Nyanyian Mockingbird

Satu novel, mungkin, dalam hidup Harper Lee

To Kill A Mockingbird
By Harper lee (1960)
diterjemahkan Penerbit Qanita (2006)
566 halaman

”….Membunuh mockingbid itu dosa.”
— ucapan Miss Maudie kepada Jean Louise (Scout) Finch

TAHUN 1960, sewaktu musim bahasa politik dan kebudayaan Indonesia lagi panas-panasnya dengan beragam jargon macam “Anti-Neokolim,” “Ganjang Malajsia,” maupun “Rebut Kembali Irian Barat,” nun di New York, kota terbesar dan terkaya di Amerika, ada muncul penulis anyar, seorang perempuan, bernama Nelle Harper Lee, yang hanya dengan satu karyanya, sebuah novel, mampu mengereknya tinggi-tinggi – melebihi gedung-gedung pencakar langit yang padat menjulang di Manhattan. Saat itu dia berusia 34 tahun, sepuluh tahun sebelumnya hanya warga urban biasa saja di tengah lalu-lintas kehidupan New York yang pikuk, dan mendadak hidupnya penuh publisitas selepas karyanya To Kill A Mockingbird lahir.

Roy Newquist dalam Counterpoint (1964), buku wawancara berisi percakapan dengan Harper Lee, mengatakan, “Tak ada hari yang terlewat dan terlupakan menjelang puncak musim panas di tahun itu yang tak membahas Mockingbird.” Lee memeroleh pujian begitu tinggi, kata Newquist, baik untuk keunggulan buku itu sendiri maupun, dalam kalimatnya yang bersayap, “sambutan udara yang menyejukkan bersama hadirnya buku tersebut.”

Karya perdana Lee, terbit 11 Juli 1960 oleh Lippincott (saat itu seharga $3.95), menjadi buku fiksi paling laku. Pada setahun pertama, Mockingbird mencatat rekor penjualan luar biasa dalam sejarah penerbitan. Ia terjual 2,5 juta kopi, cetak 14 kali, menjadi buku pilihan dari tiga klub buku masyarakat Amerika sekaligus: Reader’s Digest Condensed Books, the Literary Guild, dan Book-of-the-Month Club. Ia juga jadi  pilihan British Book Society dan terbit di Perancis, Jerman, Italia, Spanyol, Belanda, Denmark, Norwegia, Swedia, Finlandia dan Cekoslowakia.

Akhirnya, Mockingbird terjual 30 juta. Pada 1 Mei 1961, ia meraih Pulitzer Prize, penghargaan prestisius yang diakui secara luas dan internasional. Pada perayaan tahun kedua penerbitannya, Mockingbird masuk sebagai daftar buku terlaris selama 100 minggu dan terjual lebih dari 5 juta kopi di 13 wilayah.

Pada penghujung tahun itu juga muncul esai Lee, “Christmas To Me”, yang dimuat McCalls edisi Desember 1961—selain dua esainya yang terbit pada 1960-an dan empat esai lain pada 1980-an. “Christmas To Me” menceritakan bagaimana Lee diberi hadiah Natal ‘yang-tak-terlupakan’ berupa satu tahun lowong untuk menulis.

Esai tersebut, terdiri 1.282 kata, membuka pengalaman Lee mengenai awal perjalanan dia berkonsentrasi secara penuh mengejar karier kepenulisan. Ini suatu karier yang sudah lama ingin diraihnya. Ia menjadi alasan pokok Lee saat meninggalkan studi hukum dari University of Alabama dari 1945 sampai 1949, lalu mengikuti kuliah musim panas di Oxford University, Wellington Square, Inggris.

Publik agak mengetahui di balik proses penulisan Mockingbird. Publik tahu bahwa Lee hanya butuh enam bulan lagi untuk menamatkan studinya. Namun Lee, yang berasal dari Monroeville, Alabama—wilayah yang diapit Montgomery dan Mobile, Amerika bagian selatan—malah pilih pergi ke New York pada 1950 dan itu, kata Lee dalam pengakuannya, “to pursue a literary career.”

Namun karier yang dia kejar bukannya berjalan lapang, melainkan mendarat terlebih dulu di Eastern Air Lines dan British Overseas Airways. Di situ Lee bekerja selaku petugas di bagian pemesanan tiket. Lee menggunakan pintu kayu yang sudah tua sebagai alas menulis. Lee tinggal di Yorkville, seputaran wilayah Upper East Side, pulang-pergi dari tempat kerja ke tempat menginapnya dan ”mengejar kekurangan berbagai kesan artistik yang lain dari ambisi kaum Selatan”.

”Inilah gadis gemuk dan pendek dari Monroeville,” batin Lee.

Orang-orang di sekitarnya mengatakan, “Kami tak tahu terlalu banyak mengenainya. Dia hanya bilang sedang menulis buku dan cuma itu yang kami tahu.”

Di New York, Lee mencecap perasaan Natal lebih dari sekadar peristiwa murung nan sayu. “Bukan karena ini jauh dari rumah,” tulis Lee, ”tapi suasana Natal di New York begitu mirip dengan yang ada di Alabama.”

Ini adalah sepotong ingatan Lee selaku seorang anak kecil terhadap anggota keluarga besarnya yang sudah lama meninggal. Kenangan lama ini berupa rumah kakeknya yang berderak ramai oleh saudara-saudara sepupu, suara sepatu berburu memecah hening, hembusan keras angin dingin, bau harum pohon camar yang sabar serta kuah petiraman. Lee juga rindu akan saudara lelakinya, pada malam sebelum Natal, dan ayahnya, dengan suara bas yang mirip dengung tawon, menyanyikan “Joy to the World.”

Pada esainya, Lee menghabiskan liburan Natal bersama “teman-teman dekatnya” di di East 50th townhouse, Manhattan. Teman Lee ini datang ke New York dari Selatan, lalu berjumpa dengan gadis cantik di timur dan menikahinya. Merekalah pasangan muda yang menjadi “teman dekat” Lee saat Natal. Lee merasa beruntung dan senang akan liburan Natal kali itu.

Keberuntungan Lee makin berlipat. Tiba saatnya Lee membuka amplop yang terselip di pohon Natal. Lee membukanya dan di situ tertulis: “You have one year off from your job to write whatever you please. Merry Christmas.”

Lee setengah tak percaya.

Mereka meyakinkan Lee bahwa itu bukan lelucon. Mereka punya tahun yang bagus. Mereka menyimpan sejumlah uang dan secara tulus menjamin Lee mengejar impiannya. Singkatnya, mereka ingin Lee menerima hadiah tersebut. Mereka ingin Lee bisa memiliki kesempatan luas mendalami kemampuannya menulis, agar Lee bisa bebas dari pekerjaan rutin.

”Ini pertaruhan yang fantastik,” bisik Lee, ”ini sepertinya beresiko tinggi.”

Teman Lee, yang laki-laki, mengamati kejadian itu dari kamarnya. Matanya bercahaya ketika menatap istri pasangan muda itu, dan mereka saling tukar pandang sekilas pada Lee dengan rasa puas yang tak tertahan. Lalu dia menatap Lee dan bilang begitu pelan, ”Tidak, sayang. Ini bukan sebuah resiko. Ini hal yang nyata.”

Bertahun-tahun kemudian, melalui Charles J. Shields dalam Mockingbird: a portrait of Harper Lee (2006), publik tahu pasangan muda yang dermawan tersebut. Dia Michael Brown dan istrinya, Joy Williams Brown. Lalu “teman Lee yang laki-laki” itu tak lain Truman Capote, teman kecil Lee yang tumbuh remaja di Alabama. Michael Brown bekerja dengan Capote saat menggarap adaptasi drama musikal dari kisah Capote House of Flowers. Brown penulis lirik. Capote penulis ciamik dan menulis buku non-fiksi bergaya sastrawi, In Cold Blood (1966).

Itu Natal di tahun 1956. Lima tahun sebelum Mockingbird lahir.

SUATU siang yang panas, Juni 1957. Harper Lee berjalan malu-malu memasuki pintu kantor penerbit Lippincott di bilangan Fifth Avenue. Rambutnya hitam, matanya hitam. Dia akan menemui staf editor kantor penerbitan tersebut. Mereka orang-orang hebat.

Bagi Lee, ini menakutkan. Ini kontak pertama Lee dengan Lippincott soal naskahnya yang sudah mereka terima sebelumnya. Ini petaruhan terbesar untuk kariernya.

Mereka sudah membacanya, berdiskusi dengan sesama editor, dan mereka menyukainya. Namun ada hal yang harus dibenahi. Manuskrip tersebut lebih sebagai antologi cerita pendek ketimbang sebuah novel. Meskipun mereka juga sepakat bahwa manuskrip itu benar-benar hidup. Semua tokoh yang ditulis Lee berjalan begitu solid; kita bisa melihatnya, kita bisa mendengarnya, kita bisa merasakannya.

Tay Hohoff, editor Mockingbird, dalam “We Get a New Author”, pengantarnya untuk kemunculan buku tersebut, menceritakan, “Tak ada staf di bagian editor di Lippincott yang melepas naskah Lee dari tangan mereka.” Para editor akhirnya memanggil Lee untuk bertemu dan berbincang.

Dalam pertemuan ini, Hohoff bercerita bahwa kami berbincang, berbincang dan terus berbincang. ”Kami berkata pada Lee mengenai apa yang mesti ditambahkan dari naskah tersebut, lebih sebagai gagasan, dan bagaimana Lee kemudian sanggup menyempurnakannya.” Kami cepat kagum atas hasil percakapan ini.

Harper Lee, tulis Hohoff, bilang dengan suara Alabama-nya yang pelan, ”Yes sir, yes ma’am.” Dia akan mencobanya, kata Lee. Dan itulah semua yang dia katakan.

Lee keluar dari pintu kantor Lippincott membawa karier kepengarangannya yang harus diperjuangkan. Dia mesti mengubah manuskrip awal tersebut menjadi sebuah novel. Ini pergulatannya yang melelahkan. Sampai akhirnya Lee merasa tetap atas hasil karya terbarunya ini dan butuh 2,5 tahun untuk menyelesaikannya, tepat di musim panas 1959.

Ada banyak informasi baru dalam buku biografi Lee yang ditulis Shields di seputar kelahiran Mockingbird dan kehidupan Lee sendiri. Pada saat pekerjaan Lee itu tuntas, teman-teman Lee memerdebatkan mengenai judulnya. Saat itu ada Michael Brown. Ada juga agen Brown, pasangan Maurice Crain dan Annie Laurie Williams.

Mula-mula mereka mengusulkan “Go Set a Watchman”. Lalu Maurice Crain’s menyarankan “Atticus”. Sebelum kemudian mereka sepakat pada judul “To Kill a Mockingbird.”

Agen Crain pada akhirnya menyerahkan naskah novel tersebut pada Lippincott. Lee menanti-nanti cemas respon penerbit. Pada saat bersamaan Lee ditelepon Truman Capote untuk membantu liputannya tentang peristiwa pembunuhan sebuah keluarga petani di Holcomb, Kansas.

Saat itu Capote berusia 35 tahun. Capote kelahiran 1924. Usia 24 tahun Capote sudah memublikasikan novel perdananya, Other Voices, Other Rooms. Dia juga memenangkan ‘O. Henry Award’ pada 1946 atas beberapa ceritanya yang dimuat di beragam majalah bermutu.

Capote lahir di New Orleans. Ibunya, Lillie Mae Faulk, seorang pelayan yang cantik. Capote lahir dari keluarga yang tidak bahagia. Orangtuanya cerai sewaktu Capote masih berumur empat tahun.

Capote tumbuh remaja di Monroeville, Alabama. Dia menetap beberapa tahun di sana bersama saudaranya. Di sanalah juga persinggungan hidup Lee dan Capote bermula. Kontak persahabatan yang tetap terjalin hingga mereka di New York.

Hubungan keduanya unik. Lee menjadi inspirasi fiksi Capote, setidaknya, dalam dua novelnya, sebagai Idabel Tompkins dalam Other Voices, Other Rooms dan sebagai Ann (Jumbo) Finchburg dalam The Thanksgiving Visitor (1967). Adapun Lee juga melakukan hal sama pada Capote, sebagai Charles Baker (Dill) Harris dalam Mockingbird.

Capote menggambarkan Idabel Tompkins sebagai gadis cilik yang tomboi. Dalam lembaran novelnya, ada ucapan dari Idabel bahwa “Aku sangat ingin menjadi seorang pria.” Sementara Lee menggambarkan Dill Haris sebagai “makhluk ajaib” dalam Mockingbird. Lee menulis: ”Dia mengenakan celana pendek linen biru yang dikancingkan pada kemejanya, rambutnya seputih salju dan menempel ke kepala seperti bulu bebek; dia setahun lebih tua namun aku menjulang di sisinya. Selagi dia menceritakan kisah tua itu, mata birunya mencerah dan meredup; tawanya mendadak dan riang; dia punya kebiasaan menarik jambul di tengah keningnya.”

Adakah gambaran fiksi tersebut secara absolut menjelaskan secuil kenyataan mereka sesungguhnya?

Dalam sebuah foto hitam-putih, ada gambar yang memerlihatkan Lee sendirian, hanya terlihat setengah badan, memakai kaos, rambutnya terpotong pendek, julur-julur rumput yang seakan membingkai wajahnya. Rambut pendek Lee itu terbawa terus sampai dia tua, setidaknya jika itu merujuk ke mesin pencari ‘Google’. Lee dengan rambut pendeknya ini seakan tak berubah, menetap bersama foto-fotonya—tentu, hanya warnanya saja yang sekarang lebih putih.

Untuk Capote, ada satu fotonya yang sedang duduk bersila di atas papan berlatar pepohonan. Dia terbalut celana linen, kemeja lengan panjang dilipat, lipitan setrika yang terlihat jelas, bibirnya mengembang di atas dagu yang agak lonjong, sepasang bola mata yang redup tapi teduh, rambut tipis yang bersinar dan—seperti gambaran Dill dalam Mockingbird—‘menempel ke kepala macam bulu bebek’. Foto Capote ini diambil di New Orleans pada 1947. Fotografernya Henri Cartier-Bresson, si juru potret handal yang pernah ke Indonesia, pernah memotret Presiden Sukarno dengan gaya yang begitu enigmatik sekaligus dramatik dengan latar sebuah lukisan.

TRUMAN Capote pindah ke New York dari Alabama setelah ibunya menikah lagi. Dia sekolah di Trinity School dan St. John’s Academy. Usia 17 tahun dia sudah tak lagi bersekolah. Dia bekerja di The New Yorker, majalah mingguan yang berdiri 21 Februari 1925. Brendan Gill dalam Here at The New Yorker (1975) menggambarkan Capote orang yang eksentrik dalam berpakaian. Gill menyebut Capote “bayangan yang sekilas mirip Oscar Wilde dari Nevada dalam balutan beludru dan bunga bakungnya.”

Capote seorang homoseksual. Novel perdananya menuai kontroversi lantaran mengangkat isu hubungan sesama jenis namun juga meraup sukses. Karya lain Capote di antaranya The Grass Harp (1951), The Muses Have Heard (1956) dan Breakfast at Tiffany’s (1958). Audrey Hepburn, bintang tenar Hollywood masa itu, memerankan Holly Golightly, tokoh utama perempuan muda yang datang ke New York mencari kebahagiaan dalam Tiffany’s versi layar lebar (1961).

Pada 14 November 1959 ada peristiwa pembunuhan di Holcomb, wilayah pedesaan di Kansas bagian selatan. Korbannya sebuah keluarga petani. Semuanya tewas: Herbert Clutter dan istrinya, Bonnie, serta kedua anak mereka, Nancy dan Kenyon, usia 16 dan 15 tahun. Si pembunuhnya Perry Edward Smith, 31 tahun, dan Richard Hickock, 28 tahun. Peristiwa pembunuhan ini bikin gempar seisi dusun. Holcomb saat itu merupakan pedesaan yang sepi. Pembunuhan ini membangunkan semua warga Holcomb.

Peristiwa tersebut dimuat di The New York Times. Artikelnya pendek, lebih sebagai berita sekilas, jauh dari kesan bombastis, jauh dari tampilan judul-judul peristiwa kriminal yang biasa kita lihat, bagi Anda yang tinggal di Jakarta, di koran kuning macam Lampu Merah atau Pos Kota dalam contoh yang lain. Intinya, hari itu New York Times menurunkan berita kecil pembunuhan, ada yang mati—(semua orang akan mati, bukan?)—hidup terus berjalan, dan peristiwa tersebut adalah satu contoh kecil dari sejumlah kematian di dunia.

Capote membaca berita tersebut. Bagi Capote, inilah saatnya mengabadikan peristiwa pembunuhan itu. Dia ingin, seperti ucapannya, membikin sebuah karya baru, dalam bentuk novel-nonfiksi, memakai gaya sastra namun berdasarkan kejadian sesungguhnya dengan meliput kejadian tersebut. Inilah kelahiran In Cold Blood yang legendaris itu. Sebuah karya monumental. Sebuah karya bagi genre baru dalam jurnalisme.

Kita membaca karya Capote satu ini seolah-olah fiksi tapi tanpa unsur fiksi setetes pun. Ada kedalaman, konflik, kaya detail, narasi dibangun adegan per adegan, alur yang cepat dan yang pelan. Ibaratnya, sebuah roll film tengah dihamparkan di depan kita.

New Yorker mendanai proyek liputan Capote. Saat itu William Shawn redaktur pelaksana New Yorker. Dia menggantikan posisi yang sebelumnya dipegang Harold W. Ross. Ross adalah orang yang pertama membidani kelahiran New Yorker. Dia meninggal 5 Desember 1951. Shawn menggantikan posisi Ross pada 21 Januari 1952.

Capote salah seorang kontributor New Yorker yang paling kreatif dalam sejarah panjang riwayat majalah tersebut. Capote kemudian menghubungi Harper Lee untuk membantu liputan tersebut. Di sinilah bagaimana Harper Lee menjadi asisten Capote untuk kelahiran In Cold Blood.

Sepanjang September-Oktober 1965, kisah In Cold Blood dimuat secara berkala di New Yoker. Pada Januari 1966 muncul bentuk bukunya dengan judul: In Cold Blood: A True Account of a Multiple Murder and Its Consequences.

Pada saat yang sama, Harper Lee sudah dikenal luas saat buku In Cold Blood terbit. Juni tahun itu Lee salah satu dari dua orang yang dipilih Presiden Lyndon B. Jhonson sebagai anggota National Council of Arts. Seniman satunya yang termasuk dari 28 anggota dewan tersebut adalah Richard Diebenkorn Jr.

Pada 28 November, ada pesta yang digelar Capote bertajuk ‘Black and White Ball’ di Plaza Hotel, New York City. Pesta ini sebagai tanda penghormatan untuk Katharine Graham selepas resmi diangkat sebagai pemimpin perusahaan The Washington Post pada 20 September 1963. Graham menggantikan suaminya, Philip Leslie Graham, yang tewas menembak diri lantaran depresi dan sakit jiwa di vila mereka di Glen Welby, 3 Agustus 1963.

Pesta bikinan Capote itu dihadiri kalangan jetset New York. Dari penulis top macam Norman Mailler beserta istrinya hingga penyanyi plus aktor Frank Sinatra dan pasangannya Mia Farrow. Ada juga si seniman pop Andy Warhol. Pesta ini terbatas untuk 480 undangan. Harpe Lee termasuk salah satu yang diundang.

Ini dunia gemerlap Capote. Dunia si dandy Capote di luar novel-novelnya. Restoran-restoran mewah. Anggur kelas satu. Malam-malam yang penuh selebritas. Pesta ‘Black and White Ball’ itu bertahun-tahun kemudian dikenang oleh kalangan pekerja hiburan. Menjadi inspirasi yang terus-menerus digali para perancang mode. Ia juga dicatat dalam bentuk buku bertajuk  Party of the Century: The Fabulous Story of Truman Capote and His Black-and White Ball (2006). Buku ini karya Deborah Davis. Ada 300 ilustrasi yang menggambarkan suasana pesta tersebut.

Pada 26 Agustus 1984, ajal menjemput Capote. Dia mengidap komplikasi jantung, radang urat darah dan ketergantungan obat yang berlebihan. Dia didampingi kekasihnya, Jack Dunphy, sewaktu meninggal. Karier penulisan Capote yang cemerlang dikalahkan obat-obatan dan alkohol.

Namun In Cold Blood adalah karya yang panjang usianya dibanding umur si penulisnya. Ada perdebatan, kabar angin, pandangan baru, di samping kesuksesan yang mengikutinya. Ada juga tanggapan dari Harper Lee. Kita menemukan ini pada biografi Lee karya Shields, Mockingbird: a portrait of Harper Lee.

Shields mengulas suatu desas-desus bahwa Lee marah ketika Capote membagi persembahan In Cold Blood pada Jack Dunphy setelah kontribusinya yang cukup besar atas lahirnya buku tersebut. Lee pasangan kerja yang amat membantu Capote. Lee tak sekadar memerlancar jalan Capote mengetahui detail atmosfer suasana persidangan kasus pembunuhan itu, yang digelar di Pengadilan Finney County, Garden City, Kansas, dari 22 sampai 29 Maret 1960. Bagaimanapun Lee paham betul seluk-beluk peradilan meski dia tak sampai menamatkan studi hukumnya.

Capote memberi pujian pada Lee yang “amat membantu” dalam “menjalin hubungan dengan para istri dan orang-orang yang saya temui untuk liputan In Cold Blood”. Seratus lima puluh halaman catatan yang dikerjakan Lee dari Kansas diperlihatkan pada Capote. Lee mengatur wawancara liputan ini dan Capote sendiri meneliti langsung rumah korban keluarga petani tersebut.

Lee berani menawarkan agar Capote mengambil sudut pandang yang lebih gelap terhadap keluarga Clutter, sebelum Capote memulai terjun sendiri ke lokasi liputan. Lee meyakinkan Capote bahwa keluarga Clutter orang-orang yang sulit; Bonnie, ibu keluarga ini, “salah seorang wanita yang paling menyedihkan”, gugup, obat-obatan generik telah merusaknya, sudah tak memiliki perasaan lagi dengan suaminya saat di tempat tidur. Sementara kedua anak mereka, terutama Nancy Clutter, gadis remaja yang perfeksionis tapi  juga memiliki kepribadian kaku dan tamak serta kesan yang tertutup.

Namun Capote, dalam penulisannya, lebih mengupas kehidupan dua pelaku pembunuhan tersebut. Membedah semacam misteri psikologis kedua pembunuh itu. Di sisi berlawanan, Capote tak banyak menjelaskan keluarga Clutter, lebih sebagai keluarga petani yang ideal dan sejahtera. Intinya, Capote menempatkan posisi In Cold Blood sebagai kisah pergelutan antara baik dan jahat, menjadikan peristiwa pembunuhan ini sebagai masalah yang sederhana.

Meskipun demikian, Truman Capote, serta persahabatannya dengan Harper Lee, adalah mesin waktu yang terus-menerus hidup dan dihidupkan kembali. Yang paling dekat peristiwanya ketika kita melihat Capote pada seorang Philip Seymour Hoffman dalam film Capote (2005). Film ini memiliki pandangan baru, sebagaimana buku Shields mengenai biografi Lee, memberi keterangan singkat yang sangat diperlukan seputar Capote dan In Cold Blood.

Film Capote ini disutradarai Bennett Miller. Ia berdasarkan Capote: A Biography (1988) karya Gerald Clarke dan buku wawancara George Plimpton Have You Heard? (2006). Film ini meraih Piala Oscar 2006 untuk Seymour Hoffman sebagai Aktor Terbaik. Pada film ini aktris Catherine Keener memerankan Harper Lee.

Pada tahun 2006 muncul juga film Infamous, dengan unsur dramatisasi yang serupa, di mana Sandra Bullock sebagai Lee dan Toby Jones sebagai Capote. Sebelum ini, Lee muncul pula pada sosok Tracey Hoyt dalam film televisi Scandalous Me: The Jacqueline Susann Story (1998).

Tentu saja, film Capote yang paling berhasil menyedot perhatian hingga saat ini dan menyuguhkan karakter paling hidup sosok Harper Lee dan Capote. Kita melihat bagaimana mereka saling mendiskusikan liputan pembunuhan itu. Bagaimana Lee tampil di balik suksesnya karya Capote yang mencengangkan itu. Bagaimana Capote membacakan bagian naskah In Cold Blood di atas panggung, di depan tatapan para pendengar, dan lampu sorot memerlihatkan mimik Capote.

Bennett Miller, pada suatu wawancaranya sewaktu peluncuran Capote dalam bentuk keping DVD, mengatakan bahwa “Harper Lee adalah hati nurani film ini.”

ADA banyak nama hewan, jenis burung, tanaman, beragam makanan dan minuman, tempat-tempat, boneka, jenis permainan dan olahraga. Tentu saja nama orang-orang: Atticus Finch, Scout Finch, Jem Finch, Paman Jack Finch, Dill Harris, Calpurnia, Boo Radley. Tom Robinson. Nyonya Caroline Fisher. Bibi Alexandra. Sherif Heck Tate. Nyonya Maudie Atkinson. Nyonya Dubose. Hakim Taylor. Mayella Ewell, Bob Ewell, Stephanie Crawford, Tuan Gilmer. Tuan Radley. Walter Cunningham dan anaknya.

Yang disebutkan itu bisa Anda jumpai di sebuah dunia bernama To Kill A Mockingbird. Semuanya menyatu dengan utuh. Cerdas. Memikat. Brilian. Kamu bisa mendengar suara-suara mereka, merasakan kecemasannya, menikmati setiap barisan-barisan kalimat yang ditiupkan Harper Lee, sang kreatornya.

Mockingbird berlatar tahun 1930-an. Ini satu kurun waktu di mana isu rasialisme masih kencang dan mengakar amat dalam di wilayah-wilayah Amerika Serikat, terutama di pedesaan-pedesaan. Ini salah satu masa tergelap sejarah Negeri Paman Sam. Klu Klux Klan, organisasi penyebar kebencian dan anti-kulit hitam, pada masa itu memiliki hampir 5 juta pengikut.

Lokasi cerita di sebuah daerah bernama Maycomb, Alabama. Pergerakan narasinya dikendalikan dari bibir Scout Finch, gadis tomboi yang memulia kisah ini pada umur 6 tahun, sebagai sudut pandang pertama, dan secara tak langsung mengingatkan kita pada Lee. Atticus Finch, ayah Scout dan Jem, mengambil model ayah si pengarangnya: Amasa Coleman Lee.

A.C. Lee dalam kehidupan nyata seorang pengacara. Dia anggota ‘State Legislature’ dari 1926 sampai 1938. Dia juga ikut menyunting The Monroe Journal, koran mingguan Monroeville, dari 1929 sampai 1947. Dalam Mockingbird, Atticus seorang pengacara. Atticus menjadi pembela Tom Robinson, warga kulit hitam yang didakwa melakukan pemukulan dan pemerkosaan pada Mayella Ewell.

Meskipun begitu, Mockingbird sama sekali bukanlah karya autobiografis Lee.

Mereka bergerak sendiri, membentuk kejadian-kejadian di luar peristiwa nyata, membangun sebuah kehidupan sendiri. Ibu Lee masih hidup hingga 2 Juni 1951. Sementara dalam Mockingbird, keluarga Finch kehilangan sosok ibu, meninggal saat Scout masih berumur dua tahun.

Lee mengambil sudut ingatan masa mudanya yang terbaik, dan ini adalah kenangan Lee pada tanah kelahirannya— sejarah kaum Selatan Amerika yang menarik. Pada akhirnya, Lee menyuguhkan dua tokoh fiksi abadi yang tak terlupakan, terutama bagi generasi remaja Amerika, yakni figur Atticus dan Scout Finch.

Sebelum kisah bergerak pada kasus Tom Robinson, pembaca disuguhkan petualangan Scout dan Jem bersama Dill akan Radley Place. Tempat ini sebuah rumah yang—sepanjang ingatan sejarah Maycomb—tertutup dan para penghuninya, keluarga Radley, jarang ikut secara sosial dengan kehidupan sekitar. Ia terletak di tikungan jalan, tiga rumah di sebelah selatan dari rumah keluarga Finch, namun menimbulkan misteri bagi mereka.

Jem, kakak Scout, berumur sepuluh tahun. Dill setahun di atas usia Scout. Usia segini adalah usia senang-senangnya bermain. Bagi mereka, menyentuh Radley Place merupakan cara yang seru dalam mengisi liburan musim panas. Ini murni gagasan Dill, keponakan Nyonya Rachel Haverford—tetangga rumah keluarga Finch, yang datang di tengah kehidupan mereka dan ”akan terus melewatkan setiap musim panas di Maycomb.” Dill memberi ide kanak-kanaknya pada mereka untuk memaksa Boo Radley keluar dari tempat misterius tersebut.

Boo anak keluarga Radley. Dia tak pernah terlihat selama Jem dan Scout lahir. Dia seakan dikurung oleh ayahnya. Mereka hanya mengenal Boo dari cerita tetangga-tetangga. Ceritanya menakutkan. Mereka membayangkan Boo pastilah orang yang menyeramkan.

Nantinya, Boo Radley keluar, memang. Tapi tak seperti yang mereka harapakan. Boo keluar dalam usaha-usaha menolong Jem dan Scout. Segala keusilan mereka dibalas kebaikan Boo yang tak diduga-duga. Segala yang tampak main-main menerbitkan kebijaksanaan-kebijaksanaan mengejutkan.

Dalam perkataan Atticus: “Kau baru bisa memahami seseorang kalau kau sudah memandang suatu situasi dari sudut pandangnya—kalau kau sudah memasuki kulitnya dan berjalan-jalan di dalamnya.”

Itu ucapan Atticus pada Scout mengenai sosok guru Stephanie Crawford. Berikutnya, ia juga ditujukan untuk semua mendung persoalan yang menggelayuti bermacam peristiwa yang mengisi lembar demi lembar halaman Mockingbird; terhadap orang-orang yang menghukum mati tanpa pemeriksaan keadilan terlebih dulu; terhadap Bob Ewell yang hendak membunuh Atticus dan Jem. Atau, dalam bahasa kita, pada orang yang mau main hakim sendiri, mau benar sendiri.

Atticus—serta Calpurnia, pembantu kulit hitam keluarga Finch—adalah penuntun moral dalam cerita novel ini. Keduanya memersatu fisik dan emosional Jem dan Scout ke jalur yang benar. Atticus menjadi figur ayah-pengacara-pengasuh bagi kedua anaknya. “Orang yang sama di dalam rumah dan di jalan umum,” demikian ucapan Nyonya Maudie kepada Scout mengenai Atticus. Calpurnia adalah bayangan Atticus di ruang dapur. Dia tak cuma melayani urusan makanan tapi juga mengajarkan kebajikan-kebajikan sederhana bagi kedua anak majikannya.

Ditutup peristiwa kebakaran rumah Nyonya Maudie di musim dingin, atau di “malam terdingin sepanjangan ingatan Atticus”, kisah bergerak pada kasus Tom Robinson. Atticus mengatakan pada Scout bahwa “setiap pengacara sepanjang hidupnya akan mendapatkan satu kasus yang memengaruhinya secara pribadi”. Kasus Tom ini “sepertinya kasusku”.

Atticus tak yakin menang. Namun dia kemudian bilang, “Hanya karena kita telah tertindas selama seratus tahun sebelum kita mulai melawan bukanlah alasan bagi kita untuk tidak berusaha menang.” Dia juga mengatakan bahwa, “Satu hal yang tidak tunduk pada mayoritas adalah hati nurani.”

Tom, pada akhirnya, didakwa bersalah dalam persidangan yang dipadati pengunjung—di mana Jem dan Scout turut menyaksikan ini di Balkon Kulit Hitam di mana bagi mereka seperti “beranda lantai dua” dan mereka “bisa melihat semuanya”. Keputusan tersebut sesudah mendengar kesaksian Sherif Heck Tate, keluarga Ewell, dan tentunya terdakwa sendiri.

Kunci judul novel ini di akhir cerita. Pembaca akan tahu kenapa Lee memberi judul novelnya ini “To Kill A Mockingbird”.

Bagi Nyonya Maudie, kata ‘mockingbird’ terkait suatu perilaku ‘dosa’. Katanya pada Scout, “Kau boleh menembak burung bluejay sebanyak yang kau mau, tetapi ingat, membunuh mockingbird itu dosa.” Dia memberikan alasan bahwa ”Mockingbird menyanyikan musik untuk kita nikmati. Mereka tidak memakan tanaman di kebun orang, tidak bersarang di gudang jagung, tidak melakukan apapun, kecuali menyanyi dengan tulus untuk kita.”

Selanjutnya ‘mockingbird’ hadir tatkala anjing pemburu bernama Tim Johnson berada di jalanan dengan sikapnya yang aneh. Pintu-pintu rumah ditutup. Jalanan Sepi. Burung mockingbird tak bernyanyi. Situasi senyap seperti itu diingatkan kembali oleh Scout tatkala para pengunjung sidang menunggu putusan juri akan nasib Tom Robinson.

Ujungnya, rencana pembunuhan Bob Ewell terhadap Jem di jalan. Jem terluka dan pingsan tapi Ewell mati seketika saat penyerangan terjadi. Sherif Tate meyakinkan Atticus bahwa Ewell jatuh menimpa pisaunya sendiri. Atticus tak memercayai ini. Namun Heck Tate menegaskan itulah kenyataannya. Ini dibenarkan Scout saat Atticus berseloroh. Atticus terkejut dan Scout menjawab “Itu sama saja dengan menembak mockingbird”.

Pada titik itulah kita dapat memahami judul novel ini. Harper Lee membawa si burung mockingbird bernyanyi di awal-awal ceritanya. Lalu dia menaruhnya di setengah bagian cerita ini dan berhenti di ujung kisah. Inilah sudut pandang yang menarik dan unik sekaligus mengejutkan untuk si cerdas Harper Lee. Dengan kata lain, kita tak mungkin bisa memahaminya dengan utuh dan lengkap jika kita tak menyelesaikan akhir cerita Mockingbird.

Akan halnya Truman Capote dan In Cold Blood, Harper Lee dan Mockingbird mengilhami para sineas Hollywood membikin versi layar lebar. Pada 1962 film Mockingbird dirilis. Setahun kemudian, dalam ajang Academy Awards, film ini mendulang tiga Piala Oscar dari delapan nominasi. Gregory Peck, yang memerankan Atticus, meraih aktor terbaik; Horton Foote untuk penulis naskah terbaik; satunya untuk tata dekorasi terbaik.

Lee dan Peck, selanjutnya, bersahabat baik. Pada Januari 1962, Peck mengunjungi Monroeville, bertemu dengan ayah Lee. Dia berkata, “Tuan A. C. Lee seorang lelaki yang sangat baik—dan saya amat bangga telah mengenalnya.” Harper Lee menyebut hal sama tentang diri Peck. Ketika Peck meninggal pada 12 Juni 2003, Lee berkomentar, ”Atticus Finch memberi Peck peluang untuk memerankan dirinya sendiri.”

Epilog:
Gosip dan Misteri

NOVEL ini hadir di tengah-tengah kita 46 tahun kemudian. Ini rentang waktu yang sangat cukup bagi kita untuk melihat Harper Lee sebagai pengarang yang monumental. Mockingbird terus-menerus cetak ulang. Ia terbit dalam berbagai versi. Dari edisi untuk sekolahan hingga versinya yang populer maupun rekaman audionya.

Ia tetap sebagai buku fiksi paling laris sampai sekarang dan terjamin tempatnya dalam kanon kesusasteraan Amerika. Ia juga, setidaknya, sudah diterjemahkan ke dalam 28 bahasa. Pada 1999, Mockingbird terpilih sebagai ‘Best Novel of the Century’ yang diadakan oleh Library Journal. Hak penerbitannya sendiri kini dipegang penerbit HarperCollins selepas membelinya dari tangan Lippincot pada 1978.

Tentunya, di balik kesuksesan selalu ada saja sejenis gosip tak sedap. Harper Lee bersama Mockingbird tak lepas dari angin gosip ini. Membawa-bawa nama sahabat karibnya, Truman Capote.

Gosip tersebut mengabarkan Capote-lah yang menulis Mockingbird. Capote sendiri menanggapinya tanpa komentar tapi membiarkannya berkembang di sisi lain. Ada ucapan dari Capote soal perbedaan gaya menulis antara dirinya dengan Harper Lee. Ini menyangkut seorang lelaki yang tinggal di seberang jalan pada masa kecil mereka di Alabama, sering meninggalkan sesuatu di ceruk pohon di depan rumahnya, di mana Lee memberi nama fiksi lelaki ini sebagai Boo Radley dalam Mockingbird.

Willian Nance dalam The Worlds of Truman Capote (1970) mengutip ucapan Capote bahwa semua yang Lee tulis mengenai hal itu amatlah benar. ”Tetapi,” kata Capote, ”kau bisa lihat sendiri, aku menceritakan peristiwa yang sama tersebut ke dalam impian Gothik (dalam versi asli novelnya, Other Voices, Other Rooms), jauh beda dengan yang Lee lakukan.”

Bantahan terhadap kabar miring itu juga diperkuat dari surat Capote kepada bibinya, 9 Juli 1959. Di surat itu Capote menulis bahwa dia membaca manuskrip novel Mockingbird tapi sama sekali tak menyentuhnya.

Gosip ini, publik menyebutnya sebagai ‘teori yang tetap berlanjut’, mula-mula lebih karena Capote adalah pengarang mencolok di sisi Lee dengan karya-karyanya yang memukau. Selanjutnya, gosip tersebut makin berkembang lantaran misteri tebal yang menyelimuti karier kepengarangan Lee. Hingga kini, Lee tak pernah memublikasikan novel keduanya maupun buku nonfiksi selain Mockingbird.

Dalam buku biografi Lee, Mockingbird: a portrait of Harper Lee, Shields mengutip ucapan Alice Finch Lee, kakak perempuan Harper Lee, pada suatu hari di tahun 1970: ”Baru saja ketika Nelle menyelesaikan sebuah novel, seorang pencuri masuk ke apartemennya (di New York) dan mengambil manuskrip novel tersebut.” Ada juga kabar lain, di luar keterangan Shields, sepanjang pertengahan 1980an, bahwa sempat Harper Lee mulai menulis buku nonfiksi tentang serial pembunuhan di Alabama namun Lee mengesampingkannya gara-gara tak puas akan hasil akhirnya.

Lee juga mengatakan, di tahun ketika Mockingbird baru saja terbit, dirinya menghabiskan hampir enam sampai duabelas jam dalam sehari di meja menulisnya. Pada kesempatan lain, sewaktu siaran pers untuk publikasi film To Kill A Mockingbird, yang dimuat di Rogue edisi Desember 1963, Lee hanya menjawab “I’m scared”saat ditanya reporter akan perasaannya tentang novel keduanya.

Dalam wawancaranya dengan Roy Newquist, Counterpoint, Lee mengakui novel berikutnya berjalan amat lambat, bahkan jauh lebih lambat. Namun Lee memastikan dia amat suka menulis. “Kadang-kadang,” katanya, ”saya takut terlalu menyukainya, karena saat saya duduk untuk menulis saya tidak mau beranjak kemana-mana.”

Editor dan agennya juga kerap menanyakan hal sama. Namun, akhirnya, mereka pun berhenti menanyai Lee.

Di sisi lain, publik juga sukar meminta keterangan dari Harper Lee karena dia menolak wawancara sejak 1964. Novelnya memetik pelbagai penghargaan tapi Lee melewatinya tanpa menghadiri acara pengukuhan. Pada 1990 Lee salah satu dari lima orang yang menerima doktor kehormatan dari University of Alabama, bekas kampusnya yang tak sampai tamat, tapi Lee tak turut menyampaikan ucapan penghargaan ini. Hal sama juga dia lakukan saat menerima doktor kehormatan bidang humaniora dari Spring Hill College, Mobile Alabama, pada 1997.

Perjalanan pertamanya menghadiri penghargaan baru dimulai pada Maret 2005. Ini artinya selang 45 tahun sejak Mockingbird terbit kali perdana! Lee pergi ke Philadelphia, melalui Amtrak, untuk menerima ‘ATTY Award’ dari Spector Gadon & Rosen Foundation. Lee menerima penghormatan tersebut “untuk gambaran postif para pengacara dalam kesusasteraan”. Atas prakarsa Janda Gregory Peck, Veronique Passani, Lee ke Los Angeles dari Monroeville melalui kereta di tahun yang sama untuk menerima Los Angeles Public Library Literary Award. Lee juga menerima gelar kehormatan dari University of Notre Dame, 21 Mei 2006.

Bagi Harper Lee, seperti yang dia katakan sendiri, To Kill A Mockingbird merupakan “a love story and pure.” Cinta seorang Lee terhadap wilayah Selatan, cinta seorang ayah pada anaknya; cinta Lee pada ayahnya. Atau, dalam penilaian Shields, Mockingbird ”seperti Catch-22, One Flew Over the Cuckoo’s Nest, Portnoy’s Complaint, On the Road, The Bell Jar, Soul on Ice, dan The Feminine Mystique—buku-buku yang menangkap impian generasi pasca-Perang Dunia II—sebuah bentuk novel yang mengubah ‘sebuah sistem’.”

Uniknya, buku yang termasuk “mengubah sebuah sistem” tersebut merupakan narasi anak kecil berusia 6 tahun. Flannery O’Connor, salah satu pengarang yang dikagumi Lee, berkomentar soal itu. Penghujung 1960, saat Mockingbird mencetak sukses besar, dia mengatakan “Semua orang membelinya dan mereka tak tahu sebenarnya sedang membaca buku anak-anak.”

Itu juga, barangkali, pada 1988 Mockingbird dibaca hampir 74 persen pelajar Amerika. Hasil ini berdasarkan data statistik dari National Council of Teachers of English. Claudia Durst Johnson, sarjana “yang memublikasikan hasil tersebut secara luas”, mengatakan pada Shields, “Novel Lee memengaruhi kehidupan mereka setelah Kitab Suci.”

Shields mewawancari Claudia untuk keperluan melengkapi Mockingbird: a portrait of Harper Lee. Namun karya Shields ini, setebal 337 halaman, belum juga dapat memecahkan misteri terbesar dalam diri Lee. Kenapa Lee tak kunjung melahirkan novel keduanya? Kenapa begitu lama?

Lee menolak para penulis biografi, termasuk Shields, yang memintanya bekerjasama, karena daya tahan tubuh Lee sudah makin menurun. Bekas pengajar sekolah menengah dan penulis beragam buku nonfiksi bagi kalangan remaja ini mengaku begitu frustasi akan karyanya ini. Padahal Shields sudah menghabiskan empat tahun untuk merampungkan bukunya, pergi ke Alabama, New York, dan Kansas; mewawancari sekitar 600 orang, dan menjalin komunikasi singkat dengan teman-teman, para kolega, serta teman sekelas Lee.

Membaca pengakuan penulis biografinya, saya tak tahu bagaiman Lee memandang dirinya sebagai individu dan pengarang. Lee tetap menyimpan misteri rasa penasaran peminatnya, misteri ketertutupannya; kesunyiannya terhadap kariernya yang langsung bersinar.

Kini, Harper Lee menghabiskan masa tuanya di Monroeville dan sesekali ke New York City. Dia kembali ke tanah masa kanak-kanaknya, ke dalam diri Scout Finch. Pada 28 April 2010 Lee berusia 84 tahun. Kakaknya, Alice, yang selama ini menjaganya, sudah berumur 94 tahun.

Bersama dua anggota saudara lainnya, Louise Lee Conner dan Edwin Coleman Lee, keluarga Lee sudah menjadi tua namun berusia panjang. Sebagaimana umur ayah mereka sampai 81 tahun, meninggal pada 15 April 1962, dua bulan setelah Peck berkunjung, dan masih bisa menyaksikan anak bungsunya sukses secara karier.

Untuk semua yang dia katakan, pada akhirnya, Lee ingin menjadi “Jane Austin dari Alabama bagian selatan.” Tentu saja, Jane Austin jenis ini sangat sukar bernyanyi. Dia membiarkan Mockingbird-nya bernyanyi sendirian. [end]

Iklan

4 pemikiran pada “Nyanyian Mockingbird

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s