Ikan Bumbu Kenari

IBU MEMASAK ikan kembung goreng bumbu kenari. Ibu membeli pepes tahu. Ibu membuat sambal kacang dan mengupas kulit ketimun. Ibu membungkus paket lauk itu plus nasi dengan kertas koran lantas diikat dengan karet gelang. Ibu memberikannya padaku buat bekal puasa.

Ibu mengira aku akan berangkat setelah magrib. Ibu mungkin memahami percakapan kemarin petang, saat anaknya yang sulung dan aku terlibat dalam satu obrolan di atas tikar plastik, di depan televisi, tempat kami berbuka. Si sulung berkata tentang menu ikan segera setelah memarkir sepedamotor, tiga jam perjalanan dari Cherbon, ”Pak… Pak belem lauk geh!”

Ayah saat itu tengah sibuk dengan sampah-sampah yang hendak dibakar, berjalan di pekarangan samping rumah, segera menyambut si sulung. Ini kadatangan si sulung setelah tertunda tiga hari pada bulan puasa. Ia membawa plastik besar berisi bermacam penganan, aneka minuman, beberapa bungkus teh dan gula batu. Juga baju koko serta sarung dan kopiah di dalam tas punggung. Itu untuk ayah. Ayah segera mencobanya.

Namun petang itu menu buka adalah ayam bumbu kecap, dibeli ibu, guna efesiensi waktu. Tampaknya seharian itu ibu sibuk, hingga tak sempat memasak lauk utama, namun masih punya waktu untuk memasak sayur sop. Sop ibu enak sekali. Aku menghabiskan dua porsi.

Hari itu aku cepat kenyang, dengan kue-kue dan kurma bawaan si sulung. Aku baru makan nasi saat sahur. Ini malam terakhir aku di rumah. Aku sempatkan memasak buat menu sahur. Dua ponakanku sengaja menginap di rumah eyang mereka, yang selalu senang dengan kehadiranku di rumah. Mereka dapat bermain game online melalui netbook yang aku bawa serta bisa menonton sepakbola bersama-sama.

Sesiang itu, Ayah sudah membersihkan sisik ikan kembung di samping rumah, dekat kandang ayam, di atas tatakan kayu. Ayah membelah tipis lambung ikan guna mengeluarkan usus-ususnya. Ayah telah membersihkan dua ekor kembung dalam bak cuci dan siap digoreng.

Ibu membuat bumbu kenari. Hari ini ibu datang ke rumah lebih cepat, sebelum duhur, dan menanyakanku tentang jam berangkat. ”Habis asar,” aku bilang. Ibu mengira aku akan buka dulu di rumah.

Demikianlah. Ibu tampaknya memahami anaknya ini, meski jarang pulang, mengingat tak kuat dengan nyamuk-nyamuk. Rumah juga selalu ramai. Anak-anak berkumpul dari pagi. Mereka datang untuk bermain playstation di kamar depan. Ada dua televisi di atas meja kayu, setinggi lutut, sementara mesin playstation diletakkan di bawahnya. Empat stick terpasang pada panel-panelnya dan membuat anak-anak itu betah bermain seharian.

Itu milik kakakku yang epilepsi. Tahun ini ia ingin memiliki playstation untuk “mengisi keseharian” di rumah. Maka semua waktu yang dimiliki di rumah adalah keriangan anak-anak, kadang-kadang juga orang dewasa, berteriak dan tertawa di depan layar playstation. Saudaraku memiliki kesibukan tersendiri, akhirnya. Rumah ini pada dasarnya berisi ibu dan ayah serta kakakku.

Kakakku sering loyal dalam makanan. Tubuhnya sebesar beruang. Pada malam pertama puasa, keluarga memotong ayam peliharaan ayah untuk dibakar. Ayam-ayam itu tiap bulan kian bertambah. Ayah mengatakan ayam-ayam itu untuk tabungan Lebaran. Malam itu, dengan sebagian besar anak-anak, yang menjadi teman yang riang bagi kakakku, digelarlah tikar plastik di teras rumah beralas lantai keramik hijau. Itulah percakapan pertama dari kakakku yang “memiliki kesulitan menerangkan sesuatu” saat aku tiba di rumah. Ia terlihat bahagia.

Memang, begitulah, dalam kesan yang utuh dari ingatan yang panjang, rumah ini tak pernah sepi dari anak-anak. Sesungguhnya aku pulang untuk menikmati perasaan remaja, kadang-kadang menjadi kanak lagi, saat berada di tengah mereka. Duduk di atas amben depan rumah, di depan televisi, di kursi ruang depan. Kenangan lama itu bisa langsung tersambung hanya dengan duduk bersama mereka meski aku tak mengucapkan sepatah kata pun.

Situasi nyata selalu berubah. Namun ingatan sering datang dalam perasaan yang akrab. Tahun ini pasangan bibi dan paman telah meninggalkan kami. Warung di samping pelataran rumah milik paman sudah tanpa isi. Ia terbengkalai. Eyang dari hubungan dekat buyut kami sudah terbaring dalam tubuh yang uzur, barangkali kini tinggal belulangnya saja, di suatu pemakaman umum di pinggir jalan raya. Orang-orang tua, yang menghela keluhanku pada malam-malam bernyamuk di rumah, pergi dengan cara yang terasa alamiah. Saat aku tumbuh dewasa, ketika obrolan keluarga sudah mengarah pada pernikahan, mereka – para saudara dekat – tetap memunculkan kehadirannya yang remaja. Kenyataan lain, saat bulan puasa tiba, kita diwajibkan mendoakan mereka. Ayah akan membawa cangkul menuju pemakaman dan mendaraskan doa serta kedamaian bagi keluarga besar yang telah berpulang, satu demi satu.

Senang engke pulang deui kan saencan Lebaran?” Ibu bertanya saat aku pamit dan mencium punggung tangannya.

Tentu saja, kataku. Pertanyaan ibu sering berarti ganda. Dari enam anaknya, hanya aku yang jarang pulang dan ibu khawatir akan kehilangan Lebaran dengan anak bungsunya. Justru, saat aku menginjakkan kaki dari bus jurusan Cherbon-Merak, lima hari lalu, aku langsung teringat pada ayah dan ibu, yang setiap tahun bertambah usia, dan tahun ini mereka masih sehat. Aku merasakan kesedihan yang sama dengan teman-teman yang tak lagi lengkap memiliki orangtuanya.

Minggu sore itu bus dari Cherbon mengantarkanku ke Jakarta. Magrib datang di tengah perjalanan. Setiba di kost, pada saat isya, aku segera membuka bekal ibu. Bau ikan bumbu kenari seketika meruap, seakan-akan menghadirkan sosok ibu, membuat jantungku berdesir tiba-tiba. Aku makan dengan lahap. Kini tiada keluhan terhadap nyamuk-nyamuk. Keadaan setenang batu.

Di kejauhan jalan raya di bawah jendela, aku mendengar himne bunyi klakson, dengan suaranya yang terbantun, dan menyanyikan aubade kelengangan. Kamu cukup menanam ikan dalam hatimu untuk mengingat kasih sayang orangtua, kerelaan tanpa batas dari ayah dan ibu, keceriaan yang sederhana dari sebuah keluarga. *

Iklan

2 pemikiran pada “Ikan Bumbu Kenari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s