Nothing is simple

SAYA LAGI seneng dengerin Caetano Veloso. Ceritanya, saya menonton [lagi] Talk To Her, sebuah film drama dari Spanyol karya Pedro Almodovar. Di dalam film itu ada adegan di mana Veloso memainkan lagu Cucurrucucú Paloma secara akustik. Lagu itu juga yang saya cari-cari layaknya saya mencari sekerat kecil daging jari tengah yang terpotong bertahun-tahun lalu.

Kemudian saya mengalami masa menghabiskan waktu menonton film-film drama. Untunglah di sini saya tak perlu membelinya. Saya cuma main kepada seorang kolega dan membuka-buka koleksi film dia. Saya mendapatkan film tersebut tapi juga jari tengah saya tetap saja tak kembali utuh. Seperti itulah.

Terimakasih pada situs-situs pengunduh lagu gratis, betapapun saya jarang melakukannya. Itu tergantung mood. Belakangan saya melakukan kesibukan dengan mood yang tebal. Well, saya tak hanya mendengar soundtrack film itu; akhirnya pula saya mendengar Burn it Blue; soundtrack film Frida, yang dinyanyikan Veloso; serta lagu Nirvana Come As You Are yang digubah dengan “se-Veloso” mungkin. (Kebetulan, saya tak bisa menjelaskan dengan baik soal mengkomposisi lagu atau beragam detail nada lagu–saya hanya penikmat musik).

Film Talk To Her adalah kisah hubungan yang gaib sekaligus puitis. Kedua pria yang kemudian mengetahui hubungannnya akan gagal. Yang satu sebagai perawat, dan merasa pasiennya yang koma selama 4 tahun adalah pacarnya, atau bahkan istrinya. Yang satu lagi jurnalis-cum-travel writer yang pacaran dengan perempuan petarung banteng, kemudian suatu kali diseruduk banteng, koma, dan–dengan lebih realistis, ia memilih mundur. Keduanya punya alasan berbeda untuk perkara sama: cinta, si senyawa yg rumit itu. Well, saya menonton film ini pertama kali di Jogja selagi menyuntuki film-film festival. Saya juga takkan mengulas kisah film ini. Ada banyak review ciamik tentang film tersebut. Salah satunya artikel Rosemary Bechler, editor openDemocracy ini.

Apa yang bikin saya terus menonton film tersebut adalah lapisan simbol, atau semiotika, yang kaya dari Almodovar.  Ucapan di bagian akhir film ini adalah “nothing is simple,” kata penari balet, dan ditekankan lagi, “nothing is simple.” Yaps, tidak ada hal yang sederhana. Ketidaktahuan justru membuat dunia dalam galaksi pikiran kita menjadi sederhana. Seperti ketika saya tidak tahu, saat bermain petak umpat, saking buru-buru, pintu rumah tertutup kencang dan saya lupa jari tengah lengan kanan masih menyentuh kusen pintu. Lalu sekerat kecil ujung jari tersebut terpotong. Beberapa saat kemudian, teman saya teriak dan saya sadar ada darah terus menetes dari bagian tubuh saya.

Saya ingat, 17 tahun kemudian, bahwa saya menangis kencang sekali.*

Iklan

2 pemikiran pada “Nothing is simple

  1. Hiyyy endingnya horor!! Btw, awalnya menerjemahkan’ nothing is simple’ itu sebagai ‘tidak ada hal yg sederhana’ alias segala sesuatu di dunia ini rumit. Rupanya gw perlu belajar grammar hehe

    1. Eh, kayaknya yang bener kamu deh, Mi. Hehehe. Sudah aku revisi. Stupid me! Grammar gue kacaubalau kayak kapal pecah diterjang tsunami. Tumben mulai mampir-mampir blog lagi? 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s