Harimau Sumatra

KARENA malam di Jakarta tak pernah sama dan perasaan mengabut seperti fabel kuno. Karena kau cuma duduk di halte itu, menunggu bus yang sebetulnya telah kau lewatkan yang akan kau sesali satu jam kemudian saat bus berikutnya muncul. Di seberang sana cahaya lampu kamar dari sebuah hotel mengerjap tetap namun kemudian, saat kau pandangi lagi disela kebosanan, lebih sedikit kamar terang, tertutup gorden jendela. Selintas lalu kau masih di ujung jembatan itu dan melihat dirimu sendiri dalam bayangan tiga dimensi tengah berjalan menaiki anak tangga. Tepat saat itu suara Bob Dylan mengalun parau: There’s not even room enough to be anywhere. It’s not dark yet but it’s gettin’ there.

Dan kau minum kapucino dari sebuah botol milik temanmu. Waktu mengalir rutin meski kau terlalu cepat menghabiskan kopi tersebut. Segalanya serba terlambat untuk mengambil keputusan tapi waktu masih saja bergerak lurus dan tanggal dari arlojimu berganti hari. Dalam kepalamu, waktu bergerak melingkar, meloncat mundur ke bulan kemarin dan kemarin lantas maju hingga 10 bulan berikutnya. Dalam kepalamu ada banyak yang ingin kau ceritakan. Di dalam perutmu ada kupu-kupu beterbangan yang terperangkap di luar musim. Kedua kakimu diselonjorkan lantas ditekuk dan diselonjorkan kembali. Angin malam berkelebat dan membulat bersama deru mobil, cepat dan cepat dan cepat; dan segalanya, dari semua hal yang kini kau tuliskan, adalah kecamuk pikiran tak berguna.

Sebuah taksi berhenti di bahu jalan. Seorang supir bertanya arah tujuanmu. Lalu kepalamu bekerja seperti siap dengan daftar pertanyaan profesional. Tetapi sebelum pembicaraan itu menghangat, si supir sudah melaju lebih dulu sewaktu ada penumpang yang habis turun dari sebuah mobil travel. Itulah pembicaraan kau dengan orang asing dan kau tak bicara lagi, lebih seperti halte yang setia mendengarkan suara yang melintas, balon obrolan di dekatnya, atau cukup menjadi teman sunyi bagi seseorang seperti dirimu yang jarang mendatanginya.

Karena malam di Jakarta tak pernah sama meski kau melewati jalan yang sama. Dan sudut matamu menangkap bunga-bunga api dari para pekerja malam yang merangkai rangka sebuah gedung. Matamu mengabur karena retina telah letih seharian bekerja betapapun kau memikirkan serangkaian kalimat dari perasaan yang memburuk begitu tiba-tiba. Bob Dylan sudah beralih ke lagu lain tapi kau masih mengingat selarik ‘Not Dark Yet’: Behind every beautiful thing there’s been some kind of pain.

Hujan akhirnya turun di belakang punggungmu saat kau telah menginjak tempat rutin itu: gedung lima lantai tempat kau tinggal di dalamnya di antara puluhan orang yang tak kamu kenal. Sementara ada banyak catatan dari kepalamu yang tak sepenuhnya kamu tangkap; meleset dari cerita yang ingin kamu tuntaskan. “Ini adalah kilatan-kilatan,” katamu, “ini seperti mencium bau hujan selagi tubuhku tertidur.”

Kau ingin terlelap dan pandanganmu menumbuk pulau Sumatera selagi menengok peta di tembok kamarmu. Di sanalah kau melihat 1.200 Harimau Sumatra berkeliaran di sekililing pulau, sebelum akhirnya menyusut 40 tahun kemudian, yang kini tinggal 400an ekor.

“I was born here and I’ll die here against my will. I know it looks like I’m movin’ but I’m standin’ still.” — Bob Dylan.*

Iklan

Satu pemikiran pada “Harimau Sumatra

  1. ka’ fahri, ini berti. gimana kabarnya??
    inget gak ya ma aku… pasti gak inget. he..he..
    kalau inget pelatihan PJMTL di Teknokra yang nulis feature deskription tentang ” GURU KEHIDUPAN”
    semoga lancar untuk mka fahri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s