Wasiat Terakhir

Satu jenderal belajar mengaji lalu mati.

SEWAKTU BUKUNYA MULAI naik cetak, Agus Wirahadikusuma terlihat senang. Dia membuka pintu rumah dan mengatakan kepada istrinya, ”Kalau buku saya jadi, akan bagus sekali!” Dia menunjukkan salinan buku kepada Tri Rachmaningsih. ”Tugas keluarga yang menyebarkan,” katanya, seakan-akan itu suatu wasiat.

Contoh buku yang dibawa ini masih berhalaman kosong tapi sudah bersampul. Pola-pola ukiran mushaf menghiasi bidang tengah sampul depan. Bercorak flora, bentuk simetris, dominan hijau serta garis tepi bersepuh emas. Ukiran ini membungkus judul buku Shalat, Shalawat, Doa, yang dilukis kaligrafi oleh Baiquni M. Yasin. Nama “Agus Wirahadikusuma” juga diukir dalam bentuk kaligrafi, terletak di bagian bawah dan dibikin mencekung seolah-olah tengadah. Judul buku berhuruf Latin ditempatkan di bagian atas dari ukiran tersebut. Semua itu berwarna emas.

Warna dasar sampul, Crimson Harvard –sejenis warna merah tapi agak marun, warna kebanggaan Universitas Harvard, kota Cambridge, dekat Boston. Wirahadikusuma yang mengusulkan warna tersebut. Kelak, ketika buku ini terbit, ada juga logo mungil ‘John F. Kennedy School of Government’, Harvard, pada lembar halaman pengantar. Ia tertera di sudut kiri atas, bersanding kalimat pembuka di bawah tulisan Arab basmalah. Wirahadikusuma sendiri yang meminta logo Harvard ini dicantumkan. Lengkap dengan kata “Ve-ri-tas” (Latin, artinya “Kebenaran”).

Bukan tanpa alasan Wirahadikusuma memilih warna dan logo Harvard. Lulusan akademi militer Angkatan Darat di Magelang pada 1973 ini sempat mengenyam lingkungan sekolah Harvard. Dia mengambil pendidikan dinas Master of Public Administration untuk bidang Public Policy and Management. Dia lulus pada 4 Juni 1992 dan bangga bisa menjadi bagian dari alumni sekolah tersebut. Kelak, pendidikan Harvard ini memengaruhi jalan pemikirannya.

Selepas Orde Baru ambruk, diiringi tuntutan reformasi militer, Wirahadikusuma termasuk “jenderal reformis” yang mendukung dengan segera penghapusan “dwifungsi ABRI”. Dwifungsi kata lain dari peran ganda militer, suatu doktrin yang mengisyaratkan tentara tak cuma bertugas di bidang pertahanaan tapi juga memegang kendali kekuasaan politik dan sosial. Konsep ini diambil dari “Jalan Tengah Tentara”, dikenalkan Prof. Djokosutono tapi dipopulerkan nyaris tanpa koreksi oleh Jenderal Abdul Harris Nasution pada November 1958. Dampaknya, hampir semua gubernur, bupati, walikota, kepala dinas hingga lurah, banyak diisi oleh tentara. Usia “dwifungsi militer” setua rezim Orde Baru.

Wirahadikusuma juga menyasar bisnis-bisnis tentara yang berserak dari Aceh sampai Papua. Sejak menjabat Asisten Perencanaan Umum Panglima TNI pada 1999, dia mendesak bisnis tentara diserahkan secepatnya ke tangan pemerintahan sipil. Presiden Abdurrahman Wahid menyebutnya sebagai ”sosok militer pemikir yang baik dan berkualitas” ketika mempromosikannya sebagai panglima Kostrad.

Namun jabatan baru ini berumur pendek. Dia membeberkan kasus korupsi di Yayasan Dharma Putera Kostrad sebesar Rp 189 milyar. Dia diangkat 29 Maret 2000 dan dicopot pada 1 Agustus atas desakan para seniornya. Itulah jabatan terakhir dari perwira bintang tiga ini.

Pamannya sendiri dari pihak ayah, Umar Wirahadikusumah, pernah menduduki pos serupa 1965-1967, selain Wakil Presiden jaman Soeharto, 1983-1988. Mayor Jenderal Umar Wirahadikusumah panglima Kostrad kedua setelah Soeharto.

Menariknya, selepas pemberhentian itu, Wirahadikusuma mengambil sikap lebih ke dalam. Introspektif. Dia merenangi pedalaman jiwanya. Memasuki kehidupan yang agamawi. Dia menyebut ini kesunyian. Sebuah fase baru yang melahirkan buku doa itu. Buku panduan ibadah.

Tri Rachmaningsih bersama kedua anaknya, Yunan Mahastra Satria dan Dyah Gustinar Savitri, mendorongnya belajar mengaji. Selama ini, ”Bapak kurang (dekat) dengan agama,” kata Rachmaningsih.

Di rumahnya, komplek Angkatan Darat Bulak Rantai, Jakarta Timur, Wirahadikusuma mulai belajar mengaji. Instruktur didatangkan tiga kali seminggu selama dua bulan. Bertolak dari hitungan nol, dia belajar baca al-Quran dengan metode “An-Nuur”, yang dikembangkan Ustadz Desembriar Rosyadi.

Pada Ramadhan di ujung tahun itu, dia berangkat umrah untuk kali kedua bersama istrinya dan Yunan Mahastra. Rachmaningsih bercerita, saat umrah itu suaminya berjanji kalau pulang ”… akan buat buku panduan ibadah untuk orang awam seperti saya.” Wirahadikusuma juga percaya tindakannya sudah benar sewaktu menjabat panglima Kostrad. Jiwanya tambah mantap. Bebas.

Ketika pulang, dia mulai memenuhi janji tersebut.

Banyak kolega, terutama kyai dan ustadz, membantunya dalam memberikan buku-buku agama. Dia susun rangkaian petunjuk berisi shalat, doa-doa, shalawat, plus beberapa surat al-Quran serta bimbingan ibadah umrah dan haji. Dia menulis dengan perangkat Microsoft Word versi Arab.

Dia mengurung diri di dalam kamar kerja. Sungkan menerima telepon dari siapa pun. Rokok selalu mengepul. Bisa menghabiskan tiga bungkus dalam sehari. Saat pintu terbuka, asap tembakau memekati udara ruangan. Mesin penyedot dan pendingin udara menyala. Dua-duanya seperti medan magnet; saling menghisap dan membekukan.

Tri Rachmaningsih bercerita, suaminya hidup kurang sehat saat menyusun buku doa ini, ”Siang jadi malam, malam jadi siang.”

Di sela-sela menyusun buku, Wirahadikusuma juga membangun mushala di lantai atas. Ini menjadi tempatnya belajar sebagai imam.

Wirahadikusuma mengenal Erwin Indarto, direktur PT Jayakarta Agung Offset, melalui Michael Gandareta. Pembicaraan tentang pencetakan buku mengalir dari perkenalan ini. Nama Gandareta tercantum selaku pembantu pelaksana dalam lembar kredit buku. Namun perannya menyurut belakangan dan giliran Mendiola Budi Wiryawan yang sering tampil.

Mendiola asisten Arief Tjahjono Abdi, direktur artistik Mindglow Design, yang menangani pengerjaan desain buku tersebut. Ada juga Nandi dan Sutiyadi. Saat proyek buku berjalan, Tjahjono dalam perawatan medis sakit empedu.

Tjahjono Abdi adalah desainer ciamik lulusan Akademi Seni Rupa Indonesia, Jogjakarta. Mendiola lulusan sekolah desain Universitas Pelita Harapan, Jakarta. Dia juga instruktur desain di Universitas Bina Nusantara. Dia datang ke rumah Wirahadikusma beberapa kali untuk mengambil naskah buku. Dia yang manjalin hubungan dekat dengan Wirahadikusuma meski tetap konsultasi dengan Tjahjono.

Mendiola bercerita, Tjahjono menggambar pola hiasan mushaf buku ini di tempat tidurnya dalam keadaan sakit. ”Orangnya teliti sekali,” katanya. Tjahjono menggambar ornamen-ornamen dengan pensil di atas sebidang kertas. Tugas Mendiola mengalihkannya ke layar komputer.

Motif hiasan mushaf ini mengisi halaman buku. Hiasan tersebut membingkai rangkaian tulisan Latin maupun Arab. Tiap memasuki bagian maupun sub-bagian baru, hiasannya selalu berganti. Sekurangnya ada 15 jenis kombinasi hiasan dalam buku setebal 440 halaman ini. Tiap hiasan mengandung lima macam warna.

Ini butuh sikap telaten, tentu. Erwin Indarto bertanggungjawab sepenuhnya bila sewaktu-waktu terjadi kesalahan cetak. Terkadang mesti sabar juga menekuri deretan huruf Arab yang menggantungkan kelisanan tanda huruf panjang dan pendek.

Baiquni M. Yasin mengatakan kepada saya “setiap 100 lembar harus diperiksa oleh operator.” Baiquni termasuk anggota tim mushaf Jayakarta. Tiga kali dalam seminggu dia datang ke rumah Wirahadikusma. Hampir selama empat bulan dia menjadi teman diskusi Wirahadikusma dalam pengerjaan buku ini. Mereka pun menjadi akrab.

Sekitar Maret 2001, salinan draft kasar buku mulai diperiksa dan dikoreksi oleh “tim lajnah pentashih mushaf al-Quran” dari Departemen Agama. Wirahadikusma membawa hasil koreksian itu ke rumahnya. Tertawa cekikikan.

Tri Rachmaningsih bertanya, “Kenapa?”

Wirahadikusuma memegang draft tersebut, ”Saya dapat nilai satu! Dari atas ke bawah salah semua tulisannya!”

”Saya masih ingat gaya dia ketawa,” cerita istrinya kepada saya. ”Satu, Ma! Di raport!”

Koreksi akhir buku di Hotel Ibis, Slipi. Namun dua hari berturut-turut sebelum naik cetak, Wirahadikusma sempat menengok ‘buah rohaninya.’

Selasa siang itu, 8 Agustus 2001, Wirahadikusuma datang ke percetakan. Ada Baiquni M Yasin, Erwin Indarto dan Mendiola Budi Wiryawan. Mereka makan siang di Hotel Quality, samping percetakan Jayakarta. Saat itu, cerita Erwin kepada saya, Wirahadikusma sempat berkata, ”Moga-moga buku ini kita sebarkan ke seluruh Nusantara.”

Esok sorenya, Wirahadikusma datang lagi. Dia bertemu Mendiola yang sedang mengganti fotonya di sampul belakang. Foto awalnya, Wirahadikusma tengah merokok, dianggap kurang baik. Wirahadikusuma mengajaknya makan tapi Mendiola menolak. Mendiola ingin cepat menuntaskan pekerjaannya.

Sekitar pukul 9 malam, Wirahadikusma tiba di rumah. Dia teriak-teriak bukunya bakal bagus. Sejam kemudian dia mulai beranjak tidur. Wirahadikusma dan Tri Rachmaningsih masih sempat bercanda soal doa istighfar.

”Kamu kalau baca istighfar seperti apa?”

”Astaghfirullahal”adzim,” jawab istrinya, main-main.

”Eeeh…, ada yang panjang.”

“Kayak apa?”

Wirahadikusma lantas membacakannya tapi istrinya menyahut terlalu panjang. Akhirnya dia menjawab ada yang lebih pendek seraya mengucapkan, ”Astaghfirullahal’adzim alladzi Laa ilaaha illa huwal hayyul qoyyum waa atubu ilahi….”

”Ya udah, yang itu deh aku mau,” kata Rachmaningsih.

Keduanya pun membaca doa tersebut. Bersama-sama. Lalu terlelap.

Sekitar pukur 1.30 dini hari Tri Rachmaningsih terjaga. Suaminya tak ada di sampingnya. Dia tahu suaminya tengah shalat tahajud. Rachmaningsih tidur lagi dan dibangunkan suaminya sekitar pukul 5 pagi.

”Hei! Bangun, bangun, bangun!” Subuh, subuh!” katanya, lagi.

Rachmaningsih masih diam di kasur. Ruangan kamar terasa lelap. Masih mengantuk. Suaminya menuju mushala dan ketika masuk ke kamar, sekitar pukul 5.30, Rachmaningsih telah terjaga. Rachmaningsih ke kamar mandi di dalam kamar itu, hendak mengganti piyama. Suaminya tidur kembali sampai menunggu waktu shalat dhuha.

Namun, dalam waktu yang cepat, Rachmaningsih mendengar suara orang sesak nafas.

Penasaran, dia membuka pintu kamar mandi lalu melihat suaminya susah bernafas. Telentang di tempat tidur. Tersengal.

Khek … khek … khek …. Suara itu pelan. Seperti menyangkut. Seakan mengeram dalam tenggorokan.

”Hei, jangan main-main kamu.” Rachmaningsih mengira suaminya bercanda. ”Jangan nakut-nakutin.”

Agus susah-payah bilang, “… Tidak….” Menggapai-gapai.

Rachmaningsih tersergap. Khawatir. Panik. Dia mengambil tabung oksigen yang biasa dipakai untuk meredam jantungnya yang lemah. Dipasang ke hidung suaminya. Berteriak. Gaduh.

Dia bergegas mencari dokter di sekitar rumah. Namun tak ketemu. Dia segera menuju kamar. Bu Iyem, pembantu keluarga ini, sudah di dalam kamar. Juga ada yang lain: supir, ajudan, satpam rumah. Nafas Wirahadikusuma pendek-pendek. Dadanya naik-turun. Mereka langsung membopongnya ke mobil.

Giyadi, supir Wirahadikusuma, cepat melarikannya menuju rumahsakit Pertamina di Kebayoran Baru. Wirahadikusuma tak bisa diselamatkan.

Meski beragam media menulis kematiannya pada pukul 6.19, dengan bumbu mati “diracun atau dibunuh”, Tri Rachmaningsih yakin suaminya meninggal saat masih di rumah. Dia memstikan hal ini setelah mencari tahu pada 40 hari kemudian. Bu Iyem mengingat, saat Rachmaningsih mencari dokter ke luar, ”Nafas Bapak sudah panjang.” Maut itu sudah lengkap. Meregang. Nafas penghabisan.

Itu Kamis pagi, 10 Agustus 2001.

Yunan Mahastra Satria malam itu tidur di Panglima Polim, rumah orangtua ibunya. Dyah Gustinar Savitri bermil-mil jauhnya, tengah studi magister di George Washington University. Mendiola Budi Wiryawan mendengar kabar duka melalui berita pagi di stasiun televisi. Dia segera menghubungi keluarga Agus Wirahadikusuma dan mengontak Erwin Indarto. Mereka datang ke rumah duka. Ikut mengantarkan jenazah ke ‘rumah abadinya.’

Sepuluh hari kemudian, buku yang disusun almarhum selama hampir tujuh bulan pun lahir.

Hingga kini, buku doa karya Agus Wirahadikusumah sudah masuk cetakan keduabelas. Mendiola Wiryawan ingat sekali perkataan almarhum, ”Buku ini jadi amanah saya, harus terus dicetak sampai anak-cucu.” ***

*Dipublikasikan pada Agustus 2007 untuk buku “company profile” PT Jayakarta Agung Offset bersama antologi tulisan lain.

Iklan

13 pemikiran pada “Wasiat Terakhir

  1. saya sedang nyari profil Agus Wirahadikusuma sang jendral yang frontal.. eh menemukan blog posting yg menarik ini. orang2 seperti jendral AW ini jarang yg panjang umur, syukurnya beliau meninggal dalam keinsafan. yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah irji’ii ilaa robbiki roodhiyatan mardhiyyah fadkhulii fii ibaadii wadkhulii jannatii..amin.

  2. Ping-balik: Musim Penyiksaan |
  3. Semoga amal ibadah almarhum Umar W diterima Allah SWT, amien.
    kebetulan beliau menempati rumah bekas kakak ibuku di K8 Bulak Rantai.
    Sekarang jarang Jendral seperti beliau…

  4. Ya Allah Swt berilah keselamatan, kesejahteraan di akhirat & sorga kpd alm.Agus wirahadikusuma, termasuk keluarganya,,,,aaamiiiinnnn,,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s