Tak Ada Surat Cinta bagi Kucing yang Mati di Jalan itu

MALAM itu, ada seekor kucing abu-abu sesehat sereal telah sekarat di tepi jalan itu. Ada sebuah mall seterang cahaya matahari musim panas. Ada orang-orang yang tak peduli terhadap kucing yang terdampar di tangga masuk mall itu. Orang-orang di jalan, para supir bajaj dan lainnya, mengatakan kucing itu tiba-tiba membenturkan tubuhnya ke tembok tangga, melayang beberapa kali karena dorongan yang keras. Itu terlihat seperti kamu melayangkan sekeping pecahan genteng, dari tanah liat yang dipanaskan dalam sekam, ke atas permukaan sungai yang tenang. Seperti itulah kucing itu membentur, hanya saja tubuhnya lebih berat dari kepingan genteng dan seekor kucing adalah sebentuk masa hidup dunia.

”Dua-tiga kali, Mas,” kata saksi mata, seorang anak muda yang kepalanya tertutup helm, seolah-olah ia perlu menunda perjalanannya demi kesaksian ini. Ia bilang, benturannya keras sekali, dari satu tangga menaiki anak tangga lain; melanting.

Kucing itu, yang berusia sekira 3 tahun, membuka dan menutup mulutnya, nafas satu-satu dari perutnya yang bergetar ringan, dan tetesan darah keluar dari ujung mulutnya yang terbaring di permukaan tangga sebuah mall. Darah itu segar dan kental. Retina matanya pelan-pelan membuka sebesar langit musim panas, bening tanpa setitik cahaya, dan noktah hitam terdorong menuju lipatan dalam kulitnya; kematian yang hampir tuntas.

“Coba dikasih minum…,” ujar anak muda itu lagi.

Seseorang berjalan tergesa, setengah berlari, menuju sebuah kios pedagang kaki lima di ujung jalan itu. Namun, sekembalinya ke tempat kucing itu terbaring sekarat, si kucing tak lagi mendecap-decapkan mulutnya, kerongkongan terhenti, udara membeku dalam perutnya. Ada nada tipis dalam tubuhnya, bergetar seperti tulang yang enggan terlepas, saat kamu menekan lambung si kucing.

Seseorang menelepon kenalannya dan dihubungkan dokter hewan, bermi-mil jauhnya dari tempat si kucing terbaring. Ia bilang, coba lihat matanya! Adakah senter? Semakin retinanya terbuka, dan bulatan hitam menjorok ke dalam, diduga dia tewas.

Atau coba tarik lidahnya, kalau dia bereaksi, dia masih hidup! – seakan-akan masih ada sisa waktu untuk menyelamatkan si kucing.

“Tapi, Dok, bagaimana dengan nada kehidupan di perutnya yang masih terasa?”

Itu mungkin otot perutnya. Sigkatnya, bukan titik pasti-tidaknya si kucing masih hidup atau sudah mati.

Kepala si kucing diangkat dan seseorang dapat melihat darah kental menetes cepat seperti aliran darah dalam tubuh manusia.

Si kucing telah meninggal.

Jam sepuluh malam itu, si kucing dibopong, dengan kedua tangan penuh kasih, dibawa sebuah bajaj menuju pemakaman manusia terdekat. Seseorang meminjam cangkul dari satu warga di kampung itu. Ia lantas menggali lubang dengan dalam, sedalam hatinya yang kesat, dadanya bergemuruh bagai suara daun-daun musim hujan bulan Oktober. Ia terus menggali, menggali dan menggali, melebarkan galian demi tubuh mati si kucing, dan ia mengatakan dalam hati bahwa tak ada surat cinta bagi kucing yang mati di jalan itu.

Cintanya juga terkubur dalam tubuh kucing yang mati. Tigapuluh, empatpuluh menit atau selamanya – ia menggali. Dan, sesudah yakin pembaringan itu cukup bagi tubuh kucing, ia segera mengangkat kemudian menguburkannya.

Ia melanjutkan perjalanan. Di tengah malam itu, sebelum berangkat tidur, ia bertanya-tanya kepada malam: kenapa harus ada kucing yang mati? Kenapa ada seseorang berhati baik harus epilepsi? Kenapa ada cinta yang tak sekekal matahari?

Ia bangun siang sekali dan, sesudah beranjak, otot-ototnya masih mengeras. Kucing dalam pembaringan di pemakaman bermil-mil jauhnya itu, sekarang ini dan selamanya, duapuluh tahun kemudian, akan ditumbuhi sebuah pohon kehidupan. Tubuhnya akan mengurai dan menyebarkan nafas kehidupan bagi renik-renik makhluk hidup dalam tanah yang gembur, terus mendorong akar-akar pohon membelit, berantai, dan membesar. Di atas pohon itu akan ada seekor burung, apapun jenisnya, yang berkicau.

Tak ada surat cinta bagi kucing yang mati di jalan itu tapi kelak, sesudah kematiannya, selalu ada suara burung di atas dahan pohon yang tertanam di dalam tanah di sekitar nisan kucing yang sekarat itu, yang malam itu, di tangga sebuah mall, ia benturkan tubuhnya dari pinggir jalan; seakan-akan ia ingin mengakhiri kehidupannya untuk ditemukan olehku. *

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s