Pertemuan

Seorang remaja menjual sop buah di tepi jalan itu. Ia menunggu pembeli seraya menghitung impian di dalam laci gerobak, yang selalu berisi peruntungan.

Kadang ada seorang pria datang di sela hari yang panas, memanggilnya Dek–mengingatkan pada ponakannya yang ditinggalkan kematian si ayah–dan remaja itu segera membuat sop buah.

Ia lantas mengambil sehelai kantung plastik, memasukkan pecahan-pecahan es, menuangkan bebuahan yang diirisnya: alpukat, nangka, melon, parutan kelapa, beberapa butir kelengkeng. Ia bekerja dengan diam dan canggung, seakan-akan menghitung impian dalam kepalanya yang bergerak-gerak.

Setiap pagi seorang penjual soto dari Madura membuka tenda dan memugar gerobak, dan hanya ia yang menemani si remaja, yang datang menyusul, yang tak pernah diketahui waktunya oleh si pria karena semalaman dihajar pekerjaan dan terjaga saat si remaja dan sop buahnya itu sudah ada di tepi jalan itu, sebagai selembar sejarah sehari-hari.

Mereka mengingat-ingat apa yang telah menyatukan sebuah tempat, dengan misteri perjalanan, dan lintasan aspal yang tak pernah tertidur.*

— lt. 3 | 05:00

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s