Kakak Pulang #2

Buku saku Yasin 40 hari Kak Wali, diedit-ulang oleh Mas Nur dari foto kamera HP saya yang (hanya Tuhan yang tahu) akan jadi satu-satunya gambar yang pas untuk dijadikan foto perkabungan.

KAKAK datang padaku dalam mimpi sehari jelang 100 hari dia pulang. Aku mencari-carinya saat hendak pergi, kukira aku memang akan pergi, dan anehnya (tak ada yang lebih aneh dari mimpi yang penuh rahasia), aku kehilangan pakaian, kukira aku nyaris telanjang, lalu (bersama Hadi, anak sulungnya) aku diajak ke sebuah tempat mirip pasar dan bertemu kakak hanya untuk menanyakan di mana semua pakaianku. Kak Wali menunjuk sebuah lemari di sebuah sudut yang dihela meja-meja panjang, berdiri menjorok hingga tak terlihat. Dia bilang, itu lemari pakaian Kak Tasrif. Aku membuka pintu lemari dan kutemukan beberapa pakaian dan kupilih salah satunya yang segera kukenakan. Lalu, sedetik kemudian (waktu melambat di kala mimpi), aku menyadari bahwa aku akan pergi untuk mengunjungi kakak. Aku menoleh padanya saat kakiku berjalan menjauhinya dan kakak berdiri di sana—di tepi meja di antara keramaian (aku mendengar suara berseliweran seperti berada di pasar)—dan ujung topi di kepalanya menaungi senyumnya, seolah-olah itu salam perpisahan. Kelak, saat aku tiba di rumah esok hari untuk mengenang 100 hari kakak, aku melihat Kak Tasrif mengenakan kaos punyaku, yang sebelumnya kucari-cari di Jakarta, menganggapnya hilang saat aku mungkin lupa menjemur kaos tersebut di lantai atap kost yang kutempati.

Siang Minggu itu sudah ada aneka kue, buah-buahan, bolu, kurma, dan puluhan ember kecil warna hitam dari plastik, berderet di ruang tengah. Mbak dan istri kakak dan saudara dekat memilah-milah dan menaruh makanan tersebut ke dalam ember hingga terbagi rata dan semua itu dibagikan kepada mereka yang tahlilan di rumah saat sore nanti. Mas juga datang dari Cirebon, kakakku yang sulung, yang kemudian, usai tahlilan, kami pergi ke nisan Kak Wali dengan sepedamotor dan, di antara hamparan nisan di tengah lahan kuburan, kau bisa agak kesulitan mencari sebuah makam karena itu terlihat sama dan mereka yang meninggal—yang berpulang menuju rumah kekal itu—takkan mungkin berteriak “hei, aku di sini!” dan kau cukup mengenali nisan kayu yang terlihat masih baru, agak menepi jalan raya, dan suara kendaraan berdesing melaju dan semua perasaanmu—denyar pahit, ingatan kepada seseorang yang kau cintai, desir perih di ujung matamu—menjadi sesuatu seperti kabut atau debu, melayang-layang di udara dan terbawa derum mesin kendaraan.

Mas duduk bersila di tepi nisan sembari membawa ember kecil berisi air kembang dari tahlilan. Aku mengikutinya dari belakang, duduk berjongkok di sampingnya. Kakak berdoa dengan kedua tangan membuka ke langit. Saat itu aku berpikir, “tempat kakak sekarang di sini, kini terasa jauh aku harus bertemu kakak, aku memimpikan kakak dan kakak terlihat sehat, apa kabar?” kataku. Aku tak tahu apa yang dipikirkan Mas aku selagi berdoa. Mas pulang ke Cirebon setelahnya, tiga malaikat kecil menunggunya di rumah. Petang itu, yang tak sempat dinikmati Mas, pertama kali aku berbuka puasa dengan masakan Emak. Pepes tahu dan sayur sop.

Dek Hadi, anak sulung kakak, melihat ayahnya dari pintu kamar belakang, tempat orangtuaku menjadikannya ruangan shalat, amben berkaki pendek berisi gerabah dan sesajen, dan karung-karung beras dagangan Emak. A Midi sering bertemu kakak dalam mimpi saat menelepon Mbak. Dia tak bisa datang saat berkabung 100 hari. Dia cerita kakak mengenakan baju putih dan kopiah putih. Bersih, katanya. Dia ceritakan mimpi bertemu orang yang meninggal kepada seseorang yang dianggap punya cenayang. Apa pesannya? Orang tersebut bilang hidupmu akan susah. A Midi membalas, sembari tertawa, “Saya mah udah biasa hidup susah!” Saat Mbak menceritakan ini di teras depan rumah, bersama Emak, selagi Ayah dan Kak Tasrif ibadah tarawih, kami terbahak.

Bapak mengeluh sakit lutut kanan hari itu sesudah bantu saudaranya membangun rumah. Dia sampai batal puasa karena kelehahan. Tenaganya memang tak sekuat legenda Bapak selagi muda saat hanya dengan satu lengannya, di malam-malam saat aku meringkuk di dekatnya, dia bercerita bahwa dia bisa mengangkat seekor ikan seberat gajah. Ini adalah fase yang mendekati kepunahan. Setiap aku menikmati masakan orangtuaku sekaligus pula aku seperti menelan pengertian bahwa kelak, entah pada waktu kapan, kita akan ditinggalkan orang-orang yang kita sayangi, sampai-sampai kita rela menukar nyawa kita untuk menolak kehilangan yang menusuk-nusuk tajam.

Bila Bapak sudah mengeluh sakit, Emak biasaya paling rewel. Emak memang seperti itu bagi siapapun di antara anaknya yang sakit. Terbiasa menelan penderitaan, Emak segera membeli obat, memanggil mantri, tukang pijat—apapun, yang sekiranya bisa meredakan si sakit. Saat petang, ketika ada penjual kasur lewat depan rumah, Emak langsung menegur saya di dekatnya, “Itu kasur yang dulu kita punya.” Entah dengan kepolosan apa, aku menimpali, “Kasur yang mana?” Teranglah kini, kasur itu pernah dipakai di ruang tengah selagi Kakak mengerang sakit. “Semuanya dibuang,” kata Emak. Kau harus membuang kasur tempat orang sakit yang kemudian meninggal karena begitulah anjuran agama. Pada hari ke-40 kakak pulang, Emak bermimpi anaknya berdiri di depan pintu rumah. Diam mematung. Emak bertanya, “Mau makan apa, Nang?” Kakak diam saja. Sekali itu, sejak kakak pulang, Emak bertemu kakak.

Sekarang, di kamar tengah, tempat tidur bagi Kak Tasrif, ada seekor burung beruk dalam sangkar. Berwarna kabut, sapuan tipis kelabu, dengan bulu-bulu lebat di paruhnya. Suatu hari seekor ayam milik Bapak menghela si beruk dengan sayapnya hingga burung tersebut masuk rumah dan Kak Tasrif, dengan keajaiban lengan kanannya yang sehat karena lengan kirinya cacat sejak bayi, menangkap si beruk. Dia lantas membeli sangkar warna merah naga. Burung itu mengeluarkan bunyi menjelang sahur.

Aku tak ingin menduga bahwa burung itu penjelmaan kakak.*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s