Rumput Liar

AKHIRNYA kita duduk di peron itu. Kita membelakangi rel kereta dimana, dalam menit-menit kemudian, rangkaian gerbong bergerak di atasnya lantas membawamu meloncat dari tempat ini. Kamu mengenakan kaos cerah lengan panjang, sehelai pashmina menggantung di lehermu. Koper coklat tergeletak manis di sampingmu. Aku bawa botol minuman, kutaruh di samping, dan setelah membiarkan kantuk berjatuhan, aku bergegas memesan secangkir kopi. Mataku bisa sedikit membelalak. Tangan kita bersentuhan.

Akhirnya ada cerita di antara kita. Selalu ada cerita. Ini bukan akhir dan juga bukan sekali ini kita bercerita di sebuah stasiun. Kamu mengingat kejadian itu: bertahun-tahun lalu saat aku pura-pura hendak pulang, kamu menangis, dan agar terlihat meyakinkan, aku membeli celana gunung berpotongan pendek karena sebetulnya tak ada apapun dalam tasku kecuali sebuah novel. Lalu kita menghabiskan malam di stasiun. Itu sebuah cerita masa lalu yang kamu ingat. Kini aku tak tahu apa yang kamu pikirkan. Aku mengingat peristiwa enam bulan lalu. Dalam kunjungan aku ke rumah orangtuamu, sekali itu aku melihat ayahmu banyak bicara dalam keadaan marah.

“Jangan cerita itu lagi,” bisikmu.

“Aku cerita karena sekarang ini aku sudah lapang menceritakannya…”

Akhirnya, ada cerita-cerita masa lalu kita dimana aku dan kamu tak ingin mendengarnya. Lalu aku teringat tentang impian-impian kita dan, sesungguhnya, dalam tiga tahun belakangan ini kita masih bisa berjalan berkat impian itu.

“Aku mau saja naik kereta ekonomi,” katamu, “asal ada kamu.”

“Sudah bukan waktunya. Kita tak pernah muda lagi…”

Aku mengingat saat kita berlari-lari demi memerebutkan kursi, memintasi rel setelah petugas minta penumpang naik dulu ke kereta. Gerbong gelap dan mengalirlah ratusan penumpang memadati setiap sela kosong dan udara mendadak padat betapapun seluruh jendela kereta terbuka. Dalam 6-8 jam kemudian kita banjir keringat. Itu pengalaman menyenangkan. Kita selamanya berjiwa petualang.

Terakhir kamu ke sini, kamu bertolak dengan kereta berpendingin udara.

Pertemuan yang singkat dan kamu bilang, “sebetulnya aku ingin memperbaiki…”

Terlalu cepat, kenyataannya, sisiku yang jahat dan yang baik bertarung lebih gegas dari yang kuperkirakan lalu aku membiarkan kamu tanpa kepastian. Lantas kita naik taksi menuju stasiun. Kamu pulang dengan tersedu. Aku kembali ke kamarku yang sepi itu dengan berjalan kaki, tanpa peduli dengan apapun, lurus saja seperti bayangan tanpa kendali. Itu enam bulan yang lalu.

Aku memintamu untuk tak bercerita kejadian itu.

Sekarang ada banyak hal, ada banyak impian yang bersemayam dalam udara percakapan kita. Pada pagi itu kamu bertanya, “ceritakan sesuatu kepadaku?”

“Kamu pergi ke kantor,” kataku, memulai cerita. Kamu mengirim pesan. Aku jawab, aku masih tidur.

“HA? Wake Up, hei Dad Man!”

Aku balas kemudian dengan emoticon senyum. Dan berbalas-balaslah pesan itu melalui jempol kita seakan-akan tak ada waktu untuk hari esok. “Aku pura-pura masih tidur,” kataku, membayangkan diri telah berbenah, merapikan kamar, mencuci gelas-gelas kotor, membilas dan menjemur pakaian, membalas email, menulis beberapa halaman. Lantas, menjelang sore, kamu kirim pesan, “bisa jemput aku?”

“Aku masih tidur,” jawabku bohong, “semalaman begadang menyelesaikan deadline. Kamu bisa minta diantar Andi atau siapapun teman kantor kamu.”

“Andi?” Kamu tersenyum dengan rautmuka penasaran.

“Ya, itu nama teman kantormu. Atau kita bisa menamakannya Timbul. Atau Tarzan. Apapun.”

“Lalu?” katamu.

Lalu aku sudah tiba di kantor kamu. Duduk di sebuah kursi di kafetaria. Aku sms kamu, “aku sudah di kantor. Kamu dimana?”

Tepat di depan pintu itu aku melihatmu. Kafetaria ada di samping kantor. Aku memanggilmu. Kamu mendekat dan semakin mendekat, tertawa masam juga senang seperti rumput liar.

“Karena esok libur, kita memilih untuk menghabiskan malam di jalanan Jakarta. Itu kemewahan bagimu. Hari-hari luang. Waktu libur,” aku menutup cerita.

Kenyataannya itu tak terjadi.

Kamu menatapku sedang memperhatikan langit di luar jendela. Ada sesuatu yang jatuh di sudut mataku. Begitulah.

“Apa yang kamu pikirkan? Apa yang berubah dariku?” Aku minta kamu giliran cerita.

“Kamu terasa jauh…” Ada jeda lama. Dan melanjutkan, “Hanya itu. kamu terasa jauh… Aku berharap, dalam keadaan sesibuk apapun, kamu kirim pesan kepadaku, apapun…”

Tapi itu tak terjadi. Begitulah.

Kereta terlambat 30 menit tapi tak menahanmu untuk tetap di sini. Kamu berdiri di bordes. Ada sebuah danau di bolamatamu. Kereta melaju. Kita bertemu dan berpisah lagi.

Iklan

Satu pemikiran pada “Rumput Liar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s