“Bahasa sebagai Aspal”

Pekanbaru dalam empat hari

AKHIR BULAN JULI KEMARIN, saya berkunjung ke Pekanbaru. Tujuannya, menemani satu kolega dari Jakarta untuk mengajar 30-an redaktur media di tanah bertuah – diplesetkan menjadi “tanah berkuah.” Ini rutinitas yang sesekali saya jalani – misalnya pernah pula ke Jambi awal tahun ini – guna mengajar menulis. Ini kali pertama saya datang ke ibukota Riau.

Pesawat mendarat sore hari. Delay 45 menit. Bandara Sultan Syarif Kasim II, dalam skala mata yang mengantuk, terlihat kecil namun saya melihat hamparan hijau sawit di ketinggian. Orang Riau mengatakan “atas dan bawah tanah Riau itu minyak semua”. Maksudnya, secara geografis, dataran tinggi berisi homogenitas sawit sementara lepas pantai menjadi lumbung emas hitam. Ini sinisme. Anda bisa sebut bermacam perusahaan multinasional. Ada Riau Andalan dan Indah Kiat, yang kantor pusatnya di Jakarta, serta perusahaan minyak Chevron asal AS.

Namun Riau pernah bergejolak setelah kejatuhan Soeharto, macam terjadi di kawasan kaya lain seperti Aceh dan Papua. Ada gerakan Riau Merdeka yang, seiring waktu, seakan tertelan bumi – mungkin untuk sementara. Kini yang berkembang adalah proyek gigantik dari para politisi yang mengunyah kue kekuasaan. Dalam bahasa politik, saya menyebutnya “mercusuar pembangunan.” Ada proyek bernama “ibukota PON 2012” untuk menamakan festival olahraga “se-Indonesia”. Ada gedung perpustakaan ‘Soeman HS’ plus gedung dewan daerah, dibangun sejelas mungkin demi meraih kesan baru dan mewah.

Jalan protokol, bernama ‘Jenderal Sudirman’ (mengingatkan saya pada warisan jalan Eyang Harto), tempat sebuah hotel di mana saya menginap – dibuat resik tanpa cela, dilapisi beberapa shelter atau halte di pinggirannya. Halte-halte ini menjadi tempat perhentian bus bernama ‘Trans Metro Pekanbaru’. Ada kesan kota ini menghadapi persoalan transportasi, seperti macet, yang tak hanya dominan di pulau ini namun di semua kota metropolis di Jawa. Pagi hari dan sore hari jalan utama ini biasanya macet.

Hari pertama, saya juga iseng berjalan kaki dari hotel, mencicipi secuil kehidupan pagi. Kendaraan bermotor melaju kencang. Nyaris tak ada jeda untuk menyebrang. Saya melihat satu perempuan muda, petugas karcis trans metro, duduk menanti kedatangan bus. Tapi bahkan sampai saya kembali ke hotel, belum satu pun bus itu tiba. Kendaraan umum silih-berganti lewat dan mereka juga melaju cepat. Kelak, dari lelucon kenalan mahasiswa, orang lebih suka menyebrang dengan sepedamotor demi “kecepatan”.

Pada hari pertama saya menikmati kopi Kim Teng di pustaka, banyak anak muda berkumpul menjelang malam di satu pinggir jalan, dengan motor masing-masing, untuk lomba adu cepat. Suaranya mematikan obrolan kami. Saya menangkap kesan bahwa Pekanbaru adalah kota dengan “aspal sebagai bahasa.” Saya juga bilang kepada teman lama bahwa kota ini, dalam kesan yang sekilas, penuh kamuflase.

Umbul-umbul berupa balon besar. Rumah gubernur dipagari halaman luas. Di depannya, rumah kepala polisi daerah yang tak kalah luas. Saya melihat masjid raya, dibuat gigantik, sering dijadikan objek fotografer dalam “mencitrakan Pekanbaru.”

Ada satu areal luas berisi bangunan-bangunan, masing-masing mencirikan citra khas kabupaten, yang mirip dengan ‘Taman Mini Indonesia Indah’ di Jakarta. Saya diajak berkeliling mengitari luasnya, dari jalanan beraspal di luar areal tersebut. Saya melihat sebagian besar bangunan tak terurus. Ada pucuk atapnya yang sudah bolong. Kaca-kaca pecah. Dinding-dinding kusam. Ini tempat anak muda berkumpul di mana warung-warung kecil jagung bakar bercahaya redup di malam hari. Ia juga dijadikan sebagai lokasi “Riau Expo” pada awal Agustus ini. Ada baliho besar di depannya, potret pasangan gubernur dan wakil gubernur bertuliskan “pameran terbesar.”

Seakan-akan ada optik yang tiranik – dalam kamus alegori nasionalisme a la Rudolf Mrázek – untuk melihat perkembangan kota ini. Ironisnya, di tengah kota ini, masih ada jalan yang belum diaspal, berupa tanah yang dikeraskan dan dipadatkan.

Bagaimanpun, berkunjung ke sebuah kota selalu menyimpan hiburan. Ada Kedai kopi terkenal bernama Kim Teng. Letaknya di ‘pasar bawah’ – sebuah lokasi china town di ujung jalan protokol. Ia juga terdapat di lantai dasar perpustakaan ‘Soeman HS’ serta di sebuah mal. Selama dua petang, saya duduk di kedai Kim Teng di pustaka. Ini gedung dibikin macam stadion, pilar-pilar besar menyanggah atap, tapi ruang kosong lebih banyak diterapkan ketimbang digunakan, paduan garis-garis arsitektur yang melengkung dan geometris. Banyak orang suka berkumpul di sini. Beberapa di antaranya para politisi.

Saya bertemu dengan anak-anak muda mahasiswa di luar kelas. Asyik. Mereka antusias. Mereka ingin melakukan reportase penting yang panjang. Saya menilai politik di Pekanbaru, yang berada di luar dan di dalam sistem, punya hubungan dekat dengan uang. Kolega saya di Jakarta, yang beberapa kali melakukan riset, mengatakan kebanyakan NGO-nya “tidak beres.” Dalam empat hari, saya punya kesan yang buruk untuk kehidupan politik elit di Riau.

Di kelas, kami bertemu dengan para redaktur serta beberapa reporter. Kami mengajarkan bagaimana liputan panjang. Kami mengenalkan gerakan ‘literary journalism’. Kami beri contoh dari karya Hiroshima John Hersey, liputan politik etnik di Borneo, pesakitan politik Alifuru dan Papua. Diskusinya menarik. Dinamikanya, paling tidak, membawa ‘gelombang kecil’ bagi ruang redaksi media-media di Pekanbaru yang masih menerapkan standar kuno, tidak hanya dominasi mereka, tapi berkat apa yang ditiru dari media-media di Jakarta.

Kami percaya semakin bermutu media maka semakin bermutu pula masyarakatnya. Sebaliknya, makin rendah mutu media, makin rendah pula mutu masyarakat. Dalam satu diskusi, saya mengatakan: kelas ini memiliki power untuk berubah. Mereka memegang posisi cukup besar di mana suara mereka bisa dibawa ke ruang direksi. Banyak dari mereka merintis karier pada akhir 90-an. Mereka, jika dalam kamus politik awal abad 20, adalah kelompok elit yang mampu menggerakkan masyarakat. Modalnya hanya satu: berani. Ini pernyataan sederhana namun, seperti terhalang tembok berlapis, sulit dipraktikkan. Leluconnya: Riau perlu mengalami satu gelombang perubahan besar, macam terjadi di Aceh dengan bencana tsunami, untuk situasi yang takut dilakukan. Generasi tua, membawa kondisi busuk dengan menempatkan posisi jurnalis bercampur-aduk dengan kepentingan politik dan uang, akan lenyap seketika. Anak-anak muda muncul dengan semangat baru. Media tampil dengan wajah yang beragam.

Saya agak sedih melihat apa yang kurang dilakukan sebagian dari elit masyarakat di sini. Saya bilang, dalam satu kesempatan berbincang di kedai Kim Teng, masa depan anak-anak mereka lahir dari apa yang dilakukan mereka saat ini. Dalam capaian seperti nyala lampu di jalan protokol yang mencolok sewaktu malam, bahkan jika daerah-daerahnya meraih “kabupaten dengan pendapatan asli daerah tertinggi”, toh pada saatnya hal ini mungkin tak bisa dinikmati anak-anak dan cucu-cucu mereka. Jalur lalu-lintas media, bahkan politik praktis, tak dapat sepenuhnya meniru dan mengandalkan Jakarta.

Oleh-oleh ringannya: kami akan datang lagi ke Pekanbaru dengan membawa satu rencana. Menggelar diskusi buku. Ini buku-bukuan. Kumpulan tulisan tentang diskusi pemikiran jurnalisme. Ada satu keinginan ia diadakan di perpustakaan Soeman HS. Untuk kesenangan kecil. Agar, sebagaimana perpustakaan, berkembang hidup dengan rutinitas baca yang ramai serta kedalaman berpikir.

“Aspal sebagai bahasa” perlu dibawa ke gedung yang menempatkaan fungsinya sebagai gudang buku. “Bahasa sebagai aspal” komunikasi menjadi bahasa dengan intelektualisme.*

Iklan

2 pemikiran pada ““Bahasa sebagai Aspal”

  1. Kebijakan politik kata orang mesti dapat dirasakan rakyat. Orang politik menerjemahkannya dengan bikin gedung besar atau acara meriah. Semua dibikin mirip kota-kota metro di Jawa.
    Kita bilang itu kamuflase, politikus bilang itu yang pantas dirasakan rakyat.
    Ahh..sepertinya kopimu sudah habis, Mas 🙂

  2. Saya selalu kecewa dengan tulisan-tulisan yang bernada seperti tulisan ini. Karena seperti semacam narasi yang isinya lebih kepada curhat dari apa yang berhasil dilihat dalam bingkai sempit sepanjang 4 hari, ketimbang data-data statistik yang dikumpulkan secara tahunan. Saya takut, tulisan bernada apatisme terhadap perpolitikan lokal mempengaruhi JUDGEMENT terhadap hal-hal lain.

    Narasi curhat ini seringkali janggal, karena nilai ideal dalam pencapaian pembangunan tidak dijelaskan dengan baik oleh penulis. Maksudnya kalau opsi A adalah tidak ideal, maka harus opsi seperti apa?? Rasanya di dunia nyata, kalau kita mau menerapkan opsi anti-A sebagai sesuatu yang ideal adalah susah. Ini terasa waktu penulis sedang menggambarkan situasi “kamuflase”.

    Kalau di mata saya, yang bukan jurnalis, tapi lebih kepada oportunis… saya melihat apa yang dilakukan pemerintah (dan swasta lokal) adalah investasi besar untuk masa depan dan peradaban. Bahwa dulu di sini pernah ada “kehidupan”. Di tahun2 awal ketika investasi ini baru siap, semua orang bisa dengan mudah melihat sebagai “Kamuflase” lantas bagaimana dengan 20-30-50 tahun ke depan?

    Saya merasa perlu untuk menanggapi mengenai betapa rakyat Riau mesti disadarkan dengan PAD yang tinggi itu gunanya bukan untuk kebanggaan kosong. Tapi juga kritik sosial, karena dengan dipublikasikannya angka-angka tersebut masyarakat lebih sadar akan darimana gerangan datangnya semua pembangunan itu. Dan lebih besar dari perspektif itu, masyarakat bisa lebih kritis dalam menilai, bahwa sesungguhnya mereka bisa dapat lebih baik dari apa yang sekarang mereka rasakan.

    Dan satu lagi, Riau Andalan dan Indah Kiat itu kantor pusatnya bukan di Jakarta. Saya sangat yakin kalau kantor pusat operasionalnya ada di Riau. Dan jajaran direksi mereka pun berkedudukan di Riau juga.

    Maaf, mungkin saya bukan orang yang mau tenggelam dan menelaah satu-per-satu makna implisitnya. Jadi cara saya membaca artikel ini lebih secara eksplisit. Jadi kalau itu bukan tujuan penulis dalam menerbitkan tulisan ini, saya mohon maaf.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s