Langit Pagi Jakarta

Kelak saya merindukan ini: setiap pagi saya dapat melihat langit Jakarta dari jendela kamar; pengantar hari yang mewah dari antara orang-orang yang bergegas ke jalan raya, menuju tempat kerja, segera setelah mereka terjaga. Saya bukan dari sekumpulan pekerja, yang harus lekas meninggalkan kamar atau rumah, dan mencium lebih dini udara jalan. Ini adalah pengabaian total dari sebuah kota yang tidak memberi waktu para pemukimnya mendongak ke langit, kecuali bila cuaca buruk, dan tersebab dari perasaan cemas, mereka bertanya-tanya: “apakah hari ini akan hujan, apakah saya bisa datang tepat dari mesin-tak-bicara-yang-menuntut-saya-tak-dibolehkan-terlambat, bagaimana ya bila hujan dan macet?” Hal semacam itu hanya sesekali melintas dalam benak saya, tentu saja jika ada keperluan yang sangat mendesak untuk bertemu di suatu tempat. Selebihnya: saya menikmati langit dari jendela, pagi-pagi, selagi penjaga kost masih meringkuk di kursi di balik pagar, sebelum ada seseorang yang membuang sampah, sebelum semuanya terjadi dalam kebiasaan hari yang rutin.

Lalu saya hanya menatapnya, seperti orang tolol, dan langit berkata lebih banyak dari seluruh suara yang dikumpulkan kendaraan di Jakarta.

Di situlah saya berada. Keluar kamar menuju suatu sudut di balkon, dan tetap menatap langit dan tetap seperti orang tolol; hanya saja lebih tolol dari sebelumnya. Kau tak mendapatkan apa-apa selain keisengan karena kota ini berada dalam pengabaian total bagi orang yang melihat langit.

Dan dalam pengabaian terhadap kota yang abai dari kebiasaan-tak-penting ini, saya selalu dikejutkan oleh sesuatu yang menautkan saya dengan dunia, betapapun saya mendongak, betapapun kaki saya tak menginjak tanah. Itu barangkali yang menjadi inspirasi Marguerite Yourcenar, perempuan pengarang Prancis (1903-1987), dalam setiap warna yang ia tebarkan pada seinci gradasi dari apa yang ditangkap mata.

Saya pun berhenti memikirkan segalanya, hanya duduk di bangku kayu panjang, ditemani secangkir kopi, dan menatap langit pagi Jakarta dan merasakan kesenangan artifisial dari kota yang akan segera saya tinggalkan.*

Iklan

Satu pemikiran pada “Langit Pagi Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s