Pohon Asam

IA lahir dari perut pohon asam. Atau begitulah yang ingin kuanggap darinya. Bertahun-tahun sejak aku masih sering main sepakbola plastik di pekarangan pinggir sawah, ia perempuan tua yang sendirian saja. Rumahnya di dekat pekarangan, berdinding anyaman bambu, beralas tanah, bersitentang pohon asam. Pohon itu besar dan tinggi, dahan-dahan melilit sepanjang ingatanku yang bercecabang, tumbuh tegak melawan cuaca. Akar-akarnya tertanam kokoh di bawah permukaan tanah, menyebar sejauh yang dapat kubayangkan — dan kami menyebutnya Pohon Hantu.

Mak Tarmi, nama perempuan itu, suka tiduran di bawah pohon asam. Ia nyenyak dengan dunianya sendiri, suka tertawa-tawa tapi kadang marah-marah tanpa juntrungan. Ketika mulutnya membuka dan terkekeh-kekeh, aku bisa melihat sesuatu berwarna merah memenuhi lidahnya. Ia segera meludah dan aku mengenali remah-remah daun sirih menciprat di dekat kakinya. Kita akan tua dengan daun sirih memadati rongga mulut kita.

Cara jalannya, setapak demi setapak, kepala terangguk-angguk bagai kepala ayam betina. Pakaiannya kebaya model kuno, secarik selendang melilit pinggang. Ia jarang memakai alas kaki. Tubuhnya kurus bagai layang-layang. Mulutnya terlalu tua untuk mengunyah daging, hanya bubur atau nasi yang dilembekkan. Rambutnya memutih. Kedua mata cekung. Kulit mukanya keriput, bintik-bintik kecil menyebar pada sebagian wajahnya—jika tertawa bentuk muka itu kian menciut. Karena sering mengunyah daun sirih, gigi-seri tampil utuh. Tapi gigi geraham yang menopang tulang pipinya ompong sebelah. Kita bisa melihat seluruh garis mukanya yang ramping. Hari demi hari Mak Tarmi kian mengecil seperti bayi, enteng bagai kapas, menyeret kakinya seperti menghela bayang-bayang. Ia berjalan nyaris tanpa suara.

Mak Tarmi sosok hantu sepenuhnya, atau begitulah anggapan kami. Jika ada anak kecil yang nakal, ibu dari anak itu akan menaku-nakuti, “Kamu akan kubawa ke Mak Tarmi!” Jika kita menangis, sang ibu segera mendiamkan si anak dengan mengancam akan membawa “ke rumah Mak Tarmi.” Jika ada dari kita yang sakit, kita langsung membayangkan wujud hantu seperti Mak Tarmi. Jika melihat Mak Tarmi, kita langsung teriak lalu lari terbirit-birit menuju rumah, dengan jantung berdenyar.

Tak ada yang tahu siapa di antara penduduk kampung kami jadi bagian dari keturunan Mak Tarmi. Atau mungkin Mak Tarmi adalah ibu bagi semua keturunan kami. Ia orang yang paling tua, paling piatu, paling yatim, dan aku kira juga paling kesepian. Kurasa Mak Tarmin benar-benar lahir dari perut pohon asam.

Namun Mak Tarmi punya teman-teman sebaya seperti Mak Cari, tidak terlalu tua seperti dirinya, masih satu saudara dengan keluargaku. Mak Tarmi sering main ke rumah Mak Cari, duduk-duduk sepanjang hari di sebuah amben bambu. Pak Ki, suami Mak Cari, sering ikutan menemani mereka.

Mereka mengobrol tentang apa saja. Hal-hal yang disukai seperti kopi sebagai minuman keseharian Pak Ki. Atau perihal kegemaran seperti wayang kulit yang makin susah dicari. Pak Ki suka melebih-lebihkan obrolan. Ia suka tembang sinden dan pernah bilang, “Dulu Mak Cari juga sinden.” Yang kuingat, setiap pagi, seiring Mak Cari tambah pikun, adalah jeritan-jeritan dari nenek tua itu terhadap cucu-cucunya. Rumahnya di samping rumah orangtuaku. Teriakan Mak Cari segera membangunkanku dan membuatku pergi ke sekolah terlalu pagi. Tampaknya nenek dan cucu itu berebutan kamar mandi, siapa yang lebih dulu, siapa yang menghabiskan air, mengumpat tentang kamar mandi “yang bau” dan “jorok.” Mak Cari, yang sakit tuanya tambah parah, pelan-pelan tak bisa mengurus dirinya sendiri.

Suatu kali Mak Cari bilang kepada Mak Tarmi, “Kamu kok lebih tua tapi sehat!” Mak Tarmi menjawabnya dengan tawa terkekeh-kekeh. Dikira melecehkannya, Ia membalas, “Sana pergi, setan!” Raut muka Mak Tarmi seketika redup, kepalanya menunduk, tampak memelaskan, seperti wajah bocah kecil tak berdosa kena damprat pemabuk. Sejak itu Mak Tarmi jarang main ke rumah mereka.

PAK Ki saban sore duduk di halaman rumah orangtuaku. Ia lebih dulu mengambil kursi plastik, warna merah segar, yang dibeli ibu dari pedagang “yarnen” atau “bayarnya dicicil setiap hari Senin.” Kursi itu ditempatkan ibu di bawah teras rumah. Ada amben kayu di tepi muka rumah. Teras kosong, tanpa penghalang, beralas keramik hijau, selebar dua meter, sedikit melewati tepi atap rumah hingga semuanya basah dan kotor jika hujan turun. Amben, kursi, dan teras, yang dibikin belakangan itu, dipakai untuk “midang” atau “berkumpul hingga larut malam”. Tampaknya semua rumah di kampung kami selalu ada perangkat semacam ini.

Pak Ki, yang suka memakai peci dan sarung tapi ingkar sembahyang, memiliki pikiran nyaris ateis, meletakkan kursi itu menghadap mulut jalan kampung. Ada dua jalan kampung di depannya, dipisahkan sungai kecil penuh timbunan sampah, bangkai tikus, kotoran ikan—singkatnya, sebuah sarang yang nyaman bagi sekumpulan nyamuk. Pak Ki suka mengamati seseorang yang muncul dari balik gang, siapa pun, muda atau tua, dan memberitahu orang di dekatnya.

“Eh, lihat, Tarmi tuh!” katanya. Di kejauhan, Mak Tarmi berjalan tertatih-tatih, tampak kecil dan kurus seperti bayangan. Ia sehabis pulang dari pasar di alun-alun. Makin mendekat ke arah kita, kepalanya mengangguk-angguk sejalan langkahnya bagai kepala ayam betina, barulah kita sadar ia memang sosok manusia.

Pak Ki menyambut, “Bawa apa?”

Mak Tarmi mengangkat tas plastik yang ditentengnya. Isinya sayur-sayuran serta makanan macam getuk, singkong, atau aneka makanan yang bisa kita bayangkan untuk seseorang setua Mak Tarmi.

“Tarmi, temanin Cari tuh!” kata Pak Ki kemudian, sambil kepalanya menunjuk ke arah rumahnya, mendengus dan batuk-batuk. “Dia nyebut-nyebut nama kamu terus.” Pak Ki menirukan ucapan istrinya, “Kamu jarang main, kamu sudah sombong.”

Mak Tarmi, kepalanya kian cepat mengangguk selagi bicara, bertumpu pada lehernya seperti pegas, susah-payah mengangkat dadanya mengeluarkan sepatah kalimat, segera menyahut, “Tidak mau, ah! Nanti kena marah lagi. Tuman!” Maksudnya ia ingin memberi pelajaran kepada Mak Cari, agar bicara jangan lancang, agar kapok. Tapi apakah perlu orang setua itu diberi peringatan? Ada-ada saja kelakuan orang-orang tua ini, pikirku. Mak Tarmi pamit dan melengos menuju rumahnya.

Selagi Pak Ki khidmat di kursi merah itu, mengisap rokok klobot, aku suka mendengarkan ceritanya menjelang petang. Ia suka cerita tentang pendudukan Jepang. Mengulang-ulang seperti pita rekaman. Ia bilang pasukan Jepang salah mendarat, terdampar di suatu garis pantai di Ereten. Harusnya mereka berlabuh di suatu tempat yang lebih jauh dari wilayah kami, di suatu bandar yang cukup sibuk di pusat kota. Ia lalu mengucapkan sepatah-dua kata Jepang, hanya bahasa pergaulan, tak lebih dari itu. “Mau kemana?” katanya, mengartikan. Atau “Siap, Tuan!” Lalu melafal hitungan Jepang, yang terdengar aneh meski kukira salah, dan menyebut merek rokok, “Dji..Sam..Soe..”

Ia tertawa.

Ia tak suka anak-anak main sepakbola. Ia lebih gemar menonton tinju. “Anak-anak ini kurang ajar! Sudah berhenti!” Pak Ki menyeru kepada kami yang tengah main bola sepak di halaman rumah, mengganggu jadwal rutinnya setiap sore. “Bola itu berbahaya!” Ia mengumpat. Semua orang tertawa mendengarnya.

Giliran maghrib, ia segera masuk rumah, lalu kembali lagi dengan tubuh segar. Anak-anak berlari-lari, keluar dari surau. Menghidupkan jalan kampung. Teriak, saling mengejar, kadang juga diisi tangisan, main tembak-tembakan atau meniru sosok jagoan dan sosok bajingan. Aku selalu menyalami Pak Ki, ia menjawab salamku, dan kucium lengannya. Ia lelaki tua yang tak mengakui Tuhan, ibadah dibilangnya “membuat  badan pegal.” Namun ia lancar mengucapkan salam. Suatu kali ia berkata soal Haji Gani, orang paling kaya di kampung kami: “Seorang haji harusnya tak boleh pelit!”

Anak-anak mengenal Haji Gani sebagai Si Tua Galak. Rumahnya dihela sepetak tanah memanjang di sebelah rumah orangtuaku. Suatu kali kami pernah nekat main bola plastik di petak tanah itu. Bola itu milik Rino, adik Darya. Di tengah permainan, bola itu terlempar menuju teras rumah Haji Gani. Haji Gani segera keluar rumah, mengambil bola, masuk ke rumah dan sebentar kemudian, di bawah tatapan mata kami yang polos, bola itu dibelahnya dengan sebilah golok. Ia melemparkannya ke arah kami, membentak, “Sana bawa!” – nyaris dengan seluruh nafasnya. Anak-anak melongo. Darya mengambil potongan bola itu. Kami berlalu dengan tenaga lemas, membenci Haji Gani dengan perasaan takut seperti kelakuan kanak-kanak jika bermusuhan. Di suatu tempat, aku mendengar Rino menangis dan meraung-raung.

Tetapi selalu ada raungan, tepatnya rintihan, yang selalu menghuni batok kepalaku. Sumbernya dari Mak Cari. Ia sering menangis dari tempat tidurnya. Tangis itu keras dan terdengar jelas. Seperti seseorang yang kedinginan, mengaduh dan mengigil, atau lebih tepatnya merintih. Ia juga makin hilang ingatan: aku dikira cucunya, ayahku dikira anaknya. Seringkali ia melayap ke rumah Wak Juki, seorang anaknya di kampung tetangga. Pak Ki mencari-cari. Lelah mencari, Pak Ki membiarkan petang berlalu dalam lamunannya di halaman depan rumah orangtuaku. Wak Juki mengabarkan, “Itu Emak ada di rumah.”

Pak Ki membentak, “Suruh bawa pulang ke sini!”

“Tidak mau, katanya,” Wak Juki menirukan ucapan ibunya. “Katanya, cucu-cucu di rumah sini tidak ada yang sayang!”

“Setan!” teriak Pak Ki, sambil beranjak lalu batuk-batuk.

Hampir malam, Pak Ki memapah Mak Cari yang menangis dan merintih, “Aku tidak mau pulang, tidak mau pulang.” Pak Ki setengah memaksa, berjalan lebih cepat, bergumam, “Malu-maluin aja!” Tapi Mak Cari selau menyebut, “Di rumah Juki saja… di rumah Juki saja.” Mereka saling memaksa.

Sejak kemunduran emosi Mak Cari itulah Pak Ki semakin hari menjadi pendiam.

Ia juga sudah jarang berkisah tentang hidupnya semasa pendudukan Jepang. Namun aku masih suka di dekatnya. Pak Ki mengadu, “Aduh…, Nak. Nenekmu inginnya apa sih? Kalau mati ya mati saja! Aku sudah tidak kuat!” Ia juga kini punya persoalan baru, merasa ribet dengan tahi lalat di pinggir hidungnya. Tahi lalat batu. Makin hari tambah besar. Membuat wajahnya tak enak dipandang. Bahkan setelah tua, Pak Ki masih saja memperhatikan dan peduli dengan penampilannya.

PERSOALAN Mak Cari tak bisa mengurus dirinya sendiri, Pak Ki pernah minta bantuan padaku. Itu siang hari. Mak Cari ingin buang air kecil. Pak Ki, yang kulitnya sudah menggelambir bagai sapi tua, berteriak padaku sepulang aku sekolah. “Nak, bantu Pak Ki!”

Aku lantas memasuki kamar Mak Cari. Ia tengah meringkuk di ruangan belakang yang terhubung ruangan dapur dan kamar mandi. Kamarnya lembab. Bau ompol bercampur keringat mengudara, ranjangnya basah. Aku harus selalu menutup hidungku. Tapi bagaimana kamu bisa menutup hidungmu sementara kedua tanganmu harus mengangat tubuh orang yang sakit? Bersama Pak Ki, aku menggotong Mak Cari, seperti membopong seorang anak perawan. Kami meletakkannya di atas kakus. Seluruh selendang yang menutupi pinggangnya menyengatkan bau busuk air kencing!

Pak Ki, dengan cara seorang suami yang memikul nasibnya hingga tua, membuka pakaian dan selendang yang dikenakan istrinya. Tubuh Mak Cari telanjang bulat. Bukannya perasaanku berdesir, tapi aku jatuh kasihan seketika. Tubuh Mak Cari tampak mengecil, menjadi kanak-kanak lagi. Tubuhnya bergerak dengan seluruh ototnya yang bergetar. Pak Ki melemparkan pakaian itu ke sebuah ember dan kulihat tumpukan pakaian Mak Cari menggunung. Rupanya cucu mereka sungkan mencuci pakaian yang bau itu. Kadang, melalui jendela kamar, aku melihat Pak Ki menjemur sendiri pakaian-pakaian milik istrinya. Kami lantas membopongnya lagi menuju kamarnya. Aku terpaku lama di mulut pintu. Pak Ki menghela nafas dalam.

Saat akhirnya Mak Cari meninggal, dengan perjuangan berat, tugas-tugas itu lenyaplah sudah. Kurasa anak beserta cucu, juga Pak Ki, membuang semua beban sepenuhnya; akhirnya bisa sedikit lega, tak lagi ribut dengan tuduhan-tuduhan nenek tua seperti Mak Cari, yang membuat keluarga itu sering adu mulut.

Pak Ki masih suka duduk di halaman rumah orangtuaku.

Suatu hari, wajahnya berubah. Ia telah menyayat sendiri tahi lalat batu itu. Bekasnya menjadi sesuatu yang tampak menjijikkan, terus-menerus basah seperti sebuah danau. Luka itu diobati dengan sebuah pil tablet seharga 500 perak. Obat itu diremukkan hingga menjadi bubuk lalu ditaburkan di atas luka tahi lalat. Bukannya mengering, malah luka itu tambah membesar hingga menggerogoti kulit hidungnya. Pelan-pelan, pada bagian atas hidung itu, terbentuk sebuah lubang mengerikan, seperti luka lubang dari tembakan sebiji senapan. Baunya cukup membuatmu mengenyahkan makanan. Orang-orang meludah dan menutupi hidung.

Wak Juki serta Wak Emen, anaknya yang serumah dengan Pak Ki, membawanya ke dokter dan hasilnya luka itu hanya bisa diperban. Namun, karena kedua mata Pak Ki juga mulai mengucurkan airmata, luka itu akhirnya tak pernah kering. Frustasi, ia membuang perban itu, mempertontonkan pada orang-orang selagi ia duduk di tempat kesayangannya setiap petang. Ia merintih kepadaku, “Aduh, Nak. Nasib kakekmu kok begini!” Ia kecewa telah menyayat tahi lalat itu, “Seharusnya seorang tua seperti aku cukup bahagia dengan keadaannya.” Tapi ia juga mengumpat, “Tuhan tidak adil! Tuhan itu tidak ada!”

Aku duga Pak Ki seorang komunis. Tapi hal ini tak pernah diceritakannya. Ia sama sekali tak menyebut “tiga setan kota, tujuh setan desa” setelah Republik berdiri. Tak ada pula orang tua yang menceritkan hal-hal begini di kampung kami.

Pak Ki kemudian menyusul Mak Cari.

Mak Tarmi, merasa sebagai sahabat dekat mereka, selalu datang dalam perkabungan keduanya. Setiap datang ke rumah duka, ia menjerit, “Aduh! Kok kalian meninggalkan aku sendiri.” Seakan-akan mereka tak pernah bertengkar sebelumnya.

DOA Mak Tarmi selalu sepi. Itu harus menungguku hingga dewasa. Saat lebaran, Ibu minta aku berzakat fitrah kepada Mak Tarmi. Aku diantar kakakku. Aku mengambil jalan yang salah, lurus menyusuri jalan kampung menuju sawah. Belum jauh, kakakku memotong jalan, “Mau kemana? Rumah Mak Tarmi sudah pindah!”

“Loh, lalu pekarangan itu?”

“Sudah diambil pemiliknya!”

Aku mengikuti arahnya. Rumah Mak Tarmi kini terletak di tengah-tengah kampung. Bentuknya tetap mungil, berdinding anyaman bambu, beralas tanah, penerangan hanya dari lampu minyak. Di dalamnya, saat aku menyerahkan zakat fitrah, ruangan rumah berisi satu kamar. Tak ada kompor. Tak ada peralatan masak. Hanya ada amben kayu di dekat mulut pintu dan sebuah kamar tidurnya. Saat lebaran itu, kamar tersebut dijejali tumpukan karung serta ember berisi beras.

Aku menyalaminya. Ia memandangku dekat-dekat, dengan mata berkaca-kaca, penglihatannya mulai kabur, “Ini siapa?” Aku menyebut namaku dan nama orangtuaku.

“Aduh, Nak, sehat ya! Mak sudah tak kuat lagi. Tak ada keluarga.” Ia tiba-tiba memelukku, kurasakan tubuhnya yang kurus dan bergetar. Ia menangis. “Mak ingin mati saja!” Ia meracau.

Tuhan kadang aneh. Seseorang berharap hidupnya selalu sehat, seseorang yang lain minta nyawanya dicabut. Setiap lebaran, Mak Tarmi merasakan kesepian yang kian mendalam. Dan setiap malam lebaran, selagi aku mengunjunginya, permohonannya selalu sama.

Permintaan Mak Tarmi harus menunggu sewaktu terjadi, apa yang kami sebut, Pekan-Pekan Hujan Badai yang mengguyur kampung kami. Lebat dan paling hebat sepanjang ingatan ayahku. Air hujan mendatangi rumah-rumah. Banjir dimana-mana. Ladang-ladang sawah tenggelam.

Seluruh yang kami ingat adalah runtuhnya pohon asam di pinggir sawah. Dalam hentakan badai angin tanpa ampun yang berminggu-minggu, pohon asam itu tercerabut dari akarnya. Lepas dan runtuh. Lalu sebuah bunyi dentuman keras, lebih nyaring dari suara tabrakan truk di jalan raya, menggetarkan permukaan tanah dan kaca-kaca rumah. Orang-orang berteriak menyebut nama Tuhan, seakan sebuah gempa telah membangunkan tubuh mereka. Mereka mengira Hari Akhir itu tibalah juga. Dari pinggir sawah, orang-orang berteriak: “Pohon asam rubuh! Pohon asam rubuh!”

Mereka berdatangan untuk melihat jatuhnya pohon asam. Mereka berkerumun. Beragam binatang yang bertahun-tahun menghuni pohon asam itu berhamburan. Semuanya memandang ngeri. Jago-jago kampung pembunuh binatang, para dukun, orang-orang yang mengaku kyai–berdatangan. Sementara banyak yang lain memilih menghindar dan ketakutan. Ular terbang mendesis-desis. Puluhan tokek bertubuh tembab mengoceh. Ribuan semut. Ratusan tawon. Kelabang. Laba-laba. Semuanya terhimpun dalam satu gerak dan nyanyian mengerikan. Orang-orang kampung tetap terjaga semalaman. Anak-anak menangis.

Esoknya tampak normal kembali. Angin badai berhenti. Hujan berubah gerimis. Dalam dua hari langit kembali cerah dan terlihat makin dekat. Ketika malam, bintang-bintang berpendar terang dan, ketika kita menunjuk jari, kita seakan menyentuh langit.

Mak Tarmi, biasanya pergi ke pasar setiap hari, meninggal dengan cara tanpa suara. Tetangganya mencium bau busuk dari dalam rumah. Penasaran, mereka segera mendorong pintu rumah Mak Tarmi. Mula-mula bau busuk mengudara pekat sebelum mata mereka terbiasa dengan kegelapan di sekitarnya. Kemudian mereka melihat seonggok tubuh, menciut dan keras, dengan mata terpejam dan mulut mengatup. Senyum sekilas di bibirnya nyaris seperti orang bahagia. Tubuh Mak Tarmi terbaring telentang di atas amben beralas tikar plastik.

Ayahku dan penduduk kampung mengira pohon asam yang membunuh Mak Tarmi. *

Iklan

Satu pemikiran pada “Pohon Asam

  1. Amazing… Saya seperti digiring ke masa lalu ketika kanak-kanak. Cerita ini agak mirip yang terjadi di kampung saya meski dengan pemeran yg berbeda. Anda punya bakat jadi penulis besar jika tetap berani terus menulis karena bahasa ada termasuk lugas dan tinggal memperhalus rangkaian cerita…. Teruslah menulis dan berkarya dan saya berharap suatu saat akan membeli dan mengkoleksi tulisan anda di toko buku ternama… Keep your spirit n sucessfully

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s