Yang Hilang dan Yang Tersimpan

BELAKANGAN ini saya sering memikirkan koleksi buku saya meski tergolong sedikit. Gara-garanya, saya membaca satu novel tipis Haruki Murakami, Dengarlah Nyanyian Angin. Isi novel tersebut nggak ada hubungan dengan cerita buku namun saya mengingat Murakami dengan secuil kisah kehilangan.

Mulanya, novel Norwegian Wood yang saya baca sejak di Jogja. Saya tergolong telat mengenal Murakami. Saya baca novel yang kini difilmkan itu dalam perasaan jatuh cinta pada pandangan pertama. Namun, entah bagaimana (sekarang saya sering lupa), novel tersebut nggak terselip dalam rak buku di Jogja.

Saya menitipkan buku-buku di Jogja kepada seorang kolega. Ia rajin membaca dan menyimpan rapi koleksi buku, memindahkan rak dari bekas kamar kost saya ke kamar dia, lalu menyusun kategori buku. Barisan novel ya novel. Satu pengarang ya sederet satu pengarang. Buku sejarah ya buku sejarah. Ia perawat buku telaten, gemar mengkliping, dan pekerjaan tersebut tanpa cela melalui tangannya.

Kemana buku Murakami tersebut? Saya mengingat-ingat. Petunjuknya dimulai saat saya nggak punya tempat tetap. Saya pernah dua tahun (atau lebih?) nggak punya ruang privat. Dalam artian, saya nggak memiliki pintu pemisah. Saya nggak memiliki sendiri rahasia-rahasia kecil. Saya pernah tinggal di kampus. Saya pernah menumpang tidur di kamar teman. Saya pernah hanya bisa menangis di jalan raya, karena di sanalah tempat saya bisa menangis, dengan mengemudikan sepedamotor dan tertutup helm; sendirian.

Namun, meski keseharian susah, saya tetap berusaha membeli buku, minimal sebulan sekali. Inisiatif pertama sejak SMA di Cirebon. Bertahun-tahun kemudian saya lebih suka memendam persoalan (atau membiarkan waktu berjalan) dengan membaca.

Suatu kali dalam fase hidup saya, pada 2005-2006, saya pernah bolak-balik Jogja-Jakarta. Dalam perjalanan kereta, saya sesekali membawa buku. Ketika saya keluar dari tempat kerja yang lama, gelombang buku yang saya bawa itu entah ada di mana. Saya dulu tidur di kantor. Buku-buku itu sudah saya lupakan, menunggu waktu untuk mencuri perhatian saya, hingga saya mengingatnya lagi sekarang.

Yaps, saya akhirnya tak hanya mengingat Murakami tapi juga Hemingway, Pamuk, pengarang-pengarang yang saya lupa dari buku-buku yang hilang itu. Perihal Orhan Pamuk, saya berniat punya koleksi terjemahan karya dia. Saya ingat saya pernah beli My Name is Red di tokobuku Gunung Agung; juga hilang. Saya juga ingat pernah beli Fiesta, novel kurun pertama Ernest Hemingway di mana pengarang Amerika ini selalu membawa pengaruhnya kepada saya setiap kali membaca karyanya. Sekarang saya ingat lagi bahwa buku itu juga hilang. Dan beberapa buku lain.

Saya mengingatnya dengan cukup tebal, berselang-seling antara penyesalan dan sikap sembrono saya, yang nggak bisa merawat dan menjaga warisan diri sendiri.

Saya menulis ini sembari mengingat buku-buku yang saya beli sejak saya di Jakarta; sederetan buku yang, saking sifat impulsif saya, seketika saya ambil tanpa menimbang kondisi pendapatan. Sampai-sampai anggaran belanja buku saya mencapai digit satu, yang nyaris membuat saya terhenyak saat pulang sembari mengingat jumlah uang yang tersisa di ATM, dan apa yang pernah saya lakukan bertahun-tahun lalu di Jogja ketika hidup saya seringkali telengas.

Saya belum menghitung yang hilang dari daftar buku yang dipinjam teman. Betapapun kadang-kadang saya punya ingatan tajam (terutama saat mood memburuk) dan saya kini punya kebiasaan menulis list apa-yang-dibeli, list apa-yang-dipinjam, list belanja-bulan-ini. Seiring saya gampang lupa, seperti belakangan ini, saya kini mempraktikkan satu pedoman list apa-yang-harus-dikerjakan-hari-ini.

Saya mengingat buku-buku, yang disusun di atas meja kerja dalam kamar kost di Jakarta, dan yang disusun rapi oleh teman saya di Jogjakarta. Saya ingin menyatukan kedua jarak keterpisahan ini. Saya juga harus menyisakan waktu, yang cukup banyak bagi saya (mungkin sepanjang hidup saya kelak), untuk menyelesaikan buku-buku yang sudah saya beli tapi belum sempat dibaca; seiring waktu malah makin banyak daftar tersebut.

Saya juga tak ingin buku-buku ini tak cepat kotor. Tak lekas lecet. Tak gampang lecek. Seperti saya menjaga berat badan saya, satu-satunya yang saya ketahui dari cara serampangan saya merawat kesehatan—yang penuh gula, kopi, rokok, insomnia, namun selalu siaga saat lapar menjelang. Karena lapar adalah kesadaran manusia yang paling arkaik dalam melindungi nasibnya. Rasa lapar yang mendorong kita melakukan sesuatu, yang menguji batas kemampuan manusia sejauh yang mereka bisa lakukan. Dengan apapun.

Kelak, ketika saya tua (semoga Tuhan memberi umur panjang bagi saya), buku-buku inilah, yang saya simpan sejak sekarang, akan menemani saya melewati waktu senja. Inilah satu dari sedikit kepastian di dunia saya: buku-buku itu yang menjadi teman saya, betapapun saya tak tahu nasib saya sendiri hendak melangkah ke mana dan berakhir di mana.

Benda-benda, kata Gabriel Marquez, dapat berbicara dan memiliki sejarahnya sendiri. Dan manusia—yang memiliki kuasa atas tubuhnya, bahkan dunianya—toh pada akhirnya renta dan kembali ke tanah. Benda-benda lah, buku-buku lah, yang akan dikenang untuk mengingat kita.*

Iklan

3 pemikiran pada “Yang Hilang dan Yang Tersimpan

  1. “enak ya disini tidak ada gunung Fuji dan seven eleven” yang dengan semena-mena kita endonesiakan “enak ya disini tidak ada gedung tinggi dan indomaret”.

    itu yang paling kuingat jika mendengar Murakami.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s