Layang-layang di Langit Jakarta

—buat Lazu

BAGAIMANA AKU MENULISKAN sepotong petang seperti ini kepadamu? Apakah dimulai dengan layang-layang di langit yang cerah itu, tiba-tiba—tanpa kusadari sebelumnya—mereka tampil memesona, lebih untuk menunjukkan betapa membosankannya langit Jakarta?

Bagaimana dua anak kecil, di sepotong jalan kampung ini, mulai menerbangkan layang-layang — pelan dan pasti, kian tinggi dan semakin meninggi?

Jemari mungil mereka terlihat erat memainkan gulungan senar dari kaleng susu, lantas mereka mulai mencari lawan dan terkadang si musuh adalah teman di samping mereka sendiri. Mereka adu-menyambar, putus dan bertahan. Dan ups! Ada sebuah layang-layang jatuh ke satu atap rumah di depan kamarku….

Kamu tahu, permainan ini mungkin kelak akan punah. Tidakkah kamu akan rindu permainan seperti ini setelah kamu dewasa? Barangkali seseorang harus menceritakannya kepadamu. Ya, hidup tak pernah abadi, apalagi sebuah permainan.

Aku ingat tentang permainan gasing. Aku juga ingat tentang permainan tengah malam, tentang petak-umpet, atau satu permainan di kampungku yang disebut ‘slodor ngasin’. Dan, tentu saja, mainan yang kami namakan ‘glatikan’. Apakah kamu pernah mengenal permainan ini dan bermain dengan teman sebayamu?

Permainan ini cukup seru. Kamu hanya perlu kedua tangan yang cekatan serta bidikan yang cermat. Kamu juga terkadang butuh perut yang cukup kenyang sebelumnya. Bonusnya jika kamu menang, kamu akan digendong!

Tak perlu aksesoris macam-macam. Cukup sediakan sebatang kayu mungil yang panjang sebagai pemukul, dan yang lebih kecil sebagai ‘bola’-nya. Lalu sediakan batubata, disusun bertumpuk, agak tinggi sedikit, dua tumpukan. Lalu si lawan – ada banyak lawan (juga ada banyak teman)—dipisahkan berdua: yang satu pemukul, yang satu lagi penangkap. Itu mirip seperti baseball. Kamu menangkap batangan kayu mungil itu, di suatu titik, lalu kamu bidik kayu panjang pemukul, yang disilangkan pada dua tumpukan batubata itu. Dan ups! Kamu meleset. Maka giliran kamu harus menggendong para pemukul!

Seperti ucapan seuntai doa dari ibumu, yang mengingatkanku tentang kesederhanaan serta keceriaan. Dia bilang, jika kelak kamu dewasa, tak usahlah kamu bermuluk cita-cita, tapi cukuplah jadi lentera yang benderang buat sesama. Dan, lanjut ibumu, bahan bakar “lentera” ini tak usah mahal-mahal. “Dua saja,” tulis ibumu, “dua kalimat syahadat serta dua: Al-quran dan shalawat.”

Itu doa yang indah. Doa yang mengiringi usiamu yang kini ke-9. Lama kita tak berjumpa. Tentu kamu sudah mulai besar. Ibumu mengabarkan, tinggimu sudah seperti Umi. Aku membayangkan kamu selalu lucu dan ceria.

Jadi, petang ini, di langit Jakarta, ada puluhan layang-layang. Mula-mula aku melihat doa dari Umimu, lalu aku ingat layang-layang dan ingat kamu. Umi bilang, semoga kamu masih kenal aku. Tapi aku selalu mengenalmu, kapan pun itu.

Layang-layang itu, yang menghiasai langit Jakarta ini, berayun dan terbang – dan aku membayangkan semacam karnaval. Mereka menghibur hatiku. Tuhan memberikan langit yang cerah, anak-anak menghiasinya dengan layang-layang, dan matahari mewarnainya dengan sinar bulat keemasan. Awan tipis sekali. Semuanya tampak biru dan semuanya tampak putih. Tidakkah itu sepotong keindahan? Tidakkah ini tandanya kita harus bersyukur?

Kadang-kadang kita tak butuh suatu kemewahan untuk membuat kita bahagia. Cukup dengan petang Minggu seperti ini. Atau cukup dengan senyummu untuk ibumu. Kita hidup kadang berada dalam batasan-batasan yang relatif.

Kamu ingin tahu warna layang-layang itu?

Di lantai tiga, tempat jemuran pakaian, aku menemukan layang-layang yang putus. Tidak seperti di kampungku, di sini tak ada anak-anak yang berebut mengambilnya. Layang-layang itu dihiasi garis-garis warna biru, bukan gambar, tapi cukup menarik. Senar yang mengaitkannya ternyata cukup panjang. Mungkin layang-layang yang memutuskannya bermain curang, mencuri di saat si lawan sedang lengah, atau menyambar dengan tiba-tiba. Atau mungkin si lawan lengah karena baru menikmati kemenangannya. Tapi begitulah, layang-layang ini sendirian saja di atas genteng, seperti tak ada yang merasa kehilangan, padahal bentuknya masih sempurna.

Di Jakarta, layang-layang mungkin tak pernah dicari jadi rebutan tapi dibeli. Ya, dibeli, karena lebih mudah didapatkan. Dan lebih mudah untuk diterbangkan. Lagi pula, di sini susah sekali kita menerbangkan layang-layang. Perumahan-perumahan tinggi. Jalan-jalan padat. Bahkan ada yang cuma selebar tubuhmu. Petak kosong yang sulit dicari.

Anak-anak itu bermain di jalan raya – tempat kendaraan lewat. Atau di sepetak lapangan mungil sekolahan – tempat perayaan upacara. Namun mereka sudah senang. Wajah mereka sumringah. Mereka masih memiliki permainan dan tak kehilangan masa kanak-kanak mereka.

Sederhana tapi bahagia.

Kamu tahu, cerita layang-layang ini mengingatkanku pada segaris luka di bagian betis dekat lutut kiri. Itu sewaktu aku mengejar layang-layang. Kami berebutan. Kami harus berupaya menangkap lebih dulu potongan senar dari layang-layang itu. Di depan kami, ada kotak sampah. Di dalamnya, ada pecahan kaca yang menyembul. Terlalu asyik memperhatikan layang-layang itu, betisku terkena goresan kaca runcing. Aku tak sadar ada darah yang menetes, sebelum kemudian diingatkan seorang teman. Aku kaget tapi tak menangis. Sebab aku terlalu senang berhasil memenangkan perebutan itu. Mungkin kamu bisa tertawa kalau kubilang luka itu masih membekas hingga sekarang. Betul, bekasnya masih terlihat jelas. Itu tandanya aku juga pernah menjadi anak kecil sepertimu.

Sakit tapi bahagia.

Selamat ulangtahun, Lazu. Berbahagialah karena kamu punya seorang ibu yang sangat sayang dan bijak. Semoga kalian selalu bahagia. Ini doa dari seorang teman ayahmu, yang hingga kini nama ayahmu belum kuhapus dari ponselku. Ayahmu senantiasa bahagia melihat perkembanganmu dari Surga.

Kapan kita bisa bermain lagi? 🙂

Jakarta, 14 Juni 2009

Iklan

Satu pemikiran pada “Layang-layang di Langit Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s