Traktor dalam Bahasa Ukraina

SEWAKTU bibi saya meninggal, adik bungsu dari ibu saya, suaminya – paman saya—memutuskan menikah lagi dengan seorang perempuan sekampung, yang sudah memiliki anak seumuran dengan anak-anak mereka. Alasannya, dia kesepian. Dia memiliki rumah kecil, dibangun di samping rumah pertamanya. Kedua rumah ini terletak di belakang rumah orangtua saya.

Kemudian paman saya dengan istri barunya – kami kenal baik dan berteman baik—memutuskan untuk membuka warung. Warung kelontong setengah bambu setengah bata, berada di tepi sungai kecil, samping rumah kami. Ia menempati areal halaman rumah anak paman saya. Istri barunya membantu keras untuk berjualan, mempersiapkan warung dari pagi buta hingga larut malam. Mereka juga lebih banyak tidur di warung. Rumah mungil dengan keramik putih, dibangun bergaya modern, pelan-pelan kosong dan tiada yang menempati. Paman saya tetap mendatangi rumahnya, tapi cukup seperlunya, berjarak cuma 200-an meter.

Sehari-hari akhirnya paman saya memiliki dunia kecilnya sendiri seukuran warung dan jarang mengobrol dengan anak-anaknya, yang suka bertengkar dengan dia.

Ada hal yang lantas dijadikan masalah. Seorang anak dari istri barunya mendapati persoalan menyangkut pekerjaan di laut. Kata anak-anak paman saya, uang dan hipotik dijual demi membantu dalam membebaskan anak tersebut dari penjara. Ibu saya membela pilihan paman saya beserta istri keduanya itu dengan menyangkal sangkaan tersebut.

Paman saya lebih suka memendalam persoalan hidup dengan sikap diam sejak saya mengenalnya. Suatu kali dia menderita tetanus. Dia tak bisa berjalan. Tapi lantas sembuh dan pada suatu ketika dia mengalami stroke. Dia dirawat di rumah anaknya yang menempati rumah di belakang warung. Dia enggan dirawat di rumahnya yang mungil itu. Apakah dia teringat istrinya, bibi saya?

Paman saya meninggal dengan situasi yang susah. Bibi saya yang trakhoma, sulung dari ibu saya, menangis keras begitupun ibu saya. Mereka melepaskan kepergian saudara mereka, adik bungsu dan suaminya, dengan cara yang membuat saya sedih: saya tak melihat bibi dan paman saya untuk kali terakhir.

Sewaktu bibi saya meninggal, saya tengah di Jogja dan terkena sindrom-malas-pulang. Sewaktu paman saya meninggal, saya sedang di Kupang dan sekali lagi memperlihatkan diri saya yang invisible.

Namun, bagaimanapun, hidup berjalan terus dan rumah mungil mereka akhirnya ditempati seorang cucunya dari anak mereka yang suka bertengkar. Si cucu sudah menikah dan menimba kehidupan keluarga. Kamu tahu, si cucu adalah adik saya – saya selalu menganggapnya begitu—di mana saya tahu sejak dia masih ingusan.

Begitulah saya mengingat kehidupan seseorang yang kesepian lantas menikah tua demi menemani hari-hari senja mereka.

Saya teringat paman saya setelah membaca novel karangan Marina Lewycka, berjudul Sejarah Singkat Traktor dalam Bahasa Ukraina.

Kisahnya seorang tua Ukraina, yang migrasi ke Inggris, akibat invasi Sovyet ke tanah kelahirannya usai peperangan dunia yang dimenangkan Sekutu namun juga meningkatkan komunisme di belahan Eropa Timur dengan Sovyet sebagai pemain utama.

Dua tahun sesudah istrinya meninggal, Nikolai yang berusia 84 tahun menikahi cewek Ukraina usia 36 tahun, si Valentina berdada besar. Nikolai tertarik pada bagian dada Valentina ini sekaligus ingin menerapkan tugasnya yang mulia: menyelamatkan orang-orang Ukraina. Tentu saja, Valentina hanya ingin mengejar paspor menetap permanen di Inggris dengan menikahi Nikolai. Selain kekayaan dan warisannya.

Kedua anak Nikolai, keduanya perempuan, yang berbeda watak, untuk sementara mengesampingkan perbedaan-perbedaan mereka untuk menyadarkan ayahnya. Di tengah upaya mereka, tersisip kisah keluarga Nikolai dan ibu mereka, Ludmilla, yang melewati kehidupan di antara sejarah kelam Eropa: perang dunia, fasisme Nazi, fasisme Stalin. Perbedaannya cukup jelas: ada Bayi Masa Perang dan ada Bayi Masa Damai.

Sementara Nikolai, insinyur nyentrik yang otaknya dipenuhi Gagasan Besar, selalu menyukai perbincangan tentang mesin, filsafat, puisi, Friedrich Nietzsche atau Arthur Schopenhauer. Di tengah konflik keluarga ini, Nikolai juga tengah serius menekuni warisan akademiknya dengan menyusun paper tentang Sejarah Singkat Traktor dalam Bahasa Ukraina.

Saya terlambat membaca novel ini. Dalam edisi terjemahan, ia terbit Februari 2008. Namun aktivitas membaca, entah untuk buku yang baik maupun buku yang buruk, tak selalu mengenal kata telat.

Membaca novel ini, saya teringat kisah almarhum paman saya.*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s