Tasrif Arifin

MBAK TINAH, kakak perempuan saya satu-satunya, mengabarkan Kak Tasrif sakit. Sakitnya lain. Ia minta saya pulang. Katanya, “Ka Tasrif sakit tapi bukan sakit yang biasa dia ngamuk-ngamuk kayak orang gila semalam ini kami ndak tidur begitupun Ka Tasrif. Dek, bisakah pulang dulu?”

Sakit. Ngamuk-ngamuk seperti orang gila. Pulang. Kata-kata ini seketika bikin saya mengurungkan tidur. Ada yang seperti mengganjal mata saya untuk tetap terjaga. Saya beranjak dari kamar kemudian menuju pesawa telepon kantor. Saya coba telepon Mbak Tinah tapi ia tak angkat. Saya coba sekali lagi tapi nadanya sibuk. Saya baca pesannya. Kali ini lebih teliti: Sent 14-feb-2007. 04:45:05. Rupanya, ini sudah pagi.

Ini pagi di hari orang-orang merayakan ‘valentine day’. Ini hari kasih sayang. Pesan Mbak Tinah sama sekali bukanlah ‘kasih sayang’. Ini kasih dalam bentuk lain. Kasih seorang adik yang mencemaskan kakaknya yang sakit. Kasih kemurungan. Pesan itu tak ada titik maupun koma. Saya merasakan kepanikan yang tergambar jelas dalam isi pesan tersebut.

Namun, akhirnya saya bisa tidur. Saat terjaga “Hari Kasih Sayang”-pun sudah terang.

Lalu masuk pesan berikut dari Mbak Tinah. Nada yang sama. Namun kali ini lebih jelas. Tulisnya, “Dek, sekarang Ka Tasrif dipasung. Dari kemarin ndak mau makan & minum. Bantu dengan do’a ya, Dek…”

“Ya, saya pasti bantu dengan doa. Saya tidak bisa pulang. Masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan. Maaf ya. Salam buat Bapak dan Emak.”

Saya ingin menjawabnya kira-kira begitu. Tapi saya lagi tak punya pulsa. Saya belum membelinya. Saya harap jawaban pesan itu, yang cuma saya simpan dalam hati dan gumaman, terbawa angin Tuhan dan tersampaikan. Saya rasa Tuhan sedang baik pada hari kasih sayang.

Saya telepon Mas Nur. Di ujung sana saya dengar bising kendaraan bermotor. Suara kesibukan di jalan raya. Suara yang amat berisik.

Mas Nur bilang sekarang ada di Kandanghaur. Ia sama Emak. Ia sedang mencari “orang pintar” di Losarang. Mas Nur juga membenarkan Kak Tasrif dipasung. Teman-teman ayah yang memasungnya. Katanya, saya tenang saja. “Kalau sibuk tak perlu pulang. Tak apa-apa. Bantu saja dengan doa.”

Saya merasakan suara terburu-buru Mas Nur. Situasinya tak tepat, memang. Namun saya mendengar keterangannya dengan jelas seakan-akan saya sedang berbicara sendiri.

Saya mengucapkan terimakasih dan titip salam buat Emak.

Teman-teman kantor lagi sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Saya merasa angin kegelisahan mendadak muncul. Tak enak menulis. Tak enak mengobrol. Lalu ada suara dari ponsel. Suaranya begitu riang. Saya dengar juga suara perempuan mengucapkan hari valentine. Saya mendengar suara kekasih saya mengucapkan ‘happy valentine’.

Lalu Mbak Tinah mengirimkan pesan dan kemudian saya meneleponnya. Saya dengar suara anak perempuan, si Alma kecil, di antara kata-kata bundanya. Ada juga bibir gemetar dari mulut Mbak Tinah. Ada dada yang sesak. Ada sesenggukan. Suara-suara yang tersembunyi di balik ucapan tapi terasa merayap ke dalam kulit saya, berjalan-jalan bersama aliran darah.

“Kak Tasrif, gimana?” Akhinya saya bertanya.

“Ia dipasung. Nggak mau makan. Ia di kamar depan. Ia nggak tidur. Tangan dan kakinya diikat. Mas Nur tadi datang. Ayah di sawah. Ada Kak Wali juga. Bapaknya Alma juga pulang. Aa Midi nggak pulang. Kak Wali ada di sini. Mas Nur sudah pulang.

Kak Tasrif belum makan… Dipasung. Kan… bisa lumpuh. Semalam kumat-kumat. Mecahin semuanya. TV pecah. Kita ndak tidur… Itu nggak mau makan…”

Entah kenapa, aku terdiam. Mba Tinah terdiam. Kami saling diam.

Namun, pelan-pelan, perkembangan kondisi Kak Tasrif makin membaik.

Setidaknya, seperti dalam pesan Mbak Tinah selepas maghrib, Kak Tasrif mau makan dan minum. “Alhamdulillah,” tulisnya, “Terus doakan ya…”

Lalu Kak Tasrif tak lagi dipasung, “Dek, sekarang Ka Tasrif sudah dilepas pasungannya Maghrib tadi, minta mandi terus shalat & ngaji. Sekarang sedang tidur.”

Saya senang mendengar ini.

Mas Nur, kakak sulung saya, selagi dalam perjalanan kembali ke Cirebon, bicara dengan saya melalui telepon. Dia bolang, Kak Tasrif “anak yang sangat berperasaan.” Tidak hanya soal diri dia dan keluarga, tapi juga terhadap teman-teman. Ia marah jika ada teman yang disakiti.

Mas Nur sudah mengatakan agar Kak Tasrif jangan pergi ke Jakarta. Ia sakit sesudah pulang dari Jakarta. Ia stres. Kerjaan susah. “Nah, ini kayaknya puncak stres dia. Situasinya ”sudah kelepasan.” Kak Tasrif tak kuat menanggung semua beban.

Namun ada orang bilang “ada jin sangat jahat” merasuki Kak Tasrif. Jin itu bersemayam kuat. “Tadi sama Emak ke Losarang. Kita ke lokasi padepokan suku dayak Indramayu. Pas ke sana orangnya lagi nggak ada. Lagi pergi.” Ada yang bilang, kata Mas Nur, “beberapa orang yang sakit seperti Kak Tasrif bisa sembuh setelah dari sana. Emak lagi di sana. Nanti Mas Nur kontak juga Mbak Tinah. Mas Nur juga pasti kabarin kamu.

”Jangan khawatir,” kata Mas Nur, menutup pembicaraan.

KAK TASRIF dalam gambaran pikiran saya adalah sosok kekar seperti ayah. Ia juga baik hati seperti ayah. Mereka memakai otot-ototnya untuk kerja dan, dalam bentuk tertentu, untuk menolong kebaikan bersama. Ayah sering menggali lumpur hitam di dasar kali kampung agar tak dangkal. Ia menggalinya dari mulut jembatan hingga hilir sawah. Kak Tasrif sering mengangkat beban berat macam mengisi air bersih untuk keperluan air minum, bertumpu di pundaknya, bolak-balik dari pompa air ke ruang dapur.

Namun, Kak Tasrif punya kelainan. Ia cacat fisik. Tangannya lumpuh sebelah. Tersampir di lengan kiri.

Ayah dan Emak pernah cerita, Kak Tasrif terjatuh dari tempat tidur. Usianya masih bayi. “Kami tak tahu apa-apa. Kami karungi dia. Katanya, ini akan sembuh. Dia hampir saja mati. Seperti Abdurrahman, kakaknya dan kakakmu, yang meninggal pas bayi. Untunglah dia selamat. Tapi tangannya cacat.”

Ada masa-masa saya sewaktu di rumah mengenai Kak Tasrif. Saat saya kecil, kami sering main bersama. Ada Taslim alias Kinclung. Ada Tasdik alias Emplod. Juga Tarsim, Gojat dan sebagainya. Mereka sekarang bisa kau jumpai di Cilincing, Jakarta Utara. Mereka nelayan. Tapi bukan nelayan ikan. Mereka mencari uang di pinggir laut. Perahu-perahu kayu nan kecil milik mereka akan saling merapat ke kapal tongkang sebelum membuang sauh di Tanjung Priok. Mereka bertransaksi. Mereka menyiapkan uang sementara orang-orang kapal memberi mereka beragam barang: tambang, oli mentah, solar, benda-benda elektronik dan sebagainya.

A Midi juga di sana. Sudah sepuluh tahun. Ia kakak saya nomor tiga. Dulu ia buruh pabrik otomotif. Ia lulusan SMA. Ia datang ke ibukota lalu pulang setelah krisis moneter menghajar Jakarta. Tak ada pesangon. Sebagian besar pabrikan motor tutup. Pengangguran berlipat. A Midi salah satunya. Ia stres di rumah. Akhirnya ia memutuskan ke Cilincing. Ikut bersama teman sekampung.

Kak Wali juga kemudian di sana. Ini kakak saya nomor dua. Lalu Kak Tasrif, kakak saya nomor empat, ikut juga. Pelan-pelan hampir semua pemuda di kampung menumpuk ke sana. Ada persaingan. Cari-cari celah dengan para polisi. Bekingan. Penadah-penadah. Terakhir, kata Mbak Tinah, A Midi kena tipu puluhan juta.

Bulan Februari 2007 ombak lagi dahsyat. Perahu-perahu tertambat malas di pancangan muara. Harus butuh keberanian berlipat guna mengarungi laut. Juga perkara banjir di Jakarta di mana Cilincing termasuk wilayah terparah terpapar banjir. Delapan tahun lalu, salah satu teman karib saya bernama Darya, tenggelam di laut Cilincing saat cuaca seperti sekarang ini. Itulah karib saya satu-satunya yang menghubungkan saya dengan kampung halaman.

Emak khawatir setelah itu. Tiap Kak Tasrif mau berangkat, Emak kerap mengingatkan nasib Darya. Kak Tasrif bukannya tak mengindahkan. Ia bosan sendirian di rumah. Semua teman dia di Cilincing. Bagaimana harus mematuhi pesan orangtua di tengah usia dewasa? Bagaimana perasaan anak muda usia tigapuluhan saat hanya menghabiskan sepanjang waktu di rumah?

Cara lain, Kak Tasrif harus rajin berobat. Mas Nur minta Kak Tasrif tiap bulan ke Cirebon. Ada pengobatan melalu teman Mas Nur. “Orangnya Islamis dan sangat beda dengan orang pintar  yang cuma percaya pada sesembahan,” kata Mas Nur.

Kak Tasrif mengikuti saran ini. Saya kira cukup berjalan baik. Saat saya pulang Lebaran 2006, Kak Tasrif bilang baru saja main ke Cirebon. Ia menunjukkan obat-obatan kepada saya. Ia rajin minum dengan teratur.

Tentu saja, saya selalu mengkhawatirkan kondisi Kak Tasrif. Saya kerap mendapati dia mendadak kejang-kejang. Ototnya sangat kuat. Tubuhnya kaku. Kedua kakinya keras. Setidaknya perlu empat orang untuk memegang tubuhnya jika ia tengah kambuh. Ada cairan berbusa yang terus-menerus mengalir dari mulutnya.

Saya kira Kak Tasrif terserang epilespi. Kondisi sarafnya tak bagus. Ia susah bicara. Kalau ngomong selalu bersuara keras. Struktur pikirannya terganggu. Lebih-lebih struktur perasaannya.

Namun, ada topik pembicaraan yang sangat ia sukai dan hafal diluar kepala. Kak Tasrif gemar sekali dengan sepakbola. Ia akan terus dan terus dan terus bicara sepakbola. Apalagi jika saya pulang ke rumah. Saya juga selalu bicara sepakbola untuk salam pertama saya kepada dia. Kadang-kadang, saat saya diam, Kak Tasrif sendiri yang langsung menimbrung berita sepakbola sebagai awal pembicaraan kami.

Saya tak tahu bagaimana kondisi lampu-dalam-kepala dia. Sepakbola dan kasih sayang seorang anak, seorang kakak kepada kedua adiknya, seorang teman, sepertinya mengisi semua saraf-sarafnya. Sepakbola, dengan kata lain, adalah kunci utama memasuki jantungnya.

Kami sama-sama menyukai tim sepakbola AC Milan. Belakangan, setelah Shevchenko pindah ke Chelsea, kami menyukai tim dari London itu. Hal sama kami pakai untuk Gabriel Batistuta dan Argentina. Kami memiliki kesamaan dalam menyukai tim dan pemain sepakbola.

Kak Tasrif pemain bek tengah. Tendangannya keras. Ia bisa menendang bola hingga wilayah lawan dari mistar gawang. Musuh-musuhnya takut lebih dulu saat Kak Tasrif mulai menendang. Saat pinalti, serahkan saja padanya. Tendangannya cukup seperti pukulan knock-out ke perut lawan.

Ia juga kadang diminta sebagai wasit. Ia pun kerap meramaikan acara Agustusan dengan lomba sepakbola anak-anak kampung dari berbagai dusun. Hadiahnya ia minta dari banyak orang: pak haji si ini, lurah si itu, teman-temannya, kadang juga dari hasil berjudi.

Yang ada dalam pikiran Kak Tasrif, mungkin sepakbola bisa bikin anak-anak kampung bersemangat. Ia suka melihat anak-anak berebut bola. Saat gol, teriakannya membangunkan beruang yang tertidur dalam tubuhnya.

Kak Tasrif merawat kostum sepakbola di kampung. Ia mencuci. Ia melipat, menumpuknya di atas almari Emak, merawatnya dengan telaten. Ini bikin beberapa pemuda kampung memiliki perasaan sayang kepada Kak Tasrif. Sewaktu  saya pulang, ia bilang ingin punya kostum Barcelona.

Kak Tasrif kadang-kadang menelepon. Ia menanyakan kabar dan kami mengobrol singkat. Ia bicara dengan bahasa ‘sunda Parean’ sementara saya agak lupa dengan bahasa ibu sendiri. Pada saat begitu, saya tahu, ia merindukan adiknya, meski tak sepatah pun ia mengucapkan ‘rindu’.

Saya jarang pulang ke rumah meski saya kini di Jakarta. Jarak Jakarta-kandanghaur jauh lebih dekat ketimbang saat saya masih di Jogja. Paling butuh 3-4 jam. Saat saya pulang, biasanya Kak Tasrif langsung menghampiri sedari saya masih berjalan di mulut gang. Ia segera melihat saya. Ia berlari-lari dan semua orang melihat larinya yang amat kencang.

Ia segera mengambil tas saya. Kemudian kami berbincang dan berbincang sampai pintu rumah. Ia jalan dengan langkah gegas. Seolah-olah ingin mengabarkan kepada Ayah dan Emak bahwa si bungsu, si anak hilang, pulang ke rumah. Saya, tentunya, selalu mencium tangan Kak Tasrif lebih dulu sebelum orangtua saya.

Kadang-kadang, saya jadi kikuk sendiri.*

*post-script: dimuat ulang dari blogspot [yg sudah saya matikan],  2007.

Iklan

Satu pemikiran pada “Tasrif Arifin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s