Hutan Rahasia

Pak Tua itu bilang, Hutan Rahasia adalah penyembuh bagi ingatan buruk manusia.

Jika kamu selamat dari setiap celah-rahasia hutan, jika kamu dapat keluar dari jebakan-jebakan di dalam hutan, dari sulur-sulur, cabang-cabang pohon yang rapat, akar-akar yang menonjol dan kegelapan jantung hutan, maka kamu bisa menemukan diri kamu tetap utuh namun dengan sebagian ingatan yang menghilang. “Ingatan-ingatan buruk. Sebagian pikiran yang ingin kamu hapus,” katanya.

Kamu tetap menjadi sosok lama tapi memiliki kepala yang bersih dari pengalaman-pengalaman menyedihkan. Kepalamu begitu enteng karena bertumpu pada pengalaman-pengalaman bahagia. Singkat kata, Pak Tua itu menambahkan, “Kamu termasuk dari sedikit orang yang paling bahagia di dunia.”

“Tentu saja jika kamu selamat,” katanya, lagi.

Begitulah. Kau mendatangi Hutan Rahasia itu dengan perasaan cemas. Kau telah mempersiapkan segalanya dengan cermat. Lampu badai. Kompas. Botol minuman. Penutup kepala. Jaket ponco. Sepatu boot. Kaus tangan. Pisau lipat; segalanya. Dari bawaan terkecil sampai lembaran-lembaran kaus lengan panjang.

Kau juga akhirnya memutuskan membawa tenda. Mulanya ragu-ragu. Namun kau pergi ke sebuah toko peralatan mendaki. Penjaga toko, yang telah mengenalmu sesudah kau memborong perlengkapan itu, menyambutmu dengan nada melankolik: “Kamu tidak sedang merencanakan hidup di hutan selamanya, kan?”

Kau tertawa, tapi—dengan keraguan yang menyelimuti kepalamu, kau menjawab, “Mungkin… Ini akan menjadi perjalananku paling dikenang.”

Kenyataannya, kau takkan mungkin mengingat perjalanan ini. Dengarkanlah saja perkataan Pak Tua dari sebuah kampung Tanpa Nama di dekat Hutan Rahasia itu. Jika kamu beruntung, kamu akan melupakan peristiwa yang ironis dan menyesakkan.

Jadi kau pergi ke kampung itu dan semua alat komunikasi kau matikan dan kau taruh di dalam kamar pondokan. Pada mulanya itu adalah perjalanan yang menyenangkan. Kau menghabiskan tiga hari dalam kereta, dalam bus, di atas sepedemotor, berjalan puluhan kilo dan, pada akhirnya—sehabis kau meninggalkan jejakmu di belakang punggungmu, kau tak menemukan siapa-siapa kecuali Pak Tua itu. Dia sosok yang fiksional. Bagaimanapun kau hanya mengingat cambangnya yang putih-lebat dan sebagian wajahnya tertutup kegelapan. Kau juga merasakan keheningan Hutan Rahasia yang kian menakutkan sesudah petang merayap.

Kau tak berkata apapun. Bibir kau gemetar. Wajahmu, tak begitu dikenali oleh Pak Tua, saat itu sepucat singa betina di usia senja. Kau mencium nafas kematian dari dengus nafas Pak Tua.

“Banyak yang gagal,” Pak Tua itu mengatakan, “Kamu anak muda penakut. Itu sudah  terlihat dari barang-barang bawaanmu. Jarang sekali anak muda seperti kamu ke sini. Tapi untuk sampai ke sini, itu sudah membuat saya terkejut.”

Dia tertawa dan tawanya membangunkan Hutan Rahasia yang tertidur.

Di dalam hutan, angin yang menggetarkan pucuk-pucuk pohon menerbangkan suara gelap burung hantu, auman lapar macan kumbang, dengus ijuk, gagak yang menggaok, celoteh lincah monyet-monyet dan desis ular berbisa. (Kamu takkan mungkin mendengar desis ular dari kejauhan kecuali terhimpun dari desis ribuan ular).

Hal itulah yang dipikirkanmu. Ular-ular berbisa di dalam hutan. Kau tak peduli jika jadi santapan macam kumbang. Macan kumbang takkan melahap tubuh manusia kecuali tersesat lapar dan frustasi. Hutan telah memberikan segalanya. Tempat yang aman dan nyaman, untuk sementara, bagi kehidupan makhluk-makhluk paling perasa namun kita menyebutnya dengan kebuasan. Tapi jika boleh memilih, kau lebih menyukai cara mati yang paling brutal dan sederhana. Kau tak ingin mati dalam patukan sungut ular yang kemudian membelitmu, atau mati kejang-kejang dan melihat cairan transparan warna biru merembes pelan-pelan dari kaki hingga leher kemudian seluruh badanmu biru-pucat. “Tak akan!” Kau membatin.

Pak Tua itu terkekeh, seakan tahu apa yang kau pikirkan. “Kamu anak muda yang bodoh. Kamu membawa tenda? Buat apa, ha?!” Dia tertawa lepas.

“Dengarkan ini, Nak. Sekali hutan itu menelanmu, kamu sulit untuk kembali. Tenda dan barang-barang yang kamu bawa itu percuma saja.”

“Di sini,” katanya, menekan dadanya, “inilah yang menuntunmu. Hatimu.”

Ada jeda sebentar—sekilatan waktu yang terasa puluhan tahun lamanya; bayangan-bayangan masa lalumu bersatu. Kemudian Pak Tua itu melanjutkan, sedramatis mungkin:

“Lagipula cinta tak setolol itu!”

Kau berdiri kaku di hadapan Pak Tua. Kau tak bisa mencegah bualannya yang paling kasar. Kau hanya mendengarkan. Kau merasa berada jauh dalam jaraknya. Kau ingin menentangnya tapi kau malah menelan perkataanmu sendiri. Sedikit saja membuka bibirmu, bagaimanapun, Pak Tua itu sudah tahu semuanya. Kau adalah cerminan gelap dari Pak Tua. Kau tertelan bayanganmu sendiri.

Dan sebelum dia beranjak, dia menambahkan: “Lebih bagus memasuki hutan di pagi hari. Tapi pagi maupun petang, siang maupun malam, tidak ada bedanya dalam hutan, bukan? Dalam hutan, seluruhnya gelap. Seperti jiwaku. Nah, istirahatlah malam ini…”

Dan kau pun mengikuti perintahnya.

Namun kau tak bisa tertidur lelap. Kau tidur di sebuah rumah berdinding anyaman bambu, atap dari pelepah kelapa, lantai tanah. Ia satu-satunya rumah, atau pondok gubuk, di Kampung Tanpa Nama. Kenyataan bahwa kampung itu tak bernama, dan dihuni Pak Tua seorang, sudah cukup membuat kau memahami petunjuk mimpi dari ibumu.

Satu-satunya penerangan pondok itu, atau untuk seluruh kepekatan malam, berasal dari cahaya ratusan kunang-kunang. Kunang-kunang itu terbang rendah di atas rumputan liar, muncul dari dalam Hutan Rahasia, mengitari pohon-pohon yang memagari hutan dengan rapat. Cahaya kunang-kunang memasuki gubuk melalui celah-celah dinding bambu, menyinari ruangan, noktah-noktah cahayanya menyelimuti badanmu yang terbaring di atas ranjang rotan. Kau merasa seperti melayang bersama kunang-kunang.

Kunang-kunang, batinmu, mereka adalah wujud dari orang-orang mati. Berapa banyak orang yang sudah tertelan Hutan Rahasia? Seakan menjawabmu, hutan itu kembali bersuara. Gemanya bergemuruh dan memantul dalam gerak tak beraturan cahaya kunang-kunang, seolah-olah mereka juga terkejut bersama degup jantungmu.

Kau tak pernah tertidur lelap. Kau telah lupa caranya. Dalam malam-malammu yang kelam, kau hanya terbaring gelisah di atas ranjang di kamarmu yang nyaman, ribuan mil dari tempatmu kini berada, dibalut kesepian bunyi detak jam dan nafasmu. Saat kau terpejam, kelopak matamu bergerak-gerak seperti tanah yang bergetar oleh gempa, dan jauh di dalam pikiranmu, masa-lalumu muncul sejelas kenyataan. Bahkan kau bisa mengenali detail-detail paling murung pada masa kecilmu—yang takkan pernah kau ingat selagi terjaga. Lalu sosoknya muncul, selalu saja, di tengah cerita hidupmu—dalam mimpi apapun. Perempuan itu, Amelia, telah mencuri perjalanan mimpimu seperti serangkaian nada lagu.

Amelia yang tersenyum. Amelia yang berjalan ringan di atas jalan raya. Amelia yang menelengkan kepalanya. Amelia yang memainkan mulutnya dan mengembungkan pipinya. Amelia yang menopang dagunya. Amelia yang tertawa memerlihatkan giginya. Amelia yang utuh. Amelia yang menggamit lenganmu. Amelia yang mendekapmu dan menelanmu.

Sesaat, dalam tubuh terbaring telentang dengan kepala kosong, kau membiarkan burung-burung gereja berkicau melalui jendela kamarmu menjelang subuh. Kemudian desing kendaraan di jalan raya. Lantas nyanyian rutin kehidupan pagi. Kau berjalan tertidur di dalamnya; kau pergi ke belasan tempat, mengelilingi kota-kota dan mengenali puluhan nama tapi pikiranmu membeku. Kau habiskan waktu dengan membaca seolah-olah kau bisa melupakan Amelia dan berharap, dengan sedikit kasih sayang Tuhan, Ia menidurkanmu selamanya.

Namun dalam putaran keputusasaan itu, kau terperosok ke dalam wilayah berwarna ungu bernama déjàvu di mana para ahli nubuat mengatakan kita dapat berumur panjang jika sering mengalami déjàvu. Seperti itulah. Bahkan, pada satu periode yang diingat sebagai Musim Hujan Sepanjang Tahun, kau mengisi hidupmu dengan 2,160 hari tanpa tidur.

Pada akhirnya, kau membangun begitu cepat impian-impianmu yang teatrikal. Ibumu begitu girang saat dia tahu sebuah rumah, tempat dia melahirkanmu, berdiri dengan polesan baru secepat dia mengharapkanmu untuk berkeluarga. Itu adalah rumah yang kelak menjadi tempat peristirahatan orangtuamu dengan penyesalan-penyesalan yang buruk karena, sebagaimana impian setiap orangtua, mereka ingin menggendong cucu dari anakmu.

Begitulah. Pada akhir Musim Hujan Sepanjang Tahun, dibimbing firasat dari pamanmu sang peramal yang sudah tenang di alam baka bertahun-tahun lalu (semoga Tuhan mengampuninya), ibumu bermimpi tentang sebuah hutan tempat kau nantinya dapat tidur setenang batu. Syaratnya begitu mudah hingga nyaris tak bisa dipercaya: kau cuma perlu selamat dari hutan raya tersebut. Tak ada petunjuk berikutnya, selain jari pikiran ibumu merujuk ke suatu titik di lembah gunung paling megah di sayap selatan pulau. Itulah letak Hutan Rahasia.

Ibumu, dengan airmata pilu tertelan suara hujan di dalam kamarnya, mengatakan: “Hanya butuh keyakinan. Juga keberuntungan, Anakku.”

Kau menanggapinya dengan senyum pahit. Tapi ibumu kembali mengaduh: “Satu-satunya yang membuatku tenang di dalam Surga adalah kamu cepat menikah!”

Kau menangis di hadapannya. Suatu jenis kepedihan paling kekal hingga ibumu rela menukar sisa umurnya dengan kesedihanmu. “Perempuan itu… kamu harus melupakannya, Anakku.” Tapi tangismu kian kencang dan menggetarkan tembok-tembok rumah. “Ah… kamu tetap anak kecilku yang malang.” Dia memelukmu seperti dia memelukmu pertama kali saat kau dilahirkan.

Bahkan sekalipun kau dapat tertidur pulas namun, sesudah terjaga, kau bisa langsung menangis tiba-tiba; seakan-akan Amelia telah merasuki tubuhmu yang sulit kau kendalikan lagi.

Bersama kicauan sekelompok burung yang saling bersahutan, dalam desir suara daun-daun pohon, dihempaskan sekumpulan angin, kau sepenuhnya terbangun, beranjak dari ranjang rotan dan, sehabis melangkah keluar dari mulut pintu gubuk, dalam keterkejutanmu, kau melihat bayangan hutan raksasa paling gaib sampai-sampai pori-porimu terbuka seketika.

Kau berdiri di tepi atap pelepah dan kenyataan baru muncul di depanmu. Pondok yang kau tempati semalam berdiri di tengah-tengah padang rumput, terhubung jalan setapak menuju hutan. Di ujung jalan itu ada rongga sejenis pintu memasuki Hutan Rahasia, dibentuk dari jalinan cabang-cabang batang pohon yang melingkar dan bertaut seperti mulut gua: gelap, dalam dan abadi. Kau merasa semalam seakan bermimpi. Kau tak mengenali lokasimu. Bahkan percakapanmu dengan Pak Tua terasa seperti khayalan. Perjalananmu, seperti ucapan ibumu, adalah peta keyakinan dan keberuntungan. Tiada petunjuk selebihnya.

Kau tak menyadari bahwa Pak Tua itu telah menghilang.

Tiada jalan kembali. Digerakkan oleh naluri insomniamu, sisa keberanian, wajah muram sepucat daun kering, kau mengikat sweater hitam ke pinggangmu. Kau mengenakan kaus lengan panjang dan celana gunung dan sepatu boot; tali-talinya kau ikat dengan kencang. Kepalamu tertutup topi bundar. Sembari menyungging tas punggung, tubuhmu berjalan bak melayang di atas jalan setapak itu. Kini kau memasuki Hutan Rahasia.

Kecuali pakaian yang melekat di badanmu dan topi bundarmu, kelak semua barang bawaanmu akan kau tanggalkan satu demi satu di belakang jejakmu. Sebagaimana ucapan Pak Tua, semua itu adalah benteng pertahanan dari jiwamu yang rapuh.

Saat itulah kau sudah makin masuk ke dalam hutan. Pohon-pohon menjulang tinggi di atas lautan tanaman pakis. Cabang-cabang pohon menjulur, sulur-sulur menggantung, akar-akar mencuat. Bau busuk menyeruak dari timbunan daun-daun lembab. Semakin ke dalam, cabang-cabang pohon kian rapat. Semuanya benteng pohon. Langit tertutup kegelapan cabang-cabang pohon. Hutan kian sunyi. Di suatu tempat, sejenis suara aneh bergerak. Bunyi langkahmu yang bergesekan dengan daun-daun menutupi jalan setapak, sejalan kau memasuki lebih dalam Hutan Rahasia, terdengar begitu nyaring. Udara makin lama menjadi makin padat. Di dalam hutan, kau sendirian.

Waktu berhenti. Kompas yang kau bawa tak berfungsi. Itulah benda terakhir yang kau buang. Putus-asa, kau pun membiarkan nyamuk-nyamuk menggigit badanmu. Nyamuk-nyamuk yang menyimpan sekantung darahmu. Nyamuk-nyamuk yang mengandung darah orang-orang malang yang mengemasi nyawanya dengan kepedihan memasuki Hutan Rahasia.

Namun kau terus ikuti jalan setapak. Aneh bahwa semakin kau mendekati jantung Hutan Rahasia, jalan setapak itu makin melebar dan benderang. Seolah-olah ia penuntutmu. Kau tak menyadari telah diperdaya.

Ada cahaya yang kuat di depanmu, membesar seperi cahaya senja, yang menarikmu di batas jalan setapak di balik undakan tanah yang terjal. Cepat-cepat, dengan nafas memburu, kau berjalan gegas. Kau tersandung oleh secabang pohon yang mencuat di bawah kakimu karena pandanganmu mengarah lurus ke depan. Kau jatuh. Kau berdiri. Lalu kau pun merangkak dengan sisa tenagamu. Di sanalah, melalui undakan tanah, kau melihat puluhan, atau ratusan, orang-orang malang.

Masing-masing dari mereka berdiri di depan batang pohon. Mereka tahu kau datang. Mereka menengokmu. Mereka tersenyum. Lalu mereka kembali dalam posisi sebelumnya. Kepala menghadap batang pohon, begitu dekat sampai tubuh mereka seakan bersatu dengan kulit pohon, mulut mereka bergerak-gerak pada lubang pohon. Mereka membisikkan segala rahasia kepedihan ke dalam ceruk pohon. Kau tak tahu bahwa salah satu dari mereka adalah aku. Aku memperhatikanmu.

Aku melihatmu dalam kemuraman yang sama seperti kali pertama diriku mendatangi Hutan Rahasia ini. Aku melihat wajahmu terkejut seperti dulu diriku mengetahui akhir perjalanan ini. Aku bisa mencium kesedihanmu dan nama perempuan itu. Aku melihatmu menengok ke belakang tapi, dengan rautmukamu yang tolol, sejatinya tak ada jalan setapak.

Kau tahu akhirnya jalan setapak itu muncul dari mimpimu. Kau sudah tersesat sejak memutuskan perjalanan ini. Perbedaannya adalah kau ke sini dari mimpi ibumu. Mimpi yang malang.

Tak ada yang selamat. Pak Tua itu berbohong. Lagipula tak ada Pak Tua. Ia juga muncul dari mimpi. Kita punya mimpi. Masing-masing manusia memiliki mimpi. Namun, kau tahu, sebagaimana diriku, mimpimu berkembang untuk menghidupkan sebatang pohon kesedihan.  Seperti diriku, langkahmu tertarik menuju wilayah kami, suatu dataran lautan pakis di sesela batang-batang pohon. Dan, di setiap pohon, yang memiliki ceruk gelap menghujam pokok tubuhnya, merasuki kulit dan urat-uratnya, ia akan menyimpan segala kepedihan dari rahasia kita.

Maka, sembari bibirmu mendekati lubang pohon dan kedua tanganmu menangkupnya, kau membisikkan rahasia-rahasia hidupmu yang paling menyedihkan, yang paling kesepian, yang seketika mampu membuka lapisan langit mencurahkan hujan sepanjang tahun.

Hidupmu dan impianmu diserahkan pada pohon pilihanmu. Di situlah, pada setiap malam, kau akan menyusut, sementara pohon itu menjulang tinggi di atas kepalamu—kau menyusut menjadi kunang-kunang. Karena begitu banyaknya orang-orang malang seperti kamu, sebagaimana diriku, cahaya kunang-kunang itu begitu kuat dan bersatu membentuk lingkaran berkas cahaya bak cahaya senja. Kau pun terbang bersama kami.

Di sanalah, jauh di atas pucuk-pucuk dahan pohon, seekor kunang-kunang milikmu terbang dari dalam Hutan Rahasia.*

bertumpu pada pengalaman-pengalamanmu yang bahagia. Kamu memiliki kepala yang
Iklan

Satu pemikiran pada “Hutan Rahasia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s