Gurita Cikeas!

GEORGE JUNUS Aditjondro orang yang nyentrik. Sehelai kain tenun, tersampir di lehernya, selalu menemani penampilannya. Ia lebih suka mengenakan pakaian kaos dan kemana-mana beralas sandal-sepatu. Tubuhnya gemuk dan usianya 64 tahun. Akhir November 2009, kami bertemu di sebuah hotel di Jakarta untuk persiapan kursus investigasi. Saat itu cambangnya yang lebat mengitari dagunya. Alamak! Hippies banget, batin saya.

Kami mengobrol lebih dari tiga jam sambil sarapan pagi. Saya menangkap kesan, Aditjondro orang yang menuntut lawan bicaranya untuk paham banyak hal. Salah satu bahan diskusi kami mengenai metode “concept mapping.” Ini teknik yang akan diajarkan di kelas kursus, biasa diterapkan dalam metodologi penelitian ilmu-ilmu sosial. Ia sebuah metodologi bagaimana memetakan gambaran besar tentang sebuah kasus seraya mencari akar-akar penyebabnya. Kami juga menyinggung skandal Bank Century yang memang lagi ramai jadi sorotan media. Penguasaan “concept mapping,” hemat Aditjondro, sangat diperlukan dalam melihat kasus macam skandal bail-out Bank Century dengan banyak faktor dan aktor itu.

Namun, saya tidak tahu saat itu Aditjondro tengah menyusun buku terbarunya yang sebulan kemudian menjadi kontroversi.

Judul bukunya menyengat dan provokatif, Membongkar Gurita Cikeas:Di Balik Skandal Bank Century. Ia diluncurkan secara terbatas di kantor penebit Galangpress di Yogyakarta pada 23 Desember. Sehari kemudian, kontroversi isi buku menghiasi halaman media. Selama seminggu berikutnya, dua stasiun televisi di Jakarta menghadirkan Aditjondro dan lawan bicaranya, dengan debat kontinu, tapi sedikit sekali menyentuh esensi isi buku dan lebih banyak mencari nilai sensasinya.

Setiap hari orang-orang, mewakili institusi yang disebut dalam buku, muncul di televisi, baik untuk sebatas klarifikasi maupun membantah secara keras. Dua nama yang sangat ngotot, dan tentu menjadi kudapan hangat media televisi, datang dari legislator Partai Demokrat Ramadhan Pohan dan Ahmad Mukhlis Yusuf, direktur Kantor Berita Antara. Para penentang lain memandang isi buku Gurita Cikeas “hanyalah kompilasi dari berita-berita di internet” dan “sebatas asumsi” dengan “tanpa cek dan ricek ke sumber primer.” Ada juga yang menyerang buku tersebut “lemah secara metodologi.”

Puncaknya, Aditjondro diberi somasi oleh Antara, sebuah badan usaha milik negara. Mukhlis menilai dugaan Aditjondro keliru dan tak bisa dibuktikan. Dia juga telah mencemarkan nama baik instutisi. Dugaan tersebut adalah tulisan Aditjondro soal dana Public Service Obligation (biasa disingkat PSO). Ini dana negara, masuk dalam belanja pemerintah dan telah melewati persetujuan dewan legislatif di Senayan, sebagai biaya operasional BUMN. Aditjondro menduga bahwa setengah dari dana PSO itu (dari sebesar Rp 40,6 milyar) mengalir ke Bravo Media Center, salah satu tim kampanye SBY-Boediono.

Pihak Antara mengultimatum Aditjondro agar memberi penjelasan dalam waktu 3×24 jam. Mereka juga minta Aditjondro melayangkan permintaan maaf serta berjanji merevisi isi buku.

Sementara untuk lawan bicara Pohan, yang muncul kemudian adalah kasus hukum “laporan kekerasan.” Ceritanya dimulai dari sebuah diskusi buku ini di sebuah kedai kopi di Jakarta. Itu siang hari. Ada banyak wartawan yang hadir. Kebanyakan pendukung Aditjondro namun ada juga demonstrasi yang dibayar di luar ruangan, bergerombol di seberang sungai. Diskusi menghadirkan aktivis-cum-dosen politik UI Bonnie Hargens juga legislator PDI-P, Permadi. Suasana riuh di dalam ruangan sempit telah lebih dulu memanaskan situasi.

Dalam acara, panitia diskusi mengundang Andi Arif, dulu aktivis tapi sekarang staf presiden Yudhoyono. Yang datang kemudian adalah Ramadhan Pohan. Menurut Hargens, Pohan mengatakan dia “mewakili Andi Arif yang batal datang.” Namun, saat Pohan diberi kesempatan bicara, dia bilang dia mewakili dirinya sendiri. Selagi Permadi berdiri dan berorasi mendukung isi buku Gurita Cikeas, Pohan terus saja bicara dengan mengarahkan pandangan pada Aditjondro.

Pohan menuduh Aditjondro “berhalusinasi” atas dugaan bahwa harian Jurnal Nasional, yang pernah Pohan tempati sebagai pemimpin redaksi sebelum mencalonkan diri sebagai legislator Partai Demokrat, terkait dengan dana Bank Century.

Emosi Aditjondro meledak. “Kau telah berbohong itu!” Aditjondro menuding telunjuknya ke arah Pohan. Saat Pohan duduk di dekat Hargens, tiba-tiba tangan kiri Aditjondro, sambil memegang kertas dan buku Gurita Cikeas, melayang ke muka Pohan! Tanpa aba-aba lagi, Pohan langsung bersijingkat dan segera meninggalkan ruangan diskusi.

Terus-menerus televisi menyiarkan insiden ini. MetroTV memberi tagline beritanya: George “main pukul.” Pohan melaporkan insiden ini sebagai “pemukulan.”

Aditjondro menyanggah telah “memukul”. “Bukunya saja tidak kena kok!” dia bilang usai diskusi di hadapan wartawan.

Kolega saya, wartawan Bisnis Indonesia, mengatakan insiden ini cuma “wave a hand,” jauh dari kata “pemukulan”. Saya sendiri menyaksikan di televisi dan lebih memilih menyebutnya “mengibas.”

Namun insiden ini, serta perdebatan buku Gurita Cikeas, berakhir dengan sendirinya ketika malam setelah kejadian, kabar duka datang dari rumahsakit Cipto Mangunkusomo. Gus Dur meninggal. Media televisi dan koran-koran lebih memilih menyiarkan peristiwa dukacita ini. Adapun kejadian Aditjondro dan Pohan, mau tidak mau, ditempatkan di halaman dalam.

Itulah yang akhirnya menyurutkan histeria Gurita Cikeas.

Sementara Aditjondro sendiri mulai “menghindari permintaan wartawan,” sambil selanjutnya akan melengkapi isi buku sebagai edisi revisi. Dia bilang, permintaan pihak Antara akan diakomodasi, namun tanpa menghilangkan keterangan dugaannya. Menariknya, keuntungan dari debat bukunya ini, mengundang banyak pihak yang ingin membantunya memberikan informasi, termasuk dari institusi Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan. Jauh setelah buku ini terbit, kasus Century pun telah melenggang ke meja Pansus DPR. Saya menduga, buku revisi ini akan menelisik ke dalam skandal Bank Century, yang artinya benar-benar mewakili judul bukunya sendiri.

Tentu, bukan sekali ini saja Aditjondro menghadapi gugatan dan beragam kontroversi. Sebelum Suharto jatuh, dia telah melakukan upaya investigasi atas harta-harta keluarga Cendana beserta para kroni. Dia melakukan “otopsi korupsi” ini melalui puluhan yayasan keluarga Suharto. Aditjondro melihat oligarki van Cikeas, sebuah kawasan di Bogor sebagai tempat tinggal keluarga Yudhoyono, makin mengkhawatirkan dan perlu diawasi secara ekstra keras. Tesisnya, kemenangan Partai Demokrat, yang nyaris tiga kali lipat dari 7% menjadi 20% dalam pemilihan 2009, serta kemenangan pasangan SBY-Boediono yang sekali putaran, bukan semata-mata atas kharisma tapi juga seperti tertulis dalam buku, “penggalangan dana yang luar biasa serta besarnya pembelian suara (vote buying) oleh para kadernya.”

Saya sendiri menilai kontroversi yang melingkupi buku ini tak cukup hanya mendengar sanggahan dan bantahan melalui media. Harus perlu baca bukunya sendiri serta lebih jauh lagi menangkap maksud si penulisnya. Rekomendasi Aditjondro dalam kesimpulan buku menyuratkan kepada lembaga-lembaga penegak hukum agar selalu awas terhadap “hubungan penguasa politik dan penguasa ekonomi.” Tanpa pengawasan dan tindakan tegas, hubungan itu yang kelak melahirkan “oligarki” sebagaimana terjadi saat Orde Baru bercokol. Metafora yang dipakai Aditjondro untuk “oligarki” adalah “gurita.”

Pada akhirnya, saya kira, kelanjutan “gurita Cikeas” – kali ini bukan mengarah kepada judul buku tapi kepada kekuasaan pemerintahan Yudhoyono – akan terus berdengung sampai kita tahu ada perbaikan yang fundamental dari penegakan hukum dan kebijakan ekonomi Yudhoyono.

Aditjondro bilang kepada saya, ”Nanti dalam kelas kursus, saya akan ceritakan perkembangan terbaru dari informasi yang saya dapatkan.”[]

*Dipublikasikan pertama kali oleh majalah kampus Bahana dari Universitas Riau.

Iklan

2 pemikiran pada “Gurita Cikeas!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s