Dongeng Ayah

#1
Dia membuat dirinya dalam keadaan tua ketika usia menolak tubuhnya. Pada saat itu dia punya kekuatan dari masa perantauan di Ujung Kulon. Dia pulang membawa rambut perak sepanjang punggung. Kuku-kuku jarinya bahkan seperti bayangan tubuhnya yang memanjang. Janggutnya lebat dan selalu terkibas diterpa angin di bawah dagu. Dia setinggi pohon belimbing di pelataran rumah. Tawanya membangkitkan bulu kuduk. Berapa usianya saat itu?

Ayah cerita sampai aku berusia 7 tahun barulah dia meninggal. Dia datang saat “Kakakmu yang sulung masih dalam gendongan,” cerita ayah.

#2
Waktu itu dia datang sebagai petapa. Katanya, ia bisa meramal hanya dengan melihat arah bintang.

“Tunjukkan telapak tanganmu,”—dia selalu bilang kepada orang-orang yang ditemuinya di jalan-jalan kampung… dan benar! kau bisa tahu jodohmu.

Ayah sempat diramal sepulang dari ladang. Saat itu Ayah membujang di satu keluarga paling kaya di kampung. “Dengarkan, Salam,” kata si petapa; badan ayah gemetar. “Besok malam, di acara pesta Jumat Kliwon sumur Buyut Jepul, kamu bisa temukan jodohmu.” Malamnya Ayah panas dingin. Perayaan itu sendiri seperti reuni penduduk kampung. Setiap orang membawa sesaji, dibungkus daun talas, rupa-rupa kembang, udara pekat kemenyan; seluruh desa.

Ayah bilang, ”Ibumu lahir dari bintang si petapa.” Salah satu dari anak-anaknya akan jadi penghayal, tambahnya.

#3
Bocah kecil itu lari dari tempat itu: sebatang sungai yang mengular dari arus sebuah dam di dusun seberang tempat pohonan kelapa bergerumbul. Malam hari suara napas burung hantu seperti denyut nadi, berdetak menyirap jantung, dari arah hutan jati yang rapat dan gelap. Di situlah setiap purnama, kata Ayah, seorang berjubah putih muncul dan menidurkan kampung kita sejak magrib. Anak-anak bungsu harus diikat kakinya saat tidur. Kami berdoa sepanjang malam, kata Ayah. Semua orang terjaga di dalam rumah. Namun di luar sepi semata. Pria berjubah putih itu mengambil anak bungsu yang tersesat dan paling disayang orangtuanya.

“Kami kehilanganmu malam itu,” cerita Ayah. Ibu berteriak tapi suaranya tertahan, takut membangunkan seisi dusun. Ibu menangis dalam diam. Saudara-saudaramu saling berpelukan, tapi mulut mereka terus merapal minta malaikat turun untuk menyelamatkanmu.

“Nyatanya kamu selamat,” Ayah menahan nafas. Itu hal aneh. Ada ketukan pintu tengah malam. Saat Ayah membukanya, terlihat seorang bocah bertubuh telanjang hanya berselimutkan sarung. “Itulah kamu,” kata Ayah.

Purnama berikutnya penduduk kampung masih ketakutan. Namun pohon-pohon jati kian lama kian menipis, tergantikan ladang, dari tahun ke tahun. Pria berjubah putih itu lenyap. Sejatinya, “Sejak kamu hilang, meski kami telah mengikatmu dan muncul tengah malam, pria berjubah putih itu sudah tidak ada. Ini cuma disadari oleh keluarga kita,” Ayah bercerita.

Itu rahasia kecil keluarga. Tak satu pun warga kampung di sini mengerti bahwa kamulah yang mengusir orang yang paling ditakuti seisi dusun. “Sarung itu terus kami simpan,” kata Ayah.

“Kamu anak bungsu yang terberkati…”

#4
Dia telah cukup menyelesaikan ceritanya di ladang tahun ini. Dia telah membasuh lumpur yang melengket di kakinya. Memandikan badannya dari jerami yang gatal. Dari tanah-tanah gembur sesudah musim hujan. Dia telah menjauhkan telinganya dari bunyi jangkrik dan kodok, desis ular, desir sayap serangga yang begesekan dengan bulir-bulir padi di malam-malam menginapnya di gubuk itu. Dia telah mengurungkan tangki penyemprot pestisida, yang selalu merengek saban tahun, dibiarkan berdiri di balik pintu kamar belakang. Dia menyudahi semuanya hanya dengan kalimat pendek, agak terbata-bata, karena dia bukan tipe seseorang yang lancar bicara dalam ruang udara.

Ayah bilang kepadaku, ”Yang penting kamu sehat-sehat saja di sana…,” lantas dia mengembalikan telepon kepada Ibu. Dan, Ibu—dengan suara yang lepas—menambahkan, ”Ayah sehat. Kemarin baru saja melaut. Tapi tidak dapat ikan.”

Ayahku menjadi 25 tahun lebih muda lagi.

Dia telah melihat debur ombak setinggi langit. Dia telah melihat punggung ikan bersirip berlian diterpa matahari petang. Dia telah melihat ular berkepala dua di dasar laut paling dalam dan gelap. Dia telah melihat satu jenis hewan laut paling cantik dan paling kecil, bermandikan cahaya di depan matanya, hanya ditutupi kacamata kedap udara, tanpa tabung oksigen yang membantu pernapasannya. Dia telah melihat satu temannya tewas digigit kecupan manis dari sejenis ular mematikan di tungkai kakinya. Si teman itu kehabisan nafas, tubuhnya pelan-pelan menyurut ke dasar laut, mulut terbuka—dan di dalam laut kau tak bisa mendengar apapun.

Bagaimana Ayah bisa bertahan?

Tubuhnya tetap liat setelah melewati setengah abad dari tahun-tahun yang rusuh. Dia tetap penyabar dan pendiam. Kau bisa menceritakan apapun kepadanya berjam-jam dan menyaksikan seseorang begitu telaten mendengarkanmu; seakan-akan kau tengah berbicara dengan dirimu sendiri.

Dia akan mencucikan gelasmu dan membasuh pakaianmu yang kotor. Dia memiliki nilai prekot dalam dirinya, satu nilai terperinci dan khusus soal kejantanan seekor kupu-kupu dan beruang. Suaranya mewakili tindakan ketimbang pernyataan.

Apa yang akan kita lakukan sekarang, Ayah?

Dia bilang, “Yang penting kamu sehat…,” dan dari sanalah dongeng ini bermula. Aku akan menghabiskan waktu bersamamu untuk membawaku pada masa kanak lagi.[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s