Breakfast at Tiffany’s

HOLLY Golightly termasuk sedikit dari nama beken fiktif yang dikenal dunia. Paling tidak, Hollywood menjadikan namanya legendaris sesudah ditampilkan oleh sosok nyata aktris film Audrey Hepburn. Yaps! Saya sedang bicara tentang Breakfast at Tiffany’s, novel pendek Truman Capote, seorang penulis yang punya bakat mengagumkan. Norman Mailer menyebut Capote “penulis paling sempurna dari generasi kami.”

Novel ini terbit pada 1958, dalam sebuah buku yang menyertakan tiga cerita pendek lain. Ini juga melapangkan karier Capote. Prosa yang disuguhkannya begitu melekat, apa yang menjadi ciri khasnya kemudian adalah Capote seperti bercericit bak burung murai; atau seorang anak kecil yang punya jiwa feminim dalam melihat sesuatu. Tampaknya hal itu didukung oleh kepribadiannya yang unik: dandys, melancong ke berbagai negara, sosialita enigmatik kalangan New York, dan — untuk seluruh kesan itu — barangkali sebagian telah ditampilkan oleh Holly Golightly (dengan membuang perbedan gender mereka, tentu).

Breakfast at Tiffany’s berkisah tentang perempuan sosialita New York, si Holly-yang-ramping, yang “kepolosannya menjadikan dirinya bersinar.” Kisah Holly dituturkan oleh seorang tetangga apartemennya: seorang pemuda yang diam-diam menyimpan perasaan kepada Holly-yang-cuek. Namun, Capote menyisipkan beragam sudut pandang dalam kisah ini, melalui teknik kutipan-kutipan langsung dari tokoh-tokohnya: Holly, pacar-pacarnya, para pengagumnya.

Holly, gadis-yang-sesehat-sereal, tumbuh dari keluarga miskin yang mengenaskan, menikah di usia yang terlalu muda untuk mengenal cinta, lantas kabur dari “kerangkeng indah” yang sudah dibentuk oleh suaminya, demi mengejar fantasi-fantasi yang disuguhkan majalah-majalah bergambar. Nama aslinya bukanlah Holly, namun Lulamae Barnes, sebelum Doc Golightly–dokter kuda udik yang penyayang– menikahinya. Seorang agen Hollywwood menemukan gambaran filmis dalam diri Holly, diboyong ke L.A, namun petualangan Holly justru dimulai di New York — menjadi ikon primary di antara kaum jetset dengan puluhan pengagum di sekelilingnya.

Namun, dasar Holly-yang-bajingan-sempurna, suatu ketika dia dikait-kaitkan dengan para mafioso, dan untuk itu dia dipenjara–tapi bebas dengan uang tebusan. Segala rencananya pun berantakan: impian menikah dengan pria-kaya-Brazil, yang mengejar karier politisi, berakhir. Holly memilih kabur: tujuannya tetap ke daerah latinos. Dia pun berpisah dengan sosok “aku”–yang di awal kisah menceritakan berbagai peristiwa seputar hidup Holly.

Novel ini lantas dibuatkan film pada 1961. Capote mulanya minta Marilyn Monroe yang memerankan Holly. Namun peran ini jatuh kepada Audrey Hepburn. Kisah filmnya pun, khas Hollywood, happy-ending. Holly bukannya kabur ke Brazil, demi menggaet pria-pria Latin, tapi berakhir dalam pelukan si Aku. Mereka hidup bahagia, happy ending forever. Sementara Capote, dengan nada mangkel — khas pencipta yang dikibuli– mengatakan “Paramount telah mengkhianatiku…”

Well, saya membaca novel ini dengan cara memberi warna stabilo untuk kalimat-kalimat yang bagi saya unik. Ini hal menyenangkan setiap kali saya membaca buku: memberi penanda warna untuk setiap frase yang diciptakan penulis. Mungkin bisa berguna, setidaknya untuk saya sendiri, saat buntu merangkai metafor.

“Sebuah sofa dan kursi-kursi gemuk berlapis beledu merah menggatalkan yang memberikan kesan hari yang panas di dalam kereta api.”

Sebagai seorang pria berbadan kecil dengan kepala berambut putih, dia memiliki wajah tirus yang lebih pantas bagi orang yang berbadan lebih jangkung.”

“…kata-kata yang seolah tercerabut dari hutan pinus atau padang rumput.”

“Hanya ada sangat sedikit penulis, terutama yang karyanya belum diterbitkan, yang dapat menolak undangan untuk membacakan karyanya di depan orang lain.”

“Aku akan merasa terhormat jika suatu hari nanti aku dipanggil Mrs. Entah Siapa.”

“….Yang perlu kaulakukan untuk mencium seseorang hanyalah mencondongkan badan.”

“…saat menarik selimut ke daguku, dia berpendar bagaikan sesosok bocah transparan.”

“Hanya ada sangat sedikit topik yang disukai pria. Jika seorang pria tidak menyukai bisbol maka dia pasti menyukai kuda, dan jika dia tidak menyuka keduanya, well, berarti aku mendapat masalah: dia tidak menyukai wanita.”

Ini kutipan yang paling saya suka: mengggambarkan sebetulnya apa itu Tiffany’s. Ini toko perhiasan. Dan Holly menjelaskan arti Tiffany’s untuk hidupnya:

“Aku ingin tetap menjadi diriku sendiri saat terbangun pada suatu pagi yang cerah dan sarapan di Tiffany’s”

“Aku tidak ingin memiliki apa pun hingga aku tahu bahwa aku telah menemukan tempat untuk menampung diriku dan segala milikku. Saat ini aku belum yakin di mana tempat itu berada. Tapi, aku tahu seperti apa wujudnya…. Tempat itu seperti Tiffany’s.”

“Yang paling bisa membuatku merasa lebih baik adalah melompat ke taksi dan pergi ke Tiffany’s. Tempat itu langsung menyenangkanku, keheningan dan kemewahannya; hal yang benar-benar buruk tidak akan mungkin menimpamu di sana, dengan pria-pria bersetalan indah itu, juga semerbak aroma perak dan dompet kulit buaya. Jika aku bisa menemukan tempat sungguhan yang membuat merasa seperti sedang berada di Tiffany’s, maka aku akan membli perabot dan menamai kucing itu.”

Ada banyak kutipan lain yang saya tandai merah menyala stabilo. Namun jika terlalu banyak saya tulis di sini, tentu saja, membuang-buang waktu Anda membaca 😀

Saya sangat rekomendasikan buku ini!*

Iklan

4 pemikiran pada “Breakfast at Tiffany’s

  1. Setiap liat buku ini, sebenarnya sudah beberapa kali nyaris membeli. Tapi lagi-lagi, baru sampai ke tahap ‘nyaris’, Mas. 😀

    Kayaknya kalo liat lagi, mantap akan membeli.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s