Keju dan Tahun 1933

“Jika kita merancang sistem yang memberi kemungkinan menarik diri, kita tak akan pernah maju”

KAAS itu keju. Di tangan Willem Elsschot, pengarang asal Belgia, keju menjadi sinisme tentang upaya mengubah peruntungan nasib manusia.

Frans Laarmans, kerani di galangan kapal, pada usia 50 tahun beralih sementara menjadi pedagang keju. Namun 30 tahun sebagai kerani, yang mengandalkan gaji tetap dan “dapat hidup tenang,” tak dapat mengubahnya begitu saja sebagai pedagang yang memahami bahwa “waktu adalah uang.” Dia nyaris tak tahu apa-apa menjalankan usaha di tengah keluarga dengan seorang istri dan dua anak. Hidupnya cuma mengenal bagaimana mengetik surat-surat dan dokumen, dengan nada pasti, dengan lingkungan kerja stabil. Sejatinya, Laarmans tak cocok menjadi pedagang.

Persoalan dimulai saat dia dikenalkan kakaknya yang dokter kepada Van Schoonbeke. Mereka bertemu sesudah pemakaman ibu Laarmans. Schoonbeke, pria kaya yang punya klub keluarga kalangan atas (rutin bertemu setiap minggu), menawarkan kepada Laarmans agar bersedia menjadi agen keju untuk Belgia dan wilayah Luxemburg dari rekan bisnis asal Amsterdam.

Laarmans mencoba peruntungannya. Demi jaga-jaga dari kegagalan menjalankan bisnis keju, dia pun mengakali cuti sakit selama tiga bulan dari tempat kerjanya sebagai kerani. Dia mudah saja mendapatkan surat dokter, dengan minta saran kepada kakaknya. Itu juga bujukan istrinya yang, lebih dari seorang istri yang punya “kuasa atas teritori di dapur rumah”, punya sikap hati-hati ketimbang Laarmans yang gampang cemas. Namun, saat akhirnya kiriman keju tiba di pabean, Laarmans tercekat tentang bagaimana dia menjual keju-keju itu. Seluruhnya ada 20 ton. Masalah lain: dia belum mempersiapkan apapun, bahkan belum memiliki kantor.

Persoalan Laarmans kian ruwet, mengingat istrinya perhitungan sekali dalam hal belanja, saat menyulap satu ruangan di atas dapur menjadi kantor. Meja kerja, mesin tik, dan perabotan lain untuk kantor harus dibeli dari pasar loak, demi efesiensi. Ketika kantor beres, dia mulai bingung menjual keju-kejunya. Para kolega di klub Schoonbeke menjadi pembeli pertama. Tapi itu hanya sedikit dari seluruh kiriman keju. Dia mulai berpikir untuk cari karyawan, dengan upah bagi-hasil, yang ironisnya kebanyakan pelamar adalah orang-orang miskin, yang membutuhkan makanan.

Di tengah upaya menjual keju, dia menerima kabar bahwa perwakilan dari Belanda akan mendatanginya untuk tahu hasil kerja Laarmans. Singkat cerita, Laarmans memilih sembunyi dari kedatangan si tamu. Palu sudah diketuk: dia akan menyerahkan kembali semua keju, melaporkan pembukuan dari sebagian kecil yang bisa dijual, dan dalam gaya sinisme: menara keju itu runtuh. Laarmans memilih kembali menjalani sisa hidupnya sebagai kerani.

Novel pendek Willem Elsschot ini dipilih oleh Erasmus Taalcentrum untuk disadur ke dalam bahasa Indonesia. Saya tertarik membacanya karena covernya yang dominan kuning serta tipis –yang bisa dibaca sekali buka. Sesungguhnya, kisah hidup Elsschot serta tahun terbit novel ini yang membuat saya lebih tertarik. Dia lahir dari keluarga penjual roti, jatuh cinta pada sastra, menjadi petugas administrasi saat perang dunia pertama, dan menjalankan usaha periklanan hingga meninggal. Namun dia terus menulis. Dan Kaas, salah satu novel yang dikenal darinya, terbit pada 1933 – tahun ketika Nazi meraih dominasi politik di German yang, sebagaimana sejarah mencatat kemudian, mulai mengembangkan cita-cita fasisme untuk seluruh kawasan Eropa.

Ini novelet. Dan tak sedikit pun yang rumit. Masalah dari novel ini adalah halaman catatan pengarang, yang menurutku cuma berisi perihal membingungkan. Namun itu bisa dilewati. Membaca novel seperti bersepeda: mengayuh dari putaran roda pertama, prolog hingga epilog: tempat tujuan. Catatan-catatan lain, bagi saya, cukup diacuhkan saja.*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s