Apakah Anda Tahu?

Suara Rhoma Irama dan hal-hal kecil yang membuatku terus berpikir 🙂

MISALKAN Anda Rhoma Irama. Anda tentu hafal dengan suaranya: berat bervibrasi namun, tentu, bercengkok dangdut dan memiliki aspek khusus—baiklah saya sebut saja—“suara bertipikal Rhoma”. Orang pesisiran utara macam saya sejak kecil sudah familiar dengan suara-berjenis-Rhoma  ini. Komedian di televisi suka menyaru suaranya. Dan dijadikan lelucon. Itu sungguh menghibur. Suara Rhoma seperti flu yang membangkitkan demam massal. Seperti gerak suatu lempeng di bawah kaki kita yang menggetarkan tanah.

Saya punya pengalaman pribadi. Saya biasa menumpang bus ekonomi saat pulang ke rumah orangtua saya di Kandanghaur. Anda tahu, rokok selalu memenuhi ruangan bus. Anak kecil merengek. Penjual asongan teriak-teriak. Udara panas menyusup jendela-jendela bus yang terbuka. Cerita besarnya: bus memiliki perangkat wajib berupa mesin pemutar video beserta pesawat televisi yang tergantung di atas kepala bus, menghadap ke penumpang. Video yang diputar adalah rekaman acara hiburan dalam pesta perkawinan atau khitanan: sebuah panggung terbuka yang menampilkan orkes dangdut Pantura-an.

Penyanyi yang tampil umumnya perempuan. Namun ada sesekali penyanyi pria. Dan (holla!), yang identik dari mereka adalah suara bertipikal suara Rhoma Irama. Tak peduli tampang mereka kek, pakaian mereka kek, mengenakan sepatu atau cuma sandal jepit kek — yang pasti mereka punya kesamaan: suara mereka harus seperti suara berjenis Rhoma Irama.

Ini tak cuma sekali-dua kali. Dalam video klip amatiran, sebuah tingkat prestasi bagi karier penyanyi organ tunggal, penyanyi itu tetap mengidentikkan suaranya berjenis-kelamin-suara-Rhoma. Di kampung saya, semoga Tuhan menerima amal-ibadahnya, ada almarhum biduan tingkat dusun yang suaranya persis seperti suara Rhoma Irama. Adik si almarhum, yang memiliki bakat menyanyi, juga perlu mengutamakan suara seperti suara Rhoma saat dia tampil menyanyi.

Pendek kata, kaum pria yang meniti karier sebagai pedangdut, utamanya dari pinggiran – dari kampung-kampung di Indramayu hingga di Tanah Abang – harus sepresisi mungkin mengeluarkan suara komersialnya seperti suara Rhoma Irama. Ibaratnya, suara Rhoma seperti mercusuar bagi pelaut di tengah lautan gelap. Dalam aspek industri hiburan, suara Rhoma seperti Wall Street bagi ekonomi Amerika Serikat. Seperti Bursa Efek Jakarta bagi ekonomi makro Indonesia.

Marilah saya ambil contoh. Dalam tahun-tahun belakangan, nyaris mustahil bagi penyanyi pria muncul di industri dangdut. Dulu, sewaktu saya SD hingga SMP, saya mengenal Caca Handika, Hamdan ATT (penyanyi yang termiskin di dunia), A Rafiq (penyanyi bercelana potongan cutbrai), Mansyur S dan sebagainya. Namun, tampaknya, tahun 2000-an adalah malaise bagi musik dangdut. Meski mengalami malaise, penyanyi dangdut perempuan terus bertahan dan berbiak. Kita mengenal Inul Daratista. Kita mengenal Trio Macan. Dan para penyanyi macam Ikke Nurjanah tetap eksis. Satu aspek penting, meski penyanyi pria bak tertelan bumi, lagu-lagu Rhoma tetap berputar di panggung-panggung dangdut. Ibaranya, Rhoma tetap menjadi generator bagi musik dangdut.

Tentu, sekarang ini, yang paling keren, si-pria-berbulu Ridho Rhoma, anak sang Raja Dangdut, berkibar di antara dari yang mustahil dalam jenis penyanyi dangdut pria. Dan, meski jenis dangdut yang dia bawakan berevolusi, namun masih ada kesan dari citraan suara bertipikal ayahnya.

Apakah Anda merasa ajaib dengan gejala ini? Saya bertanya-tanya: bagaimana menjelaskan suara-berjenis-khusus-seperti-suara-Rhoma-Irama?

Berapa derajat desibel suara Rhoma? Kita mengenal hukum persamaan bahwa 1 desibel = 1,000 frekuensi. Ada berbagai tingkat kebisingan. Teman saya, Alfian Syafril, mengatakan bahwa ruangan perpustakaan yang aman dari kebisingan cukup maksimal 30 desibel. Telepon 80 dB, gergaji mesin 100 dB, lenguhan Maria Sharapova 103 dB, pesawat jet lepas landas 124 dB, Vuvuzela 127 dB, pistol 140 dB. Dia mengatakan bahwa batas ambang bahaya bagi pendengaran manusia adalah 125 dB.

Dia melanjutkan untuk menjawab rasa penasaran saya. Dia bilang, “Sampai saat ini saya belum dengar secara langsung suara bang Haji. Lewat lagu yang direkam dengan berbagai alat, mungkin sudah. Tapi di sana banyak campur tangan teknologi, baik itu di proses rekaman, hingga mixer oleh sound engineer. Ketika proses mastering, packaging-nya sudah harus OK. Semua bisa dipercantik.

Layaknya Ardinia Rasti atau Luna Maya yang tidak bisa nyanyi, tapi dipermak abis hingga kelihatan bisa bernyanyi. Untuk Bang Rhoma, saya yakin 100% suaranya bagus – baik saat bernyanyi maupun bicara. Di iklan kartu AS, Bang Haji bilang, ‘semua pakai kartu AS,” – dengan gerakan tangan yang berwibawa. Itu luar biasa sekali.”

Ini jawaban dari seorang teman yang setiap bulan membaca rutin edisi majalah musik Rolling Stone. Ini jawaban yang cukup lengkap namun, sayangnya, inti pertanyaan saya belum bisa dijawab.

Pertanyaan iseng dari saya ini, jika ditempatkan ke lokus sisi kehidupan lain, bisa pula diterapkan untuk hal-hal berikut ini:

Kenapa kampanye anti kantong plastik lebih mudah dinyatakan ketimbang dipraktikkan? Tanpa kampanye massal, misalnya, upaya menghindari kantong plastik – dalam setiap aktivitas kita – hanya berujung dengan perlawanan individual. Namun kampanye massal juga menjumpai tembok-tembok penghalang, sejak Anda keluar rumah hingga Anda pulang ke rumah. Apakah Anda tahu jawabannya?

Beberapa hari lalu, Jakarta merayakan ulangtahun ke 483. Apa kadonya? Ibukota Indopahit ini merupakan kota terjorok ketiga di dunia setelah Meksiko dan Thailand.

Kenapa modernisme diidentikkan dengan berlomba-lomba membangun gedung tertinggi? Ada Burj Dubai, dengan tinggi 828 meter atau 2,717 kaki. Sebelumnya, ada menara Petronas di Malaysia. Kita juga mengenal tentang “proyek mercusuar” ala Sukarno tahun 60-an. Dia bangun Monas yang setinggi 132 meter yang cukup tinggi di tahun itu. Untuk apa? Nasionalisme! Apa boleh bikin, sang proklamator adalah sosok gigantik di tengah rakyat Indonesia.

Serangan 9/11 misalnya. Pesawat yang dibajak teroris itu menabrak menara kembar World Trade Center. Demi apa? Merununtuhkan kepongahan Amerika Serikat. Kepongahan (atau kemajuan) identik dengan tinggi menjulang. Apa boleh bikin, stereotip melekat dalam setiap asumsi kehidupan manusia.

Mengetahui kenyataan, dan gejala-gejala remeh, tak semudah membalikkan telapak tangan. Pertanyaannya, apakah Anda bisa membantu saya. Apakah Anda tahu?*

pranala luar:

rajadangdut

Iklan

Satu pemikiran pada “Apakah Anda Tahu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s