku menyalahi takdir ya, ha…ha..ha…”

Itulah, semasa pacaran, Sipon sering diingatkan teman-temannya. Ada yang pernah bilang, ”Kamu jangan dekat-dekat dengan Thukul, kamu nanti menyesal.”

Ia heran. Dalam batinnya, ”Kok nggak boleh dekat sama Thukul. Thukul itu punya masalah apa?” Bahkan almarhumah ayahnya, Atmojuhari, melarangnya.

Sipon tambah tak mengerti,”Lho, Thukul itu tidak ngapa-ngapain kok!”

Sampai suatu ketika Thukul melamar Sipon. Thukul bilang, ”Kamu mau jadi istriku?” Sipon tergeragap, ”Oh, gila kamu! Kacau kamu!” Beberapa bulan Sipon tak menanggapi lamaran Thukul.

Lain waktu, saat tak punya pekerjaan, Thukul berkat, ”Aku itu sulit cari pekerjaan.” Sipon menanggapi, ”Tidak ada yang sulit kalau ada niat. Kerja apapun bisa kalau ada niat.” Thukul lantas bekerja sebagai tukang pelitur. Ia menunjukkan kepada Sipon. Sipon pun kagum.

Ada satu peristiwa yang bikin Sipon makin simpati pada Thukul. Mereka tengah latihan teater. Cerita teaternya tentang raja-rajaan Jawa. Thukul jadi rajanya. Ia diharuskan berteriak lantang. Padahal Thukul tak bisa mengucapkan huruf ‘r’. Ia dikenal penyair cadel.

Sipon disuruh mendengarkannya dari jarak jauh. ”Coba dengarkan. Kamu dengar nggak suaranya?”

Sipon lihat Thukul di kejauhan bersusah-payah mengucapkan: ”Akulah Raja Jawa… Akulah Raja Jawa…”

Melihat ini, Sipon menimpali temannya, ”Gila! Dia bisa mati.” Teman-teman mereka tertawa.

Awak teater sudah istirahat, tapi Thukul masih saja berteriak-teriak. Sipon merasa kasihan. Ia menghampiri Thukul. ”Udah yuk kita keluar aja. Kita makan ke mana lah,” ajak Sipon.

Mereka pun makan di sebuah warung. Benih cinta kian bersemi.

Sipon mengenang, ”Lama-lama aku kasihan. Karena setiap orang membenci dia. Setiap orang harus menjauhi dia. Mungkin di situ ya, karena kasihan itu, saya punya ehm… empati. Masak sih tidak boleh bergaul dengan Thukul?!”

Akhirnya mereka menikah. Pada saat acara pernikahan itu, teman-teman Thukul dari seniman jalanan menghadiri. Ada yang dari Solo, Klaten, dan yang paling banyak dari Yogyakarta. Kota-kota ini jadi tempat mengamen Thukul.

”Ya…., pengamen Malioboro itu duaateng semua ke sini pas mantenan itu,” kata Sipon, tergelak.

Sebelum nikah, Atmojuhari memberi restu kepada Sipon. Sebagi bekas tentara pejuang, ia paham tentang aktivitas calon menantunya. Itu rentan bagi kehidupan keluarga anaknya di tengah kekuasaan jahat Orde Baru.

Pesannya:

”Udah, ini pilihan kamu sendiri. Aku nglihat dari suamimu itu yang harus kuat kamu. Yang bisa memilih itu kamu. Kalau suamimu itu orang politik, kamu siap ditinggal pergi. Tapi kalau suamimu seorang seniman, kamu siap mempunyai suami sebagai orang gila…”

Sipon terperangah. ”Mati! Padahal dua-duanya…”

Ia terngiang terus ucapan itu. Sipon bingung, ”Wah ini dua-duanya…”

Ia memberitahu pesan ayahnya kepada Thukul. ”Wah…, ndak lah, aku bukan siapa-siapa,” kata Thukul, menimpali.

Hingga kini nasihat tersebut selalu diingat Sipon.

”Mungkin sampai mati pun aku ingat terus,” tuturnya.

 

Masa yang Terbelah

SIPON “sungguh bahagia” menjalin kehidupan rumahtangga bersama Thukul. Ia bangga bukan karena suaminya bisa bikin gerah kaum penguasa, namun juga ia seorang penyayang, pengertian serta penyabar.

Bersama kedua anaknya, Sipon merasakan betul kasih-sayang dari Thukul. Bagi Sipon, Thukul “suami yang baik, pengertian, dan bertanggung-jawab kepada anak-anaknya.” Sebab itu, saat Thukul jauh dari rumah semasa pelarian hingga perlahan-lahan menghilang, ia dan kedua anaknya sangatlah terpukul.

Itu benar-benar terpukul. Seperti ada palu besar menggodam jantungnya. Melumat bangunan kehidupan keluarga tersebut hingga pecah berkeping. Serasa dunia di selingkar kehidupan Sipon menyempit, makin menyempit, dan terlalu lama ia tak bisa bernapas lega, tak mampu berpikir jernih.

Waktu kemudian terbelah: ada masa sebelum kehilangan, ada masa sesudah kehilangan. Namun semuanya menerbitkan ketak-wajaran. Menghujani segenap perasaan yang hambar dan sakit tak tertahan.

Sipon mencatatnya sebagai kenangan-kenangan.

Ia ingat, setiap kali Thukul pulang setelah pergi berhari-hari yang ia sendiri kadang tak tahu benar untuk apa, selalu yang hadir di ambang pintu adalah sosok dengan sepotong pakaian kumal.

Ia melihat Thukul begitu capek. Ia melihat pakaian yang melekat di sekujur tubuh suaminya dan pakaian lain yang dibawa dalam kepergian itu seperti berhari-hari saja tak pernah tersentuh air.

Dengan sigap, Sipon menyiapkan air hangat ke dalam bak cucian. Ia lantas merendam semua pakaian kotor itu. Dengan air hangat pula Thukul mandi. Ia lalu jatuh tertidur. Lelap. Mirip seseorang yang tak mengenal nikmatnya tidur sekian lama.

Di sela istirahat, Thukul tiada henti menulis. Isi tulisan tentang penderitaan. Sipon memperhatikan secara dekat. Separuh bercanda, ia berujar, ”Urip awak dhewe wis rekoso, nulis penderitaan kayak gitu-gitu lagi..” Sipon tertawa.

Thukul membagi pengalamannya. Ia bercerita penderitaan yang ia saksikan dan ia rasakan. Sipon pedih mendengarnya. Ia membatu.

Saat bercerita, suatu kali, Thukul menangis…

Lebih dari kebiasaan sebelumnya, sipon melihat suaminya “sangat capek.” Sembari terisak, Thukul berkisah bahwa “di pelosok sana ada banyak orang yang makan masih dengan garam dan nasi jagung.” Banyak dari mereka yang tidak sekolah dan kekurangan makan, padahal jaman sudah merdeka.

Cerita-cerita itu membuat Sipon paham. Bahwa penderitaan buruk yang dijumpai Thukul harus dimengerti setiap orang; bahwa pemerintah selama ini berbohong di setiap siaran di setiap pertemuan tentang “Indonesia yang kaya raya.”

”Dari situ,” kata Sipon, ”suamiku sosial banget!”

Honor yang diterima Thukul dari aktivitas berkesenian, yang tak seberapa itu, oleh Thukul dibagi-bagi. Sebagian untuk keluarga. Sebagian lagi, ucap Thukul kepada Sipon, digunakan buat membeli kertas bagi anak-anak. Baik anak-anak di sekitar lingkungan rumah maupun tempat persinggahan aktivitasnya. Sipon senang mendengarnya. Ia nilai itu perbuatan baik. Suatu tindakan mulia.

Namun solidaritas sosial Thukul tak lantas membuatnya lupa dengan rumah. Bahkan ia rajin melakukan apa saja yang bisa meringankan pekerjaan sehari-hari rumahtangga. Thukul menyuci pakaian, membersihkan rumah, memandikan anak-anak.

”Aku enak punya suami dia. Kita saling menghargai bahwa itu kewajiban kita,” kenang Sipon.

Suatu malam, ketika Sipon mengandung anak keduanya, tahu kebiasaan Sipon yang suka ngidam malam-malam, Thukul pergi diam-diam membeli makanan. Setelah dapat nasi angkringan dan segelas air hangat, Thukul kembali dan membangunkannya, lantas menyuruhnya cepat makan.

Sipon memakannya masih dengan kedua mata yang mengantuk. Nasi angkringan yang dibeli Thukul itu tanpa sambal. Padahal orang ngidam biasanya suka makanan pedas. Thukul ingin anaknya tumbuh sehat.

Itu berlanjut dengan pembawaan si anak. Jika Fajar Merah masih sering sakit-sakitan sampai kelas dua sekolah dasar, sementara Fitri Nganthi Wani punya tubuh yang rentan hingga remaja. Wani lebih lama mencicipi kebersamaan dengan ayahnya dan terbiasa dimanja.

Anak-anak inilah di saat-saat tertentu sangat ingin bertemu dengan ayahnya.

Pada Desember menjelang perayaan Natal, mereka kerap mengajak ibunya pergi kemana saja asalkan bisa berjumpa dengan ayah mereka. Maka, tiap Desember itu, Sipon selalu bilang kepada mereka, ”Kita nggak mungkin ketemu bapak lagi. Walaupun orang bilang bapakmu masih, bapakmu belum meninggal, tapi nggak jelas di mana dia. Kita harus menerima saja kenyataan ini, bahwa kita memang harus bisa mengerti, memahami….”

Sipon melanjutkan, ”Kita hanya kita, tanpa bapak. Jadi hanya ada kamu dan aku. Aku ibumu, kamu anak-anakku.”

Terkadang, dalam kondisi lelah, Sipon pun bingung memahami semua peristiwa yang menimpa suaminya.

Kenapa suaminya diburu? Apa yang telah diperbuatnya? Kekuasan macam apa yang tega membikin suaminya mesti berlari sejauh mungkin dari rumah?

Ia kenal sosok suaminya melalui sesuatu yang terasa dekat; sebuah kesan mendalam dari tindakan-tindakan sederhana yang berdiam di rumah. Dan tiba-tiba saja, tanpa isyarat, hal-hal sederhana itu lenyap, menyisakan lubang hitam di hatinya.

”Demi Allah, aku ndak ngerti. Yang aku tahu, aku adalah ibu rumahtangga. Suamiku aktivis. Seniman. Yang aku tahu gitu, karena aku kenal dia sudah seperti itu. Yang aku tahu dia baik di rumah.”

Sipon harus melewati berbilang tahun untuk mencapai batas kesimpulan mengenai kekuasaan sekejam apakah yang menghilangkan suaminya; keinginan seperti apakah yang diidam-idamkan Thukul.

Satu hari, ketika suaminya ditangkap gara-gara menggelar acara kesenian yang menggugat Negara, Sipon datang menjenguk ke penjara. Batinnya, ”Apa salah dia ditangkap?!”

Jauh setelah kejadian itu, setelah Thukul mengilang, Sipon menyadari, ”Ternyata, setelah lama dan dipelajari sampai sekarang, saya tahu bahwa dia menginginkan sebuah demokrasi.”

 

MASA PELARIAN suaminya, dilanjutkan masa kehilangan, hanya dipisahkan sekeping pintu rumah. Sebuah rumah tempat Fitri Nganthi Wani dan Fajar Merah lahir, tempat anak-anak mengenali dunia pertama kali, dan tempat Sipon bersama Thukul menghidupi mereka dengan penuh ketekunan.

Mereka menumbuhkan kesadaran bahwa rumah adalah selasar tanah lahir, tempat yang menarik-narik si penghuninya agar segera pulang ketika berada di luar.

Dalam puisi-puisi Thukul sewaktu ia jauh dari rumah, kesan kerinduan akan “tempat yang tetap” itu terasa sekali. Ia sangat ingin untuk kembali, meski hanya sesaat. Kemewahan untuk jadi diri sendiri di sebuah masa kekuasaan yang penuh tipu daya ternyata amat mahal harganya. Menjadi diri sendiri semacam tindakan subversi. Meski kemudian harus memakai baju dan celana lain, nama dan identitas lain, buku yang dibaca dan bahan percakapan lain, namun Thukul tetap “menolak untuk patuh.”

Sekeping pintu tak hanya sekadar pelengkap; satu dari rangkaian bagian yang menyusun sebuah rumah. Ia tak hanya berfungsi pengusir udara jahat, debu jejalan, atau penghalang para tamu yang berniat melukai penghuni rumah. Sekeping pintu adalah pemisah; sesuatu yang menandakan mana yang privat dan yang publik.

Tetapi, oleh sejenis hantu terkutuk bernama Kekuasaan, imajinasi pemisah itu dihancurkan. Itu Kekuasaan yang doyan melenyapkan warganya dengan cara sesukanya. Kekuasaan yang gemar mengontrol siapa saja.

Pemerintahan Orde Baru, dengan mesin militer yang fasis, menguapkan sesuatu yang berbau menentang. Kaum oposisi diberangus. Arus informasi diatur. Kebebasan harus sesuai ‘dirigisme” si Tuan Besar.

Soeharto, si “Thug from Kemusu” itu, yang fondasinya dibangun dari Jawa yang banjir darah, membangun tembok kukuh di sekeliling kekuasaannya. Hanya kerabat juga menteri-menteri yang dipercaya yang boleh masuk ke lingkaran tersebut. Dari tempat semacam itu, bertahun-tahun lamanya, kekayaan dari hasil berkongsi serta menguras keringat jerih payah kaum papa ditimbun, bertumpuk-tumpuk dan, mirip kue ulangtahun, dibagi-bagikan kepada sanak keluarga, saudara dan sejawat serta kenalan yang loyal.

Wiji Thukul berpuisi:

…..

jika kami bunga
engkau adalah tembok
tapi di tubuh tembok itu
telah kami sebar biji-biji
suatu saat kami akan tumbuh bersama
dengan keyakinan: engkau harus hancur!

….

(Bunga dan Tembok, Solo 87-88)

Orde Baru hancur, memang. Namun ia memakan korban. Terlalu banyak.

Pada Mei 1998, Soeharto limbung. Menyusun kekuatan militernya. Komando Pasukan Khusus (Kopassus), di bawah petunjuk menantunya Prabowo Subianto, membentuk sebuah regu bernama “Tim Mawar.” Tim ini menculik orang-orang pro-demokrasi. Sebagian dilenyapkan. Sebagian hilang tak berjejak.

Data Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan menyebutkan, sepanjang periode 1997/98 setidaknya 23 orang telah diculik. Sembilan orang telah kembali, satu ditemukan meninggal, dan selebihnya dinyatakan hilang, termasuk Thukul.

Pada akhir 1998, Mahkamah Militer menggelar pengadilan militer untuk mengungkap kasus penculikan disertai penghilangan itu. Namun hanya perwira muda Kopassus saja yang diadili. Sementara perwira dari golongan elit, yang jelas-jelas merancang kebijakan membentuk Tim Mawar, melenggang seenaknya. Muncullah kemudian Dewan Kehormatan Perwira (DKP), yang beranggota para jenderal, untuk menanggapi kesimpang-siuran itu. Tetapi kejadian berikutnya mereka dicopot dari jabatan dengan alasan yang tak jelas.

Kini telah dua pemilu tergelar dan tiga presiden berganti. Pada pemerintahan presiden Megawati Soekarnoputri, Undang-Undang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) terbentuk. KKR digunakan buat menyelesaikan beragam perkara kejahatan HAM berat di masa lalu. Bukannya disambut hangat, KKR malah memunculkan beragam tanggapan negatif. Sebab dengan memakai KKR, sangat mungkin para aktor dan lembaga yang terlibat bisa terhindar dari kejahatannya. Rantai impunitas mudah saja terjadi.

Sipon mengatakan kepada saya, ”Setiap ada pengulangan baru akan ada korban baru. Ada pengulangan baru, ada korban baru. Selalu ada kayak gitu. Paling tidak kan saya melihat keseriusan mereka untuk menemukan, mencari fakta-fakta walaupun belum ditemukan.”

”Apa Mba Sipon tidak letih bercerita tentang suami Mba?” tanya saya.

”Ya…, karena aku mikirnya gini: jangan sampai mereka mengalami hal-hal seperti saya. Karena imbasnya: kalian sendiri. Karena kalau aku punya pengalaman kayak gini aku diam, aku malah nggak suka. Mungkin bisa juga orang lain yang nggak mau menceritakan itu, tapi kalau ada korban yang lain lagi, bagaimana? Kan lebih parah itu…”

 

Masa Bertahan dan Berusaha

KINI sudah tujuh tahun berlalu selepas Mei 1998. Belum banyak kemajuan berarti. Sipon masih tetap berusaha mengetuk pintu-pintu keadilan.

Di rumahnya yang kecil di Kampung Kalasan, sebuah permukiman padat di jantung Kota Solo, ia selalu berusaha, berusaha, dan berusaha.

Ia membuka usaha menjahit. Ia taburi kesehari-hariannya dengan menyibukkan diri lewat kerja. Ia melampiaskan kekesalan dan kegundahan serta rasa sakitnya lewat kerja. Ia memohon kepada Tuhan supaya selalu diberi pekerjaan dikasih kekuatan. Ia tak ingin kekecewaan itu berdampak kepada kedua anaknya.

Ia bekerja untuk membiayai sekolah Fitri Nganthi Wani dan Fajar Merah. Ia masih punya tanggungjawab kepada mereka. Ia tak ingin terus-menerus diam dan menangisi sesuatu yang lewat. Ia kuatkan jiwa dengan mendekatkan diri kepada Tuhan, minta bantuan untuk dibimbing, diarahkan, agar tidak selalu bingung dan bingung dan bingung.

16 Desember 2004 silam, saat kami datang ke kediamannya, Sipon terlihat sering mengumbar tawa. Ia bercerita tentang kenangan-kenangan yang lewat, tentang suatu masa sebelum dan sesudah suaminya hilang.

Sesekali ucapannya mendadak terhenti. Bibirnya kelu. Sesekali melaju cepat. Sesekali sepasang matanya menerawang. Menangis. Sesekali wajahnya lepas, berseri, lalu terhenti lagi, dan tergelak mengenang suaminya di-ingatan-dan-di-hatinya.

Rumahnya kini diberi bilik dari kayu tipis. Membagi ruangan depan dan dalam. Di ruangan depan itu kami berempat duduk di atas selembar karpet merah menutupi sebagian lantai bersemen.

Ada lukisan wajah suaminya tergantung di tembok. Ada sosok suaminya berupa patung perunggu mungil, buatan Dolorosa Sinaga, di atas meja kayu kecil di sudut ruangan.

Suaminya itu dipahat tengah menelengkan muka ke atas, mulut terbuka, menatap lembaran kertas yang terpegang salah satu tangannya dan tangan lainnya mengepalkan tinju ke udara. Seperti tengah memekik. Seperti tengah menggugat.

Kursi-kursi merapat ke tembok di ruangan yang sempit itu. Seperangkat alat jahit terpacak kaku membelakangi pintu rumah yang terbuka lebar itu. Ada gundukan kain-kain bekas jahitan dekat pintu, di muka lorong, tempat rak buku memanjang berdiri di dinding lorong tersebut.

Buku-buku yang berderet dan berserak itulah salah satu benda istimewa Thukul.

Kenangan-kenangan bergulir. Kenangan-kenangan mengendap. Kenangan-kenangan melekat di tiap-tiap benda di rumah itu.

Tujuh tahun berlalu?

Betapa lama!•

 

______

Disclosure:

Liputan ini dipublikasikan pertama kali di majalah mahasiswa Himmah, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, pada 2005. Ia kemudian dimuat dalam buku Kebenaran Akan Terus Hidup (IKOHI, 2007), antologi tulisan mengenang Wiji Thukul. Naskah disunting kembali sambil mengingat keluarga Sipon serta Wani dan Fajar Merah tampil di Taman Ismail Marzuki, Juni 2009, ketika Munir juga dibunuh, dan pembunuhnya tetap melenggang bebas. Wani tumbuh jadi gadis yang kritis, menerbikan buku kumpulan puisinya, dan terus menanyakan bapaknya. Fajar sekarang pandai memetik gitar dan menjadi musisi yang kritis, mungkin dari bakat bapakanya yang seniman. Sipon dan keluarga yang dihilangkan rezim negara Indonesia masih terus mengetuk pintu hati Kekuasaan. Mereka setiap Kamis menggelar “Kamisan” di depan Istana Negara, tanpa henti, sejak dua tahun lalu. Suciwati jadi seorang “Srikandi” yang mewakili almarhum Munir dan terus menemani keluarga korban dan dia juga korban. Di luar Jawa, apalagi Papua, orang-orang yang kritis juga “dilenyapkan”. Wani minta “Penguasa, kembalikan bapakku.” Ia menyeru, “Pulanglah, Pak… Pulanglah, Pak … Indonesia pecah …”

<!–[if !mso]> <! st1\:*{behavior:url(#ieooui) } –>

…..

hayati

bapak mamak ingin bawa kau

ke madura

tanah bapaknya bapakmu

tanah mamaknya mamakmu

tapi kapal-kapal sudah berangkat hayati

dari pontianak

ke madura

ratusan kali

pulang pergi

tapi kapal-kapal sudah berangkat hayati

karena beaya

selalu tertunda-tunda

karena beaya hayati

lebaran sepuluh hari lagi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s