Tak Ada Politik Minggu Ini

SEWAKTU potongan-potongan kuku dari jemariku meluncur dari ketinggian lantai tiga, seseorang disiksa hingga mati di ujung timur kepulauan ini. Seseorang lagi terendam air bah dari gulungan ombak di seberang barat. Seseorang lagi meranggas diselimuti lava panas dari sebuah gunung berapi. Di udara, tempat semuanya berbiak dalam keadaan nyaris melayang kaku, suara burung mendesing dari suatu tempat. Lalu pagi itu, ketika potongan-potongan kecil kuku dari sepuluh jemariku tertahan di atap kanopi jendela di kamar bawah, suara burung terdengar membulat dan, dalam kepastian gerak, mereka sudah bertengger di celah jelujur besi atap gedung berlantai tiga. Di depanku, dipisahkan halaman parkir berlantai ubin, sebuah bangunan berisi puluhan  kamar pada setiap ruangannya telah sekian lama hadir dalam kebiasaan yang rutin. Suara burung membuatnya tampak lain; seolah-olah kamu menciptakan nada kehidupan di dalamnya.

Mereka sekawanan burung gereja. Tapi di antara mereka, ada sebuah burung mungil, berleher merah merang dan bersayap hitam, melintasi pohon jambu di luar tembok. Ia melompat-lompat sejenak, dari satu titian ke titian lain di bawah atap dari plastik, bercericit dengan lengkingan pasti dari paruhnya yang kecil, lantas terbang lagi. Si burung-yang-entah-namanya ini mengepakkan sayapnya, dengan meregang dan membuka dalam sekali hentak, menuju ruas udara yang tak-dipedulikan-manusia. Burung-burung gereja muncul lebih kerap. Bahkan jika kamu bangun lebih pagi, mereka kadang mematuk-matukkan paruhnya di balik jendela kamar. Seseorang akan terjaga sembari terbaring dan mendengarkan kicaunya yang sederhana itu. Saking sederhananya, dan mereka jenis burung-yang-bisa-kamu-temui-dimanapun, kemunculannya seperti menjadi bagian dari rutin pagi setiap hari.

Saat ini pagi Oktober. Saat ular-ular berganti kulit, dan larva kupu-kupu menelan kulitnya untuk mati atau menetas. Beruang kutub barangkali telah cukup menyimpan makanan dalam perutnya yang hangat, bersembunyi di dalam gua salju membatu, selama musim dingin yang membekukan matahari. Buaya-buaya Amazon menguap sepanjang hari di musim panas, berleha-leha di pinggir sungai, giginya yang sebesar jempol kaki bergemelatuk dan kupu-kupu terbang di dalamnya saat musim bunga di Asia. Singa-singa Afrika tertidur lelap. Di restoran-restoran serba ada di Jepang, seekor penyu menjadi santapan makan tanpa peduli jantungnya masih berdenyar selama empat jam sesudah perutnya dicincang. Sementara di sepanjang pantai Bali, orang-orang melakukan sedapat yang bisa mereka selamatkan demi usia panjang telur-telur penyu. Ada lelaki yang tiba-tiba melangut di pagi hari saat melihat seekor kucing jalanan, dengan mata memelas dan memperlihatkan kulit tubuhnya yang terbuka karena keseringan bertengkar, duduk melamun di dekat gerbang sebuah hunian berlantai lima.

Malam sebelumnya, seorang bocah menenteng bungkus plastik permen, berjalan dari satu rumah ke rumah di pinggir jalan, sementara seorang perempuan membunyikan alat musik seadanya dari tutup botol dari seng, dipaku pada sebatang kayu pendek, seraya menggendong bocah yang lebih kecil. Para pejalan terus menatap mereka sesudah hujan Oktober mengguyur Jakarta seharian. Ada seorang lelaki melewati mereka, menenteng tas kresek berisi bungkusan makan malam, setelah berjalan sejauh dua kilometer demi mengobati kesedihan. Aku merasa Oktober adalah bulan kepedihan.

Seakan membalikkan gelombang ombak, bergulung-gulung ke belakang dari sekarang, ada bulan Juli setahun lalu. Di tempat itu, yang seluruh jarak pandang ialah pantai dan lautan, aku dapat menemukan diriku dengan kepala terikat kencang. Kita bangun setiap pagi demi perjalanan ke sebuah lokasi sekolah yang makan waktu empat hingga enam jam. Dan nyaris, dalam ingatanku sekarang, rasa-rasanya tak ada kicau burung atau sejenis makhluk terbang yang ditangkup mataku hingga bayangannya terbawa-bawa setahun kemudian. Kenapa suara burung sepagi ini membuatku mengingat peristiwa yang tak ada hubungannya dengan perjalanan itu, di ujung timur pulau itu?

Kepalaku mungkin belum kuikat dengan sempurna, seperti sebuah simpul, di mana untuk membuat tandu dari kayu – pelajaran pertama dalam pertolongan darurat – kamu perlu mengikat tali tambang dengan benar seketat kamu mengeluarkan uang belanja setiap bulan.

Jadi di sana lah aku berada. Kita menyusuri jalan beraspal. Namun saat memasuki wilayah lebih ke dalam, jalanan aspal berganti tanah berbatu, keras bagai tulang kerbau, tersaput debu-debu dari lintasan curam berkapur. Roda mobil perlu sebesar kepala gajah. Itu musim kemarau panjang. Pohon-pohon berdahan kecil seukuran lidi, dengan daun-daun selebar jempol, hanya menyerap sedikit dari sejumlah kandungan air di dalam tanah. Daun-daun pohon itu terselimuti debu putih. Di jalan lain, ada kampung-kampung, yang mati nyaris bak kuburan, dan nada kehidupan hanya terdengar dari dengus sepi seekor anjing yang kurus kelaparan. Seolah-olah ada salju yang turun menahun sampai-sampai kita melihat kehidupan di sekitar terasa sepi membosankan.

Bagaimana kalian bisa bertahan? – itulah yang kupikirkan sepanjang jalan saat melihat sejumlah penduduk melalui rimbun semak kotor di tepi jalan. Kelak, pada saat seperti ini, dalam kesedihan selebat hujan Jakarta, mereka inilah – orang-orang yang kujumpai setahun lalu ini – menelusup ke dalam diriku yang seolah-olah berkata, “Hei, kau jangan menyerah setolol ini!

Mereka lahir di suatu tempat tanpa perlu ada  kecemasan, sebuah Hakuna Matata, dari rahim mama-mama perkasa. Mereka menjalani kehidupan di sana seakan-akan tak ada tempat lain di luar perbatasan atau sebuah ibukota bernama Jakarta. Hujan Oktober telah membangunkan amarah harimau-harimau lapar di dalam dada para pelintas ibukota. Di tempat lain seperti wilayah mereka, hujan menjadi sangat berarti seperti kita mengharapkan sisa tangisan dari barisan semut. Mereka telah menyimpan tulang-belulang nenekanda dalam nisan di halaman depan rumah bebak, yang beratap dahan-dahan gewang, dan puluhan tahun lalu buyut mereka mengajarkan bahwa jika kematian telah menyatu dengan tanah, maka kaki mereka terikat bersamanya.

Demikianlah. Ingatan seseorang dapat menyatu begitu saja, meski pada mulanya tanpa jalinan sinambung dengan kicau burung-burung.

Pada perjalanan di hari lain, sesudah menyaksikan debu seharian melalu kaca mobil, nyaris tercekat, aku melihat sebuah danau di antara semak-semak kering. Awan putih sekali. Langit biru sekali. Mata bisa mendadak perih jika kamu pandangi terus bidang putih yang sama berjam-jam. Dan dari sudut matamu, kamu melihat danau itu tampak sebagai surga Hakuna Matata.

Lalu aku bayangkan seperti ini: bocah-bocah, mama-mama dan kepala keluarga, berbondong-bondong maupun sendiri, berjalan setengah hari untuk tiba di bibir danau. Mereka membawa jerigen atau kendi atau benda kosong apapun yang dapat dijinjing. Mereka kembali menyusuri jalan berangkal batu kapur; mereka tiba di rumah sesudah langit menggelap. Air itu sebagian untuk ternak mereka, sebagian untuk keperluan minum dan memasak. Mereka akan melakukannya setiap hari sepanjang musim kemarau sebelum bak-bak penampungan air terisi air hujan. Sementara orang-orang di Jakarta senantiasa mengeluh tentang genangan air hujan yang memacetkan jalanan, seseorang bersayap malaikat telah mengumpulkan air hujan ini. Kemudian, dengan rahasia alam sesepi kebaikan tanpa pamrih, air hujan itu diguyurkan ke danau tersebut. Danau itu akan selalu tergenangi air sepanjang ingatan manusia tentang masa lalunya.

Itu naif sekali, mungkin saja, jika Anda tahu bahwa politik di sini lebih naif ketimbang pikiran polos semacam itu. Tak ada yang lebih naif dari politik di sebuah negara yang menetapkan pahlawan kepada pembunuh dan sebuah danau yang tak pernah menyusut adalah kejengkelan kita kepada Tuan Presiden yang mengumbar tangis demi kepentingan kekuasaan.

Pikiranku ada di mana? Sekarang bahkan aku jauh lebih merambang seperti petang!

Sebuah hari dengan sambutan kicau burung pagi membawaku meloncat-loncat. Saat aku mengikat kepalaku, seyakin aku dapat menuntaskan perjalanan, aku malah berjalan terseret-seret pada semua ingatan yang samar-samar dan segera meloncat ke ujung hari seperti warna langit petang. Lalu ingatan itu memunculkan ini: aku membaca Pangeran Kecil di tengah gelak-tawa puluhan anak kecil bertelanjang kaki dengan seragam sekolah itu. Aku ada di mana? Rupa-rupanya, aku berada di Besleu!

Itu suatu tempat yang tak mungkin kamu dengar dari buku-buku sekolah. Betapapun saat itu aku berada di sebuah sekolah, yang keriangan bocah-bocahnya dapat menumbuhkan pokok pohon berdahan rindang dan meneduhkan kesulitan-kesulitan mereka setiap hari. Dengan kaos hitam, topi hijau dan tas punggung, seseorang yang mirip aku membaca kisah dari si avatar Antoine de Saint-Exupéry.

Waktu berusia enam tahun, aku pernah melihat gambar luar biasa dalam buku tentang hutan perawan yang berjudul Kisah-Kisah Nyata. Gambar itu memperlihatkan seekor boa pembelit sedang menelan binatang buas. Inilah gambar itu.

Lantas, aku perlihatkan gambar boa dalam halaman buku yang kubaca dan anak-anak pun tertawa, berkerumun di dekatku, nyaring dan manja. Seakan-akan mereka belum pernah mendengar cerita ini dalam hidup mereka.

Begitulah. Di pagi hari saat kuku-kuku jemariku terpotong pendek, dan buku-buku jariku kian mengeras tua, saat kepala tak sepenuhnya terikat kencang, kita dihadapkan pada ingatan yang melayang-layang dalam kepala seperti galaksi luar angkasa. Saat hujan Oktober menjatuhkan semua remah kuku di atas kanopi, dan mereka menyisip di antara celah lantai ubin, pada saat itulah, bebeberapa tahun kemudian, kupu-kupu akan muncul dari celah itu sesudah aku meninggal. Kuku orang meninggal yang tertelan tanah akan berubah menjadi kupu-kupu. Jika kamu pandangi sebuah pemakaman setiap malam, kupu-kupu itu terbang membentuk awan di atas pohon kamboja. Lantas arwah orang mati menjadi kunang-kunang dan akan terlihat kerumunan cahaya yang ilusif dalam kegelapan malam.

Kunang-kunang dalam kepala yang tak terikat kencang menghambur setiap petang. Saat seperti inilah, aku bisa teringat gajah bersepatu roda, yang kumandikan di pelataran parkir dua gedung hunian ini, lantas kuminta si gajah menemukan kurir pengantar buku. Aku juga akan ingat kisah seseorang di ketinggian lantai sepuluh sewaktu petang tentang tiga bulan dalam kesepian pada tahun 1999 selagi dia memilih studi di Salemba. Pada saat itu yang dikenang adalah tawanya. Dia mengatakan, ”I am the only one…” hendak memberi tekanan pada kesunyiannya tapi, karena dia mengatakan selucu kucing-kucing Himalaya, kami malah tertawa berhamburan.

Aku terus tertawa sepanjang senja itu sampai-sampai kantung celana dan tasku terisi penuh oleh tawa dan semua yang kulihat di luar jendela bus kota, gajah khayalan bersepatu roda, tampak berwarna pink. Kemudian bus melewati gedung legislatif dan kubayangkan tak ada politik minggu ini. [end]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s