Kelas Brastagi

SELAMA lima hari, dari 27 September – 1 Oktober, saya dan Budi Setiyono dari Pantau mendatangi Brastagi untuk kelas penulisan nonfiksi. Panitia acara ini dari Suara USU—sebuah pers kampus yang berumur hampir 20 tahun. Pesertanya dari beragam daerah: Aceh, Denpasar, Jogja, Makassar, Malang, Minangkabau, Pekanbaru. Brastagi (juga ditulis Berastagi) merupakan daerah dingin, sekira 2 jam dengan mobil dari Medan, masuk dalam kabupaten Karo.

Panitia menyewa 2 mobil berpenumpang masing-masing sekira 20 orang untuk mendatangi sebuah villa Batu Merah, di seberang hotel Mikie Holiday, pada sore hari Selasa. Malamnya para peserta kelas memperkenalkan diri. Sekitar 19 peserta, rata-rata berusia 20 tahun, dari masing-masing pers kampus ingin mengenal lebih dalam tentang narrative reporting. Mereka juga umumnya punya impian pribadi kelak, dalam lima tahun misalnya, hendak mengembangkan kemampuan menulis sebagai jurnalis.

Saya baru pertama kali mendatangi Medan, juga Brastagi, di mana perbedaan suhunya 180 derajat, dari kota panas menuju kota dingin. Peserta dan panitia (sekaligus membawa 20-an kru Suara USU) menyewa tiga villa dan dua di antaranya sekaligus menjadi tempat kegiatan: waktu makan dan waktu belajar. Kelas mendiskusikan dasar-dasar jurnalisme, latihan deskripsi dan wawancara, serta menulis feature. Peserta mendatangi desa Lingga, 30an menit dari Brastagi, untuk meliput rumah-rumah adat Karo, sebagian besar sudah roboh, sejak desa tersebut diproyeksikan sebagai desa tujuan wisata pada 1970-an.

Satu dari dua bangunan Siwaluh Jabu yang masih utuh dari 28 rumah sejenis sejak desa Lingga diproyeksikan sebagai tujuan wisata di tanah Karo pada 1970-an. @Budi Setiyono

Rumah adat tersebut, bernama Siwaluh Jabu atau delapan keluarga—menandakan jumlah keluarga di dalam rumah tersebut dari suatu hubungan kekerabatan—berbentuk panggung, tersusun dari kayu-kayu kokoh, beratap ijuk dengan tanduk kerbau sebagai kepala atap untuk “penolak bala.” Nurul Fitria dari Bahana Pekanbaru menulis bahwa ukiran dan warna Siwaluh Jabu menandakan kompleksitan adat Karo. Ada lima marga besar di tanah Karo atau Merga si Lima: Ginting, Karo-Karo, Perangin-Angin, Sembiring, dan Tarigan.

Namun Lina Pratica Wijaya dari Kanaka Denpasar khawatir bahwa turisme di Desa Lingga memungkinkan warga Lingga, terlebih anak-anak, justru memudahkan mereka untuk membuka tangan, mengharapkan pemberian turis-turis di tengah kemiskinan yang partikular di desa tersebut. Terdapat sebuah kotak sumbangan di dalam rumah yang gelap selagi sebagian dari kami memasukinya.

Selain keramahan warga Karo di desa Lingga, serta ikonik turisme yang saya kira telah rapuh—hanya ada dua rumah adat yang masih kokoh dari delapan yang tersisa—jambur (balai pertemuan sebagai tempat upacara-upacara) menjadi bangunan yang mencolok di tengah-tengah desa. Anak-anak bermain di bawah atap. Di sebuah kedai kopi, orang-orang tua menikmati waktunya dengan menonton sandiwara lokal melalui siaran televisi. Saya menikmati kopi sembari melihat gerimis turun bercampur angin. Anjing-anjing berkeliaran. Di sebuah kandang, terdapat babi-babi yang sedang mendekam. Kami dibantu Ridha Annisa Sebayang dari Suara USU untuk menerjemahkan bahasa Karo. Sayangnya kami tak bisa menikmati gunung Sinabung karena kabut tebal.

Kami membahas satu demi satu reportase peserta, dibagi dua kelas, guna dapat mendiskusikan semua pekerjaan ini.

Rovindo Maraden Panjaitan menyumbangkan lagu Batak saat malam terakhir pelatihan. Suasananya riuh. Sebagian yang mengenal lagu tersebut ikut menyanyi diiringi suara gitar. Sabtu pagi kami mendatangi pasar Brastagi, sebagian ada yang membeli cinderamata, sebelum kembali ke Medan. Sorenya saya menikmati kopi Sanger dari sebuah kedai Aceh.

Peserta dan panitia kelas Brastagi di depan villa Batu Merah sebelum mereka kembali ke Medan. @Andika Bakti

Mukhlashyn dari Inovasi UIN Malang mengatakan kelas penulisan di Brastagi “memberinya jaringan” dengan kolega pers kampus dari beragam wilayah. Januar Rizky, koordinator pelatihan, bilang kepada saya bahwa membuat acara semacam ini bikin “ribet pas ngurusnya.” Januar yang menjemput kami, mengantar kami, menyediakan sebagian keperluan kami, sejak dari Jakarta hingga Brastagi. Wan Ulfa Nur Zuhra, gadis Langsa yang studi komunikasi-cum-pemimpin umum Suara USU, mengajukan kegiatan ini sebagai tanggung-jawab periodenya. Tentu saja acara ini juga berakhir dengan beragam kesan berkat Muslim Ramli, ketua panitia, serta kru Suara USU—yang telah menyiapkan semua keperluan kegiatan tersebut.

Saya juga bertemu dengan Artinah dari pers kampus Idealitas Batusangkar, sekira 1,5 jam dari Solok, Minangkabau, yang telah menulis sebuah draft novel serta skenario film. Dia bersama Muhammad Rahim ikut kelas ini, baru dua tahun membangun media mahasiswa mereka. Di tengah kekurangan akses terhadap jaringan komunikasi arus-utama, serta rendahnya mutu pendidikan jurnalisme, saya berharap anak-anak muda macam Artinah dapat merintis karier lebih baik, serta berguna untuk kepentingan publik, dengan inisiatif yang sedikit-banyak memanfaatkan waktu terbaik mereka.

Senang bisa belajar bersama anak-anak muda dari kelas Brastagi ini.*

Iklan

5 pemikiran pada “Kelas Brastagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s