Kakak Pulang

KAKAK PULANG dengan tubuh menyusut dan wajah tak kukenal. Berat badannya merosot hingga cuma 50 kilogram dan tulang-tulangnya terlihat seperti serat pada selembar daun. Ia terbaring di Ruang Isolasi sejak sore itu, mulut mengerjap-ngerjap seperti seekor ikan, dengan selang oksigen memompa perutnya yang sekeras punggung piring plastik. Hanya perut dan mukanya yang terlihat, sebagian tubuhnya diselimuti selendang milik Emak, dan rahangnya menonjol dengan garis pipi mencengkung seperti danau.

Hanya rahang itulah yang terus membayang sesudah kakak pulang, dan kelak, saat kita tahu ia tak akan pernah hadir di masa depan, rahang kakak yang sakit itu menutupi segala ingatan dari kakak yang sehat, kakak yang—setelah membuka album lama—tengah tersenyum di bawah topi putih selagi menggenggam botol Cola, yang bermain dengan putri bungsunya di kursi busa panjang di rumah Emak dan Bapak, yang bertahun-tahun lalu, menjelang ia menikah dan memiliki dua anak, memakai baju dan jins putih, duduk bersama adik dan paman dengan sebelah kaki terangkat ke kursi pada saat di mana kita percaya usia justru tetap mengekalkan kita sebagai kanak-kanak, yang menangis bukan karena kehilangan. Itulah kakak yang terbahak bersama adik saat Lebaran sewaktu putra sulungnya, yang masih balita, berteriak sembari mengarahkan telunjuk ke mata kamera. Saat, dengan cara kanak-kanak pula, kita tertawa tanpa alasan selain bahagia dan sebelum akhirnya, kini sesudah kakak pulang, kita tertawa sekaligus kadang-kadang merasa ada seseorang yang hilang dari hidup kita. Atau kita hanya ingin berbagi tawa dengan kakak.

Kakak pulang. Ia tengah melayang ke rimba pikiran saat aku datang jelang tengah malam itu, berpaling ke arahku dan menyebut nama seorang temannya sementara yang lain, yang menjaganya, bilang Itu Fahri datang, kemudian sudut matanya bergerak ke samping pada Kak Jam, yang menghentikan doa sebentar dekat telinganya, menebalkan suara bahwa Itu Fahri, dan ditanggapi kakak dengan bolamata kembali ke arahku, saat aku sudah melepas topi, terkejut dan terpaku, dan kakak memang benar-benar tak mengenaliku. Suaranya adalah rangkaian bunyi semak dari mulut yang terus membuka, dan kita senantiasa meraba-raba ucapannya, dan lidahnya berjamur, dan suara kakak muncul dari lidah yang menyentuh langit-langit mulut, terdengar bagai bocah belajar bicara. Ia akan terus seperti itu, mulut yang mengeluarkan nafas dari semesta-tubuh-42-tahun-hidupnya hingga, seakan sudah cukup tahu apa yang terbaik dari rasa sakit yang menggerogotinya sebulan terakhir, mulutnya mengatup dengan tenang dan lambat dalam kesempatan penghabisan selama dua hari di ranjang-orang-sakit.

Inilah sehari yang berjalan mundur. Aku melihat diriku di hari Kamis itu bersama Kak Jam yang mengebut naik motor mengejar dua kantung darah selama empat jam di jalan dan kemudian tak dipakai. Melihat Mas Nur di sisi kakak bergantian dengan Mbak Tin dan lainnya. Melihat Bapak duduk di bangsal di atas tikar plastik bersama Dek Hadi. Melihat istri kakak dan putri bungsunya yang sejak siang, setelah kakak dibawa ke Ruang Perawatan Intensif, tak kuat lagi mendampinginya dari dekat. Melihat Kak Midi yang sekali waktu, pada saat kakak terus bertamasya dan bilang Jangan jauh-jauh, Jangan jauh-jauh.., sembari sesenggukan, membungkuk di sela kepala ranjang dan dinding ruangan, mengelap matanya yang tersedu.

Kemudian firasat. Emak di rumah minta diberi kabar lebih dulu saat aku menyela dari rumahsakit pada petang itu, Jangan tiba-tiba ke sini tinggal jasadnya, katanya, dan pada pusaran itu, harapan memberi ruang pada “berserah diri, ikhlas dan berdoa,” seperti pesan Mas Nur pada Emak. Bahkan, kemudian, saat Mbak Tin memintaku untuk meneteskan air dari helai-helai kapuk basah ke lingkaran bibir Kakak, membersihkan giginya yang sekesat tanah kering, pada detail-detail yang paling kecil dari bagian tubuh kakak, sesungguhnya saat bersamaan, kita tengah menyiapkan salam perpisahan. Pada pagi sebelumnya, saat dokter memeriksa kakak, tubuh kakak tak merasakan sakit apapun. Itulah yang kau lihat dari cara dokter mencubit kulit kakak, menggores-goreskan ujung pena ke telapak kaki kakak, dan saat setelahnya, sewaktu dua perawat susah-payah mengambil contoh darah kakak, menunggu mereka bekerja terasa begitu lama, berkali-kali menyedot darah kakak, berkali-kali pula darah cuma menetes seperti embun, seolah tubuh kakak sebatang kayu tanpa saripati.

Ingatan berjalan mundur tapi sesaat lalu, ada teriakan yang pecah dari mulut Mbak Tin, berlari-lari, dan disambut teriakan lebih kencang dari istri kakak, dan Bapak dan putra sulung kakak, terpekur dengan tatapan kosong berkaca-kaca, ke suatu titik berkabut. Kita melihat kematian datang di taman rumahsakit itu, menyentuh mereka yang menjaga kakak tentang kehilangan, berputar tenang menuju ruangan kakak terbaring, tanpa suara. Kematian menjemut kakak tapi kehilangan menetap hingga berhari-hari kemudian.

Kak Wali meninggal pukul 22.00 pada malam Jumat itu, 3 Mei.

Ambulan berjalan sunyi menuju rumah, tanpa sirine, sebab tak ada yang perlu kau bunyikan untuk kematian yang tenang, yang hari-hari setelahnya disebut Mas Nur bahwa Kakak meninggal dengan lembut. Mas Nur yang memandikan adik pertamanya itu, lalu menjelang usai, Kak Midi ikut membersihkan, membopong tubuh kakak yang berselimut kain kafan, di bawah tatapanku, bahwa ketiga kakak ini bertemu dalam cara paling dekat, yang nantinya, keduanya juga menerima jasad kakak di lubang nisan di pemakaman umum pada esok harinya.

Pagi hari orang-orang membuat keranda dari bambu. Saat waktunya tiba kita sepenuhnya berpisah dengan jasad kakak, yang telah dibaringkan di dalam keranda, kita angkat dari dalam rumah, keranda itu kita tutupi dengan selendang, lalu kita turunkan di halaman rumah, itulah saat keluarga kakak memberi salam duka. Istri dan kedua anaknya, yang dipapah oleh saudaranya, melintas di bawah keranda yang kita angkat, selama tiga kali, sembari tangannya—yang gemetar memegang tongkat—diangkat dan diketukkan ke keranda itu. Lalu keranda itu dibawa ke mushala dan, akhirnya, menempuh jalan kampung menuju jalan raya, menyusuri tepi jalan raya, berjalan kaki dan berjalan kaki dan berjalan kaki, sampailah kita ke pemakaman, melihat saudara dan kenalan telah menggali lubang nisan bagi kakak, di sebuah tempat dekat bibi dan keluarga besar, dan begitulah kita melihat kakak pulang.

Inilah kakak yang hidup di sampingku selagi jasadnya dibawa dalam keranda. Kami berjalan berdua saja, jalan kampung yang sudah kami kenal bagai bayangan kita, dan jalan raya yang dilewati kakak saat kecil hingga dewasa, saat ia begitu kuat dan sehat, naik sepeda motor dari rumahnya ke rumah Emak dan Bapak, atau kala ia menuju lapangan sepakbola di suatu tempat, atau saat ia remaja kala membawa obor menyambut bulan ramadhan, atau saat ia datang dari laut, berhenti turun di mulut gang kampung itu pada saat bulan purnama, atau saat ia pergi dan pulang antara Cilincing dan Parean, atau saat ia melihat dirinya dengan nasib yang dikandung badan, apapun itu, dan tetap ia kembali menyusuri jalan yang kami lewati menuju pemakaman. Kakak berjalan bersamaku dan kita mengobrol mengenang apa yang telah disimpan di jalan tempat kita besar sebelum kakak hilang, tertimbun tanah, dan kukenali kakak dari gundukan tanah bertabur kembang dan namanya yang tertera di kayu nisan.

Sesudah tujuh hari, sesudah tahlilan, sesudah yasinan, sesudah apa yang diberikan oleh sanak-saudara untuk menghibur keluarga yang ditinggalkan, sesudahnya, dan seterusnya, adalah hari-hari yang berjalan biasa dan ketenangan yang sesekali membuat kita melamun, bukan karena kita pingin melamun, tapi ada yang tiba-tiba datang seperti udara dan seketika tercenung. Menjelang pagi Emak tersedu. Istri kakak setiap waktu. Mbak Tin bergetar. Bapak terdiam. Lalu ada saat-saat kita merasa ingin mengekalkan kakak.

Sesudah tujuh hari itu, sesudah aku bersama Kak Midi menyiram air doa berisi kembang dari tahlilan, selama dua kali, ke nisan kakak, tibalah dunia materil kakak berupa pakaian, celana, apapun, dibagi-bagikan. Kita akan ingat kakak sebagai seorang dengan selera pemilah pakaian yang baik, dan istri kakak merawatnya dengan baik, dan saat dibagikan, pakaian-pakaian kakak bisa langsung kita kenakan seperti pakaian baru. Aku mengambil topi hitam dan baju bergaris warna hijau kabut. Itulah bagian dari kakak yang kubawa kemana-mana sesudah kakak pulang.

Sekarang, saat menulis ini, topi hitam kakak kupakai dan kadang-kadang ada perasaan kakak bersamaku.*

Iklan

4 pemikiran pada “Kakak Pulang

  1. Saya benar-benar menyesal bahwa saat saya dihubungi berkali-kali oleh Bung Fahri via ponsel kala itu, itu semua tidak saya jawab dan tidak saya angkat. Pedih rasanya membaca tulisan Bung ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s