Gladwellian

Bagaimana kita boleh tak setuju dengan satu gagasan namun terlibat di dalamnya.

SAYA sedang (pura-pura) bahagia. Alasannya sederhana: setiap kena bete-attack [ini entri pertama dalam kamusku sekarang], saya selalu ambil buku Malcolm Gladwell. Saya suka bagaimana Gladwell bercerita. Dia penulis yang tidak perfeksionis tapi, sebagaimana dia mengingatkan, menggugah pembaca untuk masuk [terlibat] dalam gagasannya.

Itulah warning yang dia tulis dalam pengantar untuk buku terbarunya, What the Dog Saw. Ini kumpulan artikelnya, yang terbaik menurut pilihan dia dan editornya, sepanjang dia bekerja untuk The New Yorker sejak 1996. Oh ya! Ini satu majalah yang aku suka.

Gladwell, kelahiran Inggris, besar di Ontario, kini tinggal di New York City, salah satu dari “100 orang paling berpengaruh” oleh Time Magazine pada 2005. Dia mengawali karier sebagai jurnalis di American Spectator. Kariernya makin berkembang setelah jadi penulis liputan bisnis lantas sains di harian Washington Post pada 1987. Dua ranah isu itu yang kelak diperdalamnya lagi pada majalah New Yorker, yang terkenal dengan ‘narrative reporting’ itu.

Saya suka bagaimana Gladwell menangkap ide sehari-hari dan dikembangkannya menjadi naskah yang meliuk, mempesona, lincah, tajam, dan provokatif, misalnya tentang asal-usul saus tomat dalam “Teka-Teki Saus Tomat.” Bunyi tagline-nya: “Moster sekarang banyak macamnya. Mengapa saus tomat tetap tak berubah?” Hehehe… its so funny, really!

Itu satu artikel yang masuk, apa yang dia sebut, “Genius Minor” dalam bab pertama. Bab dua – soal teori, prediksi dan diagnosis – misalnya kasus kriminolog Dorothy Lewis, yang profilnya pernah ditulis Gladwell. Kisah hidup Lewis kemudian dikembangkan menjadi sebuah drama teater berjudul Frozen oleh Bryony Lavery. Namun Lavery tak minta ijin lebih dulu pada Lewis, begitupun kepada Gladwell. Ia menjadi kontroversi, melebihi ulasan drama tersebut yang mulanya mendapat sambutan hangat.

Ini kisah soal plagiarisme – Gladwell mula-mula meletakkan cermin soal kasus tersebut demi melihat budaya ‘copy-paste’ Amerika yang makin narsistik. Apapun perlu mendapat hak cipta. Dia mencontohkan beberapa kasus, dari musik hingga riset medis. Kita boleh saja tak setuju dengan pendapat Gladwell, bahwa sejauh “kata-kata lama dipakai untuk mendukung gagasan baru”—plagiarisme tak menjadi soal. Jadi titik tekannya pada gagasan atau ide genial.

Bab ketiga, “kepribadian, sifat dan kecerdasan”, cerita satu contoh soal Ben Fountain, penulis fiksi Brief Encounters with Che Guevara, yang “terlambat panas” dikenal dunia sastra Amerika saat berusia 48 tahun. Fountain memutuskan karier pengacara yang cerah, menjadi penulis, dan demi kisah-kisahnya itu, dia perlu ke Haiti hingga 30 kali! Dia mendapat dukungan tanpa pamrih dari istrinya, tanpa interupsi secara tersurat maupun tersirat. Begitupun yang terjadi pada pelukis Cézanne, yang menerima sokongan dari ayahnya, penulis Emile Zola, kolektor setianya, dan para kolega.

Itu berbeda dengan Picasso, argumen Gladwell, yang dikenal sejak berumur duapuluhan. Para kreator macam Fountain dan Cézanne seringnya bekerja dalam tarikan eksperimental. Sementara Picasso adalah orang konseptual – tipe menemukan. Sementara Cézanne adalah tipe mencari, meneliti.

”Orang-orang yang terlambat panas macam Fountain selalu merupakan kisah cinta,” tulis Gladwell. ”Kadang kegeniusan muncul sesudah duapuluh tahun bekerja di meja dapur,” tulisnya, lagi.

Terus-terang, saya suka dengan kisah Fountain ini. Tentu karena kedekatan temanya. Namun yang paling baik adalah nutrisi dalam semua artikel Gladwell dalam buku ini. Sementara judul bukunya sendiri mengacu pada kisah si penjinak anjing, namanya Cesar Millan, yang bisa mengajak bicara bahasa tubuh si anjing. Semua kasus yang dia tangani, anjing-anjing yang galak bahkan kepada si pemiliknya, begitu gampang ditaklukan oleh Millan.

Seorang teman bilang, Gladwell pintar mengemas sebuah gagasan. Kita boleh saja berseberangan dengan argumentasinya tapi—sebagaimana sebuah gagasan—kita perlu tahu dulu apa isinya. Itulah pendapat yang selalu mengiringi di belakang tempurung saya saat membaca Outliers.

Ini buku ketiga Gladwell. Tesisnya soal orang-orang sukses yang lahir dari serangkaian momentum. Bayangkan, misalnya, jika Bill Gates lahir di tahun ini. Tentu dia bukan Bill Gates yang kita kenal sekarang. Artinya, menurut Gladwell, orang macam Bill Gates mencapai kesuksesan dari suatu jalinan kebetulan. Juga ketekunan. Bagaimana hitungannya? Anda harus berlatih sekurangnya 10.000 jam.

Inilah yang menerangkan persamaan antara Bill Gates dengan The Beatles. Empat anak muda asal Liverpool itu bermain musik di klub-klub di Hamburg, sebelum musik mereka menginvansi Amerika Serikat. Tonggaknya adalah pencapaian “artistik musik mereka yang paling hebat” dalam album Sgt. Papers Lonely Hearts Club Band sepuluh tahun kemudian. Mereka punya semacam kesempatan istimewa. Begitupun dengan Gates yang tumbuh remaja ketika lingkungannya sedang demam komputer. Kesempatan itu semacam menyatukan titik-titik terpisah. Saat Beatles kembali dari Jerman, musik mereka makin tertempa dan “membentuk mereka,” mengutip Philip Norman, penulis biografi Shouts! 

Outliers secara provokatif mengajak pembacanya berpikir ulang tentang ”orang-orang yang pencapaian suksesnya di luar jangkauan normal.” Pintu masuknya, tulis Gladwell, ”kita harus melihat ke luar individu itu.” Konteks budaya, latar keluarga, jaringan teman, kelas sosial – adalah bagian inheren dalam memahami kesuksesan. Itu terasa seperti Anda membuat peta rumah Anda, dengan meggambarkan jalan-jalan di sekitarnya, bagaimana cara tercepat untuk sampai rumah Anda; kapan waktu terbaik untuk kunjungan dan sebagainya—setidaknya itulah kesan saya.

Gladwell mendedikasikan buku ini untuk nenek dari pihak ibunya, yang diceritakan dalam bab penutup dengan cara yang sama saat dia menjelaskan para outliers. Dia tahu untuk menjadi dirinya sekarang dia diuntungkan oleh generasi sebelumnya melalui kisah kaum perantau di Jamaika – nenek-buyutnya. Mungkin inilah yang disebut kesadaran historis; persis ketika Anda menerangkan bagaimana Anda dibesarkan dan lingkungan seperti apa yang melahirkan orangtua Anda, begitu seterusnya; bertahun-tahun lalu.

”Para outliers adalah produk sejarah dan masyarakat, produk kesempatan dan warisan,” tulis Gladwell di halaman terakhir. Dan karena pencapaian mereka tidaklah begitu misterius, serta tidak mungkin bagi mereka mengatakan “saya sukses atas kerja keras sendiri,” kisah hidup mereka bisa ditelusuri dan “kesuksesan mereka tidak luar biasa.”

Saya kira, dari ketiga buku pertama Gladwell, Outliers adalah tesis yang ambisius dalam kesadaran pemikirannya, di mana saya menyebutnya “cara berpikir ala Gladwell”, atau “Gladwellian.”

Dua buku sebelum ini, yakni Tipping Point, cerita tentang titik popularitas tertentu, seperti loncatan katak, menerangkan Anda tak perlu humas mahal untuk menjadikan produk Anda terkenal. Atau gejala sosial dimana penyebabnya tak selalu berasal dari pandangan umum. Di sini Gladwell bercerita “biografi gagasan” dan mengajak Anda bertemu para Mavens, Connectors dan Salesmen. Dia menjelaskan tentang suatu hal yang tak terduga, bukan mula-mula mengapa itu terjadi, tapi bagaimana yang tak terduga itu muncul. Tagline-nya adalah bagaimana hal-hal kecil berhasil membuat perubahan besar. Ini sudut pandang yang menarik!

Buku keduanya, Blink (yang tak sepenuhnya [belum] saya baca), menuturkan “cara berpikir tanpa berpikir.” Ini yang disebut “bawah sadar adaptif”, suatu kesan awal terhadap sesuatu. Dua-detik pertama yang menentukan hidup Anda atau pilihan Anda. Kita terbiasa agar mengumpulkan sebanyak-banyaknya informasi untuk kemudian mengambil keputusan secara sadar. Tugas pertama Blink, ujar Gladwell, ”keputusan yang dibuat dalam sekejap bisa sama baik dengan keputusan yang hati-hati dan direnungkan sama sekali.”

Riset Gladwell serius; bahan-bahannya berlimpah dalam setiap argumentasi yang dia bangun—tampak meyakinkan. Tidak semuanya sepakat tentu. Kritik yang sering didengar tentang gagasanya, Gladwell terlalu cepat mengambil kesimpulan. Dia juga dianggap bias dalam memilah contoh-contoh kasus, yang dapat mendukung dan memperkokoh gagasannya. Teorinya, yang menggabungkan sosiologi, psikologi, dan psikologi sosial, terlalu lemah. Ia seakan tengah menerobos pemikiran ketat ala akademis. Dunia sosial berubah cepat. Pemikiran tentang ilmu sosial pun harus mengikutinya. Saya kira debat yang melingkupi Gladwell berada dalam aspek semacam itu.

Suara Gladwell adalah jenis suara yang unik. Dan saya membeli ke-3 bukunya, setelah What The Dog Saw, dalam sekali belanja.*

___

Anda bisa menengok situs pribadinya: Malcolm Gladwell. Sila baca naskah-naskahnya di The New Yorker — beberapa ada yang utuh, kebanyakan mesti langganan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s