Pergolakan

SORE itu ia datang lewat jendela. Ini sudah keempat kalinya. Ia berwujud bocah, telanjang dada, perutnya tipis dan terlihat jalinan tulang yang membentuk tubuhnya bagai kupu-kupu dalam tabung kaca. Ia mengenakan celana kolor hitam dan telanjang kaki. Ia terlihat kumal tapi tak pernah tercium bau apapun. Kepalanya plontos. Sepasang mata mengerut, terlihat seperti merengek, seakan-akan hendak menangis. Ia tampak memelaskan.

Saat itu Luniko tengah menikmati secangkir teh dan pisang goreng bikinan istrinya. Bersandar di kursi malas di kamar kerja, di dekat jendela, ia tengah membaca Thousand Crances karya Yasunari Kawabata. Di luar hujan mulai menipis. Kata orang, paling enak membaca Kawabata saat cuaca gerimis. Dan atas nama Tuhan yang kudus, kedatangan bocah itu telah merusak kesenangan kecil yang sedikit ia dapatkan dari dunia. Luniko terperanjat, jantungnya berdesir, terpaku memandangi si bocah. Segera ia tak menyentuh kudapan bikinan istrinya.

”Kenapa kamu tak memakannya?” Tanpa disadari Amelia berdiri di mulut pintu. Luniko terkejut, menoleh dan mendapati wajah istrinya tegang.

”Dia ada di sini,” kata Luniko, meyakinkan.

”Bilang suruh pergi saja,” Suara Amelia terdengar bulat.

Agak heran bagi Luniko. Raut muka Amelia mengendur.

”Eh, kau, siapapun kau, pergilah!” Amelia membentak.

”Jangan bilang begitu,” Luniko coba menenangkan, meski agak ragu, ”Bagaimanpun dia keturunan dari garis keluargaku…” Tapi sebelum Luniko sadar, bocah itu telah menghilang.

Amelia berbalik dan melangkah ke ruangan tivi. Ia menyalakan televisi, membesarkan suara keras-keras.

Luniko menghampirinya, mematikan televisi, ”Kamu jangan bersikap begitu…”

Namun Amelia malah menangis. ”Apakah anak kita akan diambilnya…”

Kini Luniko tahu, ”Tidak, tidak,” cepat-cepat ia mendekapanya, mengambil sikap menenangkan. ”Tidak. Ia hanya pamanku, kamu dengar?”

Luniko mengusap-usap perut istrinya. Minggu depan kamu berusia empat bulan.

”Apa maunya dia?”

”Aku tak tahu. Aku benar-benar tak tahu…

Sebulan kemudian Amelia keguguran.

Waktu itu kegelapan di Tanah Merah menyergap Luniko dalam kepanikan yang misterius. Peluru menyalak di suatu tempat. Di kejauhan, ia mendengar seseorang menjerit kesakitan seperti meregang nyawa, membuat bulu kuduknya berdiri dan sepasang matanya bersiaga. Ia hendak bersiap merebahkan badan di atas ranjang di dalam kamar hotel. Ibunya menelepon dan mengabarkan pesan darurat itu.

“Apa? Suara Ibu kurang jelas..”

Telepon putus tapi kemudian sebuah pesan singkat masuk. Dalam sikapnya yang terbata-bata dan wajah pucat, segera ia menelepon balik. Tapi jaringan telepon sibuk atau mungkin telah disadap. Ia mengumpat, mengambil telepon hotel di samping ranjang. Ia menelepon seseorang yang telah menemaninya menyusuri kabut kekerasan di Tanah Merah seminggu itu. “John, bisakah kau dapatkan tiket pesawat malam ini?”

“Bapak, ini jam berapa?” John Mangea, yang mendengus kelelahan, menjawabnya. “Trada mungkin!”

“Kamu harus mendapatkannya. Istriku sakit!”

Ada jeda sebentar. “Atau aku sajalah yang mencarinya. Aku bayar dengan harga berapapun!”

Luniko mengemasi barang-barangnya ke dalam koper coklat, melupakan hal-hal kecil yang sudah ia persiapkan dalam perjalanan ini. Ia mengangkat kembali gagang telepon. Namun ia hanya mendengar dering mati. John pasti tertidur, ia membatin. Jantungnya berdegup keras.

Penjaga hotel, seorang berambut keriting tapi kulit agak kecoklatan, biasa dipanggil “Don,” menyapanya setelah melihat Luniko menjinjing koper dan menyungging tas punggung. “Mau kemana, Bapak?”

“Ah.., Don. Bisakah kau cari tiket pesawat malam ini?”

“John, apakah baik-baik saja?”

“Bukan, bukan. Mungkin dia tidur lagi. Istriku sakit, aku harus balik.”

Don, hidung agak besar, kedua mata meneduhkan—seseorang yang segera dapat membuatmu tenang, malam itu bergumam mendoakan keselamatan istrinya. “Demi Tuhan Yesus, semoga baik-baik saja.”

Namun sebentar kemudian mereka dikagetkan salakan suara itu lagi. Terdengar dari suatu tempat yang jauh. Mereka merunduk semata refleks. Seakan-akan peluru berdesing di atas kepala. Don mengangkat jemarinya. Ia telah menghitung suara tembakan sejak petang merayap, kedua telapak tangan ia angkat setinggi muka, jari-jari melebar seakan tengah berdoa, dan sepuluh—itulah yang ia tunjukkan.

“Jumlah yang banyak, Don!”

“Ya, malam ini saja, Bapak. Dan tepat sekarang jam sepuluh.”

Luniko menyadari kesilapannya tentang waktu, membuatnya sebagai orang paling naif setelah mendengar keterangan Don. “Di sana masih jam 8, Don!”

“Ya, aku akan coba menghubungi kenalan dari mereka. Mereka selalu ada. Bapak pasti pulang, tapi trada malam ini.” Don tersenyum, menenangkan, “Pagi, Bapak. Selalu pagi. Pesawat itu selalu berangkat pagi.” Ia menyeringai.

“Kau selalu punya ingatan bagus, Don.”

Luniko mendengus. Ia melihat Don di balik meja resepsionis mengangkat telepon, menghubungi seseorang yang mungkin bisa mendapatkan tiket pesawat untuk besok pagi dan membawanya pulang. Pria ini begitu baik.

Luniko duduk kelelahan di kursi hotel berlapis sofa di ruangan lobi. Sofa ini juga selalu baik, batinnya, membuatnya sedikit lega, dan hotel ini juga baik. Semua yang ada di hotel ini begitu baik.

Dari balik meja, Don mengangkat muka tinggi-tinggi, tersenyum–senantiasa dengan senyum. Luniko dapat menerka sinar kelegaan terpancar dari tatapannya. “Ia akan ke sini,” ujar Don. “Bapak istirahat saja. Mereka minta dua kali lipat.”

Inilah yang dipikirkannya: semua tak ada yang murah. Mereka sengaja mencipatakan situasi darurat ini, membuat mereka cukup kaya—untuk minum-minum atau main perempuan. Mereka menaikkan harga-harga hingga kau lupa telah tertipu. Dan atas semua itulah mereka bertindak. Mereka gampang mencari keuntungan dari situasi yang sengaja mereka buat; peluru-peluru berdesing itu; erangan kematian itu. Malam ini aku memanfaatkan jasa mereka, mau tak mau, asalkan segera berada di sisi istriku—bermil-mil cahaya dari Tanah Merah.

Dan bagaimana kabar istrinya? Seakan panggilan gaib, Luniko segera merogoh telepon genggam dari saku celana. Ia memencet nomor telepon. Tapi kemudian yang ia dengar nada sibuk yang sama. “Sialan!”

“Oh…, Don, maaf, maaf, bukan kamu, Don…” Luniko melihat Don terkejut. “Telepon ini…, jaringan selalu sibuk, Don.”

Raut muka Don menyiratkan nada simpatik, kelopak matanya sedikit meredup, sudut bibirnya berseri. “Semuan pasti baik, Bapak. Demi Tuhan Yesus.”

“Terimakasih, Don.”

Atas semua yang dilakukan penjaga hotel ini, Luniko merasa berutang seluruh kehidupan padanya. Kali ini ia mengucapkannya lagi, dengan sepenuh hati, “Terimakasih, Don…” *

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s