Upaya Menyambut Hujan

TAK ADA YANG PAS mendapatkan keberuntungan melihat hujan selain menatapnya lewat pintu Kopaja, sembari duduk di tepi bangku belakang kala Jakarta memuntahkan para pekerja bergegas pulang. Dari permainan dadu para filsuf ribuan tahun lalu, saya menyadari situasi di mana waktu berpihak pada saya. Dengan kenyamanan yang mewah di tengah penumpang yang berdesak-desakan, oksigen menyusut, dan bau keringat menguar, jarum-jarum hujan pun mengayun ke mulut pintu Kopaja, dan seketika percikannya menyapa saya.

Inilah saat yang tepat menyambut hujan. Tak ada yang lain. Bahkan saya sudah mengidamkannya saat lapisan mendung bergelayut sedari sore, menetap di sana sekukuh langit, dan terus berkelebat kala saya berada di angkot, menyusuri Slipi menuju Tenabang. Di bawah jalan layang, saya disambut deru angin yang deras menerpa wajah. Selintas kemudian, seiring Kopaja yang saya tumpangi kelak mencapai Cikini, lanskap di luar pun mencair, hujan turun malu-malu dan, persis saat itu, di Jalan Jatibaru, Eva Casssidy melantunkan “Ain’t No Sunshine”; suaranya mengembang melalui earphone. Mendadak saya menjadi kanak lagi.

Kedua penumpang, yang mengapit saya, tertidur. Di luar, dalam rahasia yang saya simpan, permainan pun dimulai. Ada mereka yang berlari kecil menghindari hujan, menepi di bawah pohon. Ada yang berjalan di trotoar sambil mengetatkan jaket bertudung. Ada seorang polisi yang kuyup mengatur lalu-lintas. Ada yang terpaksa naik Kopaja meski berdiri persis di gigir pintu, yang segera tersiram tempias hujan ketika, di lintasan Kebon Sirih, hujan kian kekal. Di suatu titik, sesudah Kopaja melewati Tugu Tani, tiga perempuan berdiri di bawah satu payung.

Saya mengingat-ingat terakhir kali saya melihat hujan. Sepertinya itu butuh konsentrasi, dan hal itu sulit saat kau berada di sebuah bus mungil yang jalannya berderak seperti lelaki tua. Mata saya tetap terjaga dan memandang ekspresi kelehahan para penumpang yang–seakan membentuk persekutuan rahasia–seringkali menghela nafas. Tepat di TIM saya turun. Hujan membahana. Dengan langkah lebar, sembari berlari kecil, saya menerabas tirai hujan. Kelak, dikejar jadwal putar sebuah film Iran, A Separation, saya menyimpan hujan di dalam sepatu. Itu terasa sepanjang film, kaos kaki yang basah, dan rasanya saya telah menyambut hujan dengan cara yang esoknya masih saya rawat dalam ingatan.*

Iklan

2 pemikiran pada “Upaya Menyambut Hujan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s