Hüzün

DALAM Istanbul, memoar Orhan Pamuk yang terbit 2005—50 tahun setelah memoar Claude Lévi-Strauss, dibahas satu bab mengenai hüzün. Ini kata dalam bahasa Turki, artinya kemurungan. Dalam sejarah katanya, hüzün berakar dalam bahasa Arab. Dalam Alquran ia disebut lima kali. Nabi Muhammad menyebut “sanatul huzn” atau “tahun kemurungan” saat tahun kehilangan istrinya Khadijah dan pamannya Abu Thalib.

Robert Burton, filosof Inggris abad 16, dalam buku The Anatomy of Melancholy (1621), memandang hüzün sebagai perkara personal. Si penyendiri ini percaya makin kita hüzün maka makin membuka jalan menuju kebahagiaan. Dengan kata lain, kian kita dirundung murung kian kita menemukan esensi hüzün. Burton mengatakan: Semua kesenangan lain itu hampa, tak ada yang semanis kemurungan.

Sebaliknya Al-Kindi, filosof Islam klasik menempatkan hüzün sebagai persoalan bersama, yang dibayangkan sebagai perkara umat, jamaah, masyarakat beriman. Hüzün Al-Kindi bukan mengasosiasikan sebagai kemurungan seseorang yang kesepian, tapi “suasana hati gelap” komunal. Begitupun Ibnu Sina, filosof-cum-dokter, memandang hüzün dalam arti luas yang sama. Dalam salah satu pengobatannya, dia mendiagnosis seseorang yang menderita cinta untuk menyebutkan nama kekasih sembari memegang nadinya.

Pertautan antara kedua pandangan berbeda ini terletak pada cara mengatasi hüzün. Mereka menganjurkan pembacanya untuk mencari pertolongan lewat akal budi, bertawakal, berbuat kebajikan, disiplin dan puasa. Pendek kata penawar racun hitam ini, atau nafsu hitam, melalui logika. Hüzün yang akrab dengan melankoli, pada dasarnya mengacu pada akar kata yang bertolak dari teori cairan tubuh, pertama kali muncul pada zaman Aristoteles, yakni melan khole, artinya air empedu hitam. Sebagaimana lidah tak bertulang, kita mencecap empedu sebagai rasa pahit tak tertanggungkan.

Kelak, melalui Tristes Tropiques, memoar perjalanan Lévi-Strauss ke negeri-negeri tropis, memadukan berbagai disiplin ilmu, hüzün dikenal juga sebagai terra incognito dalam cara pandang orang Barat. Tristes dalam bahasa Inggris menjadi Sad, bentuk jamaknya tristesse sebagai sadness; perkara kesedihan bersama.

Bab Hüzün-Orhan Pamuk yang dibayangkan dan digambarkan melalui segala aspek kehidupan si pengarang dan kota kelahirannya, Istanbul, menjadi tema cerita untuk keseluruhan narasinya. Pada dasarnya Pamuk sedang bicara dengan mereka yang pernah melintasi Istanbul dan membentuk secara imaginary Istanbul—kelak akan memengaruhi para pengarang Turki. Pamuk, dengan intonasi detail yang bertebaran di seluruh pinggiran kota Istanbul—yang tua, yang murung, yang keropos oleh tangan sejarah bernama waktu—sedang menyusun sosok seperti dirinya di antara ketegangan Timur-Barat sebagaimana jembatan di atas Bosphorus. Saya meyakini tak ada pengarang yang sekompleks Pamuk untuk mengidentifikasi dirinya sendiri. Pamuk sedang melakukan pembayangan sebuah “rumah” melalui Istanbul.

Dalam parafrase yang dia tulis di lembar halaman memoar ini, Pamuk berujar: “saya menggambarkan Istanbul ketika menggambarkan diri saya sendiri, dan menggambarkan diri saya sendiri ketika menggambarkan Istanbul.”

Memoar ini ditulis Pamuk ketika berusia 50 tahun (dia lahir tahun 1952) untuk mengingat 22 tahun usia pertama dia, dan separuhnya lagi mengenai Istanbul. Namun, yang patut diingat dari Pamuk, dia menulis ini bukan untuk memugar masa lalu—sebagaimana dia tulis untuk panitia nobel saat menerima Nobel Sastra 2006—melainkan “membantunya melupakan masa lalu.”

Bagi Pamuk, Istanbul bukan hanya kota wisata dunia—kita melihatnya sebagai reruntuhan jejak “pusat dunia”—dengan warisan arsitektur Rumawi, Bizantium, Latin, Ottoman; berturut-turut sebelum didirikannya Republik-Atatürk. Bagi seorang yang sepanjang kariernya lebih banyak dihabiskan duduk di belakang meja ketimbang melakukan banyak perjalanan, Istanbul menjadi nafas inspirasinya yang mengalirkan novel-novel yang kelak diterjemahkan ke dalam 55 bahasa dunia. Pamuk menulis tema-tema ambuigitas, keberlaksaan, kompleksitas manusia dengan berbagai latar, namun selalu berpusat di Istanbul—atau Konstantinopel untuk menyebut zaman kekaisaran Roma; dia juga menulis kisah keluarga sebagai pusat di awal kariernya.

Justru yang membuat Pamuk terkejut saat novel Snow (2002) meraih banyak pembaca di dunia—yang latarnya di sebuah tempat terpencil di dunia, yang tak seorang pun dapat mengingatnya. Tak aneh; sebuah karya yang dinilai berhasil, sesungguhnya, tak diperkirakan oleh penciptanya.

Kembali ke perkara hüzün, saya ingin mengatakan bahwa setelah membaca beragam narasi Pamuk—kisah sejarah personalnya, karya sastra dan non-fiksi dia—saya akhirnya menemukan cara yang pas menghadapinya. Saya tahu belakangan untuk menjadikan karya Pamuk enak dibaca perlu saya mengondisikan diri dalam suasana murung; menggambarkan perasaan yang merambang di sebuah kamar persegi yang sunyi—kenyataan bahwa saya sering membawa novel karya Pamuk dalam perjalanan, pada akhirnya, tak bisa menikmatinya. Pendek kata, Pamuk mengajak pembaca—setidaknya saya—untuk berada dalam situasi hüzün. *

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s