Santiago dalam The Alchemist

AKU baca lagi novel-novel lama, yang lama sekali sudah kubaca, namun entah kemana buku-buku itu. Misalnya The Alchemist karya Paulo Coelho, salah satu novel terkenal dari pengarang Brazil itu, terbit pada 1988. Ia diterjemahkan banyak bahasa dan terus cetak ulang. Pada edisi bahasa Indonesia saja, novel ini sudah masuk cetakan kesembilan dari mulai terbit pada 2005.

Kisahnya sederhana saja. Tentang Santiago, anak laki-laki penggembala dari Andalusia, yang bermimpi hal sama: harta karun di piramida-piramida Mesir. Dia lantas bertemu sang raja, yang mendorong agar dia selalu mengejar mimpi tersebut. Maka mulailah anak laki-laki itu melakukan perjalanan menuju Afrika, bertemu dengan beragam tantangan, bertemu cinta sejatinya, juga sang Alkemis.

Pada ujung kisah, dia akhirnya tiba di piramida mesir. Namun dia dirampok oleh sekawanan pengungsi Arab, yang lari dari perang antar-suku. Dan, di tengah kesia-siaan serta ujung pencarian ini, pertanda itu datang: bahwa harta karun tersimpan di bawah “akar-akar pohon sycamore di antara puing-puing sakristi di sebuah gereja Spanyol yang terbengkalai.” Dengan kata lain, harta karun ini terletak di tempat dia mendapatkan mimpi tersebut.

Kisah sejatinya tentang perjalanan spiritual. Santiago mewakili petualang (atau manusia pada umumnya) yang berada dalam sikap bimbang, ragu-ragu, di tengah dunia yang memiliki banyak kemungkinan. Sementara Alkemis, sosok yang menjadi citra ideal novel ini, adalah penuntun yang tahu seluk-beluk “sebatang logam bisa menjadi emas.” Ada banyak metafor. Dan kisah sederhana ini, seluruhnya tentang metafor.

Coelho tak menggambarkan bagaimana rupa Santiago. Atau hal-hal yang berkaitan dengan sosok riil manusia. Di sisi lain, nama Santiago juga terlalu umum. Dan dalam bahasa Spanyol, kalau tak salah, Santiago itu nama panggilan bagi anak laki-laki. Artinya, tokoh sentral novel ini pun sejatinya tak memiliki nama. Bahkan untuk seluruh tokoh novel ini.

Tujuan dari The Alchemist, novel yang memukau pembaca dunia ini, justru terletak pada pencarian impian, sikap ideal manusia dalam memandang kehidupan. Setting dan karakter merupakan elemen sekunder dari narasi utama tentang upaya mengejar mimpi.

Aku suka novel ini. Sudah bertahun-tahun lalu. Dan kubaca lagi. Kesederhanaan kisahnya begitu melekat ke dalam benak pembaca.*

Iklan

Satu pemikiran pada “Santiago dalam The Alchemist

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s