Fukú Dunia Baru

JUNOT DÍAZ melawan kutukan demi mengisahkan kutukan. Karya perdananya, Drown, kumpulan cerpen tentang pengalaman warga imigran Republik Dominika di AS (terbit 1996), meraih sambutan positif. Dia segera disebut-sebut pengarang muda menjanjikan dari kalangan masyarakat hibrida dari kepulauan Karibia. Namun Díaz berjuang—secara denotatif—untuk menyelesaikan proyek prosa panjang dia sejak embrio novel itu dimuat The New Yorker pada 2000. Itu sebuah cerpen tentang sosok bocah gemuk kutubuku, bernama Oscar de León, yang dikutuk perjaka lapuk di tengah dominasi patriarki dalam keluarga Dominika yang sangat maskulin.

Selama lima tahun pertama Díaz mengalami apa yang disebutnya “badai sempurna kegelisahan dan kegilaan.” Dia mengalami tekanan, frustasi, terpaan emosional; dan sesudah dia bisa berdamai dengan jiwanya, plus melakukan terapi, akhirnya novel yang ditunggu lama itu terbit pada 2007. Judulnya The Brief Wondrous Life of Oscar Wao. Setahun kemudian dia dianugerahi Pulitzer untuk karya fiksi terbaik. Díaz berhasil keluar dari kutukan block-writer.

Novel itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada Oktober 2011 oleh penerbit Qanita, dengan judul sama, dan, apa yang menarik dari kisahnya, adalah humor bersaput tragedi berseling narasi sejarah gelap Dominika, atau narasi perlawanan terhadap sejarah linear rezim diktator Trujillo. Díaz menyebut Trujillo adalah ”Mobutu sebelum Mobutu adalah Mobutu”—sosok penguasa gila yang memerintah Republik Dominika selama lebih dari tiga dekade sejak 1930; sebuah rezim loyalis AS di Santo Domingo.

Díaz mengenalkan fukú, atau Kutukan dan Kehancuran Dunia-Baru, sebagai pengantar kisah novelnya sekaligus tema pengikat cerita, baik untuk narasi novel maupun penggalan-penggalan catatan kaki yang melampirkan sejarah kebusukan rezim Trujillato. Dia juga mengenalkan aneka istilah dari fiksi fantasi dan, bila Anda membaca versi Inggris novel ini, Anda juga diajak menyelami kosakata Spanglish (Spanyol-Inggris) plus bahasa pasar Spanyol-Dominika. Díaz juga mengabaikan seluruh tanda petik dalam kalimat dialog antara tokoh-tokoh dalam novel tersebut. Strategi cerita itu ditambah pula dengan strukturnya yang non-linear. Pada versi terjemahan, editor buku ini melampirkan keterangan pelbagai istilah yang disebut Díaz. Para pembaca Oscar Wao yang terhubung di seluruh dunia bahkan membikin sebuah situs, www.annotated-oscar-wao.com, guna memberi penjelasan terhadap apa saja yang dirujuk Díaz dalam novel tersebut.

Fukú dikenalkan Díaz guna memberi tekanan pada apa yang terjadi terhadap tokoh novelnya, terutama Oscar Wao (alusi Oscar Wilde versi gemuk nan kuper), pria Dominika dari keluarga imigran di New Jersey, yang lebih suka membaca The Lord of the Rings ketimbang berkumpul bersama teman sebaya dia. Karena masyarakat Dominika begitu tergila-gila pada maskulinitas, tak ayal Oscar—bertubuh gembrot dan seorang fanboy yang tergila-gila pada Genre, bercita-cita menjadi Tolkien dari Dominika—dirundung nasib malang takkan pernah memiliki pacar sepanjang hidupnya. Obesitas Oscar Wao tak menjadi masalah besar bila saja dia bukan tipikal pria Dominika, yang mudah sekali jatuh cinta kepada lawan jenis, sekalipun setiap wanita yang dia jumpai tak mengacuhkannya, bahkan hanya untuk meliriknya.

Díaz menggambarkan lelucon malang Oscar itu sebagai “skor nol Oscar dalam menggaet gadis-gadis” dan, mengingat Oscar adalah pria Dominika, maka yang diharapkan dari keluarganya, dia seharusnya “memiliki tenaga Atom Tingkat G” di mana seharusnya “gadis-gadis bergelayut di kedua tangannya.” Sifat komikal lain, tanpa menyadari kekurangan tubuh gemuknya, Oscar mewakili pria Dominika yang “sedemikian menginginkan cewek” melebihi siapapun. Dan, dalam rayuan yang membuat setiap perempuan mencibir dia, Oscar selalu merujuk istilah fiksi fantasi, mengatakan “cewek adalah awal dan akhir, Alpha dan Omega, DC dan Marvel.” Oscar berkata kepada para morena cantik, “Jika kalian main di dalam game-ku, aku akan memberi kalian delapan belas Charisma.”—tentu saja itu bikin orang mengernyitkan dahi!

Tambahan lagi, ibunya, seorang otoriter (sifat turunan terkutuk dari “anak-anak rezim militer Trujillo”), yang kecantikannya pernah menjadikan dia La Tetúa Suprema (Gadis Terjelita) di pinggiran daerah kumuh di Santo Domingo, sekaligus nasib tragis yang membawanya ke New Jersey, meminta Oscar Wao agar menghentikan kebiasaan menyedihkan: mengurung diri di kamar, melampiaskan hasrat seksual dari majalah porno, membaca dan menonton berkali-kali kisah fiksi fantasi kegemarannya, mudah sekali patah hati, dan berbagai gambaran malang paling ekstrem yang melanda Un maldito hombre—Seorang pria terkutuk. Ibunya, Hypatía Belicia Cabral, yang mewarisi sifat kediktatoran Trujillato dari Orde Lama Dominika, tak sekalipun berkata manis, menyimpan kisah kelam masa lalu, mendorong anak-anak Diaspora makin menjauh dari rumah masa kecil.

Humor gelap Oscar Wao juga berkembang dalam diri Lola, kakak perempuan Oscar, yang melawan dominasi ibu mereka, dengan segala cara: memotong cepak rambut, berkeinginan segera kabur dari rumah sejak ada sekecil kesempatan apapun, dan kebencian terpendam sedari dia terus-menerus dipaksa percaya oleh perkataan ibunya sebagai Que muchacha tan fea, Gadis jelek tak berharga, Idota, atau Muchacha del diablo, Anak iblis, atau Hija de tu maldita madre—Anak dari ibu terkutuk.

Pada fragmen cerita lain, Díaz menyelipkan apa yang dikenal teror penguasa despotik Trujillo kala mengisahkan kakek Oscar, Abelard Luis Cabral, seorang dokter bermartabat yang, dalam fase hidup menentukan, kurun 1944-1946, harus berhadapan langsung dengan Trujillo. Penduduk Pulau sudah mengenal tabial El Jefe terhadap kegemaran menghamili gadis-gadis cantik. Si Maling Ternak yang Gagal—olok-olok bagi Rafael Trujillo—adalah Bellaco (Hidung Belang) Nomor Satu di Republik Dominika. Itu telah menjadi rahasia paling terkenal. Risikonya, karena hasrat El Jefe tak pernah terpuaskan, percaya atau tidak—demikian Díaz—banyak lelaki Dominika, hombres de calidad y posicíon, “mereka yang bermartabat dan berposisi tinggi,” menyerahkan anak-anak perempuan kepada si Wajah Buruk.

Namun Abelard satu dari sedikit pengecualian. Dia tak ingin salah satu putrinya yang tercantik menjadi santapan Trujillo. Dalam acara kenegaraan, di mana Abelard diundang untuk sekalian membawa si gadis, dia pura-pura mengatakan anak perempuannya sakit dan, berbulan-bulan kemudian, sesudah ketakutannya reda, justru dia membuat kesalahan elementer namun sangat krusial—demikian tuduhan beredar—“melecehkan dan menghina pribadi Presiden.” Namun, dalam era tertutup rezim otoriter, yang sulit membedakan informasi akurat atau sengaja dibelokkan, atau justru Abelard sudah lama diincar sebagai intelektual—kata yang berkembang sarat peyoratif yang mengandung kecurigaan luar biasa bagi diktator—akhirnya dia dijebloskan dalam penjara. Kemudian, guna memberi siksaan dramatis, Abelard dilabeli predikat seorang homo dan komunis—dua kata yang langsung membuat siapapun takkan hidup tenang.

Selama empatbelas tahun Abelard mendekam di Penjara Nigüa, salah satu penjara paling brutal di Dunia Baru. Menjelang keruntuhan rezim El Jefe, Abelard masih terus bertanya-tanya tentang kesalahannya sebelum kematian dia yang menyedihkan. Istri dan kedua putrinya juga tewas, dengan meninggalkan misteri. Untung bagi keluarga Cabral, atau justru kelanjutkan dari fukú, generasi ini diteruskan seorang putri kulit hitam, dikandung istri Abelard pada masa kejatuhan, yakni Belicia: ibu dari Oscar dan Lola.

Demikian potongan riwayat yang mengantarkan kisah Oscar. Fukú melanda Belicia. Fukú menimpa Lola. Fukú juga menyelimuti kehidupan Oscar. Hikayat ini bisa dilanjutkan La Inca, saudara Abelard, yang menyelamatkan Belicia dari anak yatim, tapi sekaligus menyimpan kepahitan sendiri selama menyaksikan anggota keluarga Cabral tak bisa bebas dari kutukan. Kecantikan Belicia membawa petaka. Pemberontakan Lola mengantarnya sebagai anak Diaspora—fukú lain dari para pencari harapan di negeri migran. Kekutubukan Oscar menjelaskan kebahagiaan singkat yang mematikan.

Pada usia 23 tahun, Oscar menemukan apa yang diidamkan-idamkan. Pada kunjungan ke Santo Domingo, liburan musim panas yang menjadikan negeri itu “menjalankan mesin Diaspora mundur ke belakang, menarik sebanyak mungkin anak-anaknya yang terbuang,” Oscar berkenalan dengan Ybón Pimentel, perempuan yang lebih tua dari dia. Oscar mencintai Ybón meski semua anggota keluarga melarangnya, karena wanita itu puta—pelacur—yang juga menjalani kehidupan berkelana sebagai diaspora, menjajakan tubuh ke negeri-negeri Eropa.

Di Domingo, Ybón mencari sedikit harapan sebagai puta setengah pensiun plus wanita simpanan perwira polisi di Negeri Dominika. Karena Oscar tak ingin kembali ke masa-masa terburuk, dia mengejar peluang itu, “awal kehidupan sebenarnya,” tak peduli nasibnya kemudian di bawah kuasa capitán pencemburu; dia dipukuli babak-belur, nyaris tewas, dibawa pulang untuk rehabilitasi. Namun Oscar kembali ke Santo Domingo demi Ybón dan, sebelum fukú bekerja, dia mencecap sensasi apa yang tak pernah didapatkan dari seluruh kehidupannya yang malang: Oscar berciuman, Oscar bercinta—rasanya, tulis Oscar sebelum dia tewas, “seperti bir Heineken.”

Junot Díaz menulis pada awal kisah, “setiap keluarga Dominika punya cerita tentang kegilaan cinta, tentang anak-anak kulit hitam yang menyikapi cinta secara berlebihan”—dari situlah cinta serta kutukan membawa tokoh-tokoh fiksi Oscar Wao terus-menerus melangkah ke tepi jurang kemalangan.

Santo Domingo, ibukota RD, wilayah Kep Karibia, adalah "Irak sebelum Irak adalah Irak," diduduki dua kali tentara-tentara AS selama abad ke-20.

Kisah dalam novel Oscar Wao bisa terjadi di mana saja. Tetapi yang membedakan, bagaimana kisah itu diramu dengan menyelipkan sejarah sebuah negara diktator dan parabel modern, mengandung cerminan politis, tentang fukú atau guangua—sihir, menimpa setiap manusia dari rezim Dunia Baru. Episode kehancuran telah digurat sejarah kolonialisme. Berikutnya warisan kelam oleh apa yang diciptakan dominasi Dunia Pertama dari parade berdarah dalam abad-abad penuh pergolakan dan peperangan.

Dunia Baru Republik Dominika—yang dibentuk Trujillo berkat dukungan AS—mengalami kehancuran. Meski kemudian, atas peran AS pula, rezim penggantinya tak kalah bejat dari Trujillo. Ironisnya, manusia-manusia yang lahir dari negeri ini, bercumbu dengan maut, mencari peluang ke negeri Paman Sam bersama kerumitan nasib (yang hanya Tuhan yang tahu), membuat mereka bisa selamat; berhadapan dengan diskriminasi rasial, terhindar dari marabahaya batas-batas wilayah.

Díaz, saat usia 6 tahun menyusul ayahnya ke New Jersey, melawan fukú dengan bercerita. Seperti novel Oscar Wao, bukan tokoh-tokoh itu yang bercerita. Justru seseorang bernama Yunior, bekas teman sekamar Oscar, yang meriwatkan kisah tiga generasi keluarga Cabral ini. Yunior adalah alter-ego Díaz, sering muncul dari cerita-cerita fiksi dia. Menurut Díaz, mereka yang mengalami masa terburuk dari kuasa ketakutan, pembunuh kesadaran itu, terlalu lemah menanggung siksaan bila dicatat sendiri oleh mereka. Ia membutuhkan seseorang yang berperan sebagai pendengar dan berikutnya tuturan mereka ditulisakan.

Mengingat humor ialah strategi cerita yang dapat menertawakan berbagai nasib buruk, novel Oscar Wao merupakan dongeng humoris sarat politik, bukan merujuk pada lakon kocak, melainkan sejarah gelap negeri rezim militer. Sementara beragam istilah fiksi fantasi yang ditebarkan melalui sosok fanboy Oscar, bagi Díaz, adalah sebentuk perlawanan akan “citraan fiksional agar kita bisa memahami keburukan Trujillato.” Sebab, kata Díaz, “tanpa kutukan, tanpa makhluk-makhluk alien, tanpa Sauron dan Darkseid, kita tak bisa mengakses rezim Trujillo, yang mengelak akal masyarakat ‘modern’ kita.”

Fukú Dunia Baru menyelimuti negara-negara yang, hingga kini, berada dalam krisis selama pergulatan dengan warisan militerisme. Paralel dengan itu di depan cermin ganda, sesungguhnya, kita sedang melihat negeri kita sendiri.*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s