Nenekanda

NENEK MENGINGATKANKU pada bau rumahsakit sewaktu dia dirawat karena kanker payudara. Di masa dulu orang-orang mengira penyebab sakit nenek karena kebiasaan dia menyelipkan uang di balik kutang. Hal itu semata-mata demi kepraktisan. Selagi aku mengenangnya dengan ingatan kanak-kanak (yang kini terburamkan), tak ada desir seksual saat nenek mengambil uang di celah baju untuk cucu-cucunya. Tapi anak-anaknya tak tahu berapa usia meninggal ibu mereka. Semua ini muncul saat aku berdiri di dekat nisan nenek. Ketika aku menemuinya, nenek telah berusia 23 tahun di dalam kebisuan. Dia meninggal 8 Agustus 1988. Usiaku 7 tahun. Itu 7 tahun yang kekal.

Tujuh tahun tersebut, seperti melempar selembar kertas ke sungai, tak sampai membuat aku hanyut dalam kesedihan. Dalam ingatan kertas di atas permukaan sungai, aku mengenang nenek sepotong demi sepotong, atau tepatnya: gambaran sekilas yang tak membentuk sebuah rupa. Itu seperti nasib sehelai kertas terbasuh air sungai yang tenang, menyusut pada titik arus kecil menentukan, tak pernah tiba hingga hilir.

Ada dulu di pekarangan depan rumah nenek—kelak dipakai untuk rumah anaknya nomor tiga (adik ibuku), aku masih ingat hewan peliharaan kalkun, dengan langkah gegas, setinggi badanku. Itu menakutkan. Kalkun-kalkun itu (seingatku lebih dari satu ekor) menjadi mainan anak-anak, yang menggoda untuk adu mendekat-dan-mengejar. Ayam belanda ini kini sulit dicari. Kelak, jika aku punya anak, aku hanya bisa menjumpainya dalam buku bergambar.

Ini sesuatu yang hilang. Sebagaimana nenek dalam kehidupanku. Buku bergambar tentang kalkun, boleh jadi, dalam arus ingatanku, sama halnya nisan nenek. Kamu bisa melihat gambar kalkun tapi tentu ia tak bisa mengejar kamu. Tubuh nenek tak terlihat di dalam nisan.

Saat aku mengunjungi nisannya, aku bisa melihat ayah—menantu dia—yang mencabuti ilalang di sekitar pusara. Cabang-cabang tipis pohon perdu bergerumul. Rumah terakhir nenek berada di dataran mencengkung, dekat dengan jalan raya. Bila hujan tiba, pusara nenek terpapar banjir. Hal itu akan sementara menghapus jejak nenek. Di dekat nisannya, ada Makde Ipeng—ibu dia—serta cicit dan kakakku. Di atas pusara buyut aku, tumbuh pohon liar setinggi pinggang dan hanya pohon itulah yang dibiarkan ayah untuk berkembang.

Ayah cerita, tahun 90-an, saat ada pelebaran jalan Pantura, nisan keluarga ini dipindah hingga ke tempatnya sekarang, kemudian rumah nenek dipugar dengan keramik putih. Dia rutin menyambangi dua bulan sekali, setiap selasa Kliwon, untuk bersih-bersih sebagaimana saat aku menemaninya.

Inilah kedatangan pertama aku ke rumah nenek. Usiaku kini 30 tahun. Kami berdua mengenakan batik. Ayah membawa cangkul dan parang, dibonceng olehku dengan sepedamotor. Hanya ayah yang rutin mendatangi nenek. Usia ayah 68 tahun. Tapi tahun kelahiran ayah di kartu keluarga tertulis 1945. Ayah meyakinkanku bahwa dia lahir tahun 1943. Ayah juga sudah tua.

Nenek dirawat di sebuah rumahsakit di Manggarai dekat ‘pasar rumput’ Jakarta. Hal itu akan diingat oleh anak sulung dia, kakak ibuku, dengan cara membuka mata-hatinya karena sepasang-matanya telah mengalami buta. Dia selalu mengimbuhi kata “mata hati” saat mengingat dia berjalan menuju rumahsakit tempat dirawat nenek, sembari menyebutkan ibuku “takut menyebrang.” Itu memberiku peran sampiran di mana, seperti mimpi, aku berada di sekeliling dunia lama nenek, mencium aroma khas rumahsakit, mendengar suara tip-tap orang yang bergegas di lorong, dan sebuah kamar mandi. Pada akhirnya, perasaan kanak-kanak tak bisa mengikuti perasaan emosional orang dewasa. Hal demikian, ayah menyebut nenek pernah dirawat dua kali, rupanya untuk menjemput kematian nenek.

Saat nenek meninggal, anaknya yang nomor tiga—ibuku—telah melahirkan 6 bersaudara dari pernikahan yang dikenang ayah di masa Darul Islam. Ayah berusia 23 tahun saat menikah sementara ibu berusia 13 tahun. Bibiku, yang trakhoma, mengingat bahwa ada kenalan “kita” dari desa sehingga mereka bisa menikah. Saat ayah cerita, menambahkan keterangan bibi, semua narasi yang dia ucapkan terlihat begitu jauh. Hal itu juga sebuah kehilangan. Ayah mengenang hutan-hutan di sekitar rumah, sungai selebar tiga perahu berjejer, pohon-pohon, kerbau, kambing dan seterusnya. Dunia lama ayah seperti dongeng. Namun dia banyak menyaksikan kematian. Tahun 1965-66, ayah cerita, dia melihat keluarga-keluarga yang dia kenal “kesulitan” dan seorang karib dia menghilang begitu saja.

“Tuh Sarpa, ini kakakmu!”—saat ini ayah menunjuk sebuah nisan. Itu bayi yang meninggal tak lama sesudah lahir tapi telah menyandang nama. Jika aku cukup mengenalnya, apakah aku cukup mengingatnya?  Ayah dan ibu, dalam rentang berikutnya, mengurus 3 anaknya lagi. Itu jelas membuat mereka sibuk sampai anak-anaknya kemudian bisa mengurus diri sendiri. Kenyataan dalam sehari setiap tahun ke-6 anaknya berkumpul, beserta cucu-cucunya, membuat rumah mereka bergema terus. Itu mendekatkan dan gema tersebut—kelak saat aku makin menjauh—terus memanggil.

Tak bisa tidak. Yang bungsu memilih jalan sendiri. Saat dia mengingat nenek—bertanya terus, tersesat dalam versi cerita yang berbeda—dan peran bibi dengan “mata-hatinya”, sesuatu berkembang sendiri di dalam benak dia. Apakah ini versi yang jauh lebih rumit dan tak masuk akal?

Bahkan kehidupan kakek tak pernah ada dalam ingatanku. Bibi cerita bahwa kakek meninggal pada 1972—itu 9 tahun sebelum aku lahir. Kakek meninggal di Panimbang, sebuah tempat yang sepenuhnya menjadi kenangan masa kecil kakak-sulungku. Setahun kemudian nenek menikah lagi, kata Bibi, kehidupannya “susah”, disarankan untuk cerai—lantas nenek jatuh sakit. “Kalau ada orang yang bisa menyembuhkanku, siapapun dia, saya akan kawin dengan dia.”—itulah kehidupan suami ketiganya hadir, seorang tukang obat, seorang Tionghoa, mereka hidup sukses di Binuangeun, bisnis keduanya lancar. Babah Gemuk—hanya sosok inilah yang aku ingat—meninggal karena tua.

Ada kalanya kamu muntah setelah menelan bulatan bakso berisi ikan teri—itulah yang ada dalam kepalaku saat mengingat Babah Gemuk; dan aku melihat sosokku berdiri di depan warung selagi dia duduk menggelesor, sembari mendengus hanya untuk menarik nafas. Dia benar-benar gemuk. Ada tawa yang berhamburan di suatu tempat, yang kuingat, adalah sosok pria jangkung—kelak keluarga dan saudara menyebut namanya selagi membandingkan tinggi badanku sekarang. Itu pamanku dan dia meninggal dengan gantung diri.

Kini ayah telah selesai dengan tugasnya, ini hari kedua setelah kita merayakan Lebaran, selanjutnya kami meneruskan ke pusara berikutnya. Itu adalah keluarga ayah. Dan kisah nenek ini harus aku akhiri. Satu anaknya telah meninggal—bibi yang menempati rumahnya—dan suaminya juga meninggal. Aku duduk di pusara bibi, dengan intensitas kehilangan yang besar karena dia berada dalam orbit masa-laluku, dan ayah berdoa untuk mereka. Makam bibi lebih manis. Berundak. Tinggi. Sebagaimana kakaknya, bibi—adik ibu—juga mengalami buta di akhir hidupnya. Mengingat ini, ada sesuatu yang selalu membawaku melihat sepasang mata ibu.

Aku bicara dengan bibi—dengan kisah “mata-hatinya”—ditemani ayah di depan rumah sebelum aku melanjutkan sejarah pribadi sendiri—di depan sana; suatu hal yang disimpulkan oleh orangtuaku, “Asal kamu sehat, kami di rumah bahagia.” Selagi bus melewati jalan raya itu, aku menengok ke tempat di mana pusar nenek berada. Gambaran dalam benakku mengatakan terlalu sering aku menceritakan tentang kehilangan. Dunia tempat ayah dan ibu seolah buku bergambar. Mereka telah menyaksikan banyak kehilangan. Kita tak sepenuhnya siap untuk kehilangan orangtua kita.*

Iklan

3 pemikiran pada “Nenekanda

  1. aku seneng baca ini. leluhurku punya banyak kisah, tapi aku belum tergerak menuliskannya. rasanya bakal berkitab-kitab dan aku keburu capek duluan bahkan sebelum menuliskannya 😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s