17 Desember: Aku dan Jam Dinding

PADA hari saat aku tambah usia, jam dinding di rumah dinyatakan “mati.”

Saat seharusnya pukul 9 malam, kata ponakanku, jarum jam malah menunjukkan pukul 4 sore. Paginya, ia diturunkan. Dengan selamat. Dinyatakan telah “stres.” Kena “penuaan usia.” Bapak bilang, “sudah waktunya.”

“Mungkin umurnya sudah 20 tahun,” dia menambahkan.

Kemana ia dimakamkan?

Ibu rupanya menukarkan dengan jam baru, bentuknya lebih kecil, persegi, berbingkai coklat, dengan tambahan uang Rp 20 ribu. Jam “bersejarah” itu, istilah yang dipakai ponakanku, ditukar. Ia kini dibawa oleh seorang mekanik jam, atau kami di sini menyebutnya “jamblang”, entah siapa namanya, di pasar dekat alun-alun.

Ponakanku berpendapat, harusnya jam itu tidak boleh ditukar. “Sayang banget!” dia bilang. Dia tetap menganggap “itu jam bersejarah.”

Namun ibu tak mau repot. Memperbaiki jam itu sama artinya kita menunggu. Dan harus berapa hari? Ini tak efektif. Logika praktis, menurut ibu, lebih baik diutamakan.

Bapak tertawa mendengar pendapat ponakanku. Aku sendiri, setiba di rumah, langsung melihat perubahan pada sebuah dinding. Kebetulan, letak jam dinding itu bersitentang dengan pintu masuk rumah. Ia tergantung di atas bingkai partisi yang terhubung ke ruang dapur.

Ini rumah model kuno, berdiri sebelum aku lahir, letak kamar-kamar berjajar, sisanya ruangan kosong seperti bangsal, diisi meja, kursi, sebuah almari selebar serentangan tangan sebagai pemisah ruang tamu dan ruang keluarga. Di belakang, ruang dapur dan kamar mandi. Rumah tanpa panel-panel yang meliuk dan berliku, tanpa aksen.

Jam dinding “bersejarah” ini berbentuk bulat. Model kuno. Diamaternya, aku kira, 30an senti. Tepinya dilapisi besi. Mula-mulai berkilau tapi, seiring waktu, penuh bercak karat. Beratnya perlu dua tangan untuk menurunkan dan menaikkan.

Namun ia tahan lama. Setidaknya ia telah menemaniku melewati masa bersama di rumah. Saat sekolah dasar. Saat sekolah menengah. Saat pulang-pergi Jogja-Kandanghaur. Ia telah menyaksikan rangkaian peristiwa di rumah ini.

Ia sudah menemani malam-malam di rumah ini. Karena suara dentingannya agak keras, ia juga kerap mengiringi suara orang-orang yang tertidur di sini sepanjang malam. Aku sering menghitung suaranya di saat aku bengong dan tak bisa pejamkan mata. Paling tidak, ia hidup dalam ingatanku. Dan mungkin inilah yang disebut ponakanku sebagai “bersejarah.”

Inilah kebetulan puitis. Pada saat tanggal kelahiranku, jam dinding itu dinyatakan koma. Aku tambah umur, sementara ia perlu ganti baru. Waktu, yang biasa kita ukur dengan perubahan dari detik ke detik, mendapat tempatnya dalam diri sebuah “jam”. Dan waktu pula yang membuat kita sadar akan usia, akan sebuah pergantian, akan secuil pertukaran, akan sekedip persalinan.

Dalam perbincangan di teras rumah itu, ponakanku mengusulkan, sebaiknya jam yang lama boleh diganti sampai rumah juga selesai diperbaiki. Itu artinya menunggu hingga tahun depan, seperti rencana ibu.

Di samping halaman rumah, tersimpan sehimpun persiapan dari usaha keras ibu dan bapak. Gundukan pasir, tumpukan bata dan genteng. Gelondongan kayu, semen, dan keramik disimpan di toko penjualnya. Saatnya nanti, ujar ibu, ketika rumah mulai dibangun, semuanya diambil.

Ah, ada-ada saja usulan ponakanku ini. Bapak tertawa. Saudaraku terbahak. Ibu, yang tengah menonton sinetron di ruang tengah (satu kesenangan baru ibu), aku kira mendengar sekilas-sekilas tanggapan ponakanku. Kadang-kadang, kita hanya perlu sebuah kebetulan yang unik untuk mengalami peristiwa kecil yang hangat ini.

Melalui pintu rumah, aku menengok pada jam dinding yang baru. Sudah setengah 7 petang. Saatnya mandi usai tiga jam dalam perjalanan. Sebelum memasuki pintu, seakan-akan sebuah doa, aku ucapkan dalam hati: selamat datang di rumah yang sederhana ini. []

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s