Dunia Putu Oka

PUTU Oka Sukanta tersenyum hangat, “Silakan… Silakan…,” seraya merentangkan tangan dan menyambut para tamu, sekitar 20-an orang yang datang ke Taman Sringanis. Ini sebuah lahan seluas 1,000 m² di Cipaku, Bogor Selatan, milik Putu Oka bersama istri Suhendah Lasmadiwati. Ratusan varietas tanaman tumbuh semarak di dalam pot-pot kecil serta tertanam kokoh di petak-petak tanah.

Gerbang taman sederhana, berupa jaring-jaring kawat, menjadi pintu masuk utama. Alas ubin sejauh lima meter menghubungkan teras rumah. Pandangan lurus ke depan terlihat satu bangunan memanjang dua lantai, terbagi ruangan apotik serta ruang ibadah, ruang penginapan dan kamar-kamar.

Sringanis dikelola Ibu Endah dengan sekitar 10 pekerja. Ia menawarkan klinik tradisional, kebun tanaman herbal, pembibitan, juga toko buku. Putu sendiri lebih sering tinggal di Rawamangun, membuka praktik pengobatan akupuntur tiga hari sewaktu sore dalam seminggu.

Sabtu cerah itu, yang terasa panas, Putu kedatangan sebuah rombongan para peserta kursus menulis. Mereka menumpang dua mobil Kijang Inova dari Jakarta serta satu mobil sedan yang tiba lebih awal. Mereka ingin mendengarkan kisah hidupnya.

“Itu minuman, silakan dicicipi. Ini buku-buku saya…” Ia menjabat tangan satu persatu, menebarkan perasaan sahabat, seakan-akan kita sedang bertemu seorang teman lama.

Di atas meja beralas kaca, dua botol teko berisi sirup warna merah dan kuning terhidang. Ada gelas-gelas mungil di sebuah baki. Di meja lain berderet buku-buku, disusun bertumpuk, serta empat film dokumenter yang memperlihatkan kerja keras Putu selama ini. Tiga pegawai membantu penyambutan ini.

“Bagaimana rasanya?” kata Putu setelah melihat para tamu meminum sirup-sirup. “Manis, ada rasa kecut-kecutnya, tapi segar…” seseorang memberi pendapat. Ia menyimak dengan anggukan kepala, tersenyum. Kemudian ia duduk di kursi panjang di belakang meja kayu itu. Dengan cara yang simpatik, sekaligus menyiratkan penghargaan, para tamu mendengarkan penuturannya. Bahasanya lurus, tanpa ragu-ragu.

Putu mengenakan kemeja biru lengan panjang, celana coklat. Kakinya dibalut sepatu hitam. Kacamata bertengger di atas hidungnya. Rambutnya memutih. Ia tampak ingin tampil rapi dan sempurna. Bahkan di usia yang sudah kepala tujuh, Putu Oka masih terlihat sehat dan bugar.

Inilah satu pengarang Lembaga Kebudayaan Rakyat itu. Setelah mereka duduk sebentar di belakang rumah induk, para tamu lantas menuju aula depan. Lantainya keramik merah. Ada beragam tabel peraga tertempel di dinding. Sebuah rak kayu terbujur di satu sudut ruangan. Kursi-kursi dibikin melingkar.

Putu Oka mendaftar absensi satu persatu, “Saya ingin mengenal nama-nama anda, tapi kadang ingatan saya lemah…”

“Apa yang anda inginkan dari saya? Apa yang bisa saya ceritakan?”

“Pernah baca buku-buku saya?”

“Di belakang, bisa Anda beli, buku-buku itu mungkin bisa menerangkan bagaimana hidup sebagai tahanan Orba.”

“Saya menulis untuk menjadi manusia lagi.” Kata-katanya tegas, tanpa pretensi. Para tamu, yang sebagian tekun mencatat, mendengarkan dengan diam.

SAAT itu Putu masih penyair muda. Ia baru setahun mengajar di satu sekolah Tionghoa di Jakarta. Pada dini hari 1 Oktober 1965, terjadi penculikan dan pembunuhan beberapa jenderal Angkatan Darat. Partai Komunis Indonesia dituduh militer sebagai satu-satunya dalang peristiwa tersebut.

Orang-orang yang dianggap atau simpatisan komunis ditangkap serta dibunuh. Di daerah-daerah, aksi kekerasan makin meluas. Ini setelah kedatangan Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat di bawah Kolonel Sarwo Edhi Wibowo. Konflik lokal ini, pengaruh dari “sengketa atas tanah”, berujung pembunuhan besar-besaran. Latarnya, undang-undang reformasi pertanahan usai nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing yang disahkan 1960. Pada Desember 1963, PKI lewat Barisan Tani Indonesia menyokong kampanye aksi sepihak penguasaan tanah. Ini “memperdalam dan meradikalkan perpecahan-perpecahan di masyarakat lokal.” RPKAD mendorong pola perekrutan kelompok-kelompok lokal untuk melaksanakan serangan-serangan terhadap kaum komunis.

Seniman, akademisi, buruh, perempuan, petani, pejabat desa, anak-anak—singkatnya, satu generasi Indonesia—dibekukan dengan cara seperti fasisme Nazi mendiskriminasi kaum Yahudi. Istilah Sukarno dalam satu pidatonya, kupas-tumpas macam ini seperti “membakar rumah” hanya untuk mencari seekor tikus. Ratusan dari mereka yang hidup, salah satunya Pramoedya Ananta Toer, dibawa ke Pulau Buru di Maluku.

Mayor Jenderal Soeharto, dengan klaim “Surat Perintah Sebelas Maret,” mulai mengambil roda pemerintahan hingga dilantik presiden. Ia berkuasa hingga lebih dari 30 tahun.

Sekitar 40-an koran berhaluan kiri diberangus. Informasi disaring. Hampir tak ada bentuk media yang independen yang bisa bertahan dari mesin “self-cencorship” Orde Baru. Militer mulai membangun gurita bisnis. Soeharto mengenalkan “dirigisme” kekuasaan, mengatur segala urusan dari pusat. Partai politik plus pemilu, serta alat negara legislatif dan yudikatif, cuma jadi perona bibir dari “massa mengambang” ala “demokrasi” Orde Baru. Indonesia membuka seluas-luasnya modal asing.

Di Bali sendiri, tempat kelahiran Putu Oka, sebagaimana Soe Hok Gie mencatat, 80,000 orang terbunuh. Jumlah ini merupakah kisaran angka yang “paling konservatif.”

Putu Oka sendiri diciduk pada 1966. Mula-mula dibawa ke Komando Distrik Militer, lalu ke Salemba lantas ke Tangerang. Tak ada tempat yang benar-benar tetap bahkan saat para tahanan politik ini menjadi invalid di balik jeruji kurungan. Bolak-balik mereka dipindah-pindah. Durasinya tiga bulan atau enam bulan. Metode ini, menurut Putu Oka, “agar para tahanan tidak punya waktu berpikir.”

Dalam kisah fiksi tentang kehidupannya di penjara, Merajut Harkat, tokoh utama Mawa (alter-ego Putu), tiap hari merasa was-was terhadap lingkungan luar. Ia sendiri tidak tahu tentang peristiwa dini hari penculikan dan pembunuhan beberapa jenderal itu.

Pagi itu ia tetap menjalani rutinitas mengajar seperti hari sebelumnya. Namun ia melihat situasi aneh saat melihat sedikit murid di ruangan kelas. “Kenapa sepi?” pikirnya.

“Bapak tidak tahu?” tanya seorang murid sembari menceritakan penculikan tersebut, yang didengar dari Radio Republik Indonesia.

Dengan rasa penasaran, ia segera menemui kepala sekolah. Ia mendapat jawaban yang sama. Setelah bergegas ke rumah, ia menyalakan radio dan mendengarkan siaran tersebut. Perasaannya campur-aduk; cemas, bertanya-tanya, bingung.

Bagai mimpi buruk, suatu malam rumah Mawa didatangi tentara. Ia tahu malam itu ia ditangkap.

Namun di penjara, Putu juga cemas terhadao para tahanan yang menganggapnya mata-mata. Pada saat itu, untuk menggali nama-nama yang masih “berkeliaran” di luar, tentara sering menyusupkan seorang yang mengaku “teman” di dalam penjara. Penyusup bersikap sok akrab laiknya teman dekat.

Saat ditanya, Putu manjawab sebagai anggota satu organisasi yang masuk dalam jaringan Nasakom. Para tahanan, melalui jaringan di luar, mengecek kebenarannya. Namun mereka tak mengenal dan bahkan tak mendengar namanya, bahkan di tempat tinggal Putu di Sawah Besar.

Beruntung suatu hari seorang pemuda menyapanya. Ia Malon Tampubolon, wartawan Harian Rakjat. Mereka kenal saat Putu mengajar penulisan di koran tersebut. Tampubolon bilang kepada para tahanan bahwa ia “mengenal” Putu.

Di penjara Putu mengenal keterbatasan yang konstan. Ia makan dari kiriman keluarga sesama tahanan. Untuk melawan kebosanan, ia mengunjungi satu persatu tahanan dan mengajak berbincang. Ia tak ingin hanya diam, membiarkan ingatannya melantur, lalu menjadi gila. Ia menyaksikan sendiri para tahanan, yang tak kuat dengan rutinitas penjara, akhirnya sakit jiwa. Ia kerap menolak perintah para sipir untuk bekerja karena “energi yang terbuang tak sebanding makanan yang didapatkan.” Ia menyebut ini sebuah “pembodohan.”

Sebagai penulis, Putu tidak mendapat kertas dan pena. Ia merangkai kata-kata di udara, di dalam kepala, dari satu puisi ke puisi lain; menjahit cerita. Tapi tiada yang kekal dalam ingatan. Putu harus bergelut dengan ingatannya sendiri. Ia mengaku “sangat senang” jika satu kata bisa ditemukan lagi. Seolah-olah ia menemukan kepercayaan diri.

Selama di penjara, hal yang sangat ingin didengarnya adalah suara anak-anak dan perempuan. Ia bahkan menitikkan airmata saat tanpa sengaja, ketika berada di luar ruangan penjara, mendengar suara mereka. Sebagai pengajar, ia tentu kangen dengan suara anak-anak. Ia juga rindu dengan ibunya sebagai seorang anak yang masih berusia 27 tahun saat pertama ditahan, jauh dari tempat lahirnya di Singaraja.

Putu mengenal sebuah kehilangan. Ia berpacaran dengan seorang perawat Tionghoa, yang akhirnya tak tahan dengan satu hubungan yang selalu dalam pengawasan negara. Putu bilang, “Ambil keputusan menurut kamu sendiri, bukan aku, bukan keluargamu, bukan siapapun.” Mereka pun berpisah. Pacarnya kemudian mukim di Jerman.

Namun di penjara juga Putu mengenal seorang sinsei, namanya Lie Tjwan Sien kelahiran Korea. Ia dikenal di Mangga Besar sebagai “dokter cacing.” Ia menyembuhkan anak-anak kurang gizi dengan pengobatan herbal. Ia diciduk tentara hanya karena suami dari istri yang ikut Gerakan Wanita Indonesia. Ini satu organisasi dengan kerja-kerja “memajukan” kaum perempuan, kelak diberi stereotip oleh Orde Baru sebagai organisasi “mengerikan,” melakukan “penyiletan” serta “tarian” di Lubang Buaya, yang dalam faktanya hanya fiktif semata.

Lie Tjwan Sien ditangkap saat rumahnya didatangi tentara, asalnya mencari istrinya, tapi karena tak ada, akhirnya ia sendirilah yang diciduk.

Ia bilang kepada Putu, “Lu mau gue ajarin totok kagak?” Putu teridam, dalam hati, apa maunya orang Cina ini?

“Lu punya kepala, gue punya kepala. Kenapa kita kagak bikin jembatan?”

“Caranya begini… Lu duduk sana…”

Ia minta Putu duduk di depan, lalu menyimak pembicaraannya. Putu iajarkan filsafat Cina, Taoisme—pokoknya tradisi-tradisi Tiongkok.

“Selama enam bulan saya duduk di depannya!” cerita Putu, tergelak.

Belakangan Lie Tjwan Sien bebas lebih dulu. Putu bilang sinsei ini pergi ke Belanda, tapi meninggal di Jakarta. Putu mengatakan bahwa Lie Tjwan termasuk orang yang paling berjasa dalam hidupnya, selain ibu dan budenya.

Perkenalan itulah yang kelak membawa Putu sebagai akupunturis, tidak hanya penulis.

SELAMA tujuh tahun Putu mengobati para tahanan yang hidup di bawah kondisi buruk. Ia melakukan akupresur, karena tak ada jarum, penggantinya bekas senar dari gitar yang pernah dibawa secara ilegal ke dalam penjara.

Pada 1976, atau sepuluh tahun sedari ditangkap, Putu akhirnya dibebaskan.

Pemerintahan Soeharto di tahun itu memang melakukan gelombang pembebasan para tahanan politik. Penjara-penjara negara mulai “disterilkan” dari penghuni macam Putu Oka. Di Pulau Buru, sebuah “kamp pengawasan” rezim tersebut, atas desakan dunia internasional serta lembaga-lembaga hak asasi manusia, pada akhir 80-an mulai “memulangkan” para penghuninya. Mereka diangkut melalui sebuah kapal laut dan kembali ke Jawa. Mereka bebas tapi sebetulnya dalam pengertian yang minim.

Saat mereka kembali ke “rumah”, jika memang istilah ini tepat dipakai, mereka kerap dikucilkan oleh lingkungan sekitar, selain negara masih tetap mengawasinya. Orde Baru memperkenalkan kode “ET”, atau “eks-tapol” di kartu tanda penduduk mereka. Setiap bulan mereka diwajibkan melapor ke unit terkecil administrasi pemerintahan Indonesia, dari kelurahan hingga kecamatan. Kode “ET” juga membikin mereka tak bisa leluasa mengakses pekerjaan secara formal.

Tapi melalui rekomendasi sinsei Lie Tjwan Sien, Putu memberanikan diri ikut ujian negara pada 1977, yang diadakan departemen kesehatan. Setahun kemuian ia mendapatkan sertifikat ijin praktik. Belakangan Putu juga melakoni secara serius pengobatan tradisional dengan mengunjungi Taipei dan Hong Kong. Ia ingin membuktikan bahwa seorang bekas tahanan politik juga bisa melakukan pekerjaan secara profesional di bidangnya. Ia melawan kekuasaan dengan kerja.

Karya-karya Putu lebih banyak disiarkan di luar negeri. Ia diundang ke Jerman, Belanda dan sebagainya. Satu hari, dalam kunjungan ke Bangladesh, ia diminta mengajarkan akupuntur kepada kaum “untouchable.”

“Dari mana Anda tahu saya bisa akupuntur?”tanya Putu, heran.

Si panitia, seseorang dari lembaga sosial internasional, mengatakan bawah ia tahu banyak tentang Putu. Dari situlah, pelan-pelan Putu yang akupunturis mulai dikenal.

Ia ditawari kerjasama oleh sebuah lembaga donor dari Jerman untuk buka klinik, dengan tujuan melayani kesehatan orang-orang miskin, yang terpinggirkan secara struktural. Di sebuah ruangan, Putu masih bertanya, ”Anda melihat saya sebagai bekas tahanan politik atau seorang akupunturis?

“Dua-duanya,” kata wakil dari lembaga donor itu, “Sebagai eks-tapol, Anda tidak diberi ruang bergerak oleh negara. Sebagai akupunturis, Anda butuh tempat praktik.”

Putu tampaknya orang yang keras dalam hidupnya. Ia tidak mau menerima sesuatu hanya karena belas kasihan.

Klinik itu akhirnya berdiri, berkembang menjadi empat buah. Namun kemudian tempat ini dipaksa ditutup oleh pemerintah militer Soeharto. Alasannya, kerja-kerja yang dilakukan para praktisinya, dengan mengobati warga miskin, dianggap “meracuni” dan “menularkan” “nilai-nilai komunis.”

Bahkan Yayasan Pengobatan Tradisional Indonesia, organisasi yang didirikan Putu bersama teman-teman sesama tahanan politik pada 1980, juga dilarang militer.

“Saya disetrum lagi, dipukul lagi…” ungkap Putu.

Rupanya ia tak mau tinggal diam. Pada 1990, ia mendapat bagian warisan keluarga besarnya dari Bali. Uang itu ia pakai untuk membeli tanah di satu tempat di Bogor. Bersama Endah Lasmadiwati, istrinya dari Solo, yang dinikahi selepas dari penjara, ia mengembangkan pembibitan tanaman herbal. Tempat inilah bernama Taman Sringanis.

Nama ini gabungan dari nama ibu serta budenya: Ni Ketut Taman serta Ni Ketut Sringanis. Keduanya orang yang sangat dihormati Putu. Maunya, Putu ingin menambahkan nama istrinya “Endah” di tengah kedua nama tersebut. “Ia menolak,” kata Putu, berkelakar. Perempuan-perempuan yang berjasa itu tergambar dalam novel Putu, Keringat Mutiara.

Putu sewaktu kecil lebih sering dibesarkan oleh kakak ibunya. Ia mengenang, Sringanis bertubuh besar, enak jika menggelayut dan “bisa langsung tertidur” di pangkuannya. “Rasanya nyaman sekali…” kata Putu.

Mereka keluarga petani. Putu pergi sekolah melewati persawahan, menikmati udara yang sejuk, alam yang masih permai. Kelas enam sekolah dasar ia masih telanjang kaki. Kedekatan lingkungan, dengan kaum petani serta orang-orang kelas ekonomi bawah ini, kelak mempengaruhi Putu dalam tema-tema sajaknya. Usia 16 tahun sajaknya sudah dimuat satu koran lokal di Bali. Ia suka menulis karena suka baca koran.

Seorang penyair Bali, yang tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat, mengatakan bahwa puisi-puisi Putu pasti dianggap karya seorang penyair Lekra. “Sudah, pokoknya kamu Lekra,” katanya. Putu senang mendengarnya.

Karya-karya sastra seperti dari senimana Lekra ini, dalam debat sastra dunia, dikenal sebagai “seni untuk rakyat.” Lekra menyebutnya “seni bertendens.” Putu sendiri dalam menulis tidak pernah melepaskan imajinasi dari realitas. “Tugas intelektual dan pengarang adalah melakukan eksplorasi hal-hal substansial di balik fenomena,” katanya, tegas.

SEKARANG ini Putu Oka Sukanta tengah menimbang satu pertanyaan tentang rekonsiliasi. Sepuluh tahu bukanlah waktu yang pendek. Perlakuan diskriminasi terhadap korban ’65 mulai longgar setelah Soeharto jatuh pada 1998.

Putu mengaku tak merasa dendam terhadap masa lalu, “Ada yang hakiki jika anda membenci, dalam proses yang lebih lanjut, bangunan kejiwaan Anda menjadi takut.” Karena takut, menurut Putu, manusia akhirnya menjadi apriori. Sikap ini selanjutnya mengekalkan pihak luar sebagai “musuh.” Dengan kata lain, sikap itu ikut membunuh satu karakter kehidupan.

Ia senang dengan ide rekonsiliasi, meski juga ragu. Masalahnya, posisi korban 1965 tak sejajar dengan negara. Presiden Abdurrahman Wahid pernah meminta maaf terhadap para korban 65. Gus Dur punya gagasan untuk mencabut Tap MPRS No.25/1966 yang melarang marxisme diajarkan di negara Indonesia. Tapi ide ini ditentang banyak kalangan. Wahid sendiri tak sempat menyelesaikan pemerintahannya, diganti Megawati Sukarno.

“Tapi Mega bukan Sukarno,” kata Putu, “Kedua orang itu beda.”

Putu juga sering mendengar nama Syarikat di Yogyakarta, satu gabungan organisasi nonpemerintah dari kalangan Nahdlatul Ulama, yang kerap mengadakan temu “rekonisiliasi” sesama korban. Baik korban 65 maupun kalangan nahdliyin yang ikut melakukan aksi kekerasan di daerah-daerah. “Saya senang seorang tidak menganggap penting dirinya sendiri,” tutur Putu.

Namun ide rekonsiliasi di tingkat lokal ini juga acapkali mendapat tentangan dari satu kelompok bernama Faki atau Front Anti-Komunis Indonesia. Dalam satu diskusi di sebuah kampus di Yogya, saat peluncuran sebuah buku tentang kisah-kisah para korban 1965, para anggota Faki yang ikut hadir kerap mengeluarkan kata-kata verbal yang kasar. Isinya propaganda, keras, generalis, yang akhirnya menutup ruang-ruang ialog.

Namun, di luar itu, keinginan pribadi Putu sebagai pengarang sebetulnya sederhana. Ia ingin ada penerbit yang mau membiayai penerbitan karya-karyanya sebelum peristiwa 1965. “Ini penting jika Anda melakukan kajian tentang suatu karya seorang pengarang.” Orang kelak ingin tahu dan membandingkan karya-karya Putu sebelum dan setelah 1965. Apakah ada perubahan?

“Bagaimana dengan segi bahasanya?” timpal seseorang.

“Sama saja,” kata Putu, yang sudah mengumpulkan karya-karya tersebut. “Yang beda mungkin gaya penulisan, tema-temanya seiring usia dan pengalaman.”

Ia punya target setahun bisa menerbitkan satu buku. Ini pembuktian akan dirinya sebagai pengarang, bukan pertama-tama seorang anggota Lekra. “Ingat, sebelum saya gabung dengan Lekra, saya sudah menjadi penulis.” Ia ingin terus mendorong semua kemampuannya sampai batas paling maksimal.

Namun, rupanya, buku nonfiksinya, berupa pengobatan akupuntur serta tanaman herbal, yang ia tulis lebih dari sepuluh buku, malah lebih laku ketimbang buku fiksinya.

“Menjadi pengarang sastra itu susah,” yang dijawab derai tawa hadirin.

Di Taman Sringanis, dedaunan hijau tumbuh lebat. Siang itu sedikit udara yang masuk di aula depan, tempat orang-orang mendengarkan kisah singkat dunia Putu Oka. Panas bulan Maret rupanya mengalahkan keteduhan lautan hijau dari balik kaca ruangan. Meski demikian, alam terasa dekat dengan manusia, atau tempat tersebut menyiratkan satu kedekatan penghuninya dengan alam.

Putu mengatakan ”alam bagian dari tubuh kita.” Ia membandingkannya sebagai rumah dalam hati, tidak ada celah pintu, tidak ada jendela, mengibaratkan hati yang lapang. Dalam praktisnya, Taman Sringanis menjadi laboratorium pengembangan satu tempat yang menerima pasien dari kalangan miskin. “Jangan sampai karena tidak punya uang, Anda sungkan ke sini,” ujarnya.

Ia mengatakan, “Jangan meminta makna dari hidup ini, tapi berikanlah makna pada hidup ini!” []

Iklan

2 pemikiran pada “Dunia Putu Oka

  1. Saya sangat mengenal beliau, dari biografi diatas masih banyak bagian2 yang hilang dan ada bagian yang perlu diralat.

    1. Pak Suryadana,

      Detail dari Anda, saya tulis sbg tambahan, namun ia kok malah nggak muncul. Saya tulis di sini saja ya:

      Sukanta, sekeluar penjara, menetap di daerah Pasar Jatinegara. Istri pertama dia, Rasminah, yg berasal dr Danau Maninjau, Sumatera Barat, kemudian meninggal karena leukimia. Sukanta lantas pindah ke komplek Diskum Cipinang Muara, kurang-lebih 6 tahun, bersama anaknya. Ia menikah lagi dengan Endah Lasmadiwati, hingga sekarang, dan mereka menetap di Balai Pustaka Rawamangun, Jakarta Timur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s