Buat seorang karib…

PAGI HARI pertama 2013, dari jendela kamar, saya memandang tumpukan dahan yang mengering, coklat, dan basah. Mereka ditumpuk di tepi tembok rumah belakang, disela petak kosong yang beberapa minggu lalu dibersihkan dari rerumput liar dan tanaman rambat. Di bawah penampung air berdiri pohon kedondong; satu-dua daun kuning memberi kontras pada dedaunan hijau yang merambati dahannya. Tanah berpasir, kini telah tumbuh lagi tanaman-tanaman mungil, hijau dan sederhana, menyimpan jejak hujan semalaman. Ada yang layu. Ada yang hilang. Angin tipis mengalir lewat celah jendela.

Pesta tahun baru masih tersimpan dalam suara saat langit dipadati gelegar petasan dan kembang api. Hingga pagi itu suaranya masih terasa seakan sedetik lalu. Saya menimbang-nimbang: saat sebagian besar orang menyambut pesta yang berulang-ulang ini, kamu justru tengah melafalkan doa mengiringi jenazah Mama kamu. Bahkan, tanpa momen sekontras itu, kematian tetap menyakitkan.

Sampai tengah malam sebelum paginya saya ke Jogja, kita masih menyimpan harapan untuk kesembuhan Mama-mu. Namun ada jeda dari nada suaramu, yang bergetar, kala menceritakan kabar kesehatan si Mama. Dan dengan selancar itu, saya sadari betapa dekatnya kamu menemani bulan-bulan pengobatan Mama kamu. Selebihnya, untuk sebagian besar, kita bicara ihwal yang menyelipkan tawa: rutinitas kerja, karib kita yang menikah, dan pembicaraan kesukaan.

Kamu masih sempat berkabar kala saya sudah di Stasiun Senen dan kita masih berharap Mama kamu lekas membaik. Hingga berjam-jam telepon seluler saya mati, dan saat diaktifkan setiba tujuan, kabar itu muncul semisterius kematian.

Ah, bilamana saya menuntut, tidakkah Tuhan mengundurkan rencananya sesudah malam Tahun Baru, sehingga kita yang dekat dengan yang sakit, yang koma, masih bisa sejenak berdoa menyambut persalinan tahun. Namun, kita tahu, kita tak pernah bisa.

Di pagi hari itu, saya memandang keluar jendela. Sekumpulan burung berkicau di kebun nangka di balik pagar tembok. Daun gugur dan tumbuh. Dan dalam situasimu, hati-yang-lapang berkeras menuntut lebih luas dari langit dan lebih dalam dari samudera.

Semoga tabah dan kamu segera baik, kawan… *

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s