Naskah Nonfiksi 2012 yang Patut Dibaca [versi saya]

BILA ADA YANG BERTANYA mana saja naskah jurnalisme, atau nonfiksi, yang dianggap terbaik bagi saya untuk tahun 2012, saya akan memilih beberapa di antaranya, dan di antara mereka, sebenarnya, adalah kawan saya sendiri, yang kebetulan saya baca tulisannya lewat internet. Saya terinspirasi dari situs Longform dan Longreads yang biasa mengkurasi beragam naskah panjang, yang umumnya terbit dari media di daratan Inggris dan Amerika Serikat. Ini juga kecenderungan dari munculnya media sosial macam Facebook dan Twitter dalam arus informasi yang maha dahsyat di mana, akhirnya, diperlukan semacam agregator atau navigasi dari seseorang atau lembaga (apapun kecenderungan kesukaannya) untuk memilah mana yang menurutnya layak dibaca sembari mengungkapkan alasannya (bila diperlukan).

Setiap tahun juga ranah jurnalisme di Indonesia menggelar penghargaan sesuai kriteria dari inisiator, misalnya yang sering dilakukan Adiwarta Award dan Mochtar Lubis Award. Ini belum termasuk dari institusi pemerintah dan lembaga donor macam UNICEF yang kerapkali bikin penghargaan untuk karya jurnalisme di sini. Pemilihan saya, sebagaimana seseorang memilih, punya kesan subjektif, namun sesungguhnya dari apa yang disebut “politik pemilihan” biasanya terletak seberapa meyakinkan Anda memilih, misalnya, warna merah, bukannya warna hijau. Ia juga kadang diiringi dampak tulisan ini terhadap audiens. Boleh jadi di situlah perbedaan antara satu penulis dan penulis lain. Sebuah naskah tentang pelanggaran hak asasi manusia di Papua, misalnya, tentu punya audiens  berbeda sama sekali dengan satu naskah tentang pagelaran busana pakaian renang. Benarlah kemudian apa sering diungkapkan pengarang bahwa setiap tulisan punya pembacanya sendiri; bahwa setiap anak rohani mencari terang sendiri di tengah kerumunan yang seringkali sesak.

[] Kekerasan Massal  dan Manusia Bebas dalam The Act of Killing

Inilah kali pertama saya membaca ulasan tentang film garapan Joshua Oppenheimer, yang ditulis Ronny Agustinus di Jurnal Footage, awal September. Agustinus membahas secara komprehensif dari film yang banyak dipuji kritikus tentang peristiwa pembantaian orang-orang yang dituduh ‘komunis’ pada 1965-1966. Alih-alih merekam testimoni korban, Oppenheimer mengulik pelaku kejahatan kemanusiaan yang berfokus pada sosok Anwar Congo dan peran koleganya dari Pemuda Pancasila di Medan. Agustinus memberi tekanan pada implikasi sosial-politik dari pembunuhan massal ini, yang hingga kini tak pernah diakui oleh negara sebagai “pelanggaran hak asasi manusia.” Komnas HAM periode lalu telah menyelesaikan hasil penyelidikannya atas peristiwa ini, tapi Kejaksaan Agung menolaknya dengan alasan “tak lengkap” untuk diusut proses hukum lebih lanjut. Sesungguhnya film Oppenheimer secara terang menghantam kita; bahwa para pelakunya sendiri tak merasa bersalah atas pembunuhan yang mereka lakukan, dan situasi tersebut didukung oleh negara. Apa dampaknya? Anda bisa mengukurnya dari serangan terhadap minoritas agama pasca-Soeharto.

[] Liputan Khusus Tempo: “Pengakuan Algojo 1965”

Film The Act of Killing juga mempengaruhi sudut pandang baru dalam peristiwa 1965-1966, dan itu dipakai Tempo edisi awal Oktober, dengan 69 halaman di antaranya melampirkan peran dan pengakuan pelaku. Ariel Heryanto berkontribusi membahas film-film seputar 65, dan menyebut TAoK disandingkan dengan karya Buru – Pramoedya Ananta Toer. Liputan ini juga memantik respon dari kalangan Nahdliyin yang tersinggung karena merasa dipojokkan dan menuduh Tempo melakukan eror untuk isu pembantaian di Kediri — sesuatu yang akan terus kita dengar, dan seringkali perdebatan jadi memanas, bila kita membahas topik 1965. Tim redaksi menyiapkan liputan ini selama dua minggu. Berkat liputan ini, Tempo menerima Yap Thiam Hien Award, merujuk advokat HAM asal Aceh, yang ikut membidani Lembaga Bantuan Hukum. Tahun lalu YTH Award diberikan kepada aktivis (alm) Asmara Nababan.

[] Polisi Anti-Teror Mengembangkan Target

Nivell Rayda, wartawan Jakarta Globe, menulis tentang pesakitan politik dari Maluku, yang disiksa oleh Unit Datasemen Khusus kontraterorisme, atau biasa dikenal Densus 88. Para pesakitan politik ini ditangkap karena mengungkapkan pandangan politiknya secara damai. Ada yang dipenjara hingga 20 tahun. Rayda menegaskan peran Densus 88, yang dibentuk dalam kampanye “perang melawan terorisme” bikinan pemerintahan Bush, di Indonesia justru kemudian dipakai untuk mengatasi konflik lahan, seperti di Bima, dan proyek “separatisme” di Papua. Unit antiteror ini mendapat pelatihan dari AS dan Australia dan seringkali melakukan eksekusi mati secara sewenang-wenang. Kita juga bisa sandingkan isu ini dengan agenda pemerintahan Yudhyono yang mengesahkan UU Intelijen serta RUU Kamnas yang dikritik tajam karena kekhawatiran kembali ke “negara teror” Orde Baru.

[] MIFEE Datang Tanah pun Hilang

Fajar Riadi menulis artikel yang sungguh panjang tentang kecemasan warga Papua di Marauke, dan dampak serius bagi Papua secara luas, tentang proyek MIFEE, atau Merauke Integrated Food and Energy Estate. Proyek penetrasi negara dan menggandeng para pemodal mahakaya dari Jakarta dan luar negeri ini sungguh menakutkan. Sejak digagas pada 2007 dan diluncurkan pada 2010, proyek ini telah meluaskan area lahan sebesar 2,5 juta hektare (2,5 ukuran negara Belgia atau lebih dari 2 kali lipat pulau Bali), yang akan dijadikan ladang produksi sawit, jagung, bubur kertas, dll. Konflik antar-faam besar terjadi karena saling mengklaim tanah milik dan mendapat limpahan duit dari jual-beli tanah untuk sedikitnya 36 perusahaan yang terlibat dalam proyek ini. Riadi juga mengulas migrasi penduduk non-Papua yang terus bertambah dari tahun ke tahun, sementara jumlah penduduk Papua kian menyusut.

[] Dari Lukit hingga Tebet Dalam

Bila ada nama jurnalis yang setahun terakhir meliput soal konflik-konflik lahan, saya akan menjawab dengan pasti: dialah Anugerah Perkasa. Nugie, wartawan Binis Indonesia, menulis banyak liputan panjang, dari Riau hingga Subang, dari Sumatera Selatan hingga isu-isu lingkungan di Jakarta. Salah satunya naskah tentang para aktivis Pulau Padang yang mengancam akan melakukan aksi bakar diri di depan Istana Presiden sebagai bentuk perlawanan terhadap PT Riau Andalan Pulp Paper. Para aktivis dan petani ini pernah melakukan demonstrasi di depan gedung parlemen Senayan tapi tak mendapat respon memuaskan dari politisi-politisi. Geram dengan tiadanya ketegasan menteri kehutanan, mereka kemudian ancam bakar diri pada aksi terpisah. Sebagian besar liputan panjang Nugie diumuat online, biasanya secara serial, dan kemudian diunggah penulisnya secara utuh dalam blognya. Isu konflik lahan merupakan salah satu isu krusial sepanjang sejarah moderen Indonesia.

[] Hidup dengan Tiga Huruf

Bayu Maitra dari majalah Reader’s Digest menulis cerita humanis tentang mereka yang tertular virus HIV/AIDS di Wamena dan Jayapura, provinsi Papua, dimuat Oktober. Dia menulis dengan bahasa yang lancar dan mengeksplorasi psikologis pengidap yang acapkali mendapat stigma, yang makin memperdalam perasaan putus-asa. Data kementerian kesehatan 2012, Papua dan Papua Barat merupakan provinsi dengan tingkat pengidap AIDS tertinggi di Indonesia.

[] Mereka Sibuk Menghitung Langkah Ayam

Rusdi Mathari mengulik aktor-aktor lokal dalam peristiwa serangan terhadap pengikut Syiah di Sampang, Madura. Naskah ini mendalam secara sosial dan memetakan asal mula kebencian terhadap Tajuk Muluk, ulama Syiah, dan pengikutnya hingga apapun yang berhubungan dengannya dicap “sesat”–sesuatu yang makin memperuncing konflik dan mendorong serangan mematikan. Kebebasan beragama di Indonesia di bawah pemerintahan Yudhoyono menjadi sorotan tajam. Tahun 2011 terjadi pembunuhan terhadap muslim Ahmadiyah dan tahun 2012 menyasar Syiah serta komunitas pengajian di Aceh. Persekusi minoritas agama di Indonesia kian menakutkan.

SAYA memilih naskah di atas di antara yang saya ingat pada tahun ini, dan setelah dilihat kembali, semuanya berhubungan dengan isu hak asasi manusia. Anda pasti punya pilhan sendiri. []

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s