Rumah

APAKAH rumah sesungguhnya? Tokoh Shadow dalam Dewa-dewa Amerika, sebuah novel yang terbuka dalam beragam genre—gabungan fantasi dan petualangan, psikologis dan hikayat—karya Neil Gaiman, justru agak limbung menjelaskan konsep akan kepulangan setelah akhirnya memahami apa yang ia yakini dan apa yang ia lakukan. Shadow bertanya-tanya di sebuah kota wisata di Islandia: “Apakah rumah adalah sesuatu yang terjadi pada suatu tempat setelah beberapa lama, atau ia sesuatu yang kau temukan kalau kau berjalan dan menunggu dan menginginkannya cukup lama.”

Saya malah mengingat perjalanan saya ke Kupang, anehnya saya tak ingat kapan persisnya, di mana saya melihat rumah-rumah yang dinding dan atapnya disusun dari pelepah gewang, sejenis palem, lantai tanah. Mereka menyebutnya bebak. Di tempat-tempat yang menelusup lebih ke dalam, terus menembus jalan-jalan berangkal batu kapur, bebakbebak itu berdiri di antara gerumbulan semak kering, dan debu dan langit musim kemarau yang memedihkan mata. Orang-orang tersenyum bulat, memerlihatkan gigi mereka yang mengunyah daun merah, sepasang mata menyiratkan ketangkasan, muka keriput dan kulit secoklat besi berkarat. Tak ada rumah yang tak ada penghuninya, meski kau melihat semacam keheningan total di bawah matahari yang membakar telapak kakimu.

Orang-orang berjalan, melakukan kebiasaan, ada atau tanpa dan kamu, dan sekolah-sekolah yang juga bebak-bebak itu sendiri lebih kosong menjelang siang karena anak-anak harus terus berjalan lebih jauh mencari rumputan hijau untuk ternak keluarga di rumah. Saya melihat mereka yang meninggal dikuburkan di dekat rumah, keluarga-keluarga itu yang kau temui di jalan, dan tanda kehidupan yang meninggal adalah sebuah salib yang terpancang di suatu tanah yang datar—mereka telah meninggal sebelum kau mengenalnya, namun kehidupan dan kematian adalah rumah itu sendiri, di halaman mereka sendiri.

Ada kesan surealis yang hingga kini sulit saya jelaskan, mencari-cari kata yang tepat, yang anehnya sering membawa saya membayangkan suatu lanskap dalam film Behind the Sun, sebuah adaptasi dari novel Broken April karya Ismaïl Kadaré.

Apakah rumah sesungguhnya? Kau mungkin berada di hutan dan tiba-tiba kau berpikir ada sebuah rumah di jantung hutan, terbuat dari kayu-kayu, diikat oleh kulit pohon, dan atap dari daun-daun, lembab dan rapuh. Tapi rumah itu ada untuk seseorang yang melintasi hutan tersebut, entah siapa yang membuatnya, untuk tempat kau beristirahat, sebetulnya untuk mengikatmu dengan dunia luar yang kau tinggalkan, sebab sesudah kau duduk di bawah atap rumah hutan itu kau memikirkan sebuah rumah lain, yang lebih nyaman, di suatu kehidupan yang semestinya kau tempati.

Saya pernah meninggalkan suatu ruangan persegi hingga tak ingin kembali, kenyatannya saya selalu kembali, dan saya tak menemukan sebuah rumah. Ada gambaran honai dalam kepala saya, juga rumah tradisional dari Karo, yang pernah saya masuki di mulut pintu, tercenung sesaat untuk membiasakan mata dengan cahaya ruangan yang gelap, lantas menyapu apa yang sekilas kabur tapi justru memberi kesan kotor, terlunta, dan—seperti juga dewa-dewa lama yang dulu pernah hidup di kepala manusia—rumah-rumah ini akan ditinggalkan. Sejumlah kecil akan dirawat, tapi tidak semuanya.

Ayah saya telah meninggalkan rumahnya, yakni lautan, ketika umurnya sudah tua. Ibu saya telah meninggalkan impian remajanya dan bergulat dengan kehidupan anak-anaknya. Saya telah meninggalkan rumah masa kecil saya, rumah itu mulanya nyaman, namun rumah itu tak lagi menampung impianmu seluas semesta. Kau melihat dirimu yang kanak-kanak berlari-lari di rumah tersebut, mengambil mainan, bersembunyi di balik pintu saat beradu petak umpet, dan cahaya malam belum seterang saat ini ketika lampu seperti kebutuhan kamu untuk bernafas. Ada suara cengkerik di suatu tempat, bila beruntung kau melihat kunang-kunang; namun sekarang ini kau merindukannya sebanyak kau memimpikan masa kanakmu. Saat itulah kau menjadi dewasa, betapapun menjadi dewasa itu merupakan kesadaran, dan kau membawa rumahmu sendiri entah di mana.

Tetapi kenyamanan adalah rumah. Kita semua menghadapi pilihan itu.

Mereka menyebutnya betang, itulah saat saya di Borneo, dan sungai yang mengular seperti garistangan, atau gunung Lokon saat saya di Tomohon, atau pantai saat saya di Ambon. Semuanya adalah rumah. Itu cara pandang dari orang seperti saya yang hanya menjadi pelintas, bukan penyelam, bukan pendaki. Kita menangkap kesan dari hal-hal yang terlihat, tapi belum tentu tepat. Kita menilai sebuah buku yang menurut kita paling baik, padahal tak ada buku yang paling baik, sebab sebuah buku bercakap dengan buku yang lain, di masa lalu atau di masa depan.

Rumah juga adalah kawan lama yang hilang, sejenis hujan yang sangat ingin kamu harapkan, atau sebuah malam tanpa suara kendaraan. Kamu melihat langit malam yang terang dari cahaya bintang yang sumbernya sendiri telah punah, dan kamu bisa merasakannya dengan memejamkan mata, lalu gelombang insomnia yang menyakitkan, dan kamu berpikir kenapa malam-malam berjalan begitu lambat sementara siang berlalu begitu cepat.

Saya merindukan sebuah kedai kopi di mana saya hanya duduk dan merasa nyaman, lalu secangkir kopi datang, lalu teman-teman datang, kita mengobrol dan membiarkan malam berjalan di luar, obrolan itu tidaklah penting, sebab yang penting adalah kehangatan dari apa yang diucapkan, dari siapa yang terbaik menceritakan lelucon, dan sepintas kamu menyadari dirimu membeku karena tahu tahu bahwa esoknya kamu tak ada di situ. Kehadiran mereka, bukan dirimu, yang mengalirkan sesuatu yang hangat seperti selimut, seperti pelukan. Seseorang pergi tapi sebetulnya dia tak benar-benar pergi karena dia telah melengkapi rumah dalam dirimu. Kamu terus menginginkannya agar kamu terus merasa lengkap, betapapun kehidupan selalu memberi peluang terbuka bagi kehadiran yang lain. Tapi ia tak benar-benar pergi. Itulah kata Heidegger.

Rumah juga adalah kehangatan. Tak ada yang pergi sesungguhnya.*

Iklan

Satu pemikiran pada “Rumah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s