Naila

AKU nggak tahu nama lengkap kamu tapi Papamu, dan di rumah itu dipanggil Ayah, alias Mas aku, menulis notes dengan judul “Nai.” Aku sering menulismu “Nayla.” Dan apapun kesalahan ejaan ini, tentu saja, bukan itu yang penting. Tapi yang penting adalah kesehatanmu.

Nah, Naila. Kamu anak yang lucu. Atraktif. Beberapa bulan setelah kamu dilahirkan atau entah kapan waktunya, yang jelas jauh lebih cepat dari Kak Piyu, kamu sudah belajar berjalan dan berteriak kencang yang manis sekali. Aku ingin kamu selamanya begitu. Karena itu kamu segera sehat dan pulih lagi ya! Ingat dua minggu lalu Om main ke rumahmu dan besoknya kita jalan ke tokobuku bareng Kak Piyu dan Ayah dan kita berempat naik dua motor sama-sama boncengan. Kamu lagi nggak pengen mandi karena badanmu kurang fit tapi kamu tetap lincah seperti bayi cheetah. Kamu harus selamanya begitu ya!

Dua minggu lalu kita beli pensil krayon buat menggambar sambil nemenin Kak Piyu beli alat-alat menggambar juga. Kemudian, selagi Om memilih kaos dan celana, kamu dan Kak Piyu dan Ayah main ke timezone dan Om lihat kemudian saat kita makan, ah sudah banyak sekali karcis yang kalian dapatkan! Kita makan sambil terus tertawa dan Om senang sekali melihat rambutmu yang ikal itu dalam foto. Om sama Kak Piyu terus godain kamu sepanjang kita makan selagi Ayah shalat Maghrib.

Dua tahun lalu Om sama Kakek mengunjungi kamu di rumahsakit saat kesehatanmu tambah buruk dan mulai tahu akhirnya ada yang salah dari saluran pipis kamu. Ia tersumbat sehingga cairan pipis kamu mengeluarkan nanah segar dan saat melakukannya kamu menangis keras sekali karena menahan perih. Dokter mengatakan kamu mengalami penyakit “pelvic-ureteric junction obstruction” atau disingkat “pujo”. Ah, bocah seusiamu sudah harus mengenal rasa sakit. Om yang berusia puluhan tahun ini pun kadang tak kuat menahan sakit.

Lantas Om pernah sekali mengumpulkan informasi tentang penyakitmu, tanya kenalan Om yang dokter urologi di rumahsakit Cipto, Jakarta, dan sekali pernah langsung kontak pada dokter ahli yang jadi rujukan dari rumahsakit tempat kamu dirawat di Cirebon. Ayah dan ibu kamu juga berusaha sebesar kasihsayang bolak-balik mengobati kamu dengan pengobatan alternatif karena kamu langsung trauma setiap mendengar kata “rumahsakit.” Om sedih melihat Naila harus menghadapi rasa sakit selekas ini.

Tadi siang Om beli J.Co dan berangkat ke stasiun tapi tiket habis terus sejak kemarin dan urung main ke rumah Naila. Om janji bawakan J.Co buat kamu dua minggu lalu. Om beli donat strawberry kesukaan kamu dan Kak Piyu. Om langsung telepon Ayah kamu sesudah tiba di kost dan Ayah sedang mengusap-usap punggung kamu saat itu. Ah, kamu gadis menggemaskan! Tapi Om sedih kamu menangis dan tiap menangis pasti pengen sama Ayah, jeritanmu kencang sekali sampai kamu muntah dari nasigoreng yang kita makan sebelumnya. Kamu harus kuat ya, Dek! Om juga akan kuat kalau kamu kuat.

Demam kamu kambuh lagi, karena penyakit ini, saat ulangtahunmu ke-4 pada 20 Desember, tiga hari setelah ulangtahun Om. Bintang kamu Sagitarius dan memang sedikit manja tapi pemberani meski suka mellow kayak Om :). Om melihat diri Om sendiri seusia Naila pas Naila nangis dan meraung-raung dan selalu ingin “Ayah… Ayah… Ayah…” yang meredakanmu – sama saat Om juga suka bilang “Emak… Emak… Emak…” saat ketakutan waktu kecil.

Tapi ah…, Ayah kamu selalu ceria di saat sulit sekalipun. Itu pelajaran yang selalu kuingat dan kulakukan dari Ayah kamu saat aku juga berada dalam kesulitan. Ayahmu, selagi mengusap-usap punggung kamu, mengatakan bahwa hari itu sibuk sekali, mengurus pembagian nilai ujian akhir murid-muridnya. Ini hal samayang  Ibu Naila lakukan seharian itu. Sementara nggak ada pembantu di sana. Pembantu rumah sekaligus perawat tak pernah cocok sesudah ada perempuan yang dulu mengurus kalian dengan telaten dan baik sekali telah menikah. Ia takkan mungkin kembali dengan kalian. Setelah itu tak ada yang cocok lagi. Ibu dan Ayah kalian: Dek Niha, Kak Naila, Kak Piyu, yang gantian merawat. Rumah itu baru tertidur di atas jam 2 pagi. Bahkan sebelum mereka tidur, kedua orangtua kalian meluangkan waktu untuk mencuci bersama. Ah, aku terharu sekali! Aku harus kuat dan nggak boleh cengeng seperti mereka.

Ayah kamu bilang, ”dibawa santai saja…” seraya tertawa sambil cerita bahwa seharian itu mesti ke sekolah, lantas berkumpul ke tetangga yang ramai hajatan, dan selalu ada bantuan dari saudara-saudara kalian di Cirebon untuk merawat kalian sebelum akhirnya rumah itu kembali ramai lagi.

Om janji Om pasti main sesudah membereskan satu demi satu masalah orang dewasa. Pada dasarnya nggak ada definisi dewasa yang konstan. Selalu ada jiwa kanak-kanak dalam tubuh orang dewasa. Kamu, yang harus menghadapi rasa sakit lebih cepat – betapapun kamu lincah dan mencengangkan, tetap menjadi lincah selamanya ya!

Om berdoa malam tadi: “Tuhan, sembuhkan Naila secepatnya. Tak ada lagi penyakit dengan nama yang sulit dihapal itu dalam tubuhnya. Segera lenyapkan kekuatiran dari ayah dan ibunya  bahwa efek penyakit itu menyerang ginjal anaknya. Bahagiakan mereka. Bahagiakan juga orang-orang yang kusayangi. Bahagiakan semua orang yang pernah mengenalku. Dimanapun.”

Om berdoa banyak sekali. Buat kesembuhanmu dan kesembuhan orang-orang yang Om sayangi. Buat kebahagiaan keluarga dan orang-orang yang kucintai:

”Jika masa-masa bahagia mereka terlalu pendek, maka kurangilah usiaku untuk Kau tambahkan pada usia mereka agar kebahagiaan mereka tetap lama dan selamanya. Kurangilah usiaku dari masa-masa dimana aku pernah menyakiti orang-orang di sekitarku yang pernah menyayangiku; apakah itu satu hari, tiga bulan, 28 tahun, 6 tahun, lima menit, berapapun – sebanyak itu Kau kurangi usiaku untuk Kau tambahkan pada usia mereka dalam masa-masa bahagia mereka.” [end]

Iklan

4 pemikiran pada “Naila

  1. ah, sedih sekali membaca ini, semoga Dek Nai segera di beri kesembuhan.
    tanpa mengurangi usia siapapun juga tentunya, karena setiap manusia saat terlahir tentu telah membawa legenda pribadi nya masing-masing..
    cepet sembuh ya Dek Nai..

  2. Endang,

    Terimakasih ya doanya! Demam Dek Nai turun-naik. Sayangnya, ia sulit sekali makan. Selalu ada cara dimana ia menutup mulutnya saat sendok makanan mengarah ke mulutnya. Kemarin juga begitu. Sekarang juga. Tadi pagi Ayah dan Ibu Nai ke rumahsakit buat check-up mengingat sudah 6 hari ia sakit. Dokter menyarankan ia dirawat. Tapi dokter ahli, yang merawat Dek Nai, sedang liburan akhir tahun. Keluarganya memutuskan rawat rumah saja. Hari ini sedikit sekali senyum yang ditebarkan Dek Nai.

  3. Alhamdulillah, dek Nai, ketika ayahnya menulis ini, kondisinya membaik. Ia tidak jadi diperikasa oleh dokter yang merawatnya waktu sakit dulu–karena tengah di luar kota, tapi coba diperiksakan pada dokter yang pernah merawat kak Piyu kecil. Tadi pagi ia mau makan, meski dengan tetap ditelateni. Makasih om Fah, makasih juga buat tante En. Insya Allah, dek Naila ingin sehat, tanpa mengurangi usia siapa pun. Om, kapan-kapan main lagi ke Cirebon ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s