Percakapan-percakapan yang Terbakar

1/

Kamu bilang kita punya rumah di sebuah dusun. Setiap malam ada suara kodok yang mampir di telinga kita melalui jendela rumah yang dibiarkan terbuka. Ada suara air, bergemericik di celah bebatuan di suatu sungai di belakang rumah kita. Aku menjadi ibu pekerja. Kamu tetap sebagai bapak rumahtangga.

Ada angin jahat, saya bilang, saya takut. Tubuh saya tak sesehat kamu. Saya dilahirkan dengan bentuk ranting bambu, menjulang dan tak membesar. Tubuh saya menyimpan duri. Saya melukaimu.

2/

Peduli setan, katamu, aku menerimamu sebagai yang jahat dan yang baik, yang pemarah dan yang penyabar. Aku satu-satunya yang mengenalkanmu kepada dunia yang memelihara kebencian sekaligus kedamaian itu. Saat aku mengenalmu, usiamu duapuluhan tapi kamu seperti bocah kecil yang menuntut lolipop dalam belasan tahun. Sejak itu, aku tahu tangan-tangan tuhan bekerja untuk mempertemukan kita.

3/

Saya kehilangan cinta. Saya ingin membeli keberuntungan jika ada yang mau menjualnya. Saya mencela bayangan tubuh saya seperti saya membenci politik. Saya teringat ibu-ibu yang kehilangan anak dan suaminya di suatu masa ketika teror menyusup di bawah ranjang. Saya menyaksikan darah dan airmata menetes dari setiap lubang tubuh seseorang yang tertembak di suatu jalan tak bernama.

Ada duri dalam tubuh saya.

4/

Semua kehidupan memiliki duri, katamu. Terimalah. Kamu harus memaafkan dirimu.*

lt.3/r.01/palmerah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s