Kedatangan

Aku kuatir lupa bahwa pernah suatu hari kakak sulungku datang dan menginap semalam di kost. Ini juga semacam aku bicara dengan kamar sendiri, artinya blog sendiri, karena sejatinya suasana kamar kost di Jekardah nyaris paralel dengan isi blog ini. Ia berupa kesunyian. Aku menyukai nama ‘desolate room’. Dengan kata lain aku ingin menebak-nebak apa yang ada dalam pikiran si Kamar, taruhlah bila ia punya kesadaran, kala dikunjungi kakakku untuk kali pertama, yang terjadi kemarin sore?

Udara ruangan kamar diisi obrolan tentang buku dan sejarah, selain soal keluarga. Gara-gara nggak jadi pindah, koleksi buku punyaku ditumpuk di atas meja tulis, tentu saja itu bikin buku kusut, nggak asik sekali bila hendak mengambil salah satu buku di bawah tumpukan. Sesudah maghrib, aku tunjukin Al quran jilid I versi terjemahan dan tafsir Ahmadiyah. Kakakku membacanya sekilas. Di keluarga kami, kakak adalah satu-satunya yang paling paham agama.  Jilid I itu berisi surat 1 hingga surat 9, dari Al-Baqarah hingga At-Taubah.  Ada tiga jilid seluruhnya. Ahmadiyah minoritas muslim di Indonesia yang menghadapi persekusi selama 10 tahun terakhir ini. Aku menyimpannya sekadar untuk koleksi sejak mengikuti kasus kekerasan terhadap komunitas keagamaan ini setahun terakhir.

Buku lain juga dibaca-baca kakakku, termasuk buku kumpulan artikel sejarah Jacques Leclerc terbitan Marjin Kiri, Mencari Kiri: Kaum Revolusioner Indonesia dan Revolusi Mereka,  salah satu esai di dalamnya tentang profil Amir Sjarifuddin. Kami juga bicara sastra, politik, sepakbola, dan cerita tiga putri kakakku. Ibu dan Mbak aku di Indramayu juga menelepon, termasuk kakakku yang lain, yang kambuh lagi epilepsinya. Akhirnya, mengikuti kebiasaan sejak aku sering mengambil buku koleksinya bila berkunjung ke rumahnya di Cirebon, dia juga minta “jatah” buku koleksiku. Aku menyilakan novel Orhan Pamuk dan Salman Rushdie.

Aku mengantarnya pulang ke Gambir pagi ini. Di stasiun aku iseng mengirimkan salam kepada tiga malaikat kici kakakku, direkam lewat video dengan smartphone. Aku juga melihat ponakan-ponakan, saudaraku yang lain di Banten (ihwal keperluan kakakku mampir ke tempatku setelah besuk paman yang sakit di Binuangeun), lewat smartphone tersebut. Rasanya berwarna bagi adik macam aku yang jarang pulang dan menengok anggota keluarga dan saudara sendiri.

Seharian ini aku terus bertanya, apa kesan si Kamar, si Desolate Room? Aku harap kesannya juga berwarna.*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s