Tak Ada Lelaki Bersayap Pagi Ini

DI SUATU PAGI, ada seorang laki-laki yang tinggal di lantai tiga, terbangun dengan sayap hitam di punggungnya. Tanpa dia sadar, dia sudah melesat terbang.

Dia menuju suatu daerah yang berjarak belasan mil dari kamarnya, sebuah tempat yang terdengar bak gua. Dia lantas mencuri lihat seorang perempuan yang berjalan memandang langit yang mengarah ke sebuah gedung perkantoran. Saking terkesima, dia tak menyadari sinar cerah pagi itu melelehkan sayapnya, seperti mentega di atas penggorengan, berselimut keringat sederas hujan. Dia merasakan seperti ada batu pemberat terikat di kakinya, mengandung gravitasi, membuat tubuhnya makin mendekati tanah. Pada detik yang menentukan, dia pun jatuh sesederhana manusia tergelincir dari ketinggian. Dia jatuh tepat di atas pangkuan perempuan itu yang membuka tangannya seakan-akan telah memersiapkan sebuah keranjang tidur. Itu terlihat sesederhana bunda mendekap bayinya.

Begitulah yang terjadi pagi itu tanpa disadari jutaan manusia di dunia ini, bahkan oleh orang-orang di daerah itu yang terkenal paling peduli sedunia.

Perempuan itu lantas membawa laki-laki itu, seseorang yang memiliki kerutan di seputaran mata dari wajahnya yang polos serta kelopak mata yang memberat dari keterkejutan paginya yang asing. Kehilangan banyak cairan tubuh membuat berat badan lelaki itu seenteng udara.

Perempuan itu membawanya ke sebuah tempat makan siap saji bergambar Kolonel Sanders. Dia memberinya minum dari botol plastik. Dia mengulur-ngulur waktu hingga lelaki itu dapat sejenak mengendalikan degup jantungnya. Dia menengok jam pada layar ponselnya dan tahu bawah sejumlah menit telah berlalu dan melihat bayangannya sedang duduk di belakang meja kantor sembari memugar mata di depan layar komputer.

Hei, apa yang terjadi pada kamu? Itulah yang ingin perempuan itu tanyakan, tapi dia malah berucap, “Apakah kita bermimpi?”

Lelaki itu masih terdiam serupa patung. Dia memandang lurus ke luar jendela kaca dan menyapu pandangan ke jalan raya. Kemudian dia memiringkan kepala padanya. Dia menjawab, “Ya, kita sedang bermimpi,” padahal dalam batinnya dia berujar, Tidak, kita tidak sedang bermimpi.

“Ini bayanganku,” ujarnya. “Aku sendiri sekarang sedang tertidur lelap di kamarku yang sepi.”

Maka mereka percaya bahwa keduanya adalah bayangan dari diri mereka dan, karena mereka bayangan, mereka pun percaya untuk punya alasan menghabiskan waktu sepanjang hari. Karena mereka bayangan, keduanya juga percaya dunia di sekitar mereka terbentuk dari bayangan seperti cermin. Namun mereka dapat mendengar desah daun pepohonan di tepi trotoar, suara seekor anjing di sudut sebuah gang, langkah kesepian seekor kucing di atas halaman ubin parkir. Mereka juga merasakan desis pendingan udara ruangan. Mereka melihat bayangan seekor kupu-kupu di tembok.

Itu adalah mimpi yang dibentuk Dewa Tidur dengan detail seorang arsitektur. Mereka diciptakan dari impian reruntuhan bangunan keinginan dan tempat mereka berada, sejauh apa yang mereka lakukan dan inginkan, merupakan citra tempelan guna menopang mereka untuk senyaman mungkin tinggal di dalamnya. Pendeknya, citra ruang dan benda-benda itu dibuat untuk mendukung keperluan sederhana bagi mereka, semisal sebuah botol air minum, atau kupu-kupu yang terbang di dekat tembok. Persisnya, dunia impian seputar mereka adalah salinan nyata yang dibentuk sehidup mungkin.

Saat lelaki itu menggigit jari telunjuknya, di bawah pandangan perempuan itu, dia merasakan sakit yang sama seperti kita menggigit jari di kehidupan sesudah terjaga. “Hei, apa yang kamu lakukan?! Jangan konyol!” kata si perempuan. “Aku ingin membuktikan bahwa ini bukan mimpi dan yah…, ini ternyata sakit tapi tidak sesakit kenyataan.”

Begitulah. Mereka akhirnya menemukan topik pembicaraan, dari yang menarik beranjak semakin menarik dan mengalir menjadi sangat menarik. Mereka sedikit menyinggung obrolan tentang kehidupan sehari-hari—sesuatu yang akan membuat mereka kehilangan semangat bercerita; tapi mereka bicara tentang planet-planet di luar angkasa dan manusia-manusia bersayap yang terbangun seperti lelaki itu lalu melesat sejenak dari rutinitas. “Para manusia jenis ini nantinya akan tinggal di suatu planet yang memang menjadi tempat berkumpul orang-orang yang tidak dapat mengendalikan perasaan,” kata lelaki itu.

Mereka juga menemukan waktu luang untuk mengatakan segala hal yang takkan dikatakan oleh mereka selain mereka berdua. Pada akhir pertemuan itu, mereka juga bisa menikmati bayangan kupu-kupu berlatar langit senja dan semua hal yang telah diciptakan oleh kebaikan Dewa Tidur untuk hari itu.

Mereka berhenti di tempat si lelaki itu jatuh. “Sini… sini…,” katanya, menggamit lengan perempuan itu, ”Kamu tahu di dekatku sekarang ada pohon raksasa tinggi sekali?”

Perempuan itu melebarkan bolamatanya. Ada kilasan senyum dari sudut bibirnya.

“Pohon ini tumbuh dari sayapku yang meleleh tadi pagi. Tinggi sekali sampai pucuknya setinggi langit. Dan daun-daunnya sangat lebat!”

“Lalu?”

“Yang mengejutkan,” ujar lelaki itu seraya memandang ke atas ke suatu titik tak terlihat, “daun-daun pohon ini berwarna pink. Daun-daun pink ini berguguran dan daerah ini tertutupi salju daun berwarna pink. Semua terlihat pink.”

Perempuan itu berseri-seri, memerlihatkan giginya. Bolamatanya bersinar.

“Lihat, di dekat kakimu dan kakiku, kita sedang menginjak daun-daun warna pink!”

Seperti mengikuti permainan cerita anak-anak, perempuan itu menengok ke bawah, lalu menegakkan kepalanya dan memandang lurus ke wajah lelaki itu. Dia melihat senyum kanak-kanak dalam raut muka orang dewasa dari lelaki itu.

Lelaki itu menyukai cara perempuan itu memandangnya. Senyumnya kian mengembang, berjatuhan bersama derai salju daun pink. Senyum itu memantul-mantul di setiap helai daun dan kemudian daun-daun ilusif itu membawa senyum lelaki itu yang sangat nyata.

Sebelum berpisah, perempuan itu berkata:

Waktu itu suatu hakim yang sangat tegas ya! Dia tidak dapat dibantah, tidak dapat diulang, bahkan tidak dapat dipercepat. Waktu meninggalkan kenangan, bukan? Kenangan tersimpan rapi dalam peti bawah sadar yang suatu saat bisa dibuka tiba-tiba jika kau tidak kehilangan kuncinya. Lalu ketika kenangan itu dibuka, ada rasa aneh yang menjalar sebentar dalam darahmu, seperti ada uap dingin menguar.

Lelaki itu menjawab, mengernyitkan dahi, ”Waktu seperti kebanyakan hakim di Indonesia.”

Saat itulah Hakim Waktu mengetukkan palu menandakan sudah waktunya Dewa Tidur terbangun.*

Iklan

2 pemikiran pada “Tak Ada Lelaki Bersayap Pagi Ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s