“Burung-burung itu mati karena mabuk…”

SECUPLIK kabar tentang kematian misterius sekawanan burung sejenis jalak di Constanţa, kota tepi Laut Hitam, Rumania, akhirnya terkuak–atau begitulah yang tertulis dari sebuah berita. Kepala bagian jawatan hewan kota mengatakan burung-burung itu mencecap residu anggur, biasa dipakai bahan sampingan dalam proses pembuatan anggur.

Penduduk setempat melaporkan lusinan burung itu mati, sesederhana kematian, tapi tak sesederhana jika mereka mati di bawah kekuatiran flu burung, yang mungkin saja menimpa mereka, sesudah dunia begitu sibuk memahami dan meredam jenis penyakit unggas ini–membawa kematian massal di bawah langit yang sama dan langsung menyusutkan populasi unggas sepanjang 2004-2006.

Namun, sehari berikutnya, setelah para dokter hewan melakukan pemeriksaan pada lima burung, jelaslah sudah bahwa tembolok burung ini mengandung racun anggur.

“Tak ada perkara yang misterius dari kematian burung-burung ini,” ujar mereka. “Burung-burung ini mati karena mabuk.” Mereka melakukan hal sama pada dua burung gagak yang juga mati.

Bagaimana burung-burung ini; tarulah dari jenis jalak ini–yang gagah, tukang kicau dari suku Sturnidae, berparuh kuat, tajam dan lurus–dapat mencecap alkohol tanpa [jika dalam pikiran manusia] menimbang-nimbang lebih dulu; dengan kata lain, tak ambil pusing?

Cuaca ekstrem, musim dingin yang keras dan bersalju, mencegah mereka mencari makanan dengan leluasa. Akhirnya, dalam pencarian ini, mereka [dipaksa] menyesap alkohol di suatu kilang anggur dan mereka terbang dalam keadaan mabuk. Mereka juga makan biji-bijian yang sudah bercampur racun. Mereka mabuk, jatuh dari ketinggian, dan mati.

Tak ada [atau belum ada] yang tahu di mana letak kilang anggur tempat burung-burung ini mengisi perutnya.

Begitulah. Sebuah berita lebih sering tak pernah tuntas mengisahkan suatu perkara. Lebih-lebih pada peristiwa yang menimpa burung. Kabar ini unik, seperti itulah jika kita melihat dari sudut pandang lelucon–tapi ia mengandung beragam faset dalam satu cerminan yang telak: perubahan iklim adalah bayangan kehidupan kita.

Serangkaian kematian burung tak terjelaskan juga melintasi seluruh benua dalam beberapa minggu terakhir, termasuk di Amerika Serikat dan Swedia. Pada bulan Januari, ratusan burung mati di Louisiana, sebelah tenggara AS, dan 5,000 mati di Arkansas, sebelah selatan AS, pada tahun baru. Di Swedia, 100 burung dari jenis gagak ditemukan mati di ruas jalan di Falkoping.

Kematian burung, dengan cara yang tak alamiah, meski ironisnya mereka mati karena kerasnya alam yang kian buruk, menjelaskan sesuatu. Salju awal tahun ini menyelimuti Eropa, mematikan ruas jalan di Rusia, mengacaukan jadwal penerbangan di New York. Para turis mengutuk agenda liburan musim dingin mereka. Juga banjir terburuk di Brisbane, kota terbesar ketiga di Australia.

Dan yang menjalar ke sini. Di jelujur negara kepulauan ini. Gagal panen akibat hujan terus-menerus. Gelombang laut ganas yang telah menambatkan perahu-perahu nelayan di muara-muara…*

Iklan

4 pemikiran pada ““Burung-burung itu mati karena mabuk…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s