Akar Pohon

—buat Mas Nur

SAYA membayangkan sebuah pohon keluarga di mana akarnya, besar dan liat, tumbuh dari nafas penghidupanmu. Dahan pohon itu bercecabang setiap tahun dan, sepanjang usiamu—dengan kekayaan hidup dalam tubuh manusia—digunakan untuk membesarkan pohon tersebut.

Entah dari mana semangat itu muncul; yang saya tahu adalah ini: kelak sebagai anak sulung, di tengah kemiskinan yang kian kontras, kamu mengemban kewajiban untuk selalu menengok ke belakang: sebuah jalan bernama pulang. Saya terkejut sekarang ini—dipengaruhi kejadian-kejadian setahun terakhir—bahwa kini, dengan apapun yang saya lakukan, semua itu takkan sebanding dengan setiap denyar jantungmu untuk terus mendenyutkan kehidupan pohon keluarga tersebut.

Saya memejamkam mata. Melalui kaca buram, saya melihat kamu datang pada sebuah malam sesudah saya bermain di halamana lapang di seberang rumah orangtua kita; kemudian dengan melewatkan tahun-tahun sesudahnya, saya melihat tiga tahun bersamamu untuk menyelesaikan pendidikan SMA. Saat itu usiamu sama dengan usiaku sekarang—mendekati 30 tahun—dan setelahnya kamu bisa memikirkan kehidupan pribadimu. Seakan-akan dengan kelulusan saya, kamu telah menunaikan kewajiban seharusnya sebagai anak sulung.

Saya dibesarkan dengan cara melihat kamu sebagai tolak-ukur, untuk sepertiga hidup saya, sebelum saya ditempa dengan pengalaman-pengalaman pribadi bersama kepahitan, kegetiran, kesenangan dari apa yang kita sebut kehidupan. Namun yang tak disangkal adalah ini: seberapa jauh jutaan mil langkah yang saya tempuh, semua itu takkan sebanding dengan setiap langkah-pertamamu setiap hari.

Saya berutang kepadamu tentang kebaikan, kelapangan, dan nilai-nilai lain yang kamu tebar dalam hidupmu—selalu membuat saya mengingat kamu dimanapun kapanpun. Impian-impian saya dan kamu berbeda (pada akhirnya setelah kita mencapai kedewasaan masing-masing), namun justru saya takkan mengerti tentang impian jika bukan melalui bahumu.

Saya mengingat masa ketika SMP saat teman saya menyodorkan guntingan kertas koran di mana ada namamu dan namaku. Itu sebuah puisi, yang kamu tulis untuk kampung kita bernama Kandanghaur; puisi tersebut ditujukan untukku. Sayup-sayup saya mengingat bait puisi tersebut dan, hingga kini, saya terus mencari kata yang pas untuk mengartikan isyarat hidup darimu. Saya akan senantiasa membawa pencarian tersebut sampai saya menua, diperlebar jarak keterpisahan antara empat saudara di atasku. Saya melihat akar pohon dari nadimu menaik setinggi langit hingga mencapai ubun-ubun dahan yang mengikat saya sebagai si bungsu-yang-jarang-pulang.

Dengan caranya sendiri, saya berutang secara serius dan sungguh-sungguh kepadamu.

*
Kemarin Emak menelepon. Dia bilang kangen. Saya tak pulang lebih dari 10 bulan. Dia juga bilang kamu “main” ke rumah sehari sebelum bulan puasa. Itu besar sekali! Selamat ulangtahun, Mas. Salam kagem keluarga, salam buat tiga gadis kecil… 🙂

5 Agustus 2011

Iklan

3 pemikiran pada “Akar Pohon

  1. Selamat ulang tahun Mas Nur, dengan sotoy tingkat tertinggi, kok aku meyakini Mas Nur masuk dalam jajaran kakak nomor satu di dunia!!!! ^_6

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s