Demi Waktu

Waktu telah menghancurkanku berkali-kali, pada tahun-tahun yang berlalu dalam misteri. Dan waktu pula yang mengajariku berdiri, untuk kemudian jatuh lagi, tetapi—bersama lintasan jutaan tahun cahaya—aku berpegang pada apa yang telah diberikan semesta.

Begitulah riwayat dalam kertas. Bagai Alpha dan Omega bertemu dalam wujud nirkala, yang awal dan yang akhir, mengaburkan jarak seperti hembusan nafas sebelum kita menyadarinya.

Waktu telah menyusunku, dari matahari yang telanjang dan malam-malam yang menutupi rahasia, di pagi dan petang yang rutin, dari tiap kelahiran yang mewarisi milyaran sel dari suatu pohon di angkasa.

Waktu adalah dongeng menjelang subuh; dan, untuk setiap bayi yang lapar, kita menyadari bahwa waktu sudah cukup tua mendengarkan tangisan mereka.

Kesabaran menciptakan waktu yang panjang, namun ia tak sesederhana batuan-batuan meteor, yang menerima perannya sebagai yang terkecil di genggamanmu dari perjalanannya yang terkikis.

Aku telah berkali-kali belajar bicara bersama waktu yang terus melaju; saat tahu bahwa aku terlambat, ia tak berpaling sama sekali, kecuali kita ikuti arusnya.

Kepada waktu pula batas antara kesia-siaan adalah perkara yang bukan sia-sia.*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s