Hujan Dini Hari

SEKARANG hujan. Kau mendengar suaranya dalam kesunyian dini hari dan kegaduhan dalam kepala orang-orang yang sulit tidur akibat jenis kepedihan dalam dadanya. Kau melihat jarum-jarum hujan di bawah lampu yang bersandar di tembok itu. Kau merasakan serbuk-serbuk hujan menyentuh punggungmu dan beterbangan ke dalam kamarmu melalui jendela yang terbuka. Kau menikmati hujan bersama secangkir kopi dan matamu yang sulit kau pejamkan. Kau melihat betapa sepinya hujan dini hari bersama rautmukamu yang muram dan terlihat tua.

Siapa yang akan mengingat hujan dini hari? Orang-orang yang tertidur pulas, terbangun mendengar suaranya, akan merapatkan tubuhnya bersama selimut dan berharap hujan tak pernah berhenti hingga pagi datang. Itu saat di mana mereka berangkat kerja dan mencium aroma lempung tanah yang basah. Burung-burung gereja, bercericit rutin setiap pagi, akan mengeraskan suaranya sebab hujan telah membuat tubuh mereka kedinginan dan butuh suara yang jauh lebih nyaring guna memanaskan tubuh mereka.

Hujan dini hari ini hadir bersama suara langit dan bunyi kokok ayam yang terbangun karena tubuhnya menggigil. Rumah-rumah, gedung-gedung tinggi, jalan raya, terlihat mati dalam hujan dini hari. Siapa yang akan mengingat hujan di waktu begini?

Kau mungkin sedang membaca novel atau sebuah laporan atau sekelebat berita atau hal-hal lain yang membuat kau tetap terjaga selarut ini, sementara penjaga gedung telah lelap bersama mimpinya tentang kebahagiaan sederhana akan hidup tenang dan damai. Sementara kau mungkin melupakan hujan ini sesudah kau terjaga siang hari karena seseorang yang sulit tidur pelan-pelan kehilangan ingatan masa lalunya.

Kau mungkin mengingat sebuah novel yang kau baca saat hujan itu turun. Kau mungkin sedang menikmati tentang sejarah suatu keluarga di suatu kampung bernama Macondo dan, tepat saat matamu menyusuri monolog Ursula dengan Jose Arcadio Buendia, hujan itu hadir dengan suaranya yang riuh di luar jendela. Ursula mengatakan:

“Pandanglah ke rumah yang sekarang kosong; anak-anak kita telah berpencar ke seluruh dunia dan kita berdua kesepian lagi, sama dengan waktu permulaan kita menginjakkan kaki di sini.”

Begitulah, hujan turun tepat saat kau membaca parafrase itu. Dan satu tegukan kopi menuntaskan isi cangkir sepenuhnya. Sekarang kau menulis, lalu kau bosan, dan mata kau tak dapat dipejamkan meski sudah lelah. Apa yang akan kau lakukan? Dalam hujan dini hari; dalam kesunyian kamarmu yang cuma mengalirkan suara detak jam?

Dini hari ini hujan turun dan kau mencatatnya seakan-akan kau dapat menolong sesuatu yang mengalir dari dadamu untuk berhenti, untuk sedetik saja sesuatu yang mengisi kepalamu itu terlumat dan terkikis, hanyut dan mengabur bersama hujan.

Namun apa yang mengabur?

Serbuk-serbuk hujan terus menyusup masuk seperti sekumpulan arwah yang melayang dari jendela kamarmu. Kau enggan menutup jendela itu. Karena kau menyukai hujan. Kau menyukai hujan dalam bentuk yang paling kesepian di dunia.*

Iklan

5 pemikiran pada “Hujan Dini Hari

  1. Hujan dini hari, datang pada saat pikiran dan tubuh disibukkan dengan garis mati yang akan menghadang bersamaan dengan munculnya mentari. Bunyinya berirama memanggil-manggil untuk menari di alam mimpi. Menghanyutkan mata yang lelah dan otak yang mulai mengabur.
    Melayang-layang….Oh Indahnya dunia itu…
    Tapi kesadaran seakan menghentak dan menarikmu….tidaaak…
    *pergi ke kamar mandi, cuci muka*
    Hahaha….love the smell after rain 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s