Respiro

Pengakuan Pasquale

TAK ada yang tahu bahwa aku, Pasquale, yang merencanakan ini. Aku yang menyembunyikan Mama sebelum Papa membawanya untuk diobati ke kota Milan pagi itu. Aku yang membuang baju Mama ke laut agar Papa mengira Mama bunuh diri. Aku jatuh pingsan setelah melihat Papa berdoa di tepi pantai, seraya membaca kidung kematian.

Mereka menggotongku ke rumah. Aku terbaring lemah tak sadarkan diri di kasur tetapi mulutku terus bergumam, “ayam… ayam… ayam..,” disaksikan Filippo dan Marinella bersama pacarnya. Filippo dan pacar Marinella berselisih sejak awal tapi permusuhan itu sementara diakhiri saat mereka menangkap seekor ayam di pekarangan rumah. Sewaktu Filippo meletakkan ayam hidup-hidup itu ke atas dadaku, aku tergeragap bangun dan tanganku seketika meraih ayam tersebut. Di bawah keheranan mereka, aku segera meluncur dengan vespa menuju gua persembunyian Mama di tepi laut.

Itulah saat Mama tahu dirinya telah mati, menamparku sambil mengunyah potongan-potongan daging ayam dengan lahap. “Kenapa tidak ada yang mencariku lagi?! Dimana Pietro, Papamu?”

“Mama telah mati!” ucapku seraya melihat wajah polos Mama. “Mama telah menjadi Santa. Papa dan penduduk kampung berkabung untuk Mama.”

Dan Mama menamparku. Wajahku menantangnya.

Aku tak merasa sakit namun bingung atas situasi yang telah kadung ini. Meski aku anak badung, dan Papa sering memukulku, aku lebih tahu jiwa Mamaku yang rapuh, Mamaku yang malang, lebih dari apa yang diketahui Papa dan penduduk kampung. Aku tahu untuk apa Mama akhirnya membuka pintu bangunan kubus di tepi laut itu, tempat anjing anjing-anjing gila berkumpul. Sekumpulan anjing itu akhirnya terbebaskan, beramai-ramai menyalak mengaliri jalan kampung, gang-gang sempit rumah, untuk selanjutnya para pria membunuh mereka—ya, semua anjing di kampungku—dengan menembakinya. Petaka itu berujung rencana bahwa Mama harus dibawa ke sebuah klinik di kota Milan.

Mereka, bahkan Papa, terus menganggap Mama, Mamaku yang malang, sebagai perempun tak waras.

Pengakuan Grazia

NAMAKU Grazia. Aku berambut pirang, ibu dari dua malaikat paling kusayang dan putri termanis. Aku istri nelayan. Di kampung tepi laut Mediterania ini, kami adalah istri nelayan, nasib kaum perempuan di sini. Marinella anakku mungkin akan menjadi istri seorang polisi. Tapi apa yang kamu ketahui dariku?

Pietro belum pulang dari pelayarannya. Musim panas membuatku berleha-leha di halaman rumah. aku bernyanyi bersama penyanyi favoritku, Patty Pravo, saat lagu di radio memutar “La Bombala.”

Tu mi fai girar
tu mi fai girar
come fossi una bambola
poi mi butti giù
poi mi butti giù
come fossi una bambola
Non ti accorgi quando piango
quando sono triste e stanca tu
pensi solo per te

Si bungsu Filippo kuajak bernyanyi. Marinella, seperti kurang merasakan gairah musim panas, cuma menyaksikan kita bersanandung ria. Lantas lelakiku yang paling kusayang, Pasquale anakku, tiba berdiri di luar tembok pagar, melihat kami duduk malas-malasan, dengan perhatian terhadapku bak seorang pengawas.

Dia berteriak, “Mama, Mama, apa yang Mama lakukan?”

“Ah, anakku yang cepat tumbuh besar, kemari, ayo nyanyi bersama!”

Dia tak meladeniku. Terbawa irama menyenangkan, aku pun pindah menuju kamar, berbaring, mendekap radio, lalu menyelimuti diri, tak ingin diganggu dan minta Pasquale menutup pintu.

Saat Pietro datang dari rimba laut di atas kapal menuju dermaga, aku dan kedua malaikatku sedang berenang di tepi pantai. Saat itu aku telah membuka daster, menyingkap pakaian dalam, telanjang bulat. Kedua malaikatku teriak, “Mama… Mama… apa yang Mama lakukan?!”

“Ah, kedua anakku yang polos, kemari, ayo bermain bersama ombak!” Aku menyelam, aku berjemur di atas air laut, tubuhku tersiram matahari. Tubuhku bercahaya.

Pietro di atas anjungan kapal melihatku. Aku gembira menyambut kedatangannya. Aku teriak, “Pietro! Pietro! Hei, aku di sini!” Namun Pietro memalingkan muka. Sebagian tubuhku yang telanjang tertutup air laut. Aku terus teriak, “Pietro! Pietro!” kalau-kalau dia tak mendengarku.

“Mama! Mama!” Filippo dan Pasquale lebih dulu menepi, memanggilku. Aku berpaling, menghampiri mereka, Pasquale berkata dengan marah, “Apa yang Mama lakukan?!”

“Pietro, dia sudah pulang!” Aku gembira, sekali lagi melihat kapalnya, tapi telah menghilang di balik karang, hanya sekumpulan camar beterbangan di atas tiang-tiang kapal itu yang bergerak menuju muara. “Lihat! Pietro sudah pulang!” Aku mengenakan pakaian.

Di dermaga, Pietro sungkan melihatku. Pasquale minta aku pulang. “Mama bikin malu Papa kepada teman-teman sekapal. Papa malu melihat Mama telanjang.”

Aku pulang dan Pietro tiba saat makan malam.

Malam itu Pasquale dapat hukuman. Pasquale telah mencederai sebelah mata teman sebaya dari kelompok musuhnya. Orangtua anak itu datang dan minta tanggung-jawab. Disaksikan anak itu dan orangtuanya, Pietro mengambil tali dan minta mereka memecut punggung Pasquale. Mereka menolak. Peitro yang melakukannya. Seutas tali tambang menimpa kulit punggung telanjang anakku tersayang, sementara aku teriak di dapur, menutup telinga, tak ingin mendengar dan melihat. Saat Pietro masuk ke dapur dan mendekatiku, seketika aku melangkah mundur, membuka lemari dan melempar piring-piring, berjatuhan pecah di atas lantai, meja makan…

Peitro segera menyambar tanganku, mendekapku, mulutku teriak sekencang mungkin, tubuhku bergetar. Peitro berbisik, “Maafkan aku, sayang…. Maafkan aku…”

Namun, dengan cara Tuhan kudus mengirimkan kebajikan kepada manusia yang lemah—bagaimanapun, aku tak suka dengan cara Pietro menyelesaikan masalah. Malam buta, dia membangunkan Pasquale, menyuruh dia mengambil seekor anjing di kamarku. Dengan mini pick-up, Pietro membawa anjing yang kusayang itu ke bunker kubus di tepi laut. Disaksikan Pasquale, anjing itu dimasukkan ke dalam bangunan yang kubenci itu, bersama sekumpulan anjing lain yang sudah sekian lama menempati hunian tertutup tersebut.

“Anjing itu sudah gila!” kata Pietro kepada Pasquale, yang dijawab anakku dengan kecemasan.

Esok pagi, aku mencari-cari anjing itu, bersama pasangannya, memanggil-manggil, menepuk pahaku sebagai tanda panggilan agar segera muncul di dekatku. Namun ia tak segera datang. Aku cemas. Bibirku kelu. Akhirnya, Pasquale membawaku ke gedung tersebut.

Itu gedung yang sebagian bangunan atasnya mencuat dari permukaan tanah, tempat mereka menyekap semua anjing yang dianggap gila. Pasquale tak berkata apapun saat aku membuka pintu gedung, bahkan dia menolongku. Dan, saat semuanya tak dapat dicegah, seperti matahari yang terbit dari timur, anjing-anjing itu segera berhamburan menuju kampung kami.

Kaum pria menenteng senjata, mengokang peluru, menembaki anjing-anjing yang masuk ke dalam rumah, pinggiran gang, semua tempat kosong—mengawasinya di atap gedung. Anjing-anjing itu tewas seketika seperti festival perburuan. Tembok-tembok rumah, jalan berlorong, lantai dan halaman rumah dipenuhi dengan bercak darah. Ibu-ibu dan anak-anak membersihkan genangan darah; air berwarna merah mengalir menuju selokan…

Mereka memandangku dengan mata penuh selidik saat aku melewatinya. Mereka berbisik: “Perempuan gila, bikin repot saja, sana pergi jauh!”

Nenek Pietro dan semua penduduk kampung setuju atas suatu saran membawaku ke sebuah klinik di kota Milan. Terang saja aku menolak. Aku berontak. Pietro menenangkanku. Namun dia tak tahu bahwa aku sudah punya rencana esok pagi.

Pagi itu, sebelum semua kehidupan berjalan sebagaimana Tuhan Kudus menciptakan alam, aku sudah kabur dari rumah, menenteng tas, menuju entah—menghindari rencana itu. Di tengah jalan, dari arah belakang, Pasquale mendekatiku dengan vespa; segera sesudahnya aku telah terlindung di bawah gua karang, dengan pandangan terbuka menuju laut luas, angin menderu, ombak berdesing; segalanya terasa aman dan tenang…

Sekarang aku bebas.

Pengakuan Pietro

Mereka mengatakan istriku paling manis, paling kusayang, Graziaku, sudah sulit dikendalikan. Dan karena alasan itu, mereka minta Grazia dibawa ke pusat medis di kota, bahkan nenekku menyarankan hal sama. Demi Tuhan Yesus yang mulia (semoga Dia mendengarku), aku mencintai Grazia sebesar aku mencintai laut sebelum aku dilahirkan. Tetapi, bagaimanapun, kau sulit menghindari permintaan mereka setelah petaka itu, menyaksikan amarah penduduk kampung terhadap Graziaku atas anjing-anjing yang berhamburan di tengah-tengah perkampungan.

Memang begitulah. Aku sendiri tak tahu bagaimana Grazia bisa tiba-tiba liar dengan pikirannya, tanpa kendali olehku, marah sesuka hati—singkatnya, dia perempuan yang manis yang penuh spontanitas. Bagaimana aku mengatakannya? Ya, mungkin, mereka benar. Garziaku sudah gila.

Untuk alasan sederhana bahwa seekor anjing dari dua ekor yang dia pelihara itu sudah terpapar penyakit gila, maka aku minta Pasquale membawanya menuju gedung bunker itu. Ya, itu gedung seadanya tapi bukan berarti kami tak menyayangi anjing-anjing gila itu. Ada penjaga yang mengawasi mereka dan, atas rezeki yang diberikan Tuhan Kudus sebesar kehidupan yang menciptakan kelahiran moyang kami di tepi laut ini, kami pun sesekali memberi makan anjing-anjing itu melalui celah tembok; tanpa masuk ke gedung tersebut. Kau tahu, salakan anjing itu terus bergema, mengalir lewat angin laut; berkah makhluk hidup yang sekarat.

Aku hanya nelayan biasa, ditempa oleh asin garam laut, tubuhku padat bak karang laut, tanganku terbentuk oleh jaring-jaring ikan, oleh matahari berwarna tembaga. Aku mencintai ketiga anakku. Marinella mengerjakan semuanya—sesekali Graziaku membantunya. Filippo yang memiliki jiwa spontan seperti Mama-nya, dan Pasquale—dengan muka sendu warisan dariku—adalah anak yang patuh, meski harimau di dalam tubuhnya—dengan mata bak elang—terkadang tak terduga muncul; nyaris seperti diriku.

Ya, benar. Aku telah kehilangan Grazia pagi itu. Dia menghilang sebelum aku membawanya ke kota Milan. Dia menghilang begitu saja.

Bagaimana aku mengatakannya? Aku telah mencari Grazia dengan upaya sekuat aku mencintainya. Besarnya cinta terhadap seseorang akan terasa saat kau kehilangan dia. Aku berteriak melawan suara ombak di atas batu-batu karang, sekuat tenaga dari mulutku yang telah merasakan manisnya ciuman Graziaku, Graziaku yang entah kemana. Teman-temanku mencarinya. Para istri mencarinya. Setengah frustasi, setengah marah atas ketololanku, sedalam aku mencintainya, aku lemas seketika saat mereka menunjuk ke sebuah titik di bawah bukit karang. Ya, benda itu, pakaian Grazia, daster cerah bercorak bunga mengambang di permukaan laut, tanpa pemberat, melayang menembus tubuhku; seketika aku bergetar tak percaya.

Aku menyumpahi Grazia sebanyak aku menciumnya, dengan pakaiannya yang kini kugenggam seakan-akan aku memeluknya erat sekali—seperti cinta Adam dan Eva. Aku menangis pelan, tapi bolamatku telah pecah bersama tubuh Grazia yang mungkin tengah dicabik-cabik ikan pemangsa. Aku bersimpuh di atas pasir pantai, menyaksikan hamparan laut dan berharap—semoga Tuhan mendengarku—Grazia kembali, muncul dari dalam laut; menghampiriku dan aku berjanji takkan lagi melakukan ketololan. Namun harapanku adalah kematian tanpa batu nisan. Di kedalaman laut, aku menyelam dengan tanganku membawa Patung Maria sang Perawan, menuju koral, meletakkannya dengan sesunyi mungkin, seperti kabar sunyi kematian Graziaku yang nekat bunuh diri ke dalam haribaan laut Mediterania.

Itulah masa balas dendam. Aku minum berbotol-botol alkohol sebanyak aku mereguk cinta terhadap Grazia yang, dari rahimnya, telah melahirkan ketiga anakku. Semuanya berkabung. Ketololanku yang menciptakannya.

Sampai aku dibangunkan Filippo saat aku terbaring mabuk, katanya, aku harus terjaga untuk festival tahunan, saatnya mencari hewan liar di celah-celah batu karang. Aku mengikuti ajakan Filippo dan semua penduduk merayakannya. Di tepi laut itu, selagi tubuhku terikat tambang, menuruni bukit karang, aku melihat seseorang, dengan pakaian seperti Graziaku, tengah berenang saat pandangaku melongok ke bawah. Aku teriak, “Turunkan aku! Turunku aku! Grazia ada di bawah! Grazia! Grazia!”

Namun mereka justru menarikku. Mereka mengatakan aku telah gila, berhalusinasi, hingga aku, sekali lagi, duduk terpekur di bawah kaki teman-temanku, yang lantas memapahku, sementara aku ingin melongok ke bawah, ke Graziaku, di bawah karang itu. Apakah jiwanya telah bebas sampai dia berenang di siang yang terik ini—jiwa perempuan yang menolak kekangan sebagaimana jiwa laut yang bebas?

Grazia.. Grazia…” Aku merintih.

Kau pun tahu, cinta takkan kekal jika tak diuji oleh kematian lebih dulu. Itulah saat Grazia muncul, atau aku yang melihatnya ketika kami, penduduk kampung, merayakan festival menolak bala dengan membakar api unggun di tepi laut; semua barang yang sudah tak terpakai dilempar ke kobaran api yang menyala-nyala itu. Lidah api menerangi separuh pantai dan, saat itulah, aku melihat seseorang tengah berenang menuju tepian; aku bergumam, apakah itu Grazia… Grazia… Grazia..

Ingin memastikan, aku pun menuju ke tengah laut; orang-orang melihatku sampai kemudian mereka mengikuti, terus dan terus hingga lebih dekat ke titik dimana aku meraih Grazia. Aku mendapati tubuh Grazia yang telah kehabisan tenaga, nyaris tenggelam, segera aku mendekapnya untuk kupapah menuju permukaan air laut. Orang-orang telah mengelilinginya. Kaki kami bergerak-gerak di bawah laut seperti sirip ikan.

Ya, Grazia telah kembali. Tuhan mendengarkan doaku. Dia dihidupkan oleh keajaiban tangan kasih Maria sang Perawan. Satu mukjizat telah lahir dalam diri Graziaku, Grazia yang kudus.

Kesaksian Pasquale

Akulah yang paling gembira melihat Mama muncul tengah berenang selagi kami merayakan festival itu. Aku mengikuti Papa berenang menuju Mama, sebagaimana kaum pria lain, dan memapah Mama. Mama, digerakkan pikiran yang hanya Mama yang tahu, memutuskan berenang menyusuri setengah bukit karang untuk kemudian, selagi aku memendam rasa bersalah yang begitu besar kepada semua penduduk kampung, Mama muncul seperti paus tersesat yang ditemukan Papa. Namun mereka tetap tak tahu bahwa aku yang merencanakan itu. Mungkin esoknya Mama akan memberitahu, dan kabar itu menyebar memadati udara bebas laut ke seluruh penduduk, dan mungkin Papa akan memukulku lagi karena menanggung malu.

Namun aku tak peduli. Cukup dengan melihat Mama kembali aku sudah bahagia. Setidaknya mereka tak merenggut Mama dariku untuk dibawa ke klinik pengobatan di kota Milan. Aku mencintai Mama sebesar Mama melahirkan dan merawatku.*

— Disadur dari film Respiro karya sutradara Italia, Emanuele Crialese, rilis 2002.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s