M09

NAIK MIKROLET DI jalanan Kebayoran Lama hingga Palmerah kadang-kadang menjumpai reuni mendadak. Setelah seorang perempuan, sambil membawa kedua anaknya, menyentop angkot yang saya tumpangi, lantas ada seseorang yang turun beberapa meter kemudian, tiba-tiba si perempuan itu berteriak, “Heri… Heri…”

“Heri bukan ya?” Dia ragu-ragu.

Tapi kemudian si supir memalingkan muka ke belakang. “Eh, Rina!”

Rupa-rupanya mereka saling mengenal.

Ini kehebohan yang sesekali saya jumpai selagi naik angkot. Rina langsung membalas, “Wah, kiraian siapa…?”

Emang siapa?

Mereka tertawa.

Lalu mengalirlah percakapan. Perempuan itu, yang dipanggil Rina, duduk menjorok di belakang, segera menggeser ke depan, namun tak sampai tepat di belakang jok si supir karena masih disela seorang penumpang. Mereka bicara dengan suara lantang. Seolah-olah tak ada penumpang lain.

Inilah kehangatan yang mengalir.

“Aduh, kemana aja? Kamu kok sekarang gak main lagi? Sombong ya!”

Dia menyebut suaminya yang, rasa-rasanya, menjadi sahabat dekat si supir, “Nyariin kamu tuh!”

“Ya, udah lama kagak main. Lama banget!”

Lama kagak main. Udah lama banget!

Heri mengingat-ngingat, “Ada kali setahunan.”

Lama bener. Gue lama banget kagak main!

“Ya, Loe ditanyain terus tuh. Mentang-mentang udah punya mobil!” jawab si perempuan. Seakan-akan angkot yang saya tumpangi adalah milik sepenuhnya si supir.

Dalam hati, saya tersenyum. Ada banyak yang sering saya dengar selama wara-wiri naik mikrolet warna biru muda ini dengan nomor “M09”. Saya selalu senang menyebut “M09”—kesannya seperti menyebut jenis senapan atau kode rahasia seseorang yang dikirim untuk berperan macam James Bond. Paling tidak, ini bukan kode militer Indonesia atau intel Melayu dari sepanjang bacaan saya tentang institusi ini – keculai tukang bunuh warga sipil dan tukang jagal pejuang HAM.

“Anak Loe berapa?”

“Empat!”

“Subur, Loe!” kata si supir.

Loe berapa, Her?

“Gue masih dua…”

Si supir menyebut bermacam nama. Dari istrinya, teman-teman mereka, serta seorang perempuan yang selalu ditanyakan olehnya. Apakah dia bercerai? Apakah ada perempuan lain yang memikat si supir di masa dulu, hingga—ketika dia bertemu seorang teman lama lebih dari setahun, nama si perempuan itu dijadikan daftar awal-awal dalam pertanyaan dia? Dia terus menanyakan kabar si perempuan itu. Seakan-akan nama perempuan itu tak pernah lepas dari ingatannya. Pasti ada kisah sesuatu yang selalu dikenang si supir. Dalam nada bicaranya, dia bersemangat dan sesekali tertawa. Mungkin saja itu pembawaan dia.

Selagi menjaga pendengaran saya lebih peka, dan sambil mengingat tekstur pembicaraan mereka, ada pikiran nakal bahwa paling baik adalah merekam obrolan keduanya. Saya bisa membuka handphone dan menyalakan tombol perekam. Saya pernah melakukan ini saat menemani ayah menemui satu saudaranya yang lumpuh dan berusia hampir seabad pada malam Lebaran tahun lalu. Daya ingat saya menurun, gara-gara sering tidur tanpa mimpi. Kamu tahu, jika kamu pergi ke taman dan tak sekalipun menemukan bunga, hal itulah yang disebut “kekosongan tak terkatakan.”

Namun saya mengurungkan niat tersebut. Saya terus mengingat-ingat percakapan antara Heri dan Rina – yang makin cepat melemparkan pertanyaan dan menangkap jawaban. Jika digambarkan dalam komik, terlalu banyak balon bicara di antara kedua mulut ini, yang melayang di atas udara, berputar-putar dan memenuhi badan penumpang.

Saya kaget bahwa perempuan itu, yang saya perhatikan lebih lekat setelah terkejut oleh pembicaraan ini –mengingatkan saya kepada kakak ipar pertama–  ternyata sudah punya empat anak. Kesannya dia masih muda. Lipstik merah tebal meramu mulutnya yang terus bicara. Kedua anaknya duduk berhadapan di sudut belakang. Mereka berpenampilan senada: kaos kuning menyala dan potongan celana serupa. Yang membedakan cuma warna sandal serta potongan rambut. Seakan-akan mereka lahir kembar.

Di suatu pinggir jalan, di titik muka sebuah gang, berdiri seorang perempuan yang rupa-rupanya menarik perhatian si supir. Setiap supir angkot, jika saya perhatikan, punya mata jeli khusus dalam mencari calon penumpang. Mengerem mendadak seolah-olah perilaku khas mereka yang bisa sekaligus menyirap jantung penumpangnya. Mata jeli itu makin menjadi-jadi jika melihat calon penumpang perempuan—setidaknya, selama saya menaiki “M09”, saya belum menjumpai supir perempuan.

Sekarang, angkot berjalan lebih pelan saat si supir mengawasi perempuan yang berdiri di pinggir jalan itu. “Lihat tuh, pacar gue,” katanya kepada Rina, yang dijawab, ”Ah, kelakukan Loe masih sama.”

“Hayo, Neng!” teriak supir, sambil membunyikan klakson. Namun si perempuan itu rupa-rupanya bergeming—tanda bahwa dia tak sedang menunggu angkot atau, mungkin juga, sungkan melihat kelakuan lancang si supir.

“Itu pacar gue tuh!” Namun, tampaknya si supir tak ambil pusing.

Di perhentian berikutnya, seorang penumpang turun, dan Rina sekarang lebih leluasa mendekati supir; duduk tepat di belakang jok. Dia berseru kepada kedua anaknya, “Eh, ke sini. Deket-deket sini.” Tanpa pikir panjang, dua gadis kecil itu mengikuti perintah ibunya. Mereka duduk berjajar. Ibunya melanjutkan percakapan dengan si supir. Jika kamu perhatikan, mereka seakan sebuah keluarga.

“Satu anak gue udah gede,” kata Rina. Dia udah kerja.

Wah, lumayan dong.

“Ya, udah kagak pusing gue. Terserah dia deh. Kerja di hotel. Udah bisa kredit motor. Suka-suka dia lah.”

Si supir menimpali, “Enak Loe, anaknya udah kerje.”

Ya lah, terserah dia aje….

Percakapan mereka suka gonta-ganti.

Rina berkata, “Rumah gue mau digusur, Her.”

Dia mengatakan bahwa uang ganti penggusuran seharga Rp 3 juta. Dia masih nego. Dia menginginkan Rp 5 juta. Dia menyebut nama wilayah, tempat tinggalnya, dan ada lokasi di dekat rumahnya, yang juga kena gusur, dihargai Rp 7 juta. Rina mengatakan dengan cara yang enteng.

Apa kata Heri?

“Jadi loe masih nego ya?”

Ya, gue masih nego.

“Dapat Rp 3 juta udah lumayan tuh. Kena gusur apaan?

“Depan rumah. Jalan mau digede-in.”

Percakapan soal gusuran jalan ini berselang pada saat angkot mendekati lokasi kost saya. Namun ada pertigaan, yang senantiasa macet, dan angkot berhenti beberapa menit.

Inilah keasyikan tersendiri jika kamu naik angkot atau bus kota di jalanan Jakarta. Ada kisah-kisah yang muncul dengan sukarela di dekat telingamu. Mereka bicara kepada diri mereka sendiri. Ada nilai tertentu, jiwa yang lepas, yang mengajak kamu perlu menyimak dan merenangi isi pembicaraan tersebut. Seakan-akan kamu merasa lebih kaya sepulang dari kantor.

Percakapan di dalam angkot adalah kupu-kupu yang bertamu ke dalam rumahmu.[]

Iklan

Satu pemikiran pada “M09

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s