In the Mood for Love

SAYA MENONTON lagi In the Mood for Love (2000), sebuah karya puitis Wong Kar-wai hanya karena alasan sederhana: sutradara kelahiran Shanghai itu berulangtahun pada 17 Juli lalu. Saya belum pernah menulis tentang film-film Kar-wai meski saya mengoleksinya secara lengkap, dalam satu boks berisi 11 film, dan saya jatuh cinta pada In the Mood for Love. Ia film kedua Kar-wai yang sinambung secara tematik dari yang sebelumnya Days of Being Wild (1990) dan yang terakhir 2046 (2004). Film-film ini bercerita tentang tugur ingatan yang mengandung sifat tiranik. Nantinya, saya menemukan frase “lubang rahasia” dari narasi sinema tersebut.

Saya takkan bercerita banyak tentang In the Mood for Love, sebuah kisah asmara non-konvensional tentang Su Li-zhen (Maggie Cheung) dan Chow Mo-wan (Tony Leung), sama-sama telah menikah, pindah secara kebetulan di waktu bersamaan ke sebuah apartemen di Hong Kong tahun 60-an yang ramai dan padat. Su yang bekerja sebagai sekretaris dan Chow, seorang editor koran, sering ditinggal pasangannya ke Jepang untuk tugas kerja dan, selagi mereka sendiri itu, mereka menemukan momen-momen kebetulan: berpapasan di sebuah lorong saat hendak makan mie, memiliki ketertarikan yang sama terhadap cerita silat, dan—pada akhirnya—mereka lebih sering menghabiskan waktu bersama ketimbang dengan pasangannya.

Keduanya terjebak dalam perasaan yang tumbuh membesar, saling tertarik tapi salah satu dari mereka tak bisa memutuskan, meski hal itu mula-mula hanya dari sebuah hubungan platonik. Merasa marah dan frustasi, mereka membiarkan hubungan itu berakhir tak menentu. Su tetap memertahankan pernikahan. Chow–yang sempat pindah kantor ke Singapura–menemukan dirinya sendirian dengan perasaan yang tetap. Dia pergi ke Cambodia dan membisikkan rahasianya ke sebuah lubang di dinding berlumut Angkor Wat, menutupnya dengan rumput, dan membiarkan rahasianya tertinggal selamanya. Itu menjadi penutup dari film ini.

Namun, jika Anda terbiasa dengan kisah cinta linear, Anda tak mungkin menemukannya dalam film Mood for Love, sebagaimana karya-karya sinema Wong Kar-wai yang lain. Di tangan Kar-wai, sinema bukan hanya sekadar kisah, melainkan juga narasi yang liris, musik yang mengisi seluruh ruang yang mengikuti mood, serta sinematografi yang puitis. Ada narasi yang tampil utuh sejenak sebagai strategi peralihan cerita, barangkali dalam teater sebagai permainan babak, dan pergantian bab dalam sebuah novel. Karena itu kecenderungan literer dalam sinema Kar-wai terlihat tebal.

Saya tak bagus mendefiniskan karya sinematik Kar-wai, barangkali karena saya terlanjur mencintainya dan, untuk semesta yang baik, saya berterimakasih untuk hal itu. Anyway, saya menunggu karya terbaru dia yang kabarnya akan dirilis tahun ini.*

Iklan

3 pemikiran pada “In the Mood for Love

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s